Fokammsi’s Weblog

Forum Kajian Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

PERANG SALIB DAN WAJAH PERADABAN BARAT

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

Penulis : DYAH SITI NUR’AINI

I. Pendahuluan

Pada 11 September 2001, dari Amerika Sang Negara Adi Kuasa terjadi babak baru lembaran sejarah dunia. Serangan terorisme terhadap Amerika yang meruntuhkan gedung World Trade Center di New York serta menghancurkan sayap gedung Pentagon, telah mengubah wajah dunia kita untuk selama-lamanya. Menyusul serangan terorisme terbesar dalam sejarah peradaban manusia tersebut, Presiden George W. Bush mengumumkan pihak yang bertanggung jawab. Al-Qaeda, jaringan ekstremis Islam pimpinan Usamah bin Laden menjadi tertuduh utama pada aksi tersebut, meskipun harus di catat pula, bahwa sampai sekarang bukti-bukti atas tuduhan ini belum terbukti.

Peristiwa tersebut dijadikan jastifikasi Amerika untuk mengumandangkan genderang perang melawan terorisme Internasional. George W. Bush menyatakan bahwa kampanye anti terorisme ini bukan perang melawan Islam, tetapi melawan penjahat kemanusiaan (terorisme). Bahkan dia mengharapkan dukungan dari negeri-negeri Muslim seperti Iran, Mesir dan Suriah.

Tidak lama setelah September kelabu itu, Amerika pun membuktikan komitmennya untuk menghancurkan sel-sel terorisme. Afganistan, negara miskin yang diduga sebagai tempat persembunyian Usamah bin Laden pun dimusnahkan tanpa perlawanan yang berarti. Masih atas nama perang melawan terorisme, Irak menyusul menjadi korban kemarahan Amerika, dengan meluluh lantakkan bumi Irak, giliran Iran menanti alasan yang tepat untuk dihancurkan.

Usaha-usaha untuk melawan terorisme yang dilakukan Amerika secara brutal, telah menimbulkan tragedi dan luka baru di kalangan umat Islam Serangkaian serangan Amerika atas Irak dan Afganistan yang notabene adalah negeri Muslim, telah menggarami luka masyarakat Muslim di negeri-negeri lain.

Tragedi serangan Gedung kembar WTC memang memilukan, dan sudah selayaknya siapa pun yang melakukan aksi teror itu harus mendapat hukuman yang berat. Tetapi penghancuran negeri Irak dan Afganistan yang melibatkan orang-orang yang tidak berdosa, jompo, perempuan dan anak-anak oleh Amerika telah melahirkan resiko yang cukup mahal bagi kemanusiaan. Dan Amerika harus bertanggung jawab atas semua itu.

Tetapi George W. Bush tidak ambil pusing, tanggapan terhadap terorisme ia sebut sebagai kelanjutan dari Perang Salib. Entah apa yang melatarbelakangi, sehingga dalam menanggapi isu global ini ia harus memilih kata-kata yang menguak luka lama yang bisa menimbulkan sentimen internasional.

Makalah ini mencoba untuk menelusuri sebab-sebab, peristiwa-peristiwa dan akibat-akibat Perang Salib baik bagi Barat maupun Islam. Namun kajian ini lebih dipusatkan pada suasana di Barat pada masa-masa tertentu saat berlangsungnya Perang Salib. Hal ini dikarenakan kepentingan makalah ini diutamakan untuk memberi kontribusi terhadap pengenalan peradaban Barat saat itu, di samping Perang Salib itu sendiri.

II. Wajah Dunia Sebelum Perang Salib

Sebelum Tentara Salib tiba di Yerusalem pada Juli 1099 dan membantai 40.000 orang Yahudi dan Islam secara biadab, para pemeluk ketiga agama itu telah hidup bersama dalam suasana yang relatif damai di bawah naungan hukum Islam selama 460 tahun, hampir separuh millenium. Shalahuddin berhasil menaklukkan kembali Yerusalem untuk orang Islam di tahun 1187, tapi hubungan ketiga agama Ibrahim ini tak pernah sebaik di Yerusalem sebelum Perang Salib.[1] Semenjak itu umat masing-masing agama memandang satu sama lain dengan penuh kewaspadaan dan kecurigaan atas serangan atau pengambil-alihan tempat-tempat ibadah dan tempat tinggal mereka. Perang Salib nampaknya telah menimbulkan lautan perubahan yang sangat tragis di Yerusalem. Tempat hidup berdampingan secara damai yang pernah ada, kini menjadi sekadar impian.dan harapan.

Di Barat, Perang Salib sangat berpengaruh terhadap sikap dan cara pandang atau mind set mereka atas Islam dan Yahudi. Perang Salib telah membuat kebencian kepada kaum Yahudi menjadi sebuah penyakit yang tak tersembuhkan di seluruh Eropa, dan Islam kemudian dipandang sebagai musuh peradaban Barat yang tak terdamaikan. Prasangka-prasangka kalangan Barat semacam ini jelas telah memberi andil dalam situasi konflik masa kini, dan telah mempengaruhi pandangan Barat terhadap Timur Tengah saat ini dalam cara pandang yang benar-benar sulit untuk diurai dan di luruskan.

Perang Salib bukanlah sebuah gerakan kecil atau peristiwa yang mudah dilupakan seiring dengan perjalanan waktu. Perang Salib yang terjadi pada abad pertengahan sangat berpengaruh pada proses pembentukan identitas baru bagi masyarakat Barat, yang membuka jalan ke masa kini dan bertahan hingga sekarang .

III. Perang Salib Sejarah Yang Mewarnai Perjalanan Sejarah.

Pada tanggal 25 November 1095, di konsili Clermont, Paus Urban II menyerukan Perang Salib pertama. Bagi Eropa Barat, seruan itu merupakan peristiwa penting dan menentukan. Peristiwa itu hingga kini juga masih berdampak di Timur Tengah. Berkhotbah di hadapan kerumunan para pendeta, ksatria, dan orang-orang miskin, Paus Urban menyerukan Perang Suci melawan Islam. Orang-orang Turki Saljuk, jelas Paus Urban, adalah ras barbar Asia Tengah yang baru saja menjadi Muslim, yang menyerbu hingga Anatolia di Asia Kecil (Turki modern) dan mencaplok negeri-negeri ini dari kerajaan Byzantium Kristen. Paus Urban mendesak para ksatria Eropa untuk berhenti berkelahi dengan sesama mereka sendiri dan membulatkan niat bersama untuk memerangi musuh-musuh Tuhan ini. Orang-orang Turki itu, teriak Paus, adalah “ras yang terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari Tuhan, orang-orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus Tuhan”.[2]

Membunuh Monster tak bertuhan ini adalah tindakan suci: orang Kristen wajib “memusnahkan ras keji ini dari negeri kita”. Begitu para ksatria Kristen Eropa itu telah menyerbu Asia Kecil dan membersihkan negeri itu dari najis-najis kaum Muslim, mereka akan memikul tugas yang akan lebih suci lagi. Mereka akan berbaris menuju Yerusalem dan membebaskan Kota Suci itu dari tangan umat Islam. Sungguh memalukan bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum Muslim. Demikian seruan Paus Urban II.[3]

Sambutan terhadap seruan Paus Urban itu sungguh luar biasa. Para pengkhotbah populer seperti Peter si Pertapa menyebarkan kabar tentang Perang Salib. Pada Musim semi tahun 1096, berangkatlah lima pasukan yang terdiri atas 60.000 tentara. Mereka diiringi oleh sekelompok peziarah yang tak bertempur bersama para isteri dan keluarga mereka. Gelombang pertama itu disusul pada musim gugur oleh lima pasukan lagi yang terdiri atas kira-kira 100.000 lelaki dan segerombolan pendeta dan peziarah. Untuk masa itu, jumlah tersebut sungguh mengagumkan. Ketika pasukan pertama mendekati ibukota Byzantium, Konstantinopel, tampak di mata puteri Anna Comnena, yang terkejut sekaligus tertarik, seakan “seluruh Barat, dan seluas tanah yang terhampar di atas laut Adriatik hingga pilar-pilar Hercules (Giblartar)–seluruh lautan manusia memasuki wilayah Asia dalam jumlah massa yang penuh sesak, dengan seluruh harta benda milik mereka”.[4]

Bagi orang-orang Byzantium yang berpengetahuan luas, gelombang itu tampak sama dengan invasi besar-besaran kaum Barbar, serupa dengan serbuan yang telah menghancurkan kekaisaran Romawi di Eropa. Barat mulai menginvasi Timur pada abad modern. Invasi ini dipenuhi oleh perasaan benar sendiri yang agresif dari sebuah Perang Suci, sebuah perasaan yang akan menjadi ciri Barat di masa sesudahnya dalam berurusan dengan Timur. Perang Salib ini merupakan tindakan kerja sama pertama dari Eropa Baru saat benua itu sedang merangkak keluar dari Abad kegelapan. Perang Salib menarik minat semua kelas masyarakat: para Paus, raja-raja, kaum bangsawan, pendeta, tentara, dan para petani. Orang-orang menjual semua yang mereka miliki sebagai bekal dalam ekspedisi yang panjang dan berbahaya. Sebagaian besar dari mereka tidak terilhami oleh nafsu keuntungan material. Mereka tercengkeram oleh gairah keagamaan. Mereka menjahitkan tanda salib di baju mereka dan berbaris ke tanah tempat Yesus wafat untuk menyelamatkan dunia. Perjalanan itu merupakan ziarah penuh pengabdian sekaligus perang pemusnahan.

Pada bulan Maret 1096. Tentara Perang Salib mulai merayap menuju ke Timur. Paus Urban masih mengkhotbahkan Perang Salib di Prancis, ketika semua tentara ini memulai perjalanan mereka. Lima rombangan tentara lagi bersiap-siap di rumah, tapi amat mungkin tentara Salib pertama ini menganggap diri mereka sendiri sebagai tentara garda depan dari seluruh Perang Salib, tak terpisahkan dari rekan Tentara Salib yang akan meninggalkan Eropa pada musim gugur. Pasukan Walter Sansavoir yang dengan mengagumkan dengan amat berdisipilin berbaris langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstantinopel pada akhir bulan Juli 1096. Tentara Salib lainnya tak seberuntung itu. Karena mereka tidak cukup membawa bekal, kelompok besar ini bergantung kepada pemberian makanan dari penduduk setempat yang mereka lewati. Jika pemberian ini tidak tersedia, mereka harus menjarah dan menyerbu desa-desa. Masyarakat di desa-desa yang dilalui Perang Salib ini nyaris tidak dapat menyediakan makanan yang cukup untuk diri mereka sendiri, apalagi harus memberi makanan bagi ribuan prajurit dan peziarah itu.[5]

Pertempuran pun tak terhindarkan. Pada akhir bulan Juni, tentara Folmar dihancurkan di Nitra, Hungaria, oleh tentara Hungaria yang marah. Tak lama kemudian tentara Gottschalk juga dipaksa menyerah oleh tentara Hungaria di Pannonhalma. Orang Hungaria begitu marah oleh Tentara Salib sehingga tidak mengijinkan tentara Emich memasuki negeri mereka. Tentara Salib Emich mencoba memaksa masuk dan mereka mengepung kota Weisenberg selama enam pekan. Tetapi mereka tidak dapat maju lebih jauh dan akhirnya terpaksa membubarkan diri dan pulang dalam kehinaan. Tentara Peter Sang Pertapa lebih berhasil, tetapi menderita korban amat besar selama perjalanan. Di Nish, Byzantium, pertempuran pecah di pasar, ketika Tentara Salib mencoba untuk memberi makanan. Pasukan Peter diserang dengan hebat di pasar tersebut, tetapi para prajurit yang tersisa berhasil mencapai Konstantinopel pada awal bulan Agustus pada tahun yang sama. Kaisar Alexius, yang meminta pasukan yang biasa pada Urban, memandang massa besar Tentara Salib dan peziarah ini dengan penuh rasa takut dan secara halus menggiring mereka keluar dari Bosphotus dan menuju Asia Kecil. Namun, di sana, terjadi lebih banyak lagi penjarahan karena kelaparan dan karena semua disiplin tak lagi ditaati di negeri yang asing itu. Sesudah itu, di bulan Agustus juga, nyaris semua pasukan Peter dan Walter dibantai oleh tentara Turki.[6]

Para pencatat sejarah tidak membuktikan keberadaan Tentara Salib pertama ini dan mereka meniadakan penyebutan Tentara Salib pertama ini dalam semua catatan mereka, atau meremehkan mereka sebagai gerombolan orang-orang fanatik dan petani.

Keberhasilan adalah sesuatu yang amat penting bagi Perang Suci dan kegagalan besar dari Tentara Salib pertama ini akan membuat seluruh gerakan ini menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan. Jika tentara yang bergabung dalam Perang Salib merupakan kehendak Tuhan, mengapa mereka bisa gagal? Kekalahan mengerikan di tangan kaum Eropa sendiri dan oleh orang-orang Turki bukanlah sesuatu yang dicari oleh Barat.

Lepas dari kegagalan ini, Tentara Salib pertama adalah tanda pertama dari Ekspansi Barat baru. Ekspedisi ambisius ini benar-benar menampakkan bahwa dunia Barat kini merasa siap untuk sekali lagi memasuki kancah Internasional.

IV. Perang Salib Paling Religius 1146 – 1148

Kabar tentang Edessa mengejutkan orang-orang Kristen di Eropa Barat. Namun demikian, ketika Paus Eugenius dan Raja Louis VII dari Prancis menyerukan Perang Salib baru, tanggapan masyarakat sungguh mengecewakan: masyarakat terlanjur mendengar terlalu banyak soal yang mengerikan dalam Perang Salib pertama lima puluh tahun sebelumnya. Tapi pada tanggal 31 Maret 1146, Bernard, kepala biara dari Clairvaux, berpidato kepada sejumlah besar baron Prancis di Vezela dan meyakinkan mereka bahwa kejatuhan Edessa bukanlah suatu bencana, tetapi bagian dari rencana Tuhan. Tuhan bahkan “membiarkan” atau “menyebabkan” Zangi dapat menaklukkan Edessa untuk memberi kesempatan yang mengejutkan kepada kaum Kristen. Tuhan akan bersama umat-Nya dalam Perang Salib baru, yang akan menjadi pengungkapan cinta Ilahiyah dan salah satu kejadian paling penting dalam sejarah penyelamatan.

Bernard mungkin orang yang paling berkuasa di Eropa pada masa itu. Raja Prancis berada di bawah pengaruhnya dan Paus sendiri menjadi anggota dari ordo religius yang dipimpinnya. Ia menampilkan pamor kekuasaannya yang kuat karena kefasihannya yang kharismatik. Ketika ia mengakhiri pidatonya saat kehadiran Raja di Vezela, seperti biasa timbul keriuhan yang bernuansa keramat. Raja langsung berlutut dan mengambil Salib, diikuti oleh begitu banyak massa dari semua kelas masyarakat, yang membuat persediaan salib buatan yang begitu banyak menjadi habis. Bernard sampai harus merobek pakaiannya untuk dipotong-potong dan diberikan kepada kerumunan orang yang riuh rendah itu.[7]

Orang yang tidak akrab dengan kisah Perang Salib mungkin akan dibuat kebingungan perihal mengapa ekspedisi tahun 1146 ini secara umum disebut sebagai “Perang Salib Kedua” oleh para ahli sejarah. Padahal tampaknya Perang Salib tak pernah berhenti: sejak penaklukan Yerusalem pada tahunh 1099, selalu ada arus ekspedisi yang tidak pernah berhenti ke Timur Tengah. Beberapa di antaranya dalam skala yang cukup besar. Tentara Salib pergi ke Tanah Suci sepanjang waktu selama dua ratus rahun, selama kaum Frank itu bertahan dengan kekuasaan mereka di Timur Tengah. Memang lama setelah kaum Frank itu kehilangan Negara-negara mereka di Timur Tengah, amatlah biasa bagi para raja dan baron untuk mengambil Salib dan bersumpah bahwa dia akan berangkat ke Yerusalem. Walaupun benar bahwa terminologi tradisional yang menyebutkan bahwa ada delapan kali Perang Salib dalam pengertian tertentu akan cukup menyesatkan, tetapi acuan tersebut masih mengungkapkan kebenaran yang bermakna penting. Tentu saja ada arus Salib yang tanpa henti ke Timur, tapi arus tersebut sebagian besar ekspedisi individual, dilaksanakan oleh para bangsawan atau ksatria perseorangan. Tapi dalam delapan kesempatan para Paus bersama para pemimpin sekuler mengumumkan upaya-upaya yang bersifat mendunia yang dilakukan oleh orang-orang Eropa. Ada delapan kepausan yang menyerukan untuk angkat senjata. Seluruh Eropa menyatakan perang terhadap Islam delapan kali selama periode Perang Salib. Seruan Paus Urban adalah yang pertama dari upaya-upaya Eropa memerangi Islam ini. Seruan Paus Eugenius, melalui kefasihan Bernard yang luar biasa, adalah yang kedua kali. Untuk memahami sifat khusus dari Perang Salib kedua ini kita harus memandang Eropa pada tahun 1146 demi memahami sebab mengapa Bernard begitu berpengaruh dan berkuasa.[8]

Bernard memiliki banyak gagasan ideal tentang Tentara Salib Pertama. Seperti Urban, ia mendesak para ksatria agar berhenti saling bunuh satu sama lain dan bergabung untuk melawan Islam. Dengan begitu, mereka akan dapat menyelamatkan jiwa mereka. Para pendosa besar pun akan mendapat banyak keuntungan dengan mengambil bagian dalam operasi perang ini, demikian ia berargumen, karena mereka akan mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Bernard amat terkesan oleh kesucian negeri tempat Kristus pernah hidup dan wafat. Negeri itu “dibumbui oleh mukjizat-mukjizatnya, disucikan oleh darahnya dan dihiasi oleh pemakamannya”.[9]

Bernard meyakini sepenuhnya bahwa kesucian hanya dapat terbuka bagi umat pilihan Tuhan. Penolakan Bernard terhadap kaum Muslimin bukan berdasarkan pada kebencian apa pun atas Islam sebagai agama, tapi lebih pada kaum Muslim sebagai ancaman bagi Tanah Suci dan karena itu juga ancaman bagi seluruh dunia. Pandangan Bernard ini sepenuhnya disambut oleh kaum mapan Kristen.

Pada akhir bulan Mei pasukan besar dari Jerman berangkat menuju Konstantinopel. Disusul oleh gelombang pasukan tentara Prancis pada tanggal 8 Juni. Dalam perjalanan panjang yang melelahkan, nasib tentara Perang Salib kedua ini tidak berbeda jauh dengan Perang Salib pertama. Di Asia kecil, Tentara Salib kedua menanggung badai salju yang ganas. Disamping itu, karena aksi-aksi penjarahan yang mereka lakukan dalam perjalanan, mereka pun menanggung serangan-serangan yang dilancarkan oleh penduduk setempat. Misalnya serangan dari tentara Saljuk yang membantai sekitar sembilan puluh persen pasukan Conrad sebagai tindakan belas dendam.[10]

Akibat dari badai salju yang ganas, kaum peziarah yang miskin mulai berguguran mati secara berkelompok. Kuda-kuda juga mati atau dibunuh untuk di makan. Para ksatria kurang kemampuan tempurnya. Tentara itu selalu diserang oleh pasukan Turki yang menyebabkan jatuhnya banyak korban.

Pasukan yang telah tercabik-cabik ini akhirnya sampai juga di Tanah Suci mereka, Palestina. Ketika Tentara Salib akhirnya tiba di Tanah Suci, mereka dihibur secara meriah oleh kaum Frank yang tumbuh berkembang di Palestina. Kaum Frank di Palestina itu dengan cemas menunggu kedatangan Tentara Salib kedua. Namun begitu, tampaknya perjumpaan itu canggung. Para peziarah dan Tentara Salib dari Barat selalu terkejut melihat gaya hidup mewah dan ketimuran dari kaum Frank di Palestina. Sebagian dari kaum Frank ini telah melakukan perkawinan dengan perempuan Palestina. Mereka terkejut saat menemukan bahwa kaum Frank di Palestina berkawan baik dengan Muslim. Bagi Tentara Salib yang taat tapi berpikiran sederhana, ini pastilah pengkhianatan besar dan membuat antusiasme mereka bergabung dalam Perang Salib menjadi sesuatu yang tidak bermakna. Tentu saja semua ini mengakibatkan segala upaya besar untuk Perang Salib kedua menjadi sia-sia sepenuhnya.

Untuk mencari penyebab kenapa Pasukan Perang Salib kedua ini dengan mudah masuk ke wilayah Muslim dan kebaradaan Kaum Frank di Palestina, perlu dijelaskan disini saat bahwa Perang Suci (jihad) pada masa ini telah berakhir bagi kaum Muslim, sebaliknya bagi kalangan Kristen merupakan titik awal. Di dunia Islam, sejak abad ke sepuluh, suatu aliran yang berlawanan dengan kekhalifahan, yakni aliran Fathimiyah (Syi’ah) yang muncul pertama kali di Tunisia dan merembes ke Mesir, menentang kekuasaan Abbasiah yang Sunni. Fathimiyah mengaku dirinya sebagai penguasa tunggal kekhalifahan Islam dan mendaulat Abbasiah untuk diambil alih kekuasaannya. Selanjutnya ada tiga kekhalifahan di dunia Muslim. Abbasiah, Fathimiyah dan Bani Umayyah II di Cordova Spanyol. Keretakan dalam tubuh Muslim (baik pertetangan aliran maupun kekuasaan) akhirnya menjadi perhatian utama waktu itu. Hingga pergesekan dengan pihak lain diperbatasan menjadi terlupakan. Akibat konflik internal yang berkepanjangan ini maka “Masa kepahlawanan” telah usai dan berlalu.

Lantaran terjadi perpecahan yang meliputinya dunia Islam menjadi lemah. Pasukan Salib yang masuk ke negeri Muslim menjadi mendapat angin. “Orang lain” mengambil keuntungan atas kekacauan ini.[11]

Akhirnya, sejak tahun 1098, (sebelum Perang Salib dua) kelompok-kelompok Kristen dari Eropa Barat berhasil menaklukkan sebagian dunia Muslim dan untuk sementara menguasai dataran pantai Syria dan Palestina.[12]

V. Richard Si Hati Singa dan Perang Salib Sekuler……………

Pada tanggal 6 Juli 1189, Raja Inggris, Henry II wafat. Ia digantikan oleh Richard. Richard yang mewarisi mahkota Inggris amat ingin berangkat ke medan Perang Salib. Keinginan ini bukanlah karena semangat religius. Richard adalah seorang prajurit dan Perang Salib adalah sebuah tantangan militer yang menggairahkan dan penuh gelora.[13]

Richard merupakan sosok yang kharismatik, tampan, penyair dan prajurut kelas satu. Dalam Perang Salib yang dipimpinnya, ia tiba di kancah peperangan bersama 25 kapal dengan senjata lengkap. Kedatangan Richard menjadikan semangat dan harapan-harapan kaum Frank melambung. Mereka menyalakan api unggun besar untuk merayakan kedatangan Richard.

Pengepungan Acre oleh pasukan Richard menjadi sebuah langkah Perang Salib yang paling berkepanjangan dan membuat putus asa. Di Dalam kota, pasukan-pasukan benteng kaum Muslim dan kaum sipil menderita akibat pengepungan selama dua tahun. Di sekeliling benteng kota tentara Kristen berkemah. Sementara di sekeliling kaum Kristen itu berkemahlah tentara pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, yang tak dapat menghubungi kaum Muslimin di dalam kota.

Dalam suasana penantian yang melelahkan ini, Shalahuddin memerintahkan untuk membacakan hadits-hadits Nabi untuk memotivasi pasukannya. Tapi taktik Richard jauh lebih pragmatis. Tidak ada khotbah-khotbah yang membangkitkan semangat. Tidak ada puasa. Richard malah menawarkan kepingan emas bagi setiap orang dalam pasukan yang dapat mengambil sebongkah batu dari benteng kota yang sedang diruntuhkan oleh Tentara Salib. Cara ini berhasil, tetapi sangat berbeda dengan Perang Salib sebelumnya.

Perang Suci telah beralih sisi, karena kini kaum Musliminlah yang religius, sedang kaum Kristen malah bermotivasi sekuler. Tapi benteng kaum Muslim tidak terselamatkan oleh upaya-upaya religius mereka dan akhirnya terpaksa menyerah pada serangan kristen yang baru ini. Ketika melihat bendera Kristen dikibarkan dari benteng kota pada tanggal 12 Juli 1191, Salahuddin Al-Ayyubi meneteskan air mata.

Kemenangan Tentara Salib ini benar-benar meninggalkan luka yang mendalam. Ketika Shalahuddin memiliki terlalu banyak tahanan, ia bebaskan ribuan dari mereka. Tetapi Richard bersemangat untuk maju terus. Ia merasa dirinya terbebani sejumlah besar tahanan perang, dan pada tanggal 20 Agustus 1191 ia menggiring 2700 Muslim, termasuk anank-anak dan perempuan, keluar benteng kota dan membunuh mereka dengan darah dingin dihadapan tentara Shalahuddin.

Akan tetapi sikap pragmatisme yang kejam dan biadab ini justru menjadi kesalahan terbesar bagi tentara Kristen. Kekejaman dan kebiadaban mereka terhadap umat Islam terkhusus perlakuan mereka atas para tahanan menjadi boomerang bagi mereka. Saat itu sebenarnya kondisi tentara Shalahuddin dalam keadaan lemah fisik dan mental, tetapi karena menyaksikan kebiadaban kaum Frank maka terusiklah nurani mereka. Tentara Shalahuddin mendedikasikan diri mereka kepada jihad dengan sebuah tekad baru, karena menyadari bahwa tidak akan ada perdamaian di antara mereka hingga mereka mampu mengusir kaum Kristen itu dari bumi Palestina.

Peperangan-peperangan terus berlanjut, para tentara Salib yang tidak terbiasa dengan hawa panas dan terik sinar matahari yang begitu menyengat membuat mereka merasa tersiksa.

Perang Salib ketiga yang begitu lama dan melelahkan ini kemudian menjadi peperangan yang justru membingungkan. Baik Shalahuddin maupun Richard sebenarnya sudah kelelahan untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan ini. Di antara mereka terkadang terlibat perundingan, kemudian perang lagi, dan begitu seterusnya. Seolah-olah antara Richard dan Shalahuddin seperti sahabat lama, meskipun pada dasarnya mereka adalah dua panglima yang sedang bermusuhan dan berebut kemenangan.

Beginilah kiranya, jika dua jagoan perang bertemu di medan laga. Richard seorang Raja Inggris pemberani, sedangkan Shalahuddin Panglima Muslim yang pantang menyerah. Mereka saling menikam dan memburu, namun di saat tertentu mereka saling menaruh hormat. Hormat seorang pemberani dan ksatria kepada keberanian dan kekesatriaan lawannya.

Hingga mendekati bulan Agustus, Richard merasa putus asa untuk mencari suatu penyelesaian. Dia betul-betul berhadapan dengan jalan buntu militer, seperti juga Shalahuddin Al-Ayyubi. Pasukan Richard, karena telah dua kali dicegah untuk menaklukkan Yerusalem, merasa marah dan nyaris memberontak. Dia mendapat kabar buruk dari Rumah, Philip Augustus -mantan Tentara Salib sebelumnya- menyerbu tanah kekuasaannya di Prancis. Akhirnya Richard jatuh sakit. Shalahuddin menunjukkan ketinggian budinya, dengan ramah mengirimkan dokter pribadinya untuk mengobati Richard dan memberinya hadiah buah-buahan dan es untuk dibuat minuman dingin. Tapi Richard tetap tidak mau menyerah dan tidak mau membuat konsesi lebih jauh. Akhirnya pada tanggal 2 September 1191, Richard menyerah. Sebuah perjanjian ditanda tangani untuk jangka waktu lima tahun, yang menunjukkan bahwa kedua belah pihak harus berkompromi. Shalahuddin harus menerima bahwa dia tidak akan bisa mengusir semua kaum Frank itu dan kemudian memburu mereka ke Eropa. Richard juga harus menerima bahwa dia tidak akan menaklukkan kembali Kota Suci, tapi dia mendapatkan hak bagi para peziarah Kristen untuk berdoa di sana. Kaum Muslim dan Kristen harus saling menghargai satu sama lainnya di Palestina dan Kota Suci itu.[14]

Kisah tentang Richard ini di Eropa diungkapkan dengan cara yang penuh heroik, sehingga dikenal sebagai salah satu raja Inggris yang paling melegenda. Sesudah penobatannya, dia menghabiskan waktu hanya beberapa bulan saja di negerinya. Dia mengerahkan semua kemampuannya untuk membayar kegiatan perangnya di Prancis dan Tanah Suci. Selama Perang Salib dia menjadi terkenal dengan julukan “Si Hati Singa” dan dianggap sebagai Raja Agung Inggris yang sebenarnya, karena ia memimpin pasukannya ke Tanah Suci. Ini menunjukkan bahwa Perang Salib betul-betul bermakna penting sebagai sebuah nilai di Eropa, meskipun tampaknya Perang Salib kemudian lebih menjadi sebuah perburuan yang bersifat sekuler. Bagi mereka yang tetap tinggal di Eropa, Perang Salib menjadi peristiwa yang jauh dan sangat menarik, sangat berbeda dengan kenyataannya di lapangan yang bersimbah darah.

VI. Perang Salib dan Fenomena sejarah.

Perang Salib yang berjalan cukup lama dan melelahkan itu, telah menimbulkan fenomena baru di Barat pada sekitar abad ke sebelas, antara lain:

1. Perang Salib jelas merupakan suatu tindakan Eropa yang mengingkari ajaran Kristen., sebab Yesus tuhan mereka sebenarnya bukankah telah menitah kan para pengikutnya untuk mencintai musuh-musuh mereka, bukannya memusnahkannya. Bukankah menurut ajaran Kristen, Yesus adalah pencinta damai ? bukan seperti yang dilakukan Paus Urban.

2. Alasan Kristen Eropa dalam ekspedisi Perang Salib, pada dasarnya lebih disebabkan ketakutan mereka terhadap Islam yang dianggap sebagai ancaman, daripada seruan agama. Sebelum Perang Salib, Islam sudah memasuki wilayah Spanyol (Andalusia) dan pulau-pulau di Laut Tengah, khususnya Sisilia, melintasi pegunungan Pirenia, hingga mengancam seluruh Eropa Barat. Sementara dari sisi Timur, Islam sudah bergerak menuju Yunani dan wilayah Kristen hingga jantung kerajaan Byzantium.

3. Perang Salib pertama dan kedua menunjukkan pengalaman perang bangsa Eropa yang masih sangat lemah, sebab dalam peperangan yang di suarakan sebagai “Perang Suci” dengan jarak yang cukup jauh dan armada yang begitu besar sampai kehabisan logistic di tengah jalan, sehingga mereka harus memperolehnya dengan jalan merampok di kampung-kampung dan membuat marah pasukan Hungaria. Sehingga dengan mudah dapat di usir oleh pasukan Turki dengan cara yang sangat memalukan.

Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Arab lebih berpengalaman dan maju dalam strategi perang. Pasukan Khalid bin Walid ketika melawan Romawi di Yarmuk telah membuktikannya, demikian pula dengan Thariq bin Ziyad saat menaklukkan Spanyol (Andalusia) yang sangat dramatis dengan membakar kapal perangnya sendiri sehingga memperoleh kemenangan yang gemilang.

4. Masa Perang Salib adalah masa dominasi agama (Kristen) di Eropa, sehingga para raja dan bangsawan pun kalah kharisma dan begitu hormat kepada para Paus dan pendeta.

Palestina merupakan negeri yang memiliki banyak masalah yang unik. Dari sanalah Nabi Muhammad saw memulai perjalanan mikraj ke langit, Sidratul Muntaha. Palestina juga merupakan tanah yang dijanjikan kepada Bani Israil di masa Nabi Musa. Dan di sana pula Nabi Isa as dilahirkan dan meninggal. Tiga agama samawi ini hingga saat ini belum menemukan jalan tengah yang terbaik untuk menyelesaikan sengketa tanah Palestina.

5. Perang salib secara tidak langsung telah membuka sendiri mata Eropa terhadap perkembangan negeri-negeri lain. Kunjungan terpaksa (untuk perang!) ternyata memberikan manfaat pula, yakni berupa pelepasan diri dari kepicikan.dan keterbelakangan mereka.

6. Perang Salib merupakan invasi yang dipenuhi oleh perasaan benar sendiri, arogansi sebuah bangsa dan keberagamaan yang agresif dari sebuah Perang Suci. Dan hal ini akan menjadikan ciri Barat di kemudian hari dalam berurusan dengan Timur ( Islam ).

7. Perang Salib ini merupakan kerja kolektif pertama dari Bangsa Eropa, setelah mereka mendapat sedikit pencerahan dari bias kemajuan peradaban umat Islam baik di Baghdad maupun di Cordova.

8. Perang Salib juga merupakan pelajaran pertama bangsa Eropa, keluar dari benuanya dan memberikan kesadaran kepada mereka bahwa di dunia Islam terdapat kemajuan yang perlu direbut dan dikuasai. Maka Eropa kemudian berlari mengejar ketertinggalan dan berambisi untuk balas dendam pada sejarah kelam mereka di masa lalu dengan semangat menghancurkan Islam sampai kapanpun ( Reqonquista ).

9. Perang Salib dapat menjelaskan kepada dunia, sebab terjadinya polarisasi yang berlabel “Islam dan Barat”. Meskipun perseteruan Islam versus Barat terasa janggal menurut logika bahasa. Namun dalam logika orientalis Barat, yang menjadi ancaman buat mereka sebenarnya adalah Islam, bukan Timur.

Untuk mengatasi “ancaman” tersebut, Barat telah melakukan berbagai cara, mulai dari kekerasan fisik, arogansi kekuatan, politik belah bambu, labelisasi Islam terorisme, politik kekuasaan, cuci otak para intelektual muda muslim dan sebagainya.

VII. Penutup

Demikian selintas kisah dari Perang Salib yang telah mengubah wajah dunia pada abad pertengahan yang berpengaruh hingga sekarang. Sebelum Perang Salib, pemeluk agama Kristen dan Yahudi bisa hidup berdampingan di Palestina dan sekitarnya di bawah naungan Daulah Islamiyah. Tetapi setelah kedahsyatan Perang Salib yang memakan waktu sampai dua abad lamanya, telah mampu mengubah situasi harmoni masa lalu.

Perang Salib telah menyisakan perasaan, dendam, curiga, waspada, was-was, dan rasa terancam yang menghantuinya. Dengan logika ini, kita bisa menemukan alasan mengapa George W. Bush penguasa nomor satu Negara Adi Daya itu mengkaitkan isu terorisme internasional sebagai kelanjutan Perang Salib Modern.

DAFTAR PUSTAKA

Bassam Tibi, 1994, Krisis Peradaban Islam Modern, terj. Yudian W. Asmin dkk (Yogyakarta: Tiara Wacana)., cet ke-1

Bernard Lewis, 1988, Muslim menemukan Eropa, terj. Ahmad Niamullah Muiz. (Jakarta: Pustaka Firdaus).

Deliar Noer, 1999, Pemikiran Politik di Negeri Barat (Bandung: Mizan), cet ke-5

Hassan Hanafi, Al-Muqaddimah fi Ilmi Al-Istighrab (Kairo: Madbuli)

Karen Armstrong, 2000, Berperang Demi Tuhan, terj. Satrio Wahono dkk. (Jakarta: Serambi Ilmu semesta), Cet ke-1.

Karen Armstrong, 2003, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta) Cet ke-1

Karen Armstrong, 2002, Sejarah Tuhan, terj. Zainul Am (Bandung: Mizan), Cet ke-6

William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar)


[1] Bernard Lewis, Muslim menemukan Eropa, terj. Ahmad Niamullah Muiz. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1988)., hlm 19.

[2] Robert the Monk, Historia Iherosolimitana, dikutip oleh Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 27.

[3] Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 30

[4] ibid hlm 31

[5] Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 124

[6] Ibid, hlm. 125.

[7] Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 321.

[8] Ibid hlm. 321

[9] ibid, hlm 322

[10] Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 345.

[11] Bernard Lewis, Muslim menemukan Eropa, terj. Ahmad Niamullah Muiz. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1988)., hal. 7.

[12] Ibid, hlm 8

[13] Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 419

[14] Karen Armstrong, Perang suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm 428

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: