Fokammsi’s Weblog

Forum Kajian Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

FAKTA KEBENCIAN YAHUDI-NASRANI

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

(STUDI KRITIS “ISLAM PRIBUMI” DALAM KAJIAN TAFSIR)

Ditulis Oleh: SYAHRUDIN HIDAYAT

A. Pendahuluan

Huntington membuat wacana baru yang mengingatkan Barat, bahwa jika gerenasi muda Muslim tidak ‘diperhatikan’ maka mereka akan menjadi militan, dan memperkuat kebangkitan Islam, yang akan mengancam Barat. Dengan logika tambahan dari Huntington, bisa dipahami jika kemudian ada program besar-besaran dari pemerintah Barat tertentu untuk melakukan ‘Westernisasi’, ‘sekularisasi’, dan ‘liberalisasi’ di dunia Islam. Itu bisa dilihat, misalnya, dari antusiasme AS dalam mendukung gerakan-gerakan Liberal Islam di berbagai negara Muslim. Program westernisasi dilakukan untuk menekan muncul dan tumbuhnya orang-orang atau kelompok yang dianggap berpotensi menentang Barat. Dengan sifatnya yang sangat pragmatis-sekularistik, terlepas dari nilai-nilai moral agama, maka standar yang digunakan Barat akan bersifat sangat fleksibel dan situasional. Di masa Perang Dingin, misalnya, semua kelompok yang menentang komunisme dan mendukung kepentingan Barat/AS didukung, meskipun berasal dari kalangan Islam, seperti kelompok Osama bin Laden. Bahkan, di masa Pasca Perang Dingin pun, AS tetap memberikan dukungan terhadap rezim Arab Saudi, meskipun sering disebutkan bahwa Wahabisme yang diterapkan AS adalah merupakan sumber terorisme.[1]

Wacana sekularisasi, liberalisasi maupun pluralisasi di Indonesia kemudian marak berkembang dengan munculnya secara melembaga dengan apa yang dinamakan Jaringan Islam Liberal (JIL). Menurut Lutfi As-Syyaukani, Islam Liberal sudah dipopulerkan sejak tahun 50-an, tapi kemudian keberadaannya merebak pada tahun 1980. Tokoh rujukan mereka adalah Nurcholis Majid dan komunitasnya. Mereka mulai aktif melakukann kegiatan dengan menggelar kelompok diskusi melalui dunia maya (internet) pada alamat milis liberal@yahoo.group.com dan website www. islamlib.com. Dalam situs tersebut mereka mendefinisikan Islam Liberal sebagai suatu bentuk penafsiran baru, dengan menggambarkan prinsip dari Islam Liberal yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial politik yang menindas.

Gagasan-gagasan liberalisasi Islam yang dilakukan Jaringan Islam Liberal ini khususnya di Indonesia menimbulkan kontroversi. Hal ini disebabkan karena hasil pemikiran yang mereka usung banyak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariah Islam secara umum. Kritik-kritik mereka banyak menggugat hal-hal permanen yang menjadi pondasi dasar Islam. Satu contoh yang menarik, sholat yang dilakukan Aminah Wadud saat mengimami sholat berjamaah dengan makmum yang bercampur dengan laki-laki di sebuah gereja.

Berbeda dengan ulama pada umumnya, yang biasanya menekankan otoritas, para pemikir Islam Liberal yang kebanyakan Anak muda ini bisa digolongkan “pembrontak”. Mereka yang menganggapnya sebagai “kegelisahan intelektualnya” selalu mempertanyakan mengapa Islam yang normatif dan skriptual tidak lagi mengalirkan pesannya yang mendasar pada zaman yang baru. Mereka menyatakan dengan berfikir demikian Islam akan mampu melakukan transformasi dan trensendensi dalam memajukan peradaban.

Relatifitas penafsiran mereka terhadap teks keagamaan, baik Al-Qur’an maupun Hadist sangat kentara. Salah satunya yang terangkum dalam buku “Islam Pribumi”. Buku ini disusun berdasarkan hasil dialog interaktif di bulan Ramadhan. Dialog tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) di tiga radio Swasta di Jakarata (Radio Asy-Syafi’iyyah, Jakarta News FM, dan Elshinta) dari tanggal 16 November sampai 11 Desember 2001. Dialog interaktif itu merupakan impelmentasi dari program pengembangan Islam Pluralis, yaitu sebuah program yang diperkenalkan oleh lambaga yang bernaung di bawah payung Nahdlatul Ulama (NU).[2]

Salah satu contoh penafsiran mereka yang berbeda dengan kebanyakan Mufassir pada umumnya adalah ketika merefesentasikan surat Al-baqarah ayat 20, ayat ini mereka anggap tidak berlaku universal, apalagi untuk konteks sekarang. Ayat tersebut terkurung dalam tradisi kearaban dan dijadikan alat bagi kepentingan Nabi Muhammad untuk memperkuat kekuasaan dan panatisme ke-Islaman dengan memunculkan sikap apriori umat terhadap pihak non muslim yang dalam hal ini Yahudi dan Nasrani. Untuk itu, saat ini hukum tersebut tidak lagi berlaku. Seperti yang dikatakan Ahmad Baso:

Kalau kita mengambil penafsiran yang situasional dalam situasi Madinah, ayat itu tidak lagi berlaku secara universal. Kalau soal kebencian, setiap manusia memiliki kebencian. Akan tetapi, tidak kemudian melembaga menjadi hukum teologis bahwa orang itu benci kepada orang Islam. Tidak ada sifat manusia yang abadi “.[3]

B. METODOLOGI PENAFSIRAN AL-QUR’AN

Allah menurunkan Al-qur’an untuk dijadikan pedoman hidup dan petunjuk. Isinya memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, baik urusan di dunia maupun akherat. Oleh karenanya ia merupakan kitab suci yang paling lengkap dan penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya, baik taurat, injil dan jabur.

Kebahagiaan manusia tidak akan tercapai melainkan dengan memahami dan mengamalkan apa yang tersirat dalam Al-Qur’an. Permasalahan yang kemudian muncul adalah bahwa tidak setiap orang mampu mengeksplorasi ayat-ayat Allah tersebut. Apalagi Al-Qur’an sendiri diturunkan dalam bahasa dan tulisan tertentu. Ini yang kemudian menjadi persoalan bagi mereka yang tidak memahami bahasa dan tulisan dimana Al-Qur’an diturunkan.

Bukan hanya masalah tulisan atau bahasa yang mengemuka, persoalan terbesar justeru terjadi pada perbedaan pemahaman terhadap pesan-pesan tuhan yang terkandung di dalamnya. Ini bisa dimaklumi sehubungan dengan posisinya sebagai kalamullah yang sifatnya qadim, tentu tidak mudah untuk dimengerti secara langsung oleh setiap manusia dengan kondisinya yang heterogen dan segala sesuatunya dipengaruhi lingkungan. Endingnya terjadi multi pemahaman yang masing-masing memiliki argumentasi sendiri-sendiri, yang tak pelak menimbulkan perselisihan satu sama lain, dan bahkan saling membunuh. Kondisi ini menjadi inspirasi munculnya “Ulum al-Qur-an”. Disiplin ilmu dalam Islam yang mengupas tuntas Al-Qur’an dari berbagai sisi. Salah satu objek pembahasan yang secara langsung berkaitan dengan pemahaman kandungan isinya adalah al-Tafsir wa al-Tawil.

Secara bahasa, tafsir berasal dari kata “al fasr”, kemudian diubah menjadi bentuk taf’il yaitu menjadi “al-tafsir” yang berarti penjelasan atau keterangan.[4] Dalam kamus “Lisanul Arab” Ibnu Manzur menjelaskan bahwa kata “al fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata ”at-tafsir” berarti menyingkapkan sesuatu maksud lafad yang musykil dan pelik.

Sebagian ulama berpendapat bahwa kata tafsir (fusara) adalah kata kerja yang terbalik dari kata “safara” yang juga berarti menyingkapkan. Pembentukan kata dari al-safr menjadi bentuk taf’il yakni “al-tafsir” adalah untuk menunjukkan arti tafsir (banyak, sering berbuat). Menurut Ar-Raghib, kata “alfasr” dan “as-safr” adalah dua kata yang berdekatan maknadan lafadnya. Yang pertama untuk menunjukkan arti menampakan (menzahirkan) makna yang ma’qul (abstrak) dan yang kedua untuk menunjukkan arti menampakkan benda pada penglihatan mata. [5] Dalam Al-Qur’an dinyatakan:

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا (الفرقان :33)

Artinya: “Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya” (QS. Al-Furqan: 33)

Menurut Ibnu Abbas , yang dimaksud dengan firman Allah وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا adalah, lebih baik perinciannya.

Pengertian tafsir menurut istilah, Az-Zarkasyi mendefinisikan sebagai ilmu untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan menjelaskan makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya, menguraikan dari segi bahasa, nahwu shorof, ilmu bayan, ushul fiqh dan ilmu qiraat, untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat dan nasikh mansukh.[6] Kata tafsir dalam agama Islam secara khusus menunjukkan kepada masalah penafsiran Al-Qur’an dan ilmu-ilmu tafsir Al-Qur’an.[7]

Menurut Ahmad Syadali, dengan mengutip pendapatnya Prof. Dr. H. Abdul Djalal H. A., membagi tafsir Berdasarkan sumbernya menjadi tiga, yaitu Tafsir bi al-Ma’tsur, Tafsir bi al-Ro’yi[8] dan Tafsir bi al-Izdiwaji. Guru besar tafsir pada fakultas syari’ah di Riyadh, Manna Khalil al-Qaththan membuat definisi Tafsir bi al-Ma’tsur:

Tafsir yang didasarkan atas dalil-dalil sahih yang dinuqilkan dengan sahih secara tertib, mulai tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, atau dengan As-Sunnah, karena As-Sunnah itu dating untuk menjelaskan kitab Allah, atau denga apa yang diriwayatkan dari para sahabat, karena mereka adalah orang yang paling tahu dengan kitab Allah tersebut, atau dengan apa yang dikatakan oleh tokoh Tabi’in, karena umumnya mereka menerima hal itu dari para sahabat “.[9]

Pada Tafsir bi al-Ma’tsur, penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an diambil dari sumber-sumbar yang berhubungan dengan makna ayat yang akan ditafsirkan, lalu disebutkan penafsirannya berdasarkan riwayat, nukilan atau kutipannya tersebut, tanpa berijtihad di dalam mmenjelaskan maksud ayat yang ditafsirkan dan tidak mencari penafsiran dari sumber yang lain, bahkan menghindari keterangan yang tidak ada faedahnya selama tidak ada dalilnya.[10] Dengan demikian Mufassir yang menempuh cara ini, harus terlabih dahulu mengeksplorasi ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan, sehingga dalam menafsirkan suatu ayat akan dikaitkan dengan ayat-ayat lain sebagai penjelasnya. Kemudian menelusuri sejumlah hadist, atsar sahabat, dan ungkapan tabi’in yang sahih yang ada hubungannya dengan keterangan ayat tersebut.

Lebih terperinci langkah-langkah penafsiran dengan metode al-Ma’tsur, Hasby Ash-Shiddieqy dalam “Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir” menjelaskannya bahwa seseorang yang hendak menafsirkan suatu ayat haruslah terlebih dahulu mencari tafsir ayat tersebut di dalam Al-Qur’an sendiri. Karena kerap kali ayat-ayat itu bersifat ringkas di suatu tempat, sedang penjelasannya terdapat di tempat lain. Yakni hendaklah ayat itu lebih dahulu ditafsirkan (dicari tafsirannya) dengan ayat sendiri. Sebab yang lebih mengetahui kehendak tuhan dengan ayat-ayatnya, hanya tuhan sendiri. Jika tidak ada ayat yang dapat dijadikan tafsir bagi ayat itu, periksalah As-Sunnah atau Al-Hadist. Setelah itu hendaklah ia mencari keterangan sahabat, karena mereka lebih mengetahui maksud-maksud ayat dan mereka sendiri mendengar dari Rosul serta mempersaksikan sebab-sebab turunnya ayat (asbab an-nuzul.)[11]

Sedangkan Tafsir bi al-Ro’yi atau sering disebut dengan Tafsir Dirayah atau Tafsir bi al-Ma’qul adalah tafsir Al-Qur’an yang didasarkan atas sumber ijtihad dan pemikiran Mufassir terhadap tuntutan kaidah bahasa Arab dan kesusasteraannya, teori ilmu pengetahuan, seteleh dia menguasai sumber-sumber tadi.[12] Prof. Dr. H. Abdul Djalal mengartikan Tafsir bi al-Ro’yi sebagai tafsir yang mana Mufassir menerangkan makna hanya berlandaskan kepada pemahaman yang khusus dan tidaklah keterangannya itu dari pemahaman yang sesuai dengan jiwa syari’ah dan yang berdasarkan nash-nashnya.[13] Pada penafsiran ini, Mufassir memiliki proregatif untuk menjelaskan makna-makna ayat berdasarkan pemahamannya sendiri dan penyimpulan atau istinbat hukum sesuai dengan ra’yunya.

Para ulama berbeda pendapat terhadap keberadaan Tafsir bi al-Ro’yi, bahkan sebagian mereka menghukuminya haram, apalagi bagi orang-orang yang pengetahuannya tentang metodologi penafsiran dan ushlub-ushlub bahasa Arab yang sangat terbatas. Ibnu taimiyah seperti dikutip Syadali mengatakan bagi siapa saja yang mengatakan Al-Qur’an dengan hanya berlandaskan pikiran saja, maka berarti ia telah menentukan beban yang tidak ada ilmu dalam hal itu, dan berarti ia telah menempuh hal yang tidak diperintahkan. Maka sekalipun dia mungkin tepat mengartikannya, namun dia tetap bersalah karena dia tidak mendatangi sesuatu dari pintunya, seperti halnya seorang hakim yang memutuskan perkara orang dengan kebodohan, maka dia akan masuk neraka sekalipun keputusannya itu sesuai kebenaran.[14]

Adapun hukum dibolehkannya penafsiran dengan al-Ro’yi atau ijtihadnya sendiri, telah dibanarkan oleh beberapa ulama besar, diantaranya Imam Al-Ghazali. Akan tetapi dengan syarat jangan terlalu mencari-cari penafsiran supaya sesuai dengan madzhab yang dianuti oleh penafsir itu, baik dalam hal yang pokok (al-ashl) maupun cabang (al-far’u). Adapun penafsiran yang dikatakan penafsiran dengan pikiran, sebagaimana dilarang oleh hadist yang diriwayatkan Abu Dawud, At-Turmudzi dan An-Nasa’iy, maka jika hadist itu dipandang benar ialah: menafsirkan Al-Qur’an dengan tidak mempedulikan As-sunnah, atsar, dan kaedah-kaedah yang sudah di tetapkan.[15] Karena ro’yu semata yang tidak disertai bukti-bukti akan membawa penyimpangan terhadap kitabullah. Kebanyakan orang yang melakukan penafsiran dengan semangat demikian adalah ahli bid’ah, penganut madzhab batil. Mereka menafsirkan Al-Qur’an menurut pendapat pribadi yang tidak mempunyai dasar pijakan berupa pendapat atau penafsiran ulama salaf, sahabat dan tabi’in.[16]

Terakhir adalah Tafsir bi al-Izdiwaji atau disebut juga dengan metode campuran antara Tafsir bi al-Ma’tsur dengan Tafsir bi al-Ro’yi yaitu menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayat yang kuat dan sahih, dengan sumber hasil ijtihad akal pikiran yang sehat. Tafsir macam ini banyak ditulis pada tafsir modern yang muncul sesudah kebangkitan kembali umat Islam, dengan tujuan untuk membersihkantafsir-tafsir Al-Qur’an dari ikatan kaidah bahasa dan dengan tujuan untuk membersihkantafsir-tafsir Al-Qur’an dari ikatan kaidah bahasa dan teori-teori yang kurang erat hubungannya dengan maksud ayat.[17]

Selain penafsiran yang ditinjau dari sisi sumbernya seperti yang telah dijelaskan di atas, para ulama memiliki rumusan metodologi penafsiran yang lain yaitu penafsiran yang didasarkan pada cara penjelasannya, keluasan penjelasannya ayat dan yang berdasarkan susunan dan tertib ayat. Metode yang ditinjau dari cara penjelasannya terdiri dari metode tafsir bayani dan metode tafsir Muqarin. Metode yang ditinjau cara penjelasannya terdiri dari metode tafsir Ijmali dan metode tafsir Itrabi. Sedangkan Metode yang berdasarkan susunan dan tertib ayat terdiri dari metode tafsir Tahlili dan metode tafsir Maudu’i. Pada perkambangan selanjutnya terdapat kecenderungan Mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an difokuskan pada tafsiran ayat-ayat tertentu saja, bardasarkan jenis fokos tafsiran. Ini yang kemudian memunculkan aliran tafsir Al-Quran seperti tafsir Lughawi, tafsir Isy’ari, tafsir Ilmi, tafsir Fiqih, dan tafsir Falsafi.[18]

Seorang Mufassir yang akan menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an harus memenuhi syarat-syarat. Para ulama menyebutkan beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang hendak menafsirkan Al-Qur’an, diantaranya; mempunyai akidah yang lurus, bersih dari hawa nafsu dan memiliki ilmu tafsir.[19] Hasby Ash-Shiddieqy merangkum ilmu-ilmu yang harus dimiliki sebagai syarat menafsirkan Al-qur’an yaitu: ilmu Lughat al-Arabiyah, ilmu ma’ani, bayan, badi’, ilmu kalam, ilmu qira’at, memahami undang-undang bahasa Arab, dapat menentukan yang mubham, mengetahui ijmal, tabyin, umum, khusus, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan dan yang sepertinya.[20] Semakin luas ilmu yang dimiliki oleh penafsir, maka semakin tinggi pula kualitas kwalitas tafsiran-tafsirannya.

C. Eksklusifisme Surat Al-Baqarah Ayat 120[21]

Materi yang diketengahkan Ahmad Baso dalam buku “Islam Pribumi” salah satunya mengangkat tema Islam sebagai rachmat bagi seluruh alam. Sebagaimana Al-Qur’an mengatakan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء :107)

Artinya: “Dan tidaklah kamu mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai rachmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Pria kelahiran Ujung Pandang, 14 November 1971 dan alumni Pesantren An-Nahdhah Makasar yang kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya di LIPIA Jakarta ini mengemukakan pendapatnya bahwa Al-Qur’an merupakan media transformasi sosial. Untuk mencapai tujuan ini, Al-Qur’an dituntut mampu mendukung prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal, meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara plular, mandiri dan bebas.

Menurutnya, dalam konteks kehidupan sosial saat ini, manusia berhadapan dengan isu keadilan, transformasi sosial, kesetaraan jender, plularisme, humanisme, hak asasi manusia, dan demokrasi. Ayat-ayat yang relevan untuk mengangkat isu-isu tersebut adalah ayat-ayat yang turun di Mekah atau yang sering disebut dengan istilah ayat-ayat Makiyyah. Karena ayat inilah yang ia katakan sangat sesuai dengan persoalan-persoalan kemanusiaan secara universal. Sementara ayat-ayat Madaniyyah itu bersifat parsial dan tidak berlaku secara umum.

Ayat-ayat yang diwahyukan di Madinah adalah ayat-ayat yang mendukung proses-proses politik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan inilah kondisi yang kemudian melatarbelakangi munculnya ayat yang bersifat eksklusifisme dalam bentuk permulaan dengan pengkhususan bagi orang-orang yang beriman (ya ayyuhalladzina amanu). Termasuk Salah satunya adalah ayat yang memiliki kandungan apriori terhadap pihak lain, seperti surat Al-Baqarah ayat 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ (البقرة :120)

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepadamu, sampai kamu mengikuti millah mereka”(QS. Al-Baqarah: 120)

Padahal di Mekkah tidak pernah terjadi seperti itu, bahkan orang-orang non muslim pun masih tatap dido’akan oleh Nabi untuk selamat, tanpa harus masuk Islam. Ia mencontohkan seperti paman Nabi yang bernama Abu Thalib. Beberapa kali Nabi membujuk pamannya itu untuk masuk Islam, tetapi sang paman tidak mengucapkan satu katapun untuk masuk Islam. Meskipun demikian, Nabi tetap mendo’akan dan membebaskan pamannya, walaupun bukan orang Islam.

Menurutnya bahwa surat al-Baqarah ayat 20 ini haruslah diberikan penafsiran yang situasional dan kondisional, yaitu situasi dan kondisi dimana ayat tersebut diturunkan. Masih dalam buku yang sama dalam tema yang berbeda, Marzuki wahid sependapat dengannya, ia mengatakan bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat hanya dengan cara tekstual. Hukum Islam itu terkait dengan ruang dan waktu dan karenanya tidak mengikat sebagaimana bunyinya. Menurutnya kita harus meninggalkan cara berfikir yang tekstual, skriptual dan kaku dalam melihat sebuah teks. Sebaliknya, kita harus melihat makna substansi yang ada di balik teks itu sendiri.

Seperti dikemukakan Ats-Tsa’labi dari Ibnu Abbas, kronologis turunnya ayat tersebut berkaitan dengan perubahan arah kiblat. Ketika Allah memerintahkan untuk membelokkan arah kiblat ke Masjidil Haram, Kaum Yahudi Madinah dan kaum Nasrani Najran merasa keberatan, kemudian menghadap agar nabi Muhammad SAW. tetap shalat menghadap kiblat mereka. Mereka berkomplot dan berusaha supaya Nabi Muhammad SAW. menyetujui kiblat sesuai dengan agama mereka. Maka turunlah ayat tersebut (QS. Al-Baqarah: 120), yang mengaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada Nabi Muhammad walaupun keinginannya dikabulkan.[22]

Selanjutnya Ahmad Baso memperkuat pendapatnya dengan mengutip seorang pemikir asal Sudan, Mahmud Muhammad Thaha yang mengangkat tesis tentang studi Qur’an. Thaha memiliki pandangan; selama ini orang menganggap apa yang ada di dalam realitas itu harus mengikuti Al-Qur’an, dan kalau tidak mengikuti Al-Qur’an dianggap sebagai kafir, murtad dan syirik. Maka dengan mengedepankan ayat-ayat Makiyyah inilah sebagai jawaban bagi visi pembebasan manusia. Sebab ayat-ayat yang turun di Mekah itu berorientasi kepada prinsip kemanusiaan yang universal, seperti ayat ya ayyuhannasu” (wahai manusia). Sementara ayat-ayat yang turun di Madinah sudah mengerucut lebih eksklusif, menjadi “ya ayyuha al-ladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman).

Dengan perbedaan dan pemilahan ini, menurutnya Islam akan mampu menggerakkan perubahan sosial. Dan dengan ini pula agama bukan sekedar milik para penguasa yang selalu menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan kekuasaannya. Tetapi Islam adalah milik masyarakat. Oleh karena itu Islam bisa mengajukan gugatan, kontrol dan juga perlawanan terhadap Negara yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip yang universal itu.

Ahmad Baso mengungkapkan bahwa kasus Thaha ini bukan teori semata. Tesisnya berdasarkan fakta pada saat itu. Dimana Sudan merupakan Negara yang waktu itu pemimpinnya menggunakan simbol-simbol Islam untuk berkuasa. Tampuk kepemimpinan yang dipimpin Hasan Turabi sangat kentara menggunakan Islam sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan, bahkan untuk melakukan kudeta atas nama Islam dan berkoalisi dengan militer. Hal ini dikritik oleh Thaha, bahwa sebenarnya mereka bukanlah representasi dari Islam, mereka menggunakan Islam sebagai alat politik. Sedangkan Islam diturunkan bukan untuk kepentingan itu, tetapi untuk kepentingan manusia secara universal. Oleh karena itu, dalam rangka ini dia melakukan gugatan terhadap pemimpin yang korup, yang hanya menggunakan simbl-simbol Islam. Caranya dengan mengangkat ayat-ayat makiyyah, yaitu ayat-ayat yang sesuai dengan persoalan-persoalan kemanusiaan secara menyeluruh. Sebagai contoh dalam surat Adz-Dzariyat ayat 19:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (الدريات :19)

Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian”. (QS. Adz-Dzariyat: 19)

.

Ayat ini diturunkan pada periode Mekah. Disebutkan di dalamya bagaimana orang-orang miskin diberdayakan. Begitu juga dengan ayat yang pendek dalam surat ‘Abasa ayat 1:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (عبس :1)

Artinya: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling” (QS. ‘Abasa: 1)

Hal ini merupakan teguran kepada Nabi Muhammad agar jangan sekedar memalingkan mukanya kepada kalangan elit lantas melupakan kepentingan masyarakat, yang sebenarnya tidak begitu dominan dalam masyarakat, seperti orang miskin dan orang buta yang notabene adalah orang yang terlantar. Ayat-ayat seperti ini menunjukkan adanya perhatian yang besar terhadap posisi kalangan yang selama ini dianggap marginal. Seperti budak dan orang miskin. Sebagai contoh adalah sahabat Bilal, pada mulanya dia hanyalah seorang budak hitam, tetapi setelah bertemu dengan Nabi dia mendapat derajat khusus yaitu sebagai sahabat. Nabi sendiri memberdayakan Bilal dan membuatnya setara dengan aristokrat Quraisy.

Persoalannya lain ketika Nabi Hijrah ke Madinah dan membentuk Negara sendiri. Ahmad Baso mengatakan bahwa visi pembebasan terhadap kaum marginal seperti terjadi pada periode Mekah mulai terkikis oleh dominasi keinginan untuk menguasai Negara. Nabi Muhammad waktu di Madinah sudah menjadi kepala negara, pemimpin umat. Dengan demikian, praktis yang diberdayakan bukan lagi kalangan tertindas, tetapi orang-orang kaya. Menurutnya, ada satu kasus ketika Nabi Muhammad melakukan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Di situ Nabi melakukan persaudaraan antara kaum Muhajirin yang punya afiliasi dengan suku besar, seperti Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, Utsman dan Umar. Merekalah yang kemudian mendapat fasilitas, ada rumah dari kaum Anshar, diberikan tanah, bahkan isteri. Akan tetapi kalangan orang-orang miskin, yang tidak memiliki afiliasi dengan suku-suku besar, seperti Abu Dzar al-Giffari, Amr bin Yasir, dan Bilal, tidak mendapat apapun dari konteks persaudaraan. Mereka justeru ditaruh di emperan Masjid menjadi Ahl al-Suffah.

Endingnya, ayat-ayat makiyyahlah yang relevan dengan kehidupan sosial dimasa sekarang. Karena ayat-ayat tersebut memiliki kandungan yang universal dalam rangka membebaskan jati diri kemanusiaan saat ini yang juga bersifat universal dan prular.

D. Analisis Fakta Kebencian Yahudi Dan Nasrani Dalam Perspektif Mufassirin.

Menaggapi tulisan Ahmad baso, sangat tepat jika Islam dikatakan sebagai agama yang diturunkan dengan misi rachmatan lil’alamin. Artinya, keberadaan Islam akan selalu sesuai dengan situasi dan kondisi, di manapun dan sampai kapanpun (li kulli makan wa az-zaman). Dengan demikian, kehadirannya mustahil menimbulkan konflik dalam berbagai hal. Baik politik, ekonomi maupun sosial. Islam menjadi ajaran yang mampu menjawab problem-problem nyata kemanusiaan secara universal tanpa melihat perbedaan agama dan etnik. Islam adalah untuk manusia, demi kemaslahatan mereka. Oleh karena itu Islam mesti dekat dengan permasalahan keseharian mereka. Islam tidak hanya berbicara alam ghaib dan peribadatan, tetapi juga akrab dengan perjuangan melawan penindasan, kemiskinan, keterbelakangan, anarki sosial dan sebagainya.

Adapun apabila terjadi konflik dan berbagai permasalahan yang berkepanjangan dalam kehidupan sosial misalnya, yang ini terjadi ditengah-tengah masyarakat dengan melibatkan umat Islam. Penulis tidak setuju kalau kemudian yang dilakukan adalah relatifitas penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tujuan kemaslahatan yang berdasarkan kemuan dan pikirannya sendiri. Karena boleh jadi hal tersebut tidak sesuai dengan maqasid yang dikehendaki oleh Allah SWT. Sehingga terjadilah penafsiran suatu ayat yang dibuat sedemikian rupa sehingga berubah dari aturan penafsiran yang sesungguhnya.

Sebagai contoh, terjadinya peristiwa WTC 11 September 2001 lalu, menyusul kemudian serangan AS atas Afghanistan dan Irak. Proyek besar-besaran AS untuk menjadikan agenda ‘perang melawan terorisme’ sebagai agenda utama dalam politik internasional, terbukti kemudian lebih diarahkan untuk mengejar apa yang mereka sebut sebagai “teroris Islam” yang mereka nilai membahayakan kepentingan Barat, dan AS khususnya. Perkembangan politik internasional kemudian seperti bergerak menuju ‘tesis’ benturan. Dunia diseret untuk terbelah menjadi dua kutub utama: Barat dan Islam. Barat dicitrakan sebagai pemburu teroris, sedangkan Islam adalah teroris atau yang pro-teroris.

Dari sini kemudian berkembang bahwa ‘ancaman Islam’ bukan hanya secara fisik tapi juga dari segi pemikiran dan budaya, sehingga gejala paranoid terhadap Islam dan kaum Muslim, tampak dalam berbagai kebijakan negara-negara Barat. Sikap Islamofobia merebak dengan mudah di kalangan masyarakat Barat. Pasca peristiwa 11 September 2001, gejala ini makin menjadi-jadi. Masalahnya bukanlah terletak pada aspek kajian ilmiah yang fair dan adil, tetapi kajian dan analisis yang memunculkan ‘Islam militan sebagai musuh utama Barat, dimanfaatkan untuk memberikan legitimasi berbagai kebijakan politik dan militer AS dan negara-negara Barat lainnya, yang ujungnya adalah mengejar kepentingan-kepentingan (interests) politik, ekonomi, dan sebagainya, dengan menggunakan jargon-jargon demokrasi, liberalisasi, dan Hak Asasi Manusia.

Seperti dikutip Adian Husaini[23] Huntington memaparkan data kuantitatif tentang banyaknya konflik yang melibatkan umat Islam, memang sebuah fakta. Tetapi, Huntington tidak menyebut, mengapa kaum Muslim itu terlibat konflik, dan darah siapakah yang banyak tertumpah? Darah kaum Muslimkah atau justru kaum Muslim yang banyak menjadi korban pembantaian di mana-mana? Analisis model Huntington semacam ini yang tidak menonjolkan peran Barat sebagai akar dan sebab dari berbagai konflik di dunia internasional muncul karena posisi Huntington sebagai penasehat politik luar negeri AS dan menujukan analisisnya sebagai bahan pengambilan kebijakan politik luar negeri negara adidaya itu. Dalam dialog dengan Anthony Giddens tersebut, Huntington menyebut data dari Majalah The Economist, yang memaparkan, bahwa dari 32 konflik besar yang terjadi pada tahun 2000, lebih dari dua pertiganya adalah konflik antara Muslim dengan non-Muslims. Karena itu, kata Huntington, Eropa dan Amerika perlu menerapkan strategi bersama untuk menghadapi ancaman-ancaman terhadap masyarakat dan keamanan mereka dari militan Islam. (Hence it seems to me a high priority for Europe and America is to recognize what they have in common and to try to work out a common strategy for dealing with the threats to their society and security from militant Islam). Ia menekankan perlunya dilakukan preemptive-strike (serangan dini) terhadap ancaman dari kaum militan Islam itu. Kata Huntington: “Saya perlu menambahkan bahwa satu strategi yang memungkinkan dilakukannya serangan dini terhadap ancaman serius dan mendesak adalah sangat penting bagi AS dan kekuatan-kekuatan Barat pada saat ini. Musuh kita yang utama adalah Islam militan. (I would add that a strategy which allows for preemptive war against urgent, immediate and serious threats is absolutely essential for the US and other Western powers in this period. Our enemies-primarily the militant Islam).

Perubahan peta peradaban dan perkembangan zaman ini tidaklah harus diikuti dengan merubah interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an menjadi lebih humanis dan disesuaikan dengan tuntutan demokrasi serta Hak Asasi Manusia (HAM). Apalagi dengan mendeskreditkan salah satu ayat dengan menganggapnya tidak sesuai lagi dengan realitas. Kasus ayat 20 surat al-Baqarah dan ayat-ayat madaniyah lainnya yang dianggap Ahmad Baso dan beberapa tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai ayat pendukung proses politik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan sifatnya terlalu eksklusif, tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran para ulama salaf maupun kahalaf.

Haji Abdulmalik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA, dalam karya besarnya tafsir “Al-Azhar”, beliau tidak hanya menginterpretasikan ketidakridoan Yahudi dan Nasrani kepada Rasulullah terbatas pada perubahan arah kiblat saja sebagaimana asbab an-nuzulnya ayat tersebut, melainkan pada aspek-aspek teologis yang sangat mendasar. Fakta sejarah menyebutkan, sebelum Rosulullah SAW. diutus di kalangan bangsa Arab, seluruh bangsa Arab saat itu dipandang ummiy atau orang-orang bodoh, tidak beragama dan penyembah berhala. Kecerdasannya dianggap rendah. Sedangkan orang Yahudi dan Nasrani yang berdiam di sekitar bangsa Arab itu memandang bahwa orang Arab itu barulah bisa dikatakan tinggi kecerdasannya, kalau mereka mau memeluk agama Yahudi atau agama Nasrani. Kemudian datanglah Nabi saw. dengan membawa ajaran Allah dengan mencegah penyembahan terhadap berhala dan percaya kepada kitab-kitab serta Rasul-rasul terdahulu, baik Musa, Harun atau Isa Al-Masih. Akan tetapi Nabi SAW tidak menyebut-nyabut agama Yahudi atau Nasrani, sebaliknya menunjukkan cacat-cacat yang ada pada kedua agama tersebut. Maka secara otomatis mereka menjadi marah. Mereka menginginkan Nabi Muhammad juga ikut mempropagandakan agama mereka. Yahudi menghendaki Nabi SAW. menjadi Yahudi, begitu juga dengan Nasrani.[24]

Yahudi mengajarkan bahwa bangsa yang paling pilihan di dunia ini, tidak lain kecuali Bani Isra’il. Bangsa lain adalah rendah belaka. Ini tidak sesuai dengan hakikat ilmu. Hakikat ilmu adalah bahwa manusia adalah keturunan Adam, dan Adam dari tanah. Perbedaan warna kulit atau darah keturunan bukan melebihkan yang satu dari yang lain. Yang mulia di sisi Allah hanyalah atas dasar ketakwaan kepadaNya. Nasrani mengajarkan bahwa manusia itu berdosa waris, karena dosa Adam. Beribu-ribu tahun Allah bingung diantara sifat kasihNya dengan sifat keadilanNya. Akhirnya ia mengambil keputusan, yaitu menjelma sendiri ke dalam alam ini, masuk ke dalam rahimnya seorang anak-dara yang suci, lalu menjelma menjadi Isa Almasih, yang disebutnya sebagai anaknya. Artinya dia sendiri menjadi Anak. Lalu dia mati diatas kayu palang untuk menebus dosa manusia itu. Dan yang mati itu adalah Bapa itu sendiri.[25]

Ajaran itu tidaklah berdasar ilmu, ini juga diawab masih pada ayat yang sama sebagai ahwa-ahum, angan-angan yang tidak ada dasarnya. Kalau diturutkan niscaya akan menimbulkan keraguan bahkan kemusyrikan. Di dalam ayat ini di tujukan kepada Nabi Muhammad saw. supaya kemauan mereka itu jangan dituruti, sebab kalau dituruti, terlepaslah beliau dari ilmu yang diberian langsung dari Allah. Sudah terang bahwa mmaksud sebenarnya dari ayat ini juga berlaku bagi kaum Muslimin secara umum, umat Muhammad saw. jangan sampai diombang-ambingkan oleh kemauan manusia, sehingga petunjuk dari Allah ditinggalkan. Segala macam yang menyeleweng dari tauhid bukanlah petunjuk. Petunjuk sejati hanyalah dari Allah. Dan dengan ayat ini umat Islam diperingatkan, bahwa lan tardho, sekali-kali tidak akan ridha Yahudi dan Nasrani sebelum kita mengikuti agama mereka. Menurut lughat, huruf lan itu berarti nafyin wa istiqbalin, yaitu mereka tidak akan ridha untuk selama-lamanya.[26]

Tidak jauh dengan penafsiran HAMKA, Sayyid Quthb dalam “Tafsir Fi Dzilalil Qur’an” memposisikan konflik Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam sebagai problematika abadi yang dapat disaksikan dalam semua masa dan tempat, yaitu problem akidah. Inilah hakikat peperangan yang dilancarkan mereka terhadap Jam’iyyatul Muslimin pada setiap saat dan tempat. Yaitu perang akidah yang terjadi antara pasukan Islam dan dua pasukan yang diantara mereka juga terjadi pertengkaran dan perselisihan, tetapi bersama-sama memerangi Islam dan kaum Muslimin.[27]

Perang akidah adalah perang yang hakiki dan mendasar. Kedua golongan yang sangat sengit memusuhi Islam itu memoles dan memodifikasi dengan berbagai polesan, dan untuk itu mereka kibarkan berbagai macam bendera, sebagai taktik maker dan tipu daya. Mereka menguji semangat kaum Muslimin terhadap agamanya dan akidahnya, ketika mereka menghadapi kaum muslimin yang bernaung dibawah panji-panji aqidah. Oleh karena itu terjadilah perseteruan yang hebat diantara mereka. Kemudian orang-orang Yahudi dan Nasrani ini mengubah bendera perangnya dengan tidak lagi atas nama akidah karena takut terhadap semangatnya kaum Muslimin di dalam mempertahankan akidah dan kepercayaannya. Mereka mengumumkan peperangan itu atas nama tanah air, ekonomi, polotik, militer dan sebagainya. Mereka kembangkan dikalangan orang-orang yang tertipu dan lengah diantara kita bahwa cerita perang karena akidah itu merupakan cerita kuno yang tidak berarti lagi, tidak boleh dikibarkan panji-panjinya, dan tidak boleh dilakukan peperangan atas namanya, karena yang demikian itu pertanda kemunduran dan kepanatikan.[28]

Demikianlah yang mereka lakukan, agar mereka merasa aman terhadap gelora dan semangat membela akidah. Sementara semangat yang bergelora di dalam jiwa mereka adalah Zionisme Internasional dan Sibilisme Internasional ditambah Komunisme Internasional. Yang semuanya terjun ke dalam kancah peperangan sejak awal untuk menghancurkan “batu besar yang keras” (akidah) yang sudah mereka pahat sejak lama, sehingga mereka dapat menghancurkannya secara total. Serangan itu adalah serangan akidah, bukan perang karena wilayah teritorial, bukan karena ekonomi, bukan karena persoalan militer, dan bukan pula perang dengan bendera-bendera palsu lainnya. Mereka memalsukannya karena tujuan yang tersembunyi di dalam jiwa mereka, untuk menipu kaum Muslimin dari peperangan yang sebenarnya. Apabila umat Islam tertipu oleh tipu daya mereka, maka janganlah menyesali kecuali terhadap diri sendiri. Karena mereka telah lengah dan menjauh dari rambu-rambu yang peringatan Allah melalui rasul-Nya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah: 120).[29]

M. Quraish Shihab mengemukakan pendapat yang sedikit berbeda dengan pemahaman dua Mufassir diatas, menurutnya ayat ini memang bisa juga dipahami sebagai bukti bahwa semua orang Yahudi dan Nasrani tidak rela kecuali jika kaum muslimin mengikuti agama mereka. Akan tetapi pemahaman semacam itu tidak sejalan dengan redaksi dan hubungan ayat, tidak juga dengan makna yang dikemukakan oleh mayoritas ulama-ulama tafsir masa lalu seperti Fakhruddin Ar-Razi, juga tafsir yang sangat popular dan sederhana Al-Jalalain dan ulama tafsir masa kini seperti Tohir Ibnu Asyur dalam tafsirnya, At-Tahrir, serta Muhammad Sayyid Thanthawi, mantan Mufti Mesir yang kini adalah Syekh Al-Azhar. Bahkan ulama kontemporer ini menulis bahwa, kata “hingga engkau mengikuti agama mereka” adalah kinayah, yakni tidak menyebutkan secara tegas apa yang dimaksud, tetapi menyebut sesuatu yang lain yang dapat mengantar kepada apa yang dimaksud. Redaksi ini menggambarkan keputusasaan menyangkut kemungkinan Ahl al-Kitab memeluk agama Islam. Jadi sekali lagi, ayat ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa Ahl al-kitab berusaha untuk mengkristenkan umat Islam, apalagi meyahudikannya karena agama yahudi bukan agama misi. Bahwa ada yang berusaha untuk maksud tersebut, tentu saja tidak dapat disangkal, namun bukanlah ayat ini yang berbicara tentang bab tersebut.[30]

Penafsiran suatu ayat haruslah dikaitkan dengan ayat-ayat sebelum atau sesudahnya. Sebagaimana ayat 20 surat Al-Baqarah ini yang sebelumnya memiliki kandungan menghilangkan kerisauan Nabi saw. Disebabkan oleh keengganan orang-orang Yahudi untuk beriman kepada beliau, bahwa beliau tidak akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan keengganan itu. Pada ayat ini, keengganan orang-orang Yahudi dan Nasrani – Walau bukan semuannya – untuk mengikuti ajakan nabi Muhammad saw. lebih dipertegas lagi. Atau, ayat yang lalu menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw. diutus untuk menyampaikan berita gembira dan memperingatkan kepada semua pihak, dan karena semestinya yang diberi berita gembira atau diberi peringatan akan menyambut dengan baik siapa yang menyampaikan kepadanya, maka melalui ayat ini Allah menyampaikan bahwa tidak semua akan senang dan gembira. Orang-orang beriman akan sangat rela dan senang dengan berita gembira dan peringatanmu dan sebagian orang-orang yang beragama Yahudi dan beragama Nasrani tidak akan rela kepadamu wahai Muhammad sepanjang masa hingga engkau hanya memberi berita gembira kepada mereka dan ajaran yang mereka anut, dan ini tidak akan terjadi kecuali jika engkau mengikuti agama mereka serta menyetujui perubahan petunjuk-petunjuk ilahi yang mereka lakukan.[31]

Disisi lain karena ayat ini menggunakan redaksi yang menunjukkan kepastian yang berlanjut terus menerus, tidak akan rela kepadamu (sepanjang masa), sedang terbukti kemudian bahwa ada dari bani Isra’il yang memeluk agama Islam, maka dengan demikian, yang dimaksud dengan orang Yahudi dan Nasrani oleh ayat ini adalah orang-orang tertentu diantara mereka, bukan semua Ahl al-Kitab. Sedangkan makna sepanjang masa dipahami dari kata ( لن ) lan yang digunakan ayat diatas.[32]

Perlu juga digaris bawahi disini, bahwa redaksi pernyataan, tidak akan rela. Ketika menggambarkan sikap orang Yahudi, ayat diatas menggunakan kata lan yang berarti tidak akan untuk selama-lamanya, sedang ketidakrelaan orang-orang Nasrani digambarkan dengan kata ( لا ) la, yang berarti menafikan, tetapi tidak mengandung makna selama-lamanya perbedaan keduannya jelas sekali. Seandainya akan dipersamakan, maka ayat diatas dapat berbunyi “tidak akan rela atau tidak rela orang Yahudi dan Nasrani”. Sebagian ulama berpendapat bahwa pembedaan itu dimaksudkan untuk menunjukkan kemandirian sekaligus perbeadaan masing-masing dari dua kelompok bani Isra’il atau Ahl al-Kitab itu, jika yang ini rela, yang itu tidak rela. Maka perbedaannya bukan hanya sampai disitu. Ayat ini juga menunjukkan bahwa ada perbedaan antara Yahudi dan Nasrani dalam sikap mereka terhadap Nabi Muhammad saw. dan ajaran beliau.[33]

Untuk menjelaskan hal itu perlu terlebih dahulu diketahui Al-Quran dalam ayat itu tidak menggunakan kata ( يهود ) Yahud/Yahudi kecuali dalam konteks kecaman terhadap sekelompok tertentu dari Bani Ira’il. ini berbeda dengan penggunaan Al-Quran untuk kata ( نصارى ) Nashara/Nasrani. Kata ini antara lain digunakan juga menunjuk pada sekelompok Bani Isra’il pengikut Nabi Isa as. Yang bersikap bersahabat terhadap orang-orang Islam (baca QS. Al-Ma’idah [5] : 82). Oleh karena Al-Quran tidak menggunakan kata Yahudi kecuali terhadap kelompok Bani Isra’il yang memusuhi umat Islam, maka wajar jika ayat diatas menggunakan redaksi yang menginformasikan bahwa mereka tidak akan rela untuk selama-lamanya terhadap Nabi Muhammad saw., adapun kaum Nasrani keadaan mereka tidak demikian. Dari sini, kata nashara pada ayat diatas tidak menafikan kerelaan mereka untuk selama-lamanya. Quraish Shihab memberikan catatan bahwa ayat-ayat diatas berbicara tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hidup pada masa Rasul SAW. Keadaan mereka sesudahnya tidak harus sama dengan masa ini. Hal ini, Insya Allah akan diuraikan dalam ayat-ayat lain yang berbicara tentang bani Isra’il.[34]

Walaupun sedikit ada perbedaan penafsiran, akan tetapi pada hakikatnya Quraish Shihab juga sepakat bahwa pada dasarnya sikap Yahudi dan Nasrani tetap bersikeras menentang ajaran Nabi Muhammad saw. sebagaimana ayat diatas menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak akan meninggalkan agamanya walaupun Nabi Muhammad saw. mengajak mereka sekuat tenaga. Karena, bagaimana mungkin mereka akan meninggalkan agama mereka, padahal mereka tidak rela kecuali jika Nabi Muhammad saw. mengikuti mereka, sedangkan bagi Nabi Muhammad, mengikuti agama mereka adalah sesuatu yang mustahil. Jika demikian, mustahil mereka mengkuti agama Muhammad. Demikianlah maksud dari firman Allah ayat 120 ini.[35]

Lain halnya dengan fakta yang dipaparkan HAMKA, yang menurutnya sejarah telah mencatat bukti ketidaksukaan Yahudi maupun Nasrani dari masa ke masa. Dengan realita maraknya kegiatan pengkristenan (kristenisasi) yang begitu hebat sejak Perang Salib Pertama sejak tahun 900 tahun silam, sampai kepada ekspansi penjajahan sejak 300 tahun yang telah lalu, sampai pula kepada usaha zening-zending dan misi protestan dan katholik ke negeri-negeri Islam dengan membelanjakan jutaan dolar untuk mengkristenkan pemeluk agama Islam. Semuanya ini adalah isyarat yang telah diberikan oleh ayat ini yang jelas-jelas ditemui dalam perjalanan sejak Islam bangkit dan tersebar di muka bumi ini sampai sekarang, bahwasannya mereka belum ridha dan belum bersenang hati, sebelum umat Muhammad mengikuti agama mereka.[36]

Pekerjaan Yahudi dan Nasrani itu berhasil pada Negeri-negeri yang orang Islamnya hanya pada nama, tetapi tidak mengerti asli pelajarannya. Kadang-kadang- prinsip mereka menjadikan orang Islam tetap memeluk agamanya secara lahir, akan tetapi batin mereka telah ditukar dengan Kristen. Berbeda dengan kaum Yahudi yang tidak mengadakan zending dan misi. Pemeluk agama Yahudi lebih suka agamanya hanya beredar di sekitar Bani Israil saja, sebab mereka memandang wahwa mereka memiliki darah yang istimewa. Tetapi mereka memasukkan pengaruh ajaran mereka dari segi yang lain.[37]

Bukan saja di dunia Islam, bahkan pada dunia Kristen merekapun mencoba memasukkan pengaruh, sehingga merekalah yang berkuasa. Kitab Perjanjian Lama yang menjadi pegangan mereka, tidak ada pengajaran tentang Hari Akherat. Agama orang Yahudi itu lebih banyak mengedepankan perhatian kepada urusan dunia, kepada harta dunia. Kehidupan Riba adalah ajaran orang Yahudi. Amerika Serikat yang begitu besar pengaruhnya, terpaksa menutup kantornya dua hari dalam seminggu. Bukan saja Hari Minggu sebagai hari besarnya umat Kristiani, tetapi hari sabtu juga tutup. Sebab yang memegang keuangan di Wallstreet (New York) adalah Bangkir-bangkir Yahudi. Sebab segala sesuatu yang menyangkut kelancaran ekonomi dikendalikan tangan Yahudi. Bukan hanya di Amerika, juga dinegeri-negeri yang lainnya.[38]

Gerakan Vrijmetselar, gerakan Masonia, dan beberapa gerakan Internasional yang lain, tampuknya di tangan Yahudi. Dunia Islam tidak perlu masuk agama mereka, asalkan mengikuti pengaruh mereka. Negeri-negeri Islam yang besar terpaksa mendirikan Bank-bank, menjalankan niaga dan ekonomi berdasarkan kepada riba, baik riba yang berskala besar maupun kecil. Dan terpaksa memperlicin hukum riba supaya bernafas untuk hidup, tidak dapat mencari jalan lain, sebab seluruh dunia telah di cengkram oleh ajaran Yahudi. Sedikit orang yang berpencar-pencar di seluruh dunia dapat mendirikan sebuah Negara Yahudi, mereka diberi nama Isra’il, di tengah-tengah negeri Arab, dengan dibantu oleh Amerika dan Inggris, bahkan mendapat pengakuan pertama dari Rusia Komunis.[39]

Semuanya ini yang diisyaratkan oleh surat Al-Baqarah ayat 20, bahwasannya orang Yahudi dan Nasrani belum merasa puas hati, sebelum penganut ajaran Muhammad mengikuti agama mereka. Ini bukanlah ancaman yang menimbulkan takut, tetapi sebagai perangsang supaya kaum Muslimin terus berjihad menegakkan agamanya, dan melancarkan dakwahnya. Karena selama kaum Muslimin berpegang teguh kepada ajaran agama yang dipeluknya dengan penuh kesadaran, tidaklah keyakinan mereka akan runtuh dengan pengaruh kedua agama tersebut. Sebab ayat telah menegaskan, bahwa petunjuk sejati hanyalah petunjuk Allah SWT.[40]

Untuk itulah pada ayat selanjutnya Allah memberikan tuntunan kepada rosulnya: “katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah dia yang petunjuk (yang sesungguhnya)(QS. AL-Baqarah:120)”. Dengan inilah keinginan mereka agar Rosul mengikuti agama mereka telah dijawab. Bahwasannya yang menjadi pedoman dalam hidup, dan yang diserukan oleh Nabi Muhammad saw. kepada seluruh umat manusia adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allahlah yang sebenar-benarnya petunjuk. Adapun petunjuk manusia, khayal dan teori manusia bukanlah petunjuk. Dengan ini secara otomatis memberikan penilaian terhadap Yahudi dan Nasrani, keduanya bukanlah merupakan petunjuk Allah. Tuhan telah mengutus Musa, Harun dan juga Isa Al-Masih, dan kemudian disambung dan disempurnakan dengan Nabi Muhammad saw. Segala sesuatu yang menjadi anutan Yahudi dan Nasrani sekarang ini bukanlah berdasar kepada petunjuk Allah yang sejati atau karena telah tercampuri oleh tangan-tangan manusia. Dengan inipun lebih jelas, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah datang memabawa petunjuk Allah. Kalau Yahudi dan Nasrani masih berpegang kepada petunjuk Allah yang asli, bahwa nabi-nabi yang diutus kepada mereka, dengan sendirinya akan timbulah persesuaian.[41]

Dan firman Allah selanjutnya: “Dan jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu”. Dengan lanjutan ayat ini telah diingatkan Allah mengenai kemauan-kemauan meraka, yang ditulis ah’wa ahum. Dari kalimat hawa atau hawanafsu, atau sentimen yang sama sekali tidak ada dasar kebenarannya. Sebagian dari hawa nafsu itu sebagaimana mereka senantiasa berikeras dengan menganggap hanya Yahudi dan Nasranilah yang benar. Yahudi merasa bahwa segala anjuran dari pihak lain, walaupun benar, kalau tidak timbul dari orang yang berdarah Isra’il adalah tidak sah. Sebab meraka adalah “kaum yang telah dipilih dan distimewakan tuhan”. Yahudi dan Nasrani telah memandang bahwa masing-masing mereka telah menjadi golongan yang istimewa, lantaran yang demikian, maka tidak lagi menilai kebenaran dan menguji faham yang mereka anut. Maka kalau kemauan atau hawa nafsunya mereka ini diperturutkan: “Sesudah datang kepadamu pengetahuan”, yaitu wahyu yang telah diturunkan Allah kepada Rosul saw. bahwa tidak ada tuhan yang sebenarnya patut disembah selain Allah, dan Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakakkan, dan dasar-dasar pokok tauhid yang lainnya, yang jadi pegangan dan pondasi teguh ajaran seluruh Nabi dan Rasul. Maka kalau kemauan dan kehendak kedua pemeluk agama itu diperturutkan, sedang engkau telah diberi ilmu tentang hakikat yang sebenarnya, “Tidaklah ada bagimu selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong” (QS. Al-Baqarah:120).[42]

Pokok ilmu telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan pokok ilmu itu pegangan sejati untuk seluruh Rasul sejak Nuh sampai Nabi-nabi yang datang setelah Nuh sebagaimana disebutkan dalam surat As-Syu’ara ayat 13. Allah satu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan itulah hakikat agama, dan satu itulah pegangan bersama sekalian Nabi, tidak boleh berpecah belah padanya. Apabila menyeleweng sedikit saja dari ketentuan itu, tersesatlah dari jalan yang benar dan segala pegangan tidak lagi berdasar ilmu. Dan segala pegangan di luar dari itu, sudah tegas tidak lagi datang dari Allah, maka tidaklah ada lagi jamianan dari Allah bahwa Dia akan melindunginya dan tidak pula mendapatkan pertolongan daripada-Nya.[43]

Inilah satu-satunya harga mahal yang hendak mereka rebut (akidah), sedangkan yang lain pasti ditolak. Akan tetapi urusan yang pasti dan pengarahan yang benar adalah sebagaimana keterangan selanjutnya yang masih dalam satu ayat itu: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.Sebuah kalimat yang singkat dan padat, ini mengandung arti selain petunjuk Allah bukanlah petunjuk. Maka, petunjuk-Nya tidak untuk dijauhi, tidak boleh ditinggalkan, tidak dapat direkayasa, tidak boleh ditawar-tawar, sedikit atau banyak. Dan berhati-hatilah jangan sampai karena keinginanmu agar mereka mendapat petunjuk dan beriman, atau karena persahabatanmu dan kecintaanmu kepada mereka menjadikan kamu menyimpang dari jalan yang lurus.[44]

Sikap yang paling tepat menghadapi mereka (yahudi dan Nasrani) adalah sebagaimana tutunan ayat yang menyatakan: “Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar”. Petunjuk Allah hanya satu. Ini dipahami dari penggunaan bentuk tunggal ( هو ) huwa dan pada kata ( هد ى الله ) huda Allah / petunjuk Allah, ini berarti bahwa petunjuk itulah satu-satunya petunjuk yang sempurna. Tidak ada petunjuk yang benar, kecuali yang bersumber dari Allah serta nilai-nilai ajaran-Nya. Ayat ini juga mengingatkan kaum Muslimin bahwa orang Yahudi dan Nasrani yang di maksud di atas, bukan hanya mempertahankan keyakianan mereka yang sesat, bahkan mereka juga akan berusaha agar Nabi Muhammad mengikuti keinginan-keinginan yang dilahirkan oleh hawa nafsu mereka. Jika beliau mengikuti kemauan-kemauan hawa nafsu mereka, setelah pengetahuan datang kepada beliau, maka Allah tidak lagi akan menjadi pelindung dan penolong baginya. Keinginan mereka itu banyak dan bermacam-macam, sebagaimana dipahami dari penggunaan kata ( أهواء ) ahwa’, yang menggunakan bentuk jamak (plular). [45]

Redaksi ayat diatas tertuju kepada Nabi Muhammad saw. Manusia paling bertakwapun diupayakan oleh orang Yahudi dan Nasrani itu untuk disesatkan, apalagi orang kebanyakan. Disi lain Nabi Muhammad adalah kekasih Allah dan pilihannya pun diancam olehnya dengan ancaman yang keras bila mengikuti mereka: “Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. Beliau saja diancam apalagi selain beliau.[46]

Demikianlah ancaman yang menakutkan, keputusan yang pasti dan ultimatum yang menggetarkan. Ini ditujukan kepada Nabi Allah, Rosulullah, dan kekasihnya yang mulia. Itulah hawa nafsu, jika Nabi berpaling dari petunjuk. Petunjuk Allah yang tidak ada petunjuk selain-Nya. Itulah hawa nafsu, yang menjadikan mereka tidak akan pernah berhenti dan tidak akan mau mengikutinya, bukan karena kurangnya hujjah yang disampaikan atau lemahnya dalil yang dipaparkan. Orang-orang yang membersihkan dirinya dari hawa nafsu, mereka membaca kitab mereka dengan sebenar-benarnya. Karena itu mereka beriman kepada kebenaran yang disampaikan. Adapun orang-orang yang mengingkarinya maka mereka itulah orang-orang yang merugi:

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (البقره :121)

Artinya: Orang-orang yang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Qaqarah: 121).

Dari semua penafsiran yang dipaparkan, tidak satupun mufassir menginterpretasikan ayat tersebut sesuai dengan ungkapan Ahmad Baso yang mengatakan keberadaan ayat tersebut bersifat eksklusif, tidak bersifat universal, sehingga keberadaannya tidak lagi bisa sesuai dengan tuntutan zaman yang prular. Seolah ia ingin mengatakan konsekuensinya justru cenderung berpotensi menimbulkan konflik yang semakin memanas dengan pihak non muslim. Hukumnya tidak bisa menjadi solusi bagi kemaslahatan umat. Lain halnya ketika ayat itu diturunkan, sebagaimana tuduhannya bahwa semata-mata ayat tersebut merupakan sebuah kepentingan Nabi untuk memperkuat kekuasaannya yang saat itu sebagai pemimpin Madinah.

Bukan hanya materi penafsiran yang berbeda, metodologi yang digunakan untuk mengambil makna ayat tersebut jelas tidak berdasarkan aturan yang menjadi pegangan ulama pada umumnya. Bila dikomparasikan dengan kaidah ilmu at-tafsir yang selama ini diakui paling sahih yaitu tafsir bi Al-Ma’tsur, metode Ahmad Baso ini justeru bertolak belakang. Dengan mengatakan satu ayat al-Qur’an saja sebagai sebuah kepentingan bagi Nabi, maka ini berbenturan dengan ayat yang lain yang mengatakan: “Dan tidaklah Nabi Muhammad itu berkata, kecuali itu merupakan wahyu dari Allah swt”. Maka dengan tuduhannya ini, sebenarnya secara halus ia hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya Al-Qur’an itu sendiri bukanlah wahyu Allah, melainkan ciptaan Muhmmad untuk kepentingannya.

Sikap deskriminatif terhadap ayat-ayat Madaniyah dengan mengangkat dan memprioritaskan ayat-ayat Makiyah sebagai ayat yang universal tidaklah benar, karena pengamalan Al-Qur’an haruslah secara utuh, sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri yang ayat-ayatnya merupakan satu kesatuan, saling terkait satu dengan yang lainnya. Pembagian Makiyah dan Madaniyah sendiri hanyalah merupakan kodifikasi para ulama yang tidak ada ketentuannya pada zaman Nabi. Dan dalam pembagian itu sendiri tidaklah terdapat qarinah yang menunjukkan yang satu lebih utama atau lebih universal dari yang lain.

Ayat-ayat Madaniyah yang dianggapnya eksklusif dengan identitas banyak diawali dengan “ya ayyuhalladzina amanu”, ternyata tidaklah demikian. Karena dalam ayat-ayat yang kebanyakan diturunkan di Makkah itu juga terdapat beberapa ayat yang diawali dengan “ya ayyuhannaas “, diantaranya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ (البقره :21)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا (البقره :168)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ (النساء :1)

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآَخَرِينَ (النساء :133)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ (النساء :170)[47]

Kesimpulan Ahmad Baso dan sejumlah aktivis Jaringan Islam Liberal lainnya dalam kasus penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an lebih banyak mengedepankan aspek Maqasid as-Syari’ah. Dalam menafsirkan Surat An-Nisa ayat 11 contohnya ,”li al-dzakari mitslu hadzdzil untsayain”, bahwa porsi perempuan itu adalah separuh dari porsi laki-laki, lalu ada yang mengatakan bahwa porsi perempuan itu tidak setara dengan laki-laki. Maka jangan di lihat dari teks Al-Qur’annya, tapi lihatlah misi ketika ayat itu diturunkan dan ini juga berlaku untuk semua ayat Al-Qur’an secara umum. Tuhan punya misi atau komitmen ketika menurunkan ayat tersebut, yaitu bagaimana mengangkat derajat kaum perempuan supaya setara dengan laki-laki. Kalau kemudian ada tuntutan, bahwa ada kesetaraan dan keadilan, teks harus tunduk kepada misi, tujuan dari diturunkannya ayat itu, yaitu komitmen tuhan tentang kesetaraan dan keadilan.[48]

Menafsirkan teks haruslah dengan terlebih dahulu melihat maqasidnya, sebagaimana ia (Ahmad Baso) juga mengutip pendapatnya Asy-Syatibi yang mengatakan, ”kalau kita ingin menafsirkan Alquran, jangan lihat dulu makna tekstualnya”. Permasalahannya kemudian adalah cara menentukan maqasid itu sendiri tentu tidak dengan cara dan sudut pandang yang disesuaikan dengan keinginan masing-masing. Karena setiap orang memiliki pola fikir sendiri-sendiri yang belum tentu semuanya sesuai dengan kehendak Allah ketika menurunkan sebuah ayat. Dalam surat An-Nisa ayat 11 misalnya, belum tentu juga konsep kesetaraan dan keadilan pada ayat tersebut tidak ditemukan, walaupun menurut kebanyakan manusia itu bukanlah sebuah keadilan. Dengan demikian kita tidak bisa memaksakan konsep keadilan yang ada pada pola pikir kita kepada kehendak tuhan yang tertera pada ayat-ayatNya. Apalagi jika kesimpulan yang diperoleh bertentangan dengan makna ayat secara tekstual.

Para ulama telah bersepakat, tujuan umum hukum-hukum syari’at ialah mewujudkan kemaslahatan manusia dengan menjamin hal-hal yang dharury (kebutuhan pokok) bagi mereka, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka (hajiyyat) dan kebaikan-kebaikan mereka (tahsiniyyat). Setiap hukum syari’at tidaklah dikehendaki padanya kecuali salah satu dari tiga hal tersebut yang menjadi penyebab terwujudnya kemaslahatan manusia.[49] Adapun argumentasi bahwasannya setiap hukum dalam Islam disyari’atkan hanyalah untuk mewujudkan salah satu dari ketiga hal tersebut dan memeliharannya adalah penelitian terhadap hukum syari’at itu sendiri, baik yang bersifat umum maupun yang zuz’i dalam berbagai kasus dan bab, dan penelitian terhadap berbagai illat dan hikmah pembentukan hukum dimana syari’at menyertakannya dalam sejumlah besar hukumnya.[50]

Hal-hal yang dharury bagi manusia kembali kepada lima hal, yaitu: Agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta kekayaan. Menjaga masing-masing dari kelima hal tersebut adalah dharury bagi manusia. Agama adalah sekumpulan akidah, ibadah, hukum dan undang-undang yang di syariatkan oleh Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhan mereka dan perhubungan mereka satu sama lain. Untuk memelihara jiwa dan menjamin kehidupannnya, agama Islam mensyari’atkan kewajiban memperoleh sesuatu yang menghidupinya berupa hal-hal yang dharury berbentuk makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, kewajiban qishash, diat dan kaffarat terhadap orang yang menganiaya terhadapnya, mengharamkan melemparkan diri dalam kehancuran, serta kewajiban menghindarkan diri dalam kehancuran, serta kewajiban menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam jiwanya.[51]

Untuk memelihara akal Islam mensyari’atkan pengaharaman minuman khomer dan segala yang memabukkan dan memberikan hukuman terhadap orang yang meminumnya atau mempergunakan segala yang memabukkan. Untuk memlihara kehormatan agama Islam mensyari’atkan hukum hadd bagi laki-laki yang berzina, perempuan yang berzina dan orang menuduh orang lain berbuat zina tanpa saksi. Demikian juga untuk menghasilkan dan memperoleh harta kekayaan, agama Islam mensyariatkan kewajiban berusaha mendapatkan rizki, memperbolehkan sejumlah mu’amalah, pertukaran, perdagangan dan kerjasama dalam usaha.[52]

Pada kasus penafsiran surat Al-Baqarah Ayat 20 yang substansinya ketidaksukaan Yahudi dan Nasrani terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang notabene menyerang keyakinan kedua agama tersebut. Maka dari sini bisa dilihat maqasid ayat tersebut lebih dominan berkaitan dengan masalah yang paling dharury yaitu akidah. Maka untuk menjaga kepentingan yang paling pokok ini (akidah), Allah hendak memperingatkan Nabi Muhammad dan umatnya untuk berhati-hati terhadap ancaman mereka. Karena sesungguhnya mereka akan menggunakan segala cara agar beliau dan umatnya mau mengikuti kemauan mereka, dan inipun didukung dengan fakta sejarah yang menyatakan demikian. Sebab sekali-kali mereka tidak akan ridha sampai keyakinan mereka diyakini dan diikuti. Sehingga peringatan yang sangat keras ini tegaskan dengan ayat lanjutannya yang menyatakan bahwa seandainya keinginan nafsu dan kemauan mereka yang sesat itu dituruti, padahal telah datang pengetahuan yang benar yakni wahyu-wahyu Allah serta petunjuk nalar yang sehat, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong sedikitpun.

E. Kesimpulan

Studi komparatif yang penulis lakukan antara penafsiran Ahmad Baso dan beberapa pemikir liberal lainnya yang terangkum pada buku ”Islam Pribumi” dengan penafsiran para ulama pada umumnya menghasilkan beberapa kesimpulan:

1. Word view mereka dalam menginterpretasi Al-Qur’an atau teks agama yang lainnya dengan terlebih dahulu melihat historisitas teks tersebut, kemudian dicari sebab atau illat yang melatarbelakangi munculnya teks, dan dari situlah kemudian bisa dilihat maqasid-nya. Apabila teks tersebut masih sesuai dengan konteks masa kini, maka konsekuensi hukum yang menjadi substansi teks tersebut masih bisa berlaku. Akan tetapi jika tidak demikian, maka teks tersebut harus ditundukkan untuk mengikuti tuntutan konteks, kalau tidak dihapuskan status hukumnya, maka diberikan penafsiran lain yang sesuai dengan realitas. Untuk itu hukum bisa berlaku elastis sesuai dengan situasi dan kondisi mahkum. Penafsiran model ini yang kemudian dikenal dengan istilah relatifitas hukum. Sementara maqasid yang dibangun adalah berdasarkan pikiran pribadi atau belandaskan ’Urf (kebiasaan) pola pandang manusia terhadap sebuah objek, tanpa melihat dan mempertimbangkan aspek yang lain.

Kasus penafsiran Surat Al-Baqarah ayat 20 sebagai ayat yang menurut mereka bersifat eksklusif, tidak lagi relevan untuk menjawab kondisi dan situasi masa kini. Realitas masyarakat plural yang menuntut setiap individu saling berinteraksi dengan pihak lain secara bebas, tanpa memandang ras, etnik maupun agama. Maka ayat yang substansinya deskriminatif terhadap Yahudi dan Nasrani ini dikatakan mereka sebagai misi memperkuat eksistensi kekuasaan Rosulullah sebagai pimpinan Madinah, tidak lagi bisa berlaku untuk kelompok Yahudi maupun Nasrani saat ini.

2. Hasil ijtihad mereka yang semacam itu jauh bertolak belakang dengan metode penafsiran para ulama pada umumnya. Ungkapan yang menyatakan sebuah ayat sebagai bentuk kepentingan Rosulullah saw. akan bertentangan dengan ayat lain yang menyatakan bahwasannya segala sesuatu yang ucapkan beliau tidaklah keluar dari keinginan hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Allah. Artinya penafsiran mereka bertentangan dengan metodologi tafsir bi al-ma’tsur yang menafsirkan ayat dengan ayat lain, hadist atau qaul sahabat. Padahal ini merupakan kaidah pokok penafsiran dan hampir seluruh ulama tidak menyelisihinya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qathan, Manna Khalil, 1992, Study Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta.

Ash-Shiddieqy, Hasby, 1990, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta.

Asy-Syirbashi, Ahmad, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, Jakarta

Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Zuz II.

Djalal, Abdul, 1990, Urgensi Tafsir Maudu’i pada Masa Kini, Jakarta.

HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz. I, Jakarta.

Husaini, Adian, “ISLAM-BARAT (STUDI KASUS WACANA ‘THE CLASH OF CIVILIZATIONS”

Khallaf, Abdul wahhab, 1994, Ilmu Ushul Fiqih, Semarang.

Rahmat, Imdadun, 2003, Islam Pribumi, Jakarta.

Syadali, Ahmad, 2000, Ulum al-Qur’an, Zuz II, Bandung.

Saleh dan A. Dahlan, 1995, Asbab An-Nuzul, Bandung.

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah, Volume 1, Jakarta.

Quthb, Sayyid, 2000,Tafsir Fi Zhilzlil Qur’an, Terj. Jilid 1, Jakarta.

Zarkasyi, Al-Qur’an fi Ulum al-Qur’an, Zuz I, Beirut.


[1] Adian Husaini, “ISLAM-BARAT (STUDI KASUS WACANA ‘THE CLASH OF CIVILIZATIONS’)”, Disampaikan dalam kuliah Islamic Worldview di Program Pasca Sarjana Program Studi Pemikiran dan Peradaban Islam, Universits Muhammadiyah Surakarta, 9 Desember 2007. hlm. 7.

[2] Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, (Jakarta: PT Gelora Aksra Pratama, 2003), hal. i.

[3] Ungkapan ini ditulis Ahmad Baso masih dalam buku yang sama (Islam Pribumi) pada pembahasan “Islam dan Dialog Peradaban (1)”. Lihat Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, (Jakarta: PT Gelora Aksra Pratama, 2003), hal. 2.

[4] Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Zuz II, (Matba’ah Isa Al-Babil Halabi wa Syirkahu, tth), hal.. 5.

[5] Ahmad Syadali, Ulum al-Qur’an, Zuz II, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hal.. 51.

[6] Zarkasyi, Al-Qur’an fi Ulum al-Qur’an, Zuz I, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tth.), hal. 5.

[7] Ahmad Asy-Syirbashi, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus), hal. 6.

[8] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 51.

[9] Manna Khalil al-Qaththan, Study Ilmu-Ilmu Qur’an, (Jakarta: Litera Antara Nusa, 1992), hlm. 456.

[10] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 55.

[11] Hasby Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990), hal.187.

[12] Ibid., hal. 55.

[13] Abdul Djalal, Urgensi Tafsir Maudu’i pada Masa Kini, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), hal. 67.

[14] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 63.

[15] Hasby Ash-Shiddieqy, Op. Cit., hal.192-193.

[16] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 60.

[17] Ibid, hal. 64-65.

[18] Ibid, hal. 65-70.

[19] Ibid.

[20] Hasby Ash-Shiddieqy, Op. Cit., hal. 193.

[21] Salah satu pembahasan dengan tema “Al-Qur’an dan Transformasi Sosial” dalam buku “Islam Pribumi” yang ditulis Ahmad Baso. Seorang aktifis Jaringan Islam Liberal dan penulis aktif Jurnal Tashwirul Afkar (LAKPESDAM). Lihat Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, (Jakarta: PT Gelora Aksra Pratama, 2003), hal. 2.

[22] Saleh dan A. Dahlan, Asbab an-nuzul, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 1995), hal. 125.

[23]Adian Husaini, Op. Cit., hlm. 2.

[24] HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz. I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.), hlm. 285.

[25] Ibid. hlm. 286.

[26] Ibid.

[27] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilzlil Qur’an, Terj. Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm. 131-132.

[28] Ibid.

[29] Ibid.

[30] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Volume 1, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 308.

[31] Ibid. hlm. 307.

[32] Ibid. hlm. 309.

[33] Ibid.

[34] Ibid.

[35] Ibid.

[36] HAMKA, Op. Cit., hlm. 287.

[37] Ibid.

[38] Ibid.

[39] Ibid, hlm. 287-288.

[40] Ibid, hlm. 288.

[41] Ibid, hlm. 285.

[42] Ibid.

[43] Ibid.

[44] Sayyid Quthb, Op. Cit. hlm. 132

[45] M. Quraish Shihab, Op. Cit., hlm. 310.

[46] Ibid.

[47] Hasby Ash-Shiddiqy, Op. Cit., hal. 57.

[48] Imdadun Rahmat, Op. Cit., hal. 2.

[49] Abdul wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, (Semarang: Dina Utama, 1994), hlm. 310

[50] Ibid, hlm 312.

[51] Ibid, hlm 314.

[52] Ibid, hlm 314-315.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: