Fokammsi’s Weblog

Forum Kajian Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Archive for the ‘Studi Al Quran’ Category

JILBAB DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

(Kritik atas Penafsiran M. Quraish Shihab tentang Jilbab dalam Tafsir Al-Misbah)

Penulis : FAHRUR MU’IS

I. MUKADIMAH

Islam adalah agama universal yang memiliki makna menampakkan ketundukan dan melaksanakan syariah serta menetapi apa saja yang datang dari Rasulullah. Semakna dengan hal ini, Allah juga memerintahkan umat Islam agar masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Yakni, memerintahkan kaum muslimin untuk mengamalkan syariat Islam dan cabang-cabang iman yang begitu banyak jumlah dan ragamnya. Pun mengamalkan apa saja yang diperintahkan dan meninggalkan seluruh yang dilarang semaksimal mungkin.

Namun, dewasa ini banyak nilai-nilai Islam yang ditinggalkan oleh kaum muslimin. Salah satunya adalah dalam masalah jilbab. Hal ini tampak dari banyaknya kaum muslimah yang tidak mempraktikkan syariat ini dalam keseharian mereka. Akibatnya, mereka kehilangan identitas diri sebagai muslimah sehingga sulit dibedakan mana yang muslimah dan non-muslimah.

Fenomena tersebut bisa disebabkan oleh ketidaktahuan, keraguan, ataupun terbelenggu dalam hawa nafsu. Namun, yang lebih bahaya dari itu semua adalah adanya usaha pengkaburkan bahwa jilbab bukanlah sebuah kewajiban agama, melainkan produk budaya Arab. Pengkaburan dari pemikiran yang benar ini telah dilakukan oleh beberapa pihak, baik dari luar umat Islam maupun dari dalam umat Islam sendiri.

Dari dalam tubuh umat Islam sendiri, pandangan nyleneh tersebut pernah dilontarkan oleh beberapa tokoh. Di antaranya adalah Muhammad Sa’id Al-Asymawi, seorang tokoh liberal Mesir, yang memberikan peryataan kontroversial bahwa jilbab adalah produk budaya Arab. Pemikarannya tersebut dapat dilihat dalam buku Kritik Atas Jilbab yang diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal dan The Asia Foundation.

Dalam buku tersebut diyatakan bahwa jibab itu tak wajib. Bahkan Al-Asymawi dengan lantang berkata bahwa hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab atau hijâb itu adalah Hadis Ahad yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Bila jilbab itu wajib dipakai perempuan, dampaknya akan besar. Seperti kutipannya: “Ungkapan bahwa rambut perempuan adalah aurat karena merupakan mahkota mereka. Setelah itu, nantinya akan diikuti dengan pernyataan bahwa mukanya, yang merupakan singgasana, juga aurat. Suara yang merupakan kekuasaannya, juga aurat; tubuh yang merupakan kerajaannya, juga aurat. Akhirnya, perempuan serba-aurat.” Implikasinya, perempuan tak bisa melakukan aktivitas apa-apa sebagai manusia yang diciptakan Allah karena serba aurat.

Buku tersebut secara blak-blakan, mengurai bahwa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in, menurut Al-Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.[1]

Pernyataan kontroversi tentang jilbab juga dilontarkan oleh pakar tafsir Indonesia M. Quraish Shihab. Pemikirannya tersebut dapat dilihat dalam Tafsir Al-Misbah dan Wawasan Al-Qur’an.

Tulisan ini bermaksud untuk mengkritisi tafsir M.Qurais Shihab tentang ayat jilbab (surat Al-Ahzab ayat 59) yang ia tulis dalam salah satu bukunya yang berjudul Tafsir Al-Misbah. Hal ini dilakukan untuk membendung terjadinya penyesatan pemikiran di kalangan umat Islam dengan memaparkan berbagai pendapat ulama yang diakui otoritas ilmunya (mu’tabar) baik yang salaf maupun kontemporer.

II. BIOGRAFI M. QURAISH SHIHAB

Sebelum mengkaji secara kritis tulisan M. Quraish Shihab tentang jilbab dalam Tafsir Al-Misbah, penulis memandang perlu terlebih dahulu untuk menyampaikan biografi singkatnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kejelasan latar belakangnya dan kiprahnya selama ini.

M. Quraish Shihab adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al- Qur’an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998). Ia dilahirkan di Rappang, pada tanggal 16 Februari 1944. Ia adalah kakak kandung mantan Menko Kesra pada Kabinet Indonesia Bersatu, Alwi Shihab.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Malang, yang ia lakukan sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah.

Pada tahun 1958 dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Tahun 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits Universitas Al Azhar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Qur’an dengan tesis berjudul Al-I’jaz Al-Tasyri’i li Al-Qur’an Al-Karim.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam lingkungan kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur, maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang, ia juga sempat melakukan beberapa penelitian; antara lain, penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).

Tahun 1980 , Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di almamater lamanya. Tahun 1982 ia meraih doktornya dalam bidang ilmu-ilmu Al- Qur’an dengan disertasi yang berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah, Ia lulus dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtaz ma`a martabat al-syaraf al-‘ula).

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984 Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashbih Al-Qur’an Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989). Ia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari`ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

M. Quraish Shihab juga sangat aktif sebagai penulis. Beberapa buku yang sudah ia hasilkan antara lain :Tafsir Al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1984), Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987), Mahkota Tuntunan Ilahi (Tafsir Surat Al-Fatihah) (Jakarta:Untagma, 1988), Membumikan Al-Qur’an (Bandung:Mizan, 1992), dan Tafsir Al-Mishbah, tafsir Al-Qur’an lengkap 30 Juz (Jakarta: Lentera Hati).[2]

III. PENAFSIRAN M. QURAISH SHIHAB TENTANG JILBAB

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman tentang jilbab hanya di satu tempat, yaitu surat Al-Ahzab ayat 59. Karena itu, selanjutnya ia populer dikenal dengan ayat jilbab. Ayat yang dimaksud ialah:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Dalam menafsirkan ayat di atas, M. Quraish Shihab memiliki pandangan yang aneh dengan manyatakan bahwa Allah tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab. Pendapatnya tersebut ialah sebagai berikut:

“Ayat di atas tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab, karena agaknya ketika itu sebagian mereka telah memakainya, hanya saja cara memakainya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat ini. Kesan ini diperoleh dari redaksi ayat di atas yang menyatakan jilbab mereka dan yang diperintahkan adalah “Hendaklah mereka mengulurkannya.” Nah, terhadap mereka yang telah memakai jilbab, tentu lebih-lebih lagi yang belum memakainya, Allah berfirman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.”[3]

Demikianlah pendapat yang dipegang oleh M. Quraish Shihab hingga sekarang. Hal ini terbukti dari tidak adanya revisi dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Misbah, meskipun sudah banyak masukan dan bantahan terhadap pendapatnya tersebut.

Di samping mengulangi pandangannya tersebut ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31, M. Quraish Shihab juga mengulanginya dalam buku Wawasan Al-Qur’an. Tidak hanya itu, ia juga menulis masalah ini secara khusus dalam buku Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, yang diterbitkan oleh Pusat Studi Quran dan Lentera Hati pada Juli 2004. Ia bahkan mempertanyakan hukum jilbab dengan mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa jilbab bagi wanita adalah gambaran identitas seorang Muslimah, sebagaimana yang disebut Al-Qur’an. Tetapi apa hukumnya?[4]

M. Quraish Shihab juga membuat Sub bab: Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang jilbab yang menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pendapat ganjilnya tersebut. Ia menulis:

Di atas—semoga telah tergambar—tafsir serta pandangan ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) tentang persoalan jilbab dan batas aurat wanita. Tidak dapat disangkal bahwa pendapat tersebut didukung oleh banyak ulama kontemporer. Namun amanah ilmiah mengundang penulis untuk mengemukakan pendapat yang berbeda—dan boleh jadi dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menghadapi kenyataan yang ditampilkan oleh mayoritas wanita Muslim dewasa ini.[5]

Selanjutnya, M. Quraish Shihab menyampaikan bahwa jilbab adalah produk budaya Arab dengan menukil pendapat Muhammad Thahir bin Asyur:

فنحن نوقن أن عادات قوم ليست يحق لها بما هي عادات أن يحمل عليها قوم آخرون فى التشريع ولا أن يحمل عليها أصحابها كذلك (مقاصد الشريعة ص 91)

Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh—dalam kedudukannya sebagai adat—untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahkan tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu.

Bin Asyur kemudian memberikan beberapa contoh dari Al-Quran dan Sunnah Nabi. Contoh yang diangkatnya dari Al-Quran adalah surat Al-Ahzab (33): 59, yang memerintahkan kaum Mukminah agar mengulurkan Jilbabnya. Tulisnya:

و فى القرآن: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ” فهذا شرع روعيت فيه عادة العرب فالأقوام الذين لا يتخذون الجلابيب لا ينالهم من هذا التشريع نصيب ” مقاصد الشريعة ص 19

Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini.[6]

Untuk mempertahankan pendapatnya, M. Quraish Shihab berargumen bahwa meskipun ayat tentang jilbab menggunakan redaksi perintah, tetapi bukan semua perintah dalam Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula, menurutnya hadits-hadits yang berbicara tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya.[7]

M. Qurash Shihab juga menulis hal ini dalam Tafsir Al-Misbah ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31. Di akhir tulisan tentang jilbab, M. Qurais Shihab menyimpulkan:

Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan tangannya, bahwa mereka “secara pasti telah melanggar petunjuk agama.” Bukankah Al-Quran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.[8]

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa M. Quraish Shihab memiliki pendapat yang aneh dan ganjil mengenai ayat jilbab. Secara garis besar, pendapatnya dapat disimpulkan dalam tiga hal. Pertama, menurutnya jilbab adalah masalah khilafiyah. Kedua, ia menyimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi dan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut batas aurat. Ketiga, ia memandang bahwa perintah jilbab itu bersifat anjuran dan bukan keharusan, serta lebih merupakan budaya lokal Arab daripada kewajiban agama. Betulkah kesimpulannya tersebut? Tulisan ini mencoba untuk mengkritisinya.

IV. KRITIK ATAS PENAFSIRAN M. QURAIS SHIHAB

A. Makna Jilbab dan Mengulurkan Jilbab dalam Al-Qur’an

Sebelum masuk pada inti pembahasan, ada baiknya disampaikan terlebih dahulu tentang makna jilbab dalam pandangan Al-Qur’an. Secara bahasa, kata al-jilbab sama dengan kata al-qamish atau baju kurung yang bermakna baju yang menutupi seluruh tubuh. Ia juga sama dengan al-khimar atau tudung kepala yang bisa dimaknai dengan apa yang dipakai di atas baju seperti selimut dan kain yang menutupi seluruh tubuh wanita.[9]

Ibnu Manzur dalam Lisanul Arab mengatakan bahwa jilbab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepada, dada, dan bagian belakang tubuhnya.[10]

Jilbab berasal dari kata kerja jalab yang berarti menutupkan sesuatu di atas sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat. Dalam masyarakat Islam selanjutnya, jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi tubuh seseorang. Bukan hanya kulit tubuhnya tertutup, melainkan juga lekuk dan bentuk tubuhnya tidak kelihatan.

Penelusuran atas teks Al-Qur’an tentang jilbab agaknya tidak sama dengan pengertian sosiologis tersebut. Para ahli tafsir menggambarkan jilbab dengan cara yang berbeda-beda. Ibnu Katsir mengemukakan bahwa jilbab adalah selendang di atas kerudung. Ini yang disampaikan Ibnu Mas’ud, Ubaidah Qatadah, Hasan Basri, Sa’id bin Jubair Al-Nakha’i, Atha Al-Khurasani dan lain-lain. Ia bagaikan “izar” sekarang. Al-Jauhari, ahli bahasa terkemuka, mengatakan izar adalah pakaian selimut atau sarung yang digunakan untuk menutup badan.

Muhammad bin Sirin berkata, “Aku bertanya kepada Abidah As-Salmani tentang firman Allah, “يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ” maka ia menutup wajah dan kepalanya, serta hanya memperlihatkan mata kirinya.[11]

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam masalah mengulurkan jilbab yang dimaksudkan Allah dalam ayat jilbab. Sebagian mereka ada yang menafsirkan dengan menutup wajah dan kepala serta hanya menampakkan satu mata, dan sebagian mereka ada yang menafsirkan dengan menutup muka mereka.[12]

Menurut Al-Qurthubi, jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh badan. Ia juga menyebutkan bahwa menurut Al-Hasan, ayat tersebut memerintah kaum wanita untuk menutup separo wajahnya.[13]

Azzamakhsyari dalam Alkasysyaf merumuskan jilbab sebagai pakaian yang lebih besar daripada kerudung, tetapi lebih kecil daripada selendang. Ia dililitkan di kepala perempuan dan membiarkannya terulur ke dadanya. [14]

Menurut Abu Bakar Al-Jazairi, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka artinya mengulurkan jilbab ke wajah mereka sehingga yang tampak dari seorang wanita hanyalah satu matanya yang digunakan untuk melihat jalan jika dia keluar untuk suatu keperluan.[15]

At-Tirmidzi dalam Al-Mukhtashar Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah menafsirkan mengulurkan jilbab dengan menutup seluruh tubuh, kecuali satu mata yang digunakan untuk melihat. Di antara yang memaknainya demikian ialah Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abidah As-Salmani, dan lain-lain.[16]

Menurut Wahbah Az-Zuhaili, ayat jilbab menunjukkan wajibnya menutup wajah wanita. Karena para ulama dan mufassir seperti Ibnul Jauzi, At-Thabari, Ibnu Katsir, Abu Hayyan, Abu Su’ud, Al-Jashash, dan Ar-Razi menafsirkan mengulurkan jilbab adalah menutup wajah, badan, dan rambut dari orang-orang asing (non mahram) atau ketika keluar untuk sebuah keperluan.[17]

Dari rujukan di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa jilbab pada umumnya adalah pakaian yang lebar, longgar, dan menutupi seluruh bagian tubuh. Sementara itu, para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Di antara tafsiran mereka terhadap ayat tersebut ialah: menutup wajah dan kepalanya, serta hanya memperlihatkan mata kirinya; menutup seluruh badan dan separuh wajah dengan memperlihatkan kedua mata; dan mengulurkan kain untuk menutup kepala hingga dada.

Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa para ahli tafsir dari dahulu hingga sekarang telah bersepakat bahwa jilbab adalah sebuah kewajiban agama bagi kaum wanita. Mereka bersepakat tentang wajibnya memakai jilbab dan berbeda pendapat tentang makna mengulurkan jilbab: apakah mengulurkan ke seluruh tubuh kecuali satu mata, mengulurkan ke seluruh tubuh kecuali dua mata, atau mengulurkan ke seluruh tubuh kecuali muka. Jadi, pendapat M. Qurais Shihab yang menyatakan bahwa kewajiban mengulurkan jilbab adalah masalah khilafiyah jelas tidak berdasar. Sebab, para ulama ahli tafsir sejak dahulu hingga sekarang telah bersepakat tentang kewajiban memakai jilbab bagi kaum muslimah. Sebab, perintah tersebut didasari atas dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits dan qarinah (petunjuk) yang sangat kuat.

B. Tafsir Ayat Jilbab

Bagaimanakah para ulama yang terpercaya dari zaman dahulu hingga sekarang menafsirkan ayat jilbab? Apakah pendapat mereka sesuai dengan pendapat M.Qurais Shihab ataukah justru bertentangan? Untuk mengetahui hal itu, kita perlu mengkaji buku-buku tafsir yang sudah diakuai dan diterima oleh umat Islam di dunia. di antaranya ialah:

  1. Tafsir Ibnu Abbas

Dalam menafsirkan ayat jilbab tersebut, Ibnu Abbas menuturkan, “Selendang atau jilbab tudung wanita hendaklah menutupi leher dan dada agar terpelihara dari fitnah atau terjauh dari bahaya zina.[18]

2. Tafsir Al-Qurthubi

Dalam menafsirkan ayat jilbab tersebut, Al-Qurthubi menulis, “Allah memerintahkan segenap kaum muslimah agar menutupi seluruh tubuhnya, agar tidak memperlihatkan tubuh dan kulitnya kecuali di hadapan suaminya, karena hanya suaminya yang dapat bebas menikmati kecantikannya.”[19]

3. Tafsir Ibnu Katsir

Menurut tafsir Ibnu Katsir, dalam surat Al-Ahzab ayat 59 Allah memerintah Rasul-Nya agar menyuruh wanita-wanita mukminat—khususnya para istri dan anak beliau karena kemuliaan mereka—untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka guna membedakan dari wanita jahiliyah dan budak. Jilbab adalah selendang di atas kerudung. Muhammad bin Sirin berkata, “Aku bertanya kepada Abidah As-Salmani tentang firman Allah, “يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ” maka ia menutup wajah dan kepalanya, serta hanya memperlihatkan mata kirinya. [20]

4. Tafsir Sayyid Qutb

Menurut Sayyid Qutb, dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada istri-istri Nabi dan kaum muslimah umumnya agar setiap keluar rumah senantiasa menutupi tubuh, dari kepala sampai ke dada dengan memakai jilbab tudung yang rapat, tidak menerawang, dan juga tidak tipis. Hal demikian dimaksudkan untuk menjaga identitas mereka sebagai muslimah dan agar terpelihara dari tangan-tangan jahil dan kotor. Karena mereka yang bertangan jahil dan kotor itu, pasti akan merasa kecewa dan mengurungkan niatnya setelah melihat wanita yang berpakaian terhormat dan mulia secara islam.[21]

5. Tafsir Ath-Thabrasi

Maksudnya, katakanlah kepada mereka untuk menutup dadanya dengan jilbab, yaitu pakaian penutup yang membalut keindahan wanita.[22]

6. Tafsir Wahbah Az-Zuhaili

Maksudnya, Allah meminta Rasul-Nya memerintahkan wanita-wanita mukminat, khususnya para istri dan anak beliau, jika keluar rumah untuk menutupkan jilbab-jilbab mereka agar membedakannya dari para budak. Ayat ini menunjukkan wajibnya menutup wajah wanita. Karena para ulama dan mufassir seperti Ibnul Jauzi, At-Thabari, Ibnu Katsir, Abu Hayyan, Abu Su’ud, Al-Jashash, dan Ar-Razi menafsirkan mengulurkan jilbab adalah menutup wajah, badan, dan rambut dari orang-orang asing (non mahram) atau ketika keluar untuk sebuah keperluan.[23]

Dari penafsiran para ulama yang memiliki otoritas dalam tafsir Al-Qur’an tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka sepakat atas wajibnya jilbab bagi kaum muslimah. Penafsiran mereka sudah diakui kebenarannya dan diamalkan oleh umat Islam selama berabad-abad lamanya. Lalu, bagaimana bila tiba-tiba pendapat tersebut dimentahkan dan disalahkan oleh satu orang yang datang belakangan yang otoritasnya dalam ilmu agama masih dipertanyakan? Apakah dapat diterima oleh logika?

Sesungguhnya, praktik para shahabiyyat yang tidak disanggah oleh Rasulullah bahkan dikuatkan, dan pemahaman para shahabiyyin, serta penerimaan ummat dari generasi ke generasi, secara keseluruhan, menjadi bukti dan qarinah (petunjuk) bahwa yang dimaksud dalam ayat jilbab adalah para wanita harus menutup seluruh anggota badan, tanpa kecuali, atau dengan pengecualian wajah dan kedua telapak tangan.

Rupanya M.Quraish Shihab mengkritisi pendapat para ulama yang memiliki otoritas dalam ilmu agama dan sama sekali tidak mengkritisi pendapat tokoh yang dianutnya, baik Muhammad Thahir bin Asyur maupun Al-Asymawi yang notabenenya penganut paham liberal dan pluralisme agama. Seharusnya M.Quraish Shihab lebih kritis terhadap pendapat kedua tokoh tersebut yang otoritas ilmu agamanya masih diragukan, dan bukannya malah langsung mengikutinya tanpa memberi catatan. Ini jelas menunjukkan sikap ketidakadilan ilmiah. Di samping, perbandingan tersebut memang dipaksakan dan asal mencari pendapat yang longgar.

C. Batasan Aurat dalam Islam

Benarkah Al-Qur’an tidak menyebutkan batas aurat sebagaimana yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab? Untuk menjawab pertanyan ini, kita perlu membaca surat An-Nur ayat 31 beserta tafsirannya. Ayat yang dimaksud ialah:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…(An-Nur: 31).

Ulama madzhab sepakat bahwa semua badan wanita adalah aurat, selain muka dan dua telapak tangannya, berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nur, ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…. “

Yang dimaksud dengan perhiasan yang nampak itu adalah muka dan dua telapak tangan. Sedangkan yang dimaksud dengan khimar adalah tutup kepala, bukan penutup muka; dan yang dimaksud dengan jaib adalah dada. Para wanita itu telah diperintahkan untuk meletakkan kain penutup di atas kepalanya dan melebarkannya sampai menutupi dadanya.[24]

Menurut Muhammad Mutawalli Sya’rawi, para ulama sepakat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangannya. Abu Hanifah menambah pengecualian itu dengan kedua kaki hingga mata kaki.[25]

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa maksud kerudung dalam ayat di atas adalah kain yang menutupi kepala. Kata dada juga meliputi leher. Dengan demikian, kerudung itu wajib menutupi kepala, leher, dan dada. Itulah batas bagian atas dari hijab. Lalu di mana batas bagian bawahnya? Jawabannya terdapat dalam bagian ayat berikutnya:

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur [24]: 31)

Perhiasan kaki adalah gelang-gelang kaki. Karena para wanita menutupi tubuh mereka sampai ke kaki, maka mereka mengentakkan kaki untuk menunjukkan perhiasan yang ada di balik pakaian yang menutupi pergelangan kaki mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa wanita harus menutupi kaki mereka sampai tumit.[26]

Menurut Yusuf Qaradhawi, di kalangan ulama sudah ada kesepakatan tentang masalah ‘aurat wanita yang boleh ditampakkan’. Ketika membahas makna “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya” (QS. 24:31), menurut Qaradhawi, para ulama sudah sepakat bahwa yang dimaksudkan itu adalah “muka” dan “telapak tangan”.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Di antara ulama mazhab Syafii ada yang berpendapat, telapak kaki bukan aurat. Imam Ahmad menyatakan, aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya saja.

Di antara ulama mazhab Maliki ada yang berpendapat, bahwa wanita cantik wajib menutup wajahnya, sedangkan yang tidak cantik hanya mustahab. Qaradhawi menyatakan—bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan— adalah pendapat Jamaah sahabat dan tabi’in sebagaimana yang tampak jelas pada penafsiran mereka terhadap ayat: “apa yang biasa tampak daripadanya.”[27]

Pendapat semacam ini bukan hanya ada di kalangan sunni. Di kalangan ulama Syiah juga ada kesimpulan, bahwa “apa yang biasa tampak daripadanya’’ ialah “wajah dan telapak tangan’’ dan perhiasan yang ada di bagian wajah dan telapak tangan. Murtadha Muthahhari menyimpulkan, “… dari sini cukup jelas bahwa menutup wajah dan dua telapak tangan tidaklah wajib bagi wanita, bahkan tidak ada larangan untuk menampakkan perhiasan yang terdapat pada wajah dan dua telapak tangan yang memang sudah biasa dikenal, seperti celak dan kutek yang tidak pernah lepas dari wanita.”[28]

Bahkan, dalam buku Wawasan Al-Quran, M. Quraish Shihab sendiri sudah mengungkapkan, bahwa para ulama besar, seperti Said bin Jubair, Atha, dan Al-Auza’iy berpendapat bahwa yang boleh dilihat hanya wajah wanita, kedua telapak tangan, dan busana yang dipakainya. (hal. 175-176).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda tentang batas aurat wanita yang wajib ditutup:

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Wahai Asma’, wanita yang sudah haid harus menutupi seluruh tubuhnya, kecuali ini dan ini’ sambil menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud).[29]

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa aurat wanita yang sudah balig ialah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani, seorang ulama ahli hadits yang otoritas ilmunya tidak diragukan lagi.

Selain itu, ada hadits juga yang menunjukkan bahwa wanita pada zaman Nabi berhasrat untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama mereka dengan benar. Yakni, suatu hari istri Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada Ummu Salamah, “Aku sering berjalan di tempat-tempat kotor. Bagaimana mungkin aku memanjangkan pakaianku?” Ummu salamah menjawab, “Rasulullah bersabda:

يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ

‘Pakaian itu akan dibersihkan oleh apa yang mengenainya setelah kotoran itu.’” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, dan Ad-Darimi).

Sekali lagi, dua petunjuk Nabi tersebut menyimpulkan bahwa wanita harus menutupi tubuh bagian atasnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sementara tubuh bagian bawahnya sama sekali tidak boleh terlihat.

Dalam menafsirkan surat An-Nur ayat 31, Ali Ash-Shabuni menjelaskan bahwa kata khumur adalah jama’ dari kata khimar yang berarti sesuatu yang menutupi kepala wanita dan menutupinya dari pandangan laki-laki. Sedangkan kata juyub adalah jama’ dari kata jaib yang artinya dada. Maknanya, hendaklah para wanita muslimah memakai kerudung hingga menutupi dada mereka, agar dada mereka tidak kelihatan sama sekali.

Ia melanjutkan, wanita pada masa jahiliyah—seperti yang terjadi pada masa jahiliyah modern saat ini—berjalan di hadapan laki-laki dengan membuka dada, atau dadanya sengaja diperlihatkan untuk menunjukkan keindahan tubuh dan rambutnya untuk menarik laki-laki. Mereka memakai kerudung pada bagian belakang, sementara dada mereka tetap terbuka lebar. Maka dari itu, wanita-wanita mukminat diperintahkan oleh Allah agar menutupi dada mereka dengan kerudung hingga dada mereka tertutup rapat agar terjaga dari tangan-tangan jahil.[30]

Ditambah lagi, para ulama juga memberikan beberapa syarat bagi busana muslimah. Syarat-syarat tersebut ialah:

1. Busana tidak boleh berfungsi sebagai perhiasan.

2. Tidak terbuat dari kain tipis yang transparan.

3. Tidak ketat dan mencetak bentuk badan.

4. Tidak menggunakan bahan pewangi yang manusuk hidung.

5. Tidak menyerupai busana laki-laki.

6. Tidak menyerupai busana orang kafir.

7. Busana ini tidak dikenakan untuk tujuan popularitas.[31]

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa batasan aurat dalam Islam sangat jelas. Al-Quran sendiri sudah secara tegas menyebutkan batas aurat wanita, yaitu seluruh tubuh, kecuali yang biasa tampak, yakni muka dan telapak tangan. Para ulama tidak berbeda pendapat tentang masalah ini. Yang berbeda adalah pada masalah: apakah wajah dan telapak tangan wajib ditutup? Sebagian mengatakan wajib menutup wajah, dan sebagian menyatakan wajah boleh dibuka.

Pendapat M. Quraish Shihab tersebut harus diklarifikasi agar tidak terjadi kekacauan berpikir dan penyesatan umat. Apalagi, sebagai seorang intelektual dan dai ia harus menjunjung tinggi amanah ilmiah dan membimbing umat ke jalan yang benar.

D. Universalisme Risalah Islam

Dalam uraian sebelumnya telah dijawab dua pokok pendapat ganjil M. Qurais Shihab. Pendapat ketiga yang akan dikritisi dalam tulisan ini ialah pandangannya bahwa perintah jilbab itu bersifat anjuran dan bukan keharusan, serta lebih merupakan budaya lokal Arab daripada kewajiban agama.

Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Bahkan tak seorang ulama pun yang memiliki otoritas ilmu pernah melontarkannya. Pendapat M. Qurais Shihab yang mengatakan bahwa perintah jilbab bersifat anjuran dan bukan keharusan ini tampak mengada-ada. Karena, perintah tersebut tidak pernah dipahami seperti itu oleh Nabi, shahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan seluruh umat Islam hingga sekarang.

Bila merujuk ilmu ushul fikih, ayat jilbab jelas berupa al-amr atau perintah. Al-Amr adalah tuntutan perbuatan dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yang lebih bawah. Atau bisa juga dikatakan bahwa al-amr adalah suatu lafal yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi derajatnya untuk memimnta bawahannya mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak boleh ditolak. Dengan demikian, pada dasarnya perintah itu menunjukkan suatu kewajiban.[32]

Lalu, benarkah pendapatnya yang mengatakan bahwa jilbab yang merupakan salah satu syariat Islam lebih merupakan budaya lokal Arab daripada kewajiban agama? Pendapat ini tidak memiliki dasar yang kuat. Karena seluruh ajaran Islam turun di Arab, apakah syariat Islam berarti hanya berisi budaya lokal Arab dan hanya untuk orang Arab?

Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa risalah Islam bukanlah risalah yang bersifat lokal yang terbatas ataupun parsial, yang khusus untuk suatu generasi atau suku bangsa tertentu saja sebagaimana halnya risalah-risalah sebelumnya. Namun, ajaran Islam merupakan ajaran universal yang mencakup seluruh umat manusia hingga hari Kiamat, yaitu pada saat seluruh makhluk menghadap Allah ta’ala. Ajaran Islam tidaklah terfokus untuk kota tertentu atau terbatas dengan waktu tertentu.[33]

Di antara dalil-dalilnya ialah firman Allah:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28)

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 34).

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah, ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’.” (Al-A’raf: 158).

Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa di antara argumentasi yang membuktikan akan universalitas ajaran Islam adalah sebagai berikut:

1. Tidak terdapat permasalahan yang sulit untuk diyakini atau sukar dilaksanakan.

2. Permasalahan yang tidak terkait oleh perubahan tempat dan waktu, seperti masalah akidah dan ibadah, maka diterangkan dengan sempurna dan secara terperinci. Adapun permasalahan yang mengalami perubahan yang disebabkan situasi dan kondisi, misalnya hal-hal yang menyangkut soal peradaban, urusan-urusan politik dan peperangan, maka diterangkan secara global agar dapat mengikuti kepentingan manusia pada setiap waktu dan tempat.

3. Seluruh ajaran Islam bertujuan untuk menjaga kepentingan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Keadaan semacam ini lebih sesuai dengan fitrah dan akal, perkembangan zaman dan cocok untuk diaplikasikan di segala tempat dan waktu.[34]

Dari pendapat para ulama yang otoritatif di atas, bisa disimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang aurat dan pakaian wanita adalah bersifat universal serta berlaku untuk semua wanita. Mengapa? Sebab tubuh manusia juga bersifat universal. Tidak ada bedanya antara tubuh wanita di satu tempat dengan tempat yang lain, baik di Arab, Jawa, maupun Cina. Karena itu, pakaian dan aurat wanita juga bersifat universal.

Pendapat M. Qurais Shihab yang mengatakan bahwa memakai jilbab tidak wajib, karena ayat-ayat jilbab sangat terkait dengan konteks tertentu (ada asbabun nuzul-nya), dan hendaknya hal tersebut menjadi pertimbangan utama sebuah keputusan hukum, dapat dijawab dengan dua hal sebagaimana yang ditulis Adian Husaini, yaitu:

Pertama, rangkaian sebelum dan sesudah ayat jilbab dan hijab dalam surah An-Nur dan Al-Ahzab menunjukkan bahwa alasan diwajibkannya memakai jilbab adalah demi al-hisymah (menjaga kehormatan wanita agar tetap terpuji), bukan sekadar untuk membedakan antara wanita merdeka dan hamba sahaya.

Kedua, istilah asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an) dalam tradisi ulama Islam tidak dimaksudkan untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat (kausalitas), yang berarti kalau peristiwa itu tidak turun, maka ayatnya tidak turun. Tapi, lebih berperan sebagai peristiwa/audio visual (alat peraga) yang mengiringi turunnya ayat. Selain itu, mengkhususkan lafal ayat Al-Quran hanya berlaku pada kasus tertentu, tidak bersifat umum, berarti menzalimi lafal itu sendiri.

Sebab, lafal yang dasarnya bersifat umum dan menunjuk makna yang telah jelas digunakan pemakainya, tidak bisa dikhususkan atau dialihkan ke makna lain, kecuali didukung bukti kuat. Dan asbabun nuzul tidak cukup kuat untuk mengkhususkan pesan umum sebuah lafal.[35]

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pendapat M. Quraish Shihab dalam masalah jilbab adalah pendapat yang aneh dan ganjil di kalangan ulama Islam. Sebab, pendapat tersebut sama sekali tidak dikenal dan tak pernah terlontarkan di antara mereka. Dengan demikian, hal itu jelas mengindikasikan bahwa pendapat tersebut tidak benar.

V. PENUTUP

Dari seluruh pembahasan dalam tulisan ini dapat disimpulkan beberapa poin. Pertama, jilbab bukanlah masalah khilafiyah karena seluruh ulama telah sepakat atas kewajibannya bagi muslimah. Yang menjadi perbedaan pendapat di antara mereka adalah dalam menutup sebagian tangan, wajah, dan sebagian kaki.

Kedua, batasan aurat wanita dalam Islam adalah seluruh tubuh mereka kecuali wajah dan telapak tangan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Ketiga, perintah jilbab itu bersifat wajib dan berlaku bagi seluruh muslimah di mana saja mereka berada karena syariat Islam bersifat universal dan telah final.

Untuk menutup tulisan ini, perlu penulis sampaikan tentang nasihat agar tidak asal berpendapat dan berijtihad sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Al-Muqaddam. Imam Malik meriwayatkan, “Seseorang mengabarkan kepadaku bahwa ia menjumpai Rabi’ah yang didapatinya sedang menangis. Ia bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Adakah musibah yang terjadi padamu?’ Lalu, tangisnya mereda dan ia menjawab, ‘Tidak, saya menangis karena orang yang tak berilmu telah dimintai fatwa sehingga muncul dalam Islam sebuah perkara besar.’ Rabi’ah berkata, ‘Sungguh sebagian orang yang berfatwa di sini lebih layak dikurung daripada para pencuri’.”

Imam Ibnu Hazm menjelaskan bahwa tiada penyakit yang lebih membahayakan bagi ilmu dan ahlinya daripada orang asing yang bukan termasuk dari ahli ilmu. Mereka bodoh, tapi menyangka diri mereka berilmu. Mereka merusak, tapi mengklaim diri mereka membuat perbaikan.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa jika seseorang berbicara tidak pada bidangnya, ia akan mendatangkan segala keanehan.

Sebagian para pengarang menulis bahwa pendapat aneh dari sebagian ulama dalam urusan syariah dan berkata dengan sesuatu yang tidak dikatakan siapa pun ialah dua indikasi adanya kerusakan dalam akal.”

Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib berkata, “Sesuatu yang tidak dikenal bukanlah bagian dari ilmu. Sebab, ilmu ialah sesuatu yang dikenal dan semua orang menyepakatinya.”

Ibrahim bin Abi ‘Ablah berkata, “Siapa mengusung ilmu yang keliru, ia telah membawa kejelekan yang banyak.”

Asy-Syathibi berkata, “Adanya pelanggaran terhadap perbuatan para pendahulu disebabkan oleh orang yang mengklaim dirinya sebagai ahli ijtihad yang salah atau menyalahkan orang lain.”

Al-Amir Syakib Arsalan menjelaskan bahwa di antara sebab kaum muslimin tertinggal ialah karena ilmu yang kurang. Hal itu jauh lebih berbahaya daripada sedikit kebodohan. Sebab, jika Allah memberikan kepada orang yang bodoh seorang pembimbing yang alim, ia akan menaati dan tidak akan berkilah. Sementara orang yang ilmunya kurang, ia tidak tahu dan tidak menyadari bahwa dirinya tidak tahu. Ini sesuai dengan ungkapan yang mengatakan, ‘Cobaan kalian dengan seorang yang gila lebih baik dari cobaan kalian dengan orang yang setengah gila.’ Bisa pula saya katakan, ‘Cobaan kalian dengan orang yang bodoh lebih baik daripada cobaan kalian dengan orang yang tampak seperti orang alim’.”[36]

Terakhir, semoga M. Quraish Shihab menyadari kekhilafannya dan menarik pendapatnya yang ganjil tentang jilbab serta mengumumkannya ke publik. Sekali lagi, pendapat tersebut telah menyimpang dari petunjuk Al-Qur’an dan hadits, serta pemahaman mayoritas ulama yang otoritatif. Apalagi, jika tidak bertobat, ia juga akan menanggung dosa orang-orang yang mengikuti pandapatnya. Wallahu a’lam.

V. REFERENSI

Abu Ali Al-Fadhl bin Hasan bin Fadhl Ath-Thabrasi. 1997. Majma’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an. Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah.

Abu Bakar Al-Jazairi, Aisarut Tafasir. http://www.altafsir.com

Al-Hafidz Ibnu Katsir. 2003. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Cairo: Darul Hadits.

At-Tirmidzi. Al-Mukhtashar Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah. tt.Urdun: Al-Makatabah Al-Islamiyyah.

Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf. www. altafsir.com

H.A. Djazuli dan I. Nurol Aen. 2000. Usul Fiqih, Metodologi Hukum Islam. Jakarta: Rajawali Press.

Ibnu Abbas, Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibn Abbas. www. altafsir. com

Ibnu Mandzur, Lisanul Arab.tt. Beirut: Dar Shadir.

Muhammad Ali Ash-Shabuny. 2002. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat An-Nur-Fathir, (terj.) Munirul Abidin, MA, dari judul Qabasun min Nuril Qur’anil Karim. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Majma’ Al-Lughah Al-Arabiyyah. Al-Mu’’jam Al-Wasith, tt.

Muhammad Al-Muqaddam. 2003. Fiqih Asyratus Sa’ah. Iskandaria: Dar Alamiyah.

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. 2000. Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an. Mekah: Muassasah Ar-Risalah.

Muhammad Jawad Mugniyyah. 1999. Fiqih Lima Mazhab, (terj.) Masykur A.B, Afif Muhammad, Idrus Al-Kaff, dari judul Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Khamsah, Jakarta: Penerbit Lentera.

Muhammad Mutawalli Sya’rawi. 2006. Fiqih Wanita, (terj.) Ghozi. M, dari judul Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah. Jakarta: Pena Pundi Aksara.

M. Quraish Shihab. 2003. Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Jakarta: Lentera Hati.

M. Quraish Shihab. 1998. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan.

Sayyid Sabiq. 2006. Fiqih Sunnah, (terj.) Nor Hasanuddin, dkk. dari judul Fiqhus Sunnah. Jakarta: Pena Pundi Aksara.

Sayyid Qutb. Fi Zhilalil Qur’an. www. altafsir.com

Syamsuddin Al-Qurthubi. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. www. altafsir.org

Wahbah Az-Zuhaili. 1991. At-Tafsir Al-Munir fil Aqidah was Syari’ah wal Manhaj. Damaskus: Darul Fikr.

Wikipedia Indonesia

www.hidayatullah.com

www. islamlib.com

Yusuf Qaradhawi. 1995. Fatwa-Fatwa Kontemporer. Jakarta: GIP.


[2] Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2003), cet I, vol. 11, hal. 321.

[4] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998), cet VII, hal. 171

[5] Ibid, hal. 178.

[6] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998), cet VII, hal. 178-179.

[7] Ibid, hal. 179.

[8] Ibid, hal. 179.

[9] Majma’ Al-Lughah Al-Arabiyyah, Al-Mu’’jam Al-Wasith, cet. 3, Jil. 1, tt, hal. 133.

[10] Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, (Beirut: Dar Shadir, tt), cet I, Jil. I, hal. 272.

[11] Al-Hafidz Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, (Cairo: Darul Hadits, 2003), cet I, Jil. 3, hal. 631.

[12] Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, (Mekah: Muassasah Ar-Risalah, 2000), cet I, hal. 324-325.

[13] Syamsuddin Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, www. altafsir.org

[14] Az-Zamkhsyari, Al-Kasysyaf, www. Altafsir.com

[15] Abu Bakar Al-Jazairi, Aisarut Tafasir, http://www.altafsir.com

[16] At-Tirmidzi, Al-Mukhtashar Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, (Urdun: Al-Makatabah Al-Islamiyyah), tt. hal. 349.

[17] Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fil Aqidah was Syari’ah wal Manhaj, (Damaskus: Darul Fikr, 1991), cet I, Jil. 11, hal. 107.

[18] Ibnu Abbas, Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibn Abbas, www. altafsir. com

[19] Syamsuddin Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, www. altafsir.org

[20] Al-Hafidz Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, (Cairo: Darul Hadits, 2003), cet I, Jil. 3, hal. 631.

[21] Sayyid Qutb, Fi Zhilalil Qur’an, www. altafsir.com

[22] Abu Ali Al-Fadhl bin Hasan bin Fadhl Ath-Thabrasi, Majma’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, (Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1997), cet I, Jil. 8, hal.137.

[23] Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fil Aqidah was Syari’ah wal Manhaj, (Damaskus: Darul Fikr, 1991), cet I, Jil. 11, hal. 107.

[24] Muhammad Jawad Mugniyyah, Fiqih Lima Mazhab, (terj.) Masykur A.B, Afif Muhammad, Idrus Al-Kaff, dari judul Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Khamsah, (Jakarta: Penerbit Lentera, 1999), cet. IV, hal. 81-82.

[25] Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Fiqih Wanita, (terj.) Ghozi. M, dari judul Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah, ( Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), cet. I, hal. 50.

[26] Ibid hal. 51-52.

[27] Dr. Yusuf Qaradhawi , Fatwa-Fatwa Kontemporer (Terj. Drs. As’ad Yasin), (Jakarta: GIP, 1995), hal. 431-436.

[28] Murtadha Muthahhari, Wanita dan Hijab (Terj. oleh Nashib Musthafa), (Jakarta: Lentera Basritama, 2002) dikutip dari Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini, http://www.hidayatullah.com

[29] Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam tahqiqnya terhadap kitab Misykatul Mashabih, karya At-Tabrizi, dalam Maktabah Asy-Syamilah. Dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, hadits ini dinilai hasan lighairihi oleh Al-Albani.

[30] Muhammad Ali Ash-Shabuny, Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat An-Nur-Fathir, (terj.) Munirul Abidin, MA, dari judul Qabasun min Nuril Qur’anil Karim, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), cet. I, vol. 5, hal. 42.

[31] Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Fiqih Wanita, (terj.) Ghozi. M, dari judul Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah, ( Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), cet. I, hal. 54-57. Hal ini juga ditulis oleh Syaikh Al-Albani dalam buku Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah fi Kitabi was Sunnah.

[32] H.A. Djazuli dan I. Nurol Aen, Usul Fiqih, Metodologi Hukum Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2000), cet. I, hal. 377-380.

[33] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (terj.) Nor Hasanuddin, dkk. dari judul Fiqhus Sunnah, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), cet. I, hal. 1.

[34] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (terj.) Nor Hasanuddin, dkk. dari judul Fiqhus Sunnah, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), cet. I, hal. 2-3.

[35] Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini, http://www.hidayatullah.com

[36] Muhammad Al-Muqaddam, Fiqih Asyratus Sa’ah, (Iskandaria: Dar Alamiyah, 2003), cet. I, hal. 9-10.

Posted in Studi Al Quran | Leave a Comment »

Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib dalam Al Qur’an dan As Sunnah

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

Penulis : Nanang Wahyudi A.H.[1]

I. Pendahuluan

Pendidikan merupakan hal yang sangat strategis dalam membangun sebuah peradaban, khususnya peradaban yang Islami. Bahkan, ayat pertama[2] diturunkan oleh Allah sangat berhubungan dengan pendidikan. Proses dakwah Rasulullahpun dalam menyebarkan Islam dan membangun peradaban tidak lepas dari pendidikan Rasul terhadap para sahabat. Dimulai dari sebuah rumah kecil “Darul Arqom” sampai membentang ke seberang benua. Diawali beberapa sahabat sampai tersebar ke jutaan umat manusia di penjuru dunia. Sebuah proses yang pernah menorehkan sejarah peradaban yang membanggakan bagi umat Islam, Madinah Al Munawarah. Sejarahpun mencatat banyak Negara yang memperkokoh bangsanya ataupun bisa segera bangkit dari keterpurukan dengan upaya membangun pendidikan. Wajar, karena dari pendidikanlah lahir sebuah generasi yang diharapkan mampu membangun peradaban tersebut. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kemajuan pendidikan akan menjadi salah satu pengaruh kuat terhadap kemajuan atau kegemilangan sebuah peradaban.

Namun, konsep atau teori pendidikan mengalami sebuah perdebatan hangat bagi para pakar atau ilmuwan. Peran pendidikan yang semakin disadari pentingnya dalam melahirkan sebuah generasi tidaklah cukup tanpa disertai oleh konsep yang benar. Apabila kita menerima teori ilmiah empiris sebagai sebuah paradigma dalam teori pendidikan, maka disadari atau tidak berarti kita telah meninggalkan hal-hal yang bersifat metafisis dalam Al Qur’an dan Sunnah[3]. Metode ilmiah dalam membangun sebuah teori harus dapat diamati oleh panca indera. Sebuah teori yang belum bisa dibuktikan secara empiris tidak bisa dijadikan dasar dalam menyusun sebuah teori termasuk didalamnya teori pendidikan. Padahal, Al Qur’an yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW, dari masa ke masa selalu berkembang pembuktian terhadap mukjizat Ilmiahnya, mulai dari masa lampau sampai masa yang akan datang. Menyesuaikan dengan kemampuan manusia dalam membaca mukjizat tersebut[4]. Dalam Surat Al-An’am ayat 38:

… Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”

Ditegaskan juga dalam ayat lain, yaitu surat An Nahl ayat 89

“… kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Untuk itu menjadi hal yang sangat penting dan mendasar bagi para muslim untuk memahami konsep pendidikan menurut Al Qur’an dan Al Sunnah. Konsep dasar yang perlu untuk dikaji berawal dari definisi atau pengertian pendidikan yang disandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah[5].

II. Pengertian Pendidikan dalam Pandangan AlQur’an dan As Sunnah

Sangat penting jika di awal kita memastikan pengertian pendidikan yang didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah. Karena berangkat dari pengertian inilah akan menjadikan pondasi yang akan menyangkut konsep bangunan pendidikan itu sendiri. Istilahpun akan memberikan pemahaman yang utuh, mengingat istilah tidaklah bebas nilai akan tetapi sarat akan nilai-nilai yang mengikutinya[6]. Dalam hal pendidikan, bersandar pada Al Qur’an dan Hadith dikenal beberapa istilah yang dianggap mewakili pengertian tersebut. Hal ini disebabkan istilah pendidikan tidak disebutkan secara langsung dalam Al Qur’an dan Al Hadith[7]. Sebenarnya, banyak istilah yang dianggap mendekati makna pendidikan, diantaranya Al Tansyi’ah, al Islah, Al Ta’dib atau al Adab, Al Tahzib, Al Tahir, Al Tazkiyyah, Al Ta’lim, Al Siyasah, Al Nash wa Al Irsyad dan al Akhlaq[8] bahkan sumber lain menambahkan dengan istilah at Tabyin dan at Tadris[9]. Namun, dalam persidangan dunia pertama mengenai pendidikan islam pada tahun 1977, menegaskan bahwa pendidikan didefinisikan sebagai Al Tarbiyah, Al Ta’lim dan Al Ta’dib secara bersama-sama[10].

2.1

Tarbiyah

Konsep tarbiyyah ( ) merupakan salah satu konsep pendidikan Islam yang penting. Perkataan “tarbiyyah” berasal dari bahasa Arab yang dipetik dari fi’il (kata kerja) seperti berikut :

a. Rabba, yarbu yang berarti tumbuh, bertambah, berkembang.

b. Rabbi, yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa

c. Rabba, yarubbu yang berarti memperbaiki, mengatur, mengurus dan mendidik[11], menguasai dan memimpin, menjaga dan memelihara[12]

Melalui pengertian tersebut, konsep tarbiyyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat proses mendidik saja tetapi merangkumi proses mengurus dan mengatur supaya perjalanan kehidupan berjalan dengan lancar[13].

Berdasarkan penafsiran pada surat Al Fatihah ayat 2,

Segala puji bagi Allah, Rabb[14] semesta alam” .

Terdapat penafsiran terhadap ayat tersebut yaitu Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya. Allah mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.[15]

Selain daripada Allah sebagai Pendidik, manusia juga boleh menjadi pendidik berdasarkan firman Allah[16]:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”.

Walaupun ayat ini dalam beberapa tafsir banyak menitikberatkan pembahasan pada kewajiban anak terhadap orang tua, namun kata “Rabba” yang diartikan mendidik memberikan pembentukan istilah darinya yaitu tarbiyyah yang berarti diartikan sebagai pendidikan.

Kata Al Rabb juga berasal dari kata tarbiyyah yang berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan dengan bertahap atau membuat sesuatu untuk mencapai kesempurnaannya secara bertahap[17].

Didalam Al Qur’an, kata rabba diartikan mengasuh seperti pada surat Al Syu’ara, ayat 18

“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami Telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.”

kan proses tarbiyah terhadap Nabi, sehingga ungkapan tersebut lebih menegaskan pada proses pengasuhan atau membesarkan.

Penggunaan kata tarbiyah, secara bahasa juga banyak digunakan oleh masyarakat Arab untuk makhluk hidup selain manusia (hewan dan tumbuhan) yang membawa maksud memelihara, memelihara dan menernak[20].

Al Jauhari mengatakan bahwa tarbiyah dan beberapa bentuk lainnya secara makna memiliki arti memberi makan, memelihara; yakni dari akar kata ghadza atau ghadzw yang mengacu kepada segala sesuatu yang tumbuh seperti anak-anak, tanaman dan sebagainya.

Tentu saja dari makna tersebut dan didasarkan pada penjelasan lainnya memberikan pengertian bahwa istilah tersebut mencakup pada segala hal yang bisa ditumbuhkan, dipelihara dan dikembangkan tidak hanya terbatas pada manusia, padahal seperti yang telah ditunjukkan Al Attas bahwa pendidikan dalam arti Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusia.

Menurut Al Attas, secara semantik istilah tarbiyah tidak tepat dan tidak memadai untuk membawakan konsep pendidikan dalam pengertian Islam, sebagaimana dipaparkan[21] :

1. Istilah tarbiyah yang dipahami dalam pengertian pendidikan sebagaimana dipergunakan di masa kini tidak bisa ditemukan dalam leksikon-leksikon bahasa Arab besar.

2. Tarbiyah dipandang sebagai pendidikan, dikembangkan dari penggunaan Al Qur’an dengan istilah raba dan rabba yang berarti sama, tidak secara alami mengandung unsur-unsur esensial pengetahuan, intelegensi dan kebajikan yang pada hakikatnya merupakan unsur-unsur pendidikan yang sebenarnya.

3. Jika sekiranya dikatakan bahwa suatu makna yang berhubungan dengan pengetahuan disusupkan ke dalam konsep rabba, maka makna tersebut mengacu pada pemilikan pengetahuan dan bukan penanamannya.

Dari beberapa penjelasan tersebut proses tarbiyah tidak mencakup langsung keterlibatan ilmu sebagai aspek penting dalam pendidikan. Tarbiyyah lebih menekankan pada proses memberikan kasih sayang. Walaupun tentu saja proses pengasuhan dan kasih sayang merupakan bagian yang sangat penting dalam pendidikan.

Tarbiyyah sebagai proses pengembangan (penumbuhan) diri sebagai pengembangan potensipun sangat diperlukan dalam proses pendidikan meskipun bersifat materi. Keahlian dan ketangkasan fisik sangat diperlukan disesuaikan untuk mengoptimalkan potensi masing-masing yang dididik, apalagi untuk menghadapi kondisi kehidupan modern yang semakin kompleks, namun setidaknya hal tersebut tidak mempersempit atau mengaburkan dari proses atau konsep utama pendidikan dalam islam itu sendiri.

Firman Allah,

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi ….”

Ta’lim

Perkataan ta’lim ( ) pula dipetik dari kata dasar ‘allama ((علّم, yu‘allimu ( يعلّم) dan ta’lim (تعليم)

Dalam surat Al Jum’ah ayat 2,

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Dalam surat yang diturunkan di Madinah tersebut menggunakan yu’allimu, yang merupakan salah satu kata dasar yang membentuk istilah ta’lim. Yu’allimu diartikan dengan mengajarkan, untuk itu istilah ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran (instruction)[22].

Dari ayat tersebut juga bisa dimaknai bahwa Rasulullah juga seorang mu’allim[23], hal ini memperkuat sungguh dari beliau adanya keteladanan[24], termasuk bagaimana seharusnya menjadi seorang muallim[25]. Bahkan hal tersebut merupakan nikmat Allah bagi orang-orang mukmin, sebagaimana firmanNya[26],

“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Dalam surat yang lain[27], Allah berfirman,

“Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Dari 2 ayat tersebut juga didapatkan penggunaan yu’allimu yang diartikan mengajarkan dan membentuk kata ta’lim yang berarti bisa diartikan sebagai pengajaran.

… padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.”

Diriwayatkan bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi SAW beberapa kali tentang beberapa hal dalam Taurat. Semua pertanyaan mengenai isi Taurat, dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat. Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka. Mereka berkata dengan sesamanya: “Orang ini lebih mengetahui daripada kita tentang apa yang diturunkan kepada kita.” Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi SAW ialah tentang sihir[28].

Allah SWT. berfirman[29],

Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Allah SWT. berfirman[30],

“Yang Telah mengajarkan Al Quran”.

Allah SWT. berfirman[31],

“Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan.”

Allah SWT. berfirman[32],

“…. Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu Maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); Sesungguhnya Aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan Aku akan menyalibmu semuanya”.

Allah SWT. berfirman[33],

“…. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. … “.

Allah SWT. berfirman[34],

“Musa Berkata kepada Khidhr: “Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?”

Allah SWT. berfirman[35],

“Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau Telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan Telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. …”

Allah SWT. berfirman[36],

“Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, Maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu Hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang Telah ditetapkannya. dan Sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, Karena kami Telah mengajarkan kepadanya. akan tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.”

Allah SWT. berfirman[37],

“… dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.”

Allah SWT. berfirman[38],

“…. akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Allah SWT. berfirman[39],

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, hikmah, Taurat dan Injil.”

Al Kitab pada ayat tersebut ada yang menafsirkan dengan pelajaran menulis, dan ada pula yang menafsirkannya dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya selain Taurat dan Injil[40].

Allah SWT. berfirman[41],

…. Kemudian apabila kamu Telah aman, Maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah Telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Allah SWT. berfirman[42],

31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari dua ayat tersebut, M. Tholib memberikan pengertian bahwa ketika malaikat enggan mematuhi perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Adam dengan alasan mereka merupakan makhluk yang baik[43], sedangkan manusia merupakan makhluk yang masih dipertanyakan kebaikannya, maka Allah SWT memberikan keistimewaan kepada Adam dengan memberitahukan nama-nama benda yang terdapat dihadapan Adam. Setelah itu Allah SWT memperlihatkan benda-benda tersebut kepada para Malaikat agar mereka menyebutkan nama-namanya, ternyata Malaikat tidak dapat menyebutnya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak tahu nama-namanya walaupun mereka melihat benda-benda tersebut, sebab mereka tidak diberitahu oleh Allah SWT nama-nama benda itu. Para Malaikat dengan jujur menjawab bahwa mereka tidak tahu, mereka pun menjelaskan alasannya yaitu belum diberitahu oleh Allah SWT. Adam as kemudian diperintahkan oleh Allah SWT menyebutkan nama-nama benda yang telah Allah SWT beritahukan dihadapan para Malaikat, para Malaikat menyadari kekurangannya dihadapan Adam as dan disaksikan oleh Allah SWT.

Selanjutnya Thalib mengatakan bahwa Ta’lim memiliki arti memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang belum tahu[44].

Allah SWT. berfirman[45],

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Allah SWT. berfirman[46],

“Yusuf berkata: “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan Aku Telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. …”

Allah SWT. berfirman[47],

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang Telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang Telah diajarkan Allah kepadamu[48][399]. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu[400], dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)[401]. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.”

Sedangkan penggunaan ‘allama (N¯=tæ) juga didapatkan pada hadith[49], Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang mengajarkan suatu ilmu maka dia memperoleh pahala orang yang mengamalkannya”

Dalam hadith lain[50], Rasulullah bersabda,

“Diantara amal dan kebaikan yang menyusul seseorang sesudah matinya adalah: ilmu yang dia ajarkan dan sebarluaskan, …”

Sa’ad bin Abu Waqqash r.a berkata:

كُـنَّا نُعَـلِّمُ أَوْلاَدَنَا مَغـَازِىْ رَسُوْلِ اللهِ صَـلىَّ اللهُ عَلَيـْهِ وَسَـلَّمَ كَمَـا نُعَلِّمُـهُمُ السُّـوْرَةَ مِـنَ الْقُـرْآنِ

“Kami mengajar anak-anak kami riwayat hidup Rasulullah SAW. Seperti kami mengajarkan satu surat dari Al Qur’an”

Kata dasar yuallimu terdapat di beberapa firman Allah SWT.[51] Yaitu

Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, …”

Istilah Mu’allim atau pengajar yang berarti orang yang melakukan pengajaran, juga di munculkan dalam hadith[52], Nabi Muhammad SAW. bersabda,

اعملوا بطاعة الله و اتقوا معاصى الله و مروا اولادكم بامتثال الاوامر, و اجتناب النواهى, فذالك و قاية لهم و لكم من النّار

“Ajarkanlah mereka untuk ta’at kepada Allah dan takut berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka ”

Dalam hal ini ungkapan (اعملو) diberikan kepada orang tua yang berlaku sebagai mu’allim sedangkan pelajarnya (muta’allim) atau yang diajari adalah anak-anaknya.

Umar ibn Khatab[53] berkata:

علموا اولادكم الرماية و الصباحة و مروهم ان يثبوا على الخيل وثبا

Ajarkanlah memanah dan berenang kepada anak-anak kamu, dan suruhlah mereka melompat keatas kuda dengan sekali lompatan”

Rasulullah bersabda[54],

من دخل مسجدنا هذا ليعلّم خيرا او ليتعلّم كان كا المجاهد فى سبيل الله

Barang siapa masuk masjid kami ini untuk tujuan mengajarkan kebaikan atau untuk belajar, maka dia bagaikan orang berperang di jalan Allah”

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda[55],

ما من رجل يعلم ولده القرأن فى الدنيا الاّ توّج ابوه بتاج فى الجنّة يعرفه به اهل الجنّة بتعليم ولده القرأن فى الدنيا

“Tidaklah seseorang mengajarkan Al Qur’an kepada anaknya di dunia kecuali ayahnya pada hari kiamat dipakaikan mahkota surga. Ahli surgamengenalinya dikarenakan dia mengajari anaknya Al Qur’an di dunia”

Dalam hadith lain, Rasulullah bersabda

تعلّمو القرأن فأقرؤوه فانّ مثل القرأن لمن نعلّمه و قرأه و قام به كمثل جراب محشوٍّ مسكا يفوح ريحه فى كلّ مكان

“Belajarlah Al Qur’an, lalu bacalah. Sesungguhnya perumpamaan Al Qur’an bagi orang yang mempelajari, membaca dan beribadah malam dengannya bagaikan tempat yang dipenuhi minyak kesturi yang semerbak bau harumnya di setiap tempat”

Juga sabda beliau[56],

خيركم من تعلّم القرأن و علّمه

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”

Dalam hadith ini secara lengkap disebutkan Ungkapan ta’alim (تعلّم), sedangkan ilmu yang dipelajari adalah Al Qur’an serta disebutkan pihak yang mengajarkannya.

Kemudian, kepada sahabat Rasulullah bersabda[57]

ما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله يتعلّمون كتاب الله و يتدارسونه بينهم الاّ نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة و حفّتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده

“Sekelompok masyarakat tidak berkumpul di masjid mempelajari kitab Allah dan bertadarrus diantara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rakhmat, dikerumuni malaikat dan Allah membanggakan mereka kepada makhluk hidup disisinya”

Ta’lim secara umum hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata[58]. Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses pengalihan ilmu pengetahuan dari pengajar (mu’alim) dan yang diajar (muta’alim). Misalnya pada surat Yusuf, ayat 6, berarti ilmu pengetahuan yang dimaksud, diajarkan atau dialihkan kepada Nabi adalah tabir mimpi. Sedangkan pada surat Al Maidah ayat 4, ilmu yang dimaksud adalah ilmu berburu.

Ta’lim juga mewakili ungkapan proses dari tidak tahu menjadi tahu[59]. Dari perkataan Sa’ad bin Waqash, memberi makna anak-anak yang tidak tahu tentang riwayat Rasulullah, diajarkan sehingga menjadi tahu[60].

Namun, istilah ta’lim dari beberapa ayat diatas menunjukkan bahwa ilmu yang bisa untuk dialihkan meliputi semua ilmu termasuk diantaranya sihir. Sehingga memang istilah tersebut lebih dekat pada pengajaran bukan pendidikan, karena pendidikan dalam pengertian Islam tentu saja harus mengarah pada manusia yang lebih baik, sesuai peran dan fungsinya didunia ini menurut Al Qur’an dan As Sunnah.

2.3

تأديب

Ta’dib

Ta’dib ( ) berasal dari kata addaba (أدّب), yuaddibu (يأدّب) dan ta’dib (تأديب).

Ta’dib sebagai istilah yang paling mewakili dari makna pendidikan berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadith dikemukakan oleh Syed Naquib Al Attas[61]. Al Attas memaknai pendidikan dari hadith,

أَدَّبَنِى رَبِّى اَحْسَنَ تَأْدِِيْـبِى

Tuhanku (Allah) telah mendidikku dengan pendidikan yang terbaik

Addaba (أدّب ) diterjemahkan oleh Al Attas sebagai mendidik, yang menurut Ibnu Manzhur merupakan padanan kata allama dan oleh Azzat dikatakan sebagai cara Tuhan mengajar Nabi-Nya sehingga Al Attas mengatakan bahwa mashdar addaba (yakni ta’dib) mendapatkan rekanan konseptualnya di dalam istilah ta’lim.

Selanjutnya Al Attas menyampaikan[62],

”Dalam pendefinisian kita tentang ’makna’, kita katakan bahwa ’makna’ adalah pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuat sistem. Karena pengetahuan terdiri dari sampainya, baik dalam arti hushul dan wushul, makna di dalam dan oleh jiwa, maka kita definisikan ’pengetahuan’ sebagai pengenalan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membawa kepada pengenalan tentang tempat yang tepat dari Tuhan dalam tatanan wujud dan keperiadaan. Agar pengetahuan bisa dijadikan ’pengetahuan’, kita masukkan unsur dasar pengakuan di dalam pengenalan, dan kita definisikan kandungan pendidikan ini sebagai pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam keteraturan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepriadaan. Kemudian kita definisikan pendidikan, termasuk pula proses pendidikan, sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan dalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan.”

Hadith tersebut memperjelas bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah. Sehingga pendidikan yang beliau peroleh adalah sebaik-baik pendidikan. Dengan demikian dalam pendangan filsafat pendidikan Islam. Rasulullah merupakan pendidik utama yang harus dijadikan teladan[63].

Dalam hadith lain, Prof. Abdullah Nasih Ulwan[64], mengambil hadith yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ali r.a. untuk menjadi dasar penting terhadap pendidikan Al Qur’an untuk anak, bahwa Rasulullah bersabda:

أَدِّبُـوْا أَوْلاَدَكُمْ عَـلَى ثَلاَثِ حِصَـالٍ: حُبِّ نَبِـيِّكُمْ وَحُبِّ آلِ بَيْـتِهِ, وَتِـلاَوَتِ اْلقُـرْآنِ. فَإِنَّ حَمَـالَةَ الْقُـرْآنِ فِى ظِـلِّ عَـرْشِ اللهِ يَـوْمَ لاَ ظِـلَّ إِلاَّ ظِلُّـهُ مَعَ أَنْبِـيَآئِـهِ وَأَصْفِـيَآئِـهِ

“Didiklah[65] anak-anakmu dalam tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Al Qur’an. Maka sesungguhnya yang membaca Al Qur’an berada dalam naungan Nya, bersama para Nabi dan orang-orang Suci”

Sebenarnya istilah ta’dib sudah sering digunakan oleh masyarakat arab pada jaman dahulu dalam hal pelaksanaan proses pendidikan. Perkataan adab dalam tradisi arab dikaitkan dengan kemuliaan dan ketinggian pribadi seseorang[66].

Dalam hadit lain[67], Rasulullah bersabda:

أدّبوا اولادكم و احسنوا ادابهم

“Didiklah anak-anak kamu dengan pendidikan yang baik”

علموا اولادكم و أهليكم الخير و أدبوهم

“Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan didiklah mereka”

لأن يؤدّب الرجل ولده خير من ان يتصدق بصاع

“Seorang yang mendidik anaknya itu lebih baik daripada bersedekah satu sha”

اكرما اولادكم و احسنوا ادا بهم

“Muliakan anak-anak kalian dengan adab yang baik”

من حقّ الولد على الوالد أن يحسن ادبه و يحسن اسمه

“Diantara yang menjadi hak seorang anak atas orang tuanya adalah memperbagus adabnya dan menamakannya dengan nama yang baik”

ما نحل والد ولدا افضل من ادب حسن

“Tidak ada suatu pemberian yang lebih utama yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya, kecuali adab yang baik”

الغلام يعـقّ عنه يوم السـابع, و يسمّى و يـماط عنه الأذى فاذا بلـغ ستّ سنـين أدّب, و اذا بلغ تسع سنـين عـزل عن فـراشه , فاذا بلـغ عشرة سنة ضرب على الصلاة و الصوم, فاذا بلغ ستّ عشرة سنة زوّجه ابوه, ثمّ أخذ بيده و قال قد أدّبتك و علّمتك و أنكحتك, اعوذ بالله من فـتـنـتك فى الـدنيـا و عذابـها فـى الاخرة

“Seorang anak diselamati pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama dan dihilangkan penyakitnya (dicukur rambutnya). Jika sudah menginjak usia enam tahun, maka ia diberi pendidikan. Jika sudah menginjak usia sembilan tahun, maka ia dipisahkan tempat tidurnya. Jika sudah menginjak usia tigabelas tahun maka ia harus dipukul bila tidak mau mengerjakan sholat dan puasa. Dan jika telah menginjak enambelas tahun, maka ayahnya boleh mengawinkan, lalu memegang anaknya itu dengan tangannya dan berkata padanya:’Aku telah mendidikmu, mengajarmu dan mengawinkanmu’. Aku berlindung kepada Allah dari fitnah (yang disebabkan ulah)mu di dunia dan dari adzab yang (disebabkan) fitnah itu di akhirat”

.

Dalam persidangan kedua tentang pendidikan Islam di Islamabad, Al Attas menegaskan konsep ta’dib dalam pendidikan dengan mengemukakan gagasan, yaitu:

“Ta’dib already includes within its conceptual structure the element of knowledge, instruction (ta’lim), and good breeding (tarbiyyah) so that there is no need to refer to the concept of education in the Islam as tarbiyyah-ta’lim-ta’dib all together. Ta’dib is then the precise and correct term to denote education in the Islamic sense[68]

Hal tersebut untuk memberikan penekanan terhadap konsep yang telah ditetapkan pada sidang sebelumnya yang menyatakan bahwa adanya kesatuan antara ta’lim, tarbiyah dan ta’dib. Padahal menurut pendapat beliau bahwa ta’dib sudah meliputi tarbiyyah dan ta’lim. Sehingga tidak dibutuhkan penyatuan atau penggunaan konsep ketiganya secara bersamaan.

Konsep ta’dib dalam pendidikan menjadi sangat penting diketengahkan, mengingat semakin terlihatnya gejala keruntuhan akhlak di kalangan umat Islam bukan dikarenakan mereka tidak mempunyai ilmu pengetahuan , tetapi karena mereka telah kehilangan adab[69]. Tindak kejahatan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pembunuhan dan hal lain justru banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang mengenyam proses pendidikan. Proses bertambahnya ilmu pengetahuan seakan-akan tidak berbanding lurus bahkan tidak berhubungan dengan peningkatan akhlak yang mulia atau keimanan para mudarist.

Dari hadist tersebut juga ditekankan akan kewajiban dan hal yang utama bagi orangtua untuk memberikan pendidikan yang baik dan menjadi hak setiap anak untuk mendapatkannya. Disebutkan pula bahwa hak untuk mendapatkan pendidikan diperoleh sejak usia dini sampai menikahkannya.

Dr. Abdullah Nashih Ulwan memberikan penjelasan terhadap hadits-hadits tersebut bahwa[70]:

“para pendidik terutama ayah dan ibu, mempunyai tanggung jawab besar dalam mendidik anak dengan kebaikan dan dasar-dasar moral. Mereka bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak sejak kecil untuk berlaku benar, dapat dipercaya, istiqomah, …”

Selanjutnya dalam bukunya tersebut beliau menjelaskan tentang perilaku-perilaku dan penyimpangan tercela yang harus dihindarkan oleh anak sebagai subjek didik.

III. Penutup

Penggunaan istilah dalam pendidikan berdasar pada Al Qur’an dan As Sunnah yang tepat akan menjadi sangat penting, karena akan mempengaruhi konsep pendidikan khususnya pendidikan dalam pengertian Islam. Pengertian pendidikan akan mendasari tujuan, metode sampai pada kurikulum pendidikan itu sendiri.

Mengadopsi seluruh istilah atau menggabungkannya sebagai upaya untuk mengakomodasi saja tidaklah cukup, mengingat strukturnya dan penekanannya akan berbeda. Apabila ta’dib adalah istilah yang paling mewakili pendidikan dalam islam, maka adab akan menjadi stressing dalam pendidikan secara keseluruhan, tidak hanya pada pendidikan agama saja.

Walaupun demikian tarbiyyah dan ta’lim merupakan istilah yang memilki kaitan erat langsung dengan pendidikan itu sendiri. Proses pengembangan diri dan pengajaran adalah bagian penting dalam pendidikan untuk mencapai tujuan manusia sebagai hamba Allah.


Daftar Pustaka

Abdullah, Abdurrahman Saleh, DR. 2007. Educational Theory a Quranic Outlook, Terj. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Abu Arrad, Saleh Ali. 2007. Attarbiyyat al-Islamiyyat: al-Mustalah wa al-Mafhum. http:\saaid.net/Doat/arrad/17.htm. [23 March 2007].

Abu Halim Tamuri. 2006. Pengajaran dan Pembelajaran yang Berkesan. Buku Panduan Kursus Peningkatan Kurikulum Pendidikan Syariah Islamiah 2006. Hlmn. 34-35. Putrajaya: Bahagian Kurikulum Pendidikan Islam dan Moral, KPM.

Al Attas, Syed Muhammad Naquib, 1980, The Concept of Education in Islam: A Framework an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: ISTAC.

Al Attas, Syed Muhammad Naquib, 1977, Aims and Objectives of Islamic Education: Jeddah: King Abdul Aziz University.

Al-Maliki, M Alawi, Prof. DR. 2002. Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah. Jakarta: Gema Insani Press.

El-Muhammady, Abdul Halim. 1986. Peranan Guru dalam Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam 1 (4): 1-8.

Hammam, Hasan bin Ahmad Hasan, 2007. Perilaku Nabi SAW Terhadap Anak-anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam.

Jalaluddin, Prof, 2001, Teologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Thalib, M, Drs. 1996. Pendidikan Islam Metode 30 T. Bandung: Irsyad Baitus Salam.

Ulwan, Abdullah Nashih, Prof. 2002. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Terj. Drs. Jamaludin Miri, Lc. Jakarta: Pustaka Amani.

Wahyudi, M Jindar. 2006. Nalar Pendidikan Qur’ani. Yogyakarta: Apeiron Philotes.

Wan Mohd Nor Wan Daud. 1998. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas: An Exposition of The Original Concept of Islamization. Kuala Lumpur: ISTAC.


[1] Disampaikan untuk memenuhi tugas kuliah studi Al Qur’an, Magister studi Islam UMS

[2] Surat Al Alaq ayat 1

[3] Abdullah, Abdurrahman Saleh,Educational …,21

[4] Al-Qattan, diambil dari http://layananquran.com/plq/index.php

[5] Konsep dasar pemahaman terhadap pengertian pendidikan akan berpengaruh terhadap tujuan,materi,metode dan konsep kelanjutannya baik pelaksanaan dan evaluasi yang mungkin belum dibahas lebih jauh di makalah ini

[6] Zarkazy,Hamid Fahmi, disampaikan dalalm pelatihan pemikiran dan peradaban islam yang diselenggarakan oleh RMI Jawa Timur,2006

[7] Dr. Saleh bin Ali Abu Arrad, 2007,Al Tarbiyyat Al Islamiyat:Al Mustalah wa Al Mahfum

[8] Arifien, Mohd Zainul disampaikan dalam makalahnya yang bertajuk: konsep ta’dib dalam pendidikan islam,2

[9] Wahyudi,Jindar M,2006,Nalar Pendidikan Islami,52

[10] Syed Muhammad Naquib Al Attas,1977,Aims and Objectif in islamic education

[11] Ibn Manzur, Lisan al-Arab, Dar al-Misriyah, Mesir, hlm.145

[12] Wahyudi,Jindar M,2006,Nalar Pendidikan Islami,52

[13] Ahmad, ABH,Sejarah pendidikan Rasulullah …,8

[14] Rabb berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu

[15] Tafsir DEPAG RI, diambil dari soft Al Qur’an “Al Bayan”

[16] QS. al-Isra’ ayat 24

[17] Al Raghib,al Isfahani, mu’jam al mufradat…….,189

[18] Syed Naquib Al Attas, Konsep Pendidikan …,1980

[19] Disampaikan pula bahwa “Apabila Tuhanlah yang menciptakan, memelihara, menjaga, memberi, mengurus dan memiliki tindakan-tindakan yang menyebabkan Tuhan sebagai ar-Rabb

[20] Hasan Langgulung,1987

[21] Al Attas, Konsep Pendidikan, 1980, hal. 65

[22] Kata At Ta’lim merupakan isim masdar dari kata kerja ya’lamu-ta’lamu yang berarti mengajar, sesuai kamus Al Munawwir:Arab Indonesia,154

[23] Ad Duweisy,Muhammad Abdullah,Al Mudarris wa muharat Al Tawjih,terj:Menjadi guru yang sukses dan berpengaruh,2005,hal18.

[24] QS. Al Ahzab, ayat 21

[25] Seorang sahabat, Muawiyah bin Al Hakam As Sulami r.a,mengungkapkan “Aku korbankan bapak dan ibuku untuknya, aku tidak melihat seorang guru sebelumnya dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya dari dia”

[26] QS. Al Imran, ayat 164

[27] QS. Al Baqarah, ayat 151

[28] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil-‘Aliah

[29] QS. Al Baqarah, ayat 151

[30] QS. Ar Rahman, ayat 2

[31] QS. Yasin, ayat 69

[32] QS. As Syu’ara, ayat 49

[33] QS. At Thaha, ayat 71

[34] QS. Al Kahfi, ayat 66

[35] QS. Yusuf, ayat 101

[36] QS. Yusuf, ayat 68

[37] QS. An Nisa’, ayat 113

[38] QS. Ali Imran, ayat 17

[39] QS. Ali Imran, ayat 48

[40] Diantaranya lihat pada Tafsir Al Jallalain dan DEPAG RI

[41] QS. Al Baqarah, ayat 239

[42] QS. Al Baqarah, ayat 31

[43] QS. Al Baqarah, ayat 30

[44] Thalib,M, 1996, Pedidikan Islami …, hal 16

[45] QS. Al Baqarah, ayat 129

[46] QS. Yusuf, ayat 37

[47] QS. Al Maidah ayat 4

[48]Maksudnya: binatang buas itu dilatih menurut kepandaian yang diperolehnya dari pengalaman; pikiran manusia dan ilham dari Allah tentang melatih binatang buas dan cara berburu.

[49] Diriwayatkan Ibn Majah dari Sahal bin Muadz bin Anas dari Bapaknya

[50] Diriwayatkan Ibn Majah,Baihaqi dan Khuzaimah dari Abu Hurairah

[51] QS. Yusuf, ayat 6

[52] Diriwayatkan Oleh Tirmidzi dan Darimi dari Abu Umamah Al Bahili r.a

[53] Dr. Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul aulad fi islam, terjemahan,hal 129

[54] HR. Ibn Majah

[55] HR. Thabarani

[56] HR. Bukhari

[57] HR. Muslim

[58] Prof. Wan Muhammad Daud,2005

[59] QS. Al Baqarah, ayat 239

[60] .

كُـنَّا نُعَـلِّمُ أَوْلاَدَنَا مَغـَازِىْ رَسُوْلِ اللهِ صَـلىَّ اللهُ عَلَيـْهِ وَسَـلَّمَ كَمَـا نُعَلِّمُـهُمُ السُّـوْرَةَ مِـنَ الْقُـرْآنِ

[61] Syed Naquib Al Attas adalah pemikir dari Malaysia yang sangat dikenal karena gagasan Islamisasi pengetahuan

[62] Al Attas, Konsep Pendidikan ……, hal 61

[63] Jalaluddin, Prof, 2001,Teologi Pendidikan

[64] Dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, 1994

[65] Penerjemahan “Addibuu” menjadi Didiklah juga dilakukan Drs.Jamaluddin Mirri,Lc dalam menerjemahkan hadith tersebut pada buku Tarbiyatul Aulad fil Islam, jilid 2

[66] Arifien, Mohd Zainul,Konsep Ta’dib dalam pendidikan Islam

[67] Diriwayatkan oleh Ibn Majah

[68] Syed Muhammad Naquib Al Attas, 1980 menyampaikan melalui makalahnya yang bertema The concept of education in Islam :A framework for an Islamic philosophy of education.

[69] ibid

[70] Ulwan, AN,prof, Tarbiyatul Aulad …, hal 198

Posted in Studi Al Quran | Leave a Comment »

ETIKA BERINTERAKSI DENGAN AL QUR’AN

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

Penulis :HUSNI ABDILLAH

Berbagai kajian mengenai Al qur’an yang dihasilkan oleh orientalis dan ilmuwan “islam liberal” menempatkan Al qur’an sebagai sebuah teks yang tidak berbeda dengan teks kajian ilmiah yang lain. Menghasilkan sebuah hasil kajian yang dekonstruktif.

Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur’an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka mempercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur’an adalah sebuah bentuk penginaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati [1].

Sebagai seorang muslim yang yakin akan kesucian dan kemulian Al qur’an tentu tidak rela menyamakan kedudukan Al qur’an sama dengan kedudukan teks kajian yang lain. Ada beberapa etika yang dituntut dari seorang muslim dalam beriteraksi dengan Al qur’an. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi dengan Al qur’an [2] :

Membaca Al qur’an

Setiap mukmin, yakin bahwa membaca Al qur’an saja sudah termasuk amal yang mulia. Tentang keutamaan dan kelebihan membaca Al qur’an, Rasulullah menyatakan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang maksudnya demikian : “ada dua golongan manusia yang sunguh-sungguh orang dengki kepadanya yaitu orang yang diberi oleh Allah kitab suci Al qur’an ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang diberi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakan untuk segala sesuatu yang diridhai Allah”.

Didalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pula Rasulullah menyatakan tentang kelebihan martabat dan keutamaan orang membaca Al qur’an, yang maksudnya “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al qur’an, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang mukmin yang tidak suka membaca Al qur’an, adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu harum tetapi manis rasanya; orang munafik yang membaca Al qur’an ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan orang munafik yang tidak membaca Al qur’an, tak ubahnya seperti buah hanjalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daru Quthni dari Annas r.a., Rasulullah memerintahkan : “Perbanyaklah membaca Al qur’an di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah tidak ada orang yang membaca Al qur’an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, yang artinya sebagai berikut : “kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah ibadah, membaca Al qur’an secara bergiliran dan mengajarkan terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingat mereka. Dengan hadits tersebut membaca Al qur’an baik mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al qur’an itu dibaca. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dan Annas r.a, Rasulullah bersabda : “hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan shalat dan membaca Al qur’an

Mendengarkan bacaan Al quran

Bukan hanya membaca Al qur’an saja yang menjadi amal ibadah, tetapi mendengarkan bacaan Al qur’an-pun sama nilainya dengan membacanya

QS (7) Al A’raf : 204

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Adab membaca Al qur’an

Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumudin telah membagi adab membaca Al qur’an menjadi adab yang mengenai batin dan adab yang mengenai lahir [3].

Adab yang mengenai batin, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ketingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa.

Mengenai adab lahir dibagi menjadi beberapa bagian :

1. Berwudhu sebelum tilawah, karena tilawah tergolong dzikir yang paling utama. Meskipun boleh tilawah tanpa berwudhu

2. Disunatkan membaca di tempat yang bersih dan berpakaian yang sopan. Adapun tempat yang paling utama adalah di masjid. Diperbolehkan membaca Al-Qur’an di atas kendaraan karena Rasulullah SAW pun pernah melakukannya

3. Membaca sambil duduk menghadap qiblat dan khusyu’, karena membaca Al-Qur’an sama dengan munajat kepada Allah SWT. Diperbolehkan membaca Al-Qur’an sambil berdiri atau berbaring.

4. Bersiwak atau membersihkan mulut sebelum tilawah (membaca Qur’an). Ketika membaca Al qur’an, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan

5. Sebelum membaca Al qur’an disunatkan diawali dengan isti’adzah dan dilanjutkan dengan Basmallah tiap awal surat kecuali QS At-Taubah. Allah berfirman dam QS An-Nahl: 98.

6. Disunatkan membaca Al qur’an dengan tartil. Membaca dengan tartil, yaitu membaca dengan lambat, tidak terburu-buru dan bertajwid, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam QS Al-Muzammil:4

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.

7. Bagi yang sudah mengerti arti dan makna ayat-ayat Al-Qur’an seyogyanya membacanya dengan penuh perhatian dan meresapi kandungannya (QS Shaad:29) Misal: ketika sampai pada ayat tasbih maka ia bertasbih dan bertahmid, bila sampai pada ayat do’a dan istighfar ia berdo’a dan beristighfar, bila sampai pada ayat adzab ia meminta perlindungan kepada Allah

8. Membaca dengan irama yang bagus namun tanpa dipaksakan sehingga melupakan kaidah tajwid, sebab irama yang bagus menambah keindahan uslub Al-qur’an dan membantu meresapinya. Rasul bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian” (HR Abu Dawud)

9. Janganlah memutus tilawah seketika hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya tilawah diteruskan sampai akhir ayat. Jika hendak melanjutkan tilawah dianjurkan mengulangi bacaan isti’adzah.

10. Dilarang tertawa dan bermain saat tilawah, sebab perbuatan tersebut mengurangi kemuliaan dan kesucian Al-Qur’an [4].

11. Memanjatkan do’a sesudah tilawah, juga ketika telah menyelesaikan tilawah 30 juz [5]

Keutamaan menghafal Al qur’an

Diriwayatkan Ibnu Abbas secara marfu’

إِنَّ الَذِي فِي جَوفِهِ شَيءٌ مِنَ القُرآنِ كَالبَيتِ الخَرِبِ

“Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikitpun dari Al qur’an, maka ia seperti rumah yang roboh”.

Sabda Nabi (s.a.w) :

“Siapa yang membaca satu ayat daripada kitab Allah (Al qur’an) maka untuknya bagi setiap huruf sepuluh kebaikan dan siapa yang mendengar satu ayat daripada al-Quran maka ia adalah nur baginya pada hari kiamat”

Dr. Yusuf Al qardhawi dalam Bagaimana Berinteraksi dengan Al qur’an membagi dalam berbagai segi dalam hal seseorang berinteraksi dengan al qur’an, yaitu :

1. Dalam segi menghafal

2. Membaca dan mendengar

3. Dalam hal pemahaman dan penafsiran

4. Dalam cara mengikuti, mengamalkan dan berdakwah

Bagaimana cara berinteraksi dengan al Quran

Interaksi dengan al-Quran tidak berhasil melainkan dengan melaksanakan segala tuntutan atau kewajiban terhadapnya. Menurut Imam Hasan al Banna, kewajiban dan tuntutan yang harus dilaksanakan terhadap Al qur’an ada empat, yaitu ;

1. Meyakini dengan keyakinan yang kuat, tanpa ragu-ragu walau sedikitpun, bahawa tidak ada manhaj yang dapat menyelamatkan kita melainkan manhaj yang bersumber dari Al qur’an. Sistem apapun dalam bidang apapun, jika tidak bersandar pada Al qur’an maka ia pasti akan menemui kegagalan.

2. Menjadikan Al qur’an sebagai teman dan guru dengan kita membacanya bersungguh-sungguh. Janganlah berlalu walau satu haripun tanpa kita membaca al-Quran.

3. Menerapkan adab-adab Tilawah (adab-adab membaca) ketika membaca al-Quran dan adab-adab Istima’ (adab-adab mendengar) ketika mendengar ayat-ayat Al qur’an. Begitu juga, kita hendaklah mencoba sekuat mungkin untuk mentadabbur Al qur’an dan menjadikan diri kita terkesan dengannya.

4. Beramal dengan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Beberapa Bentuk Salah Tafsir al-Qur’an Masa Kini [6] :

  1. Tidak menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an.
  2. Tidak memerhatikan keistimewaan bahasa al-Qur’an.
  3. Tidak menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah.
  4. Meninggalkan fahaman sahabat di dalam menafsirkan al-Qur’an.
  5. Menafsirkan sebahagian ayat sebagai kiasan (Majaz).
  6. Menganggap terdapat tafsiran batin di dalam al-Qur’an.
  7. Tidak memerhatikan dari siapa al-Qur’an datang dan kepada siapa ia ditujukan.
  8. Menganggap sesuatu persoalan agama tidak disentuh oleh al-Qur’an.
  9. Menjadikan al-Qur’an sebuah kitab sains.

Keutamaan Ahlul’Qur’an (orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an) [7]:

1. Allah SWT mengangkat derajat ahlul qur’an menjadi keluarga-Nya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia terdapat keluarga Allah. Para sahabat bertanya, Siapakah mereka Yaa Rasul?? Rasul menjawab: Mereka adalah ahlul qur’an, mereka itu keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya” (HR.Ahmad).

2. Ahlul Qur’an disejajarkan derajatnya oleh Allah dengan para Malaikat dan Nabi yang telah diberi wahyu. Sementara orang yang bacaannya masih terbata-bata dianugerahi dua pahala. Rasulullah bersabda: “Orang yang pandai berinteraksi dengan Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia dan taat sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an terbata-bata dan merasa kesulitan akan mendapat dua pahala” (HR Muslim).

3. Ahlul Qur’an paling berhak menjadi imam dalam sholat. Rasul bersabda: Yang berhak menjadi imam adalah yang paling banyak interaksinya dengan al-Qur’an.

4. Ahlul Qur’an selalu mendapatkan ketenangan, rahmat, naungan malaikat, serta namaya disebut-sebut oleh Allah “Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan, rahmat, dikelilingi malaikat dan Allah menyebut-nyebut nama mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya” (HR Muslim).

5. Ahlul Qur’an senantiasa mendapat kebaikan dari Allah. “Sebaik-naik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhori).

6. Menjadi ahlul qur’an adalah kenikmatan yang harus didamba-dambakan “Tidak boleh iri kecuali terhadap dua kenikmatan; kepada orang yang diberi al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malan dan siang” (HR Bukhori).

7. Mempelajari Al-Qur’an adalah sebaik-baik kesibukan. Allah berfirman dalam hadis Qudsi : Barang siapa yang disibukkan Al-Qur’an dalam rangka berdzikir dan memohon kepada-Ku, niscaya akan aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah kuberikan pada orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah dari seluruh kalam selainnya adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya (HR Turmudzi).

Daftar Pustaka

Al Azami, M.M. 2005. The History os The Qur’anic Text ‘from revealation to compilation’. (terjemahan: Sohirin Solihin, Anis Malik Thaha, Ugi Suharto, Lili Yulyadi). Jakarta. Gema Insani.

Al Mahali, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As Suyuthi. 2001. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Azbabun Nuzul Jilid 4 (terjemahan: Bahrun Abu Bakar, Lc). Bandung. Sinar Algesindo.

Al qur’an dan Terjemahnya. 1421H. Madinah. Khadim Al Haramain Asy Syarifain Raja Fahd.

As Salih, Subhi. 1993. Mabahits Fi Ulumil Qur’an. (terjemahan: tim pustaka firdaus). Jakarta. Pustaka Firdaus.

Qardawi, Yusuf. 2003. Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur’an. (terjemahan: Kathur Suhardi). Jakarta. Pustaka Al-Kautsar.

_____________. 2007. Mukjizat Al Qur’an ‘ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib’.Bandung. Mizan

Shihab, Muhammad Quraish. 1993. Membumikan Al-Qur’an. Bandung. Mizan.

Usman, Ali; Dahlan, H.A.A; Dahlan, H.M.D. Hadits Qudsi. 1986. Bandung. C.V. Diponegoro.

Sumber Internet :

http://www.muis.gov.sg

http://multazimah.blogsome.com


[1] Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Quran; akses pada 10 Desember 2007, 20.00 wib.

[2] Muqaddimah, Al qur’an dan Terjemahnya (Madinah:Khadim al haramain asy syarifain Raja Fahd 1421H) hal 102

[3] Ibid., hlm. 105.

[4] Tambahan terdapat pada http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/adab-tilawatil-quran/; akses pada 10 Desember 2007, 20.00 wib.

[5] Ibid.

[6] Sumber asli berbahasa melayu Malaysia pada http://www.al-firdaus.com/KenalAlQuran/Bab%205.htm; 10 Desember 2007, 20.00 wib. Paparan lengkap mengenai kesalahan tafsir terlampir pada akhir tulisan.

[7] http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ahlul-quran/

Posted in Studi Al Quran | Leave a Comment »

MU’JIZAT ILMIAH DALAM AL QURAN

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

Penulis : Nanang Wahyudi Alied H.[1]

A. Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan hidayah bagi manusia dan seluruh makhluq yang bertaqwa di atas bumi ini sesuai dengan penegasan Al-Qur’an :

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS 2:2).

Seluruh alam yang luas beserta isinya dari bumi, laut dan segala isinya akan menjadi kecil dihadapan manusia yang lemah, karena ia telah diberi keistimewaan-keistimewaan seperti kemampuan berpikir untuk mengelola seluruh yang ada dihadapannya. Akan tetapi Allah tidak akan membiarkan manusia tanpa adanya wahyu pada setiap masa, agar mendapat petunjuk dan menjalankan kehidupannya dengan benar. Maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan mu’jizat yang sesuai dengan kecanggihan kaum pada masanya, agar manusia mempercayai bahwa ajaran yang ia bawa datang dari Allah SWT.

Oleh karena akal manusia pada masa pertama perkembangannya lebih dapat menerima mu’jizat yang bersifat materi seperti mukjizat tongkat Nabi Musa yang bisa berubah menjadi ular besar, mukjizat Nabi Isa dapat menghidupkan orang yang mati dengan izin Allah, dapat menyembuhkan orang buta maka setiap Rasul pun diutus dengan mukjizat yang sesuai dengan kemampuan kaumnya agar mudah diterima. Ketika akal manusia mencapai kesempurnaannya Allah memberikan risalah Muhammad yang kekal kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada kaum di masanya saja. Maka mukjizatnya adalah mukjizat yang kekal sesuai dengan kematangan perkembangan akal manusia.[2]

Utusan ini akan dihadapkan dengan ketidakpercayaan sebagaimana yang telah dihadapi oleh semua para rasul. Allah telah mengetahui semua itu, justeru itu, Dia telah memperkuatkan para rasul dengan bantuan daripada-Nya untuk para rasul tersebut, bantuan ini zahir di dalam bentuk mukjizat, mengikut apa yang diistilahkan oleh orang ramai dengan mereka menamakannya dengan المعجزة [al-mu’jizah] dan Al-Quran pula telah menamakannya sebagai بَيِّنَةٍ [bayyinah], بُرْهَانٍ [burhan], سُلْطَانٍ [sultan] dan آيَةٍ [ayat].[3] Semua mukjizat atau keterangan-keterangan ini [adalah] -sebagaimana di dalam firman Allah Taala:

Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata …” (QS. Al Hadid : 25)

Allah menjadikan keterangan ini sesuai untuk setiap kaum supaya ia menjadi lebih kuat untuk menegakkan bukti kebenaran utusan tersebut, Nabi Musa -عليه السلام-, dimana pada masa itu masyhur dengan ilmu sihir, maka Allah menjadikan mukjizat untuk Nabi Musa -عليه السلام- sesuai dengan ilmu ini, seperti terlihat dalam firmanNya:

š¨Dan kamipun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu….” (QS. Thaha : 58)

Mukjizat berasal dari kata Al I’jaz yang artinya melemahkan atau mengalahkan. Menurut Imam As Suyuti[4], mukjizat dalam pemahaman syara’ adalah kejadian yang melampaui batas kebiasaan, didahului oleh tantangan, tanpa ada tandingan.

Menurut Ibnu Khaldun[5], mukjizat adalah perbuatan-perbuatan yang tidak mampu ditiru oleh manusia, maka ia dinamakan mukjizat, tidak masuk ke dalam kategori yang mampu dilakukan oleh hamba dan berada diluar standart kemampuan mereka.

Muhammad Kamil Abdush Shamad[6], menerangkan bahwa mukjizat ada yang bersifat material yang dicerna panca indera namun melawan hukum alam yang ada dan mukjizat yang bersifat rasional, semua direspon oleh daya nalar sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil sebuah pengertian mendasar bahwa mukjizat merupakan kejadian yang luar biasa, melebihi standart kemampuan manusia yang berlaku secara umum.

B. Kemukjizatan Ilmiah

Istilah Al I’jaz Al ‘Ilmiy (kemukjizatan ilmiah) Al Qur’an mengandung makna bahwa sumber ajaran agama tersebut telah mengabarkan kepada kita tentang fakta-fakta ilmiah yang kelak ditemukan dan dibuktikan oleh eksperimen sains umat manusia, dan terbukti tidak dapat dicapai atau diketahui dengan sarana kehidupan yang ada pada jaman Rasulullah saw. [7]

Hubungan antara tanda-tanda kebenaran di dalam Al Qur’an dan alam raya dipadukan melalui mukjizat Al Qur’an (yang lebih dahulu daripada temuan ilmiah) dengan mukjizat alam raya yang menggambarkan kekuasaan Tuhan. Masing-masing mengakui dan membenarkan mukjizat yang lain agar keduanya menjadi pelajaran bagi setiap orang yang mempunyai akal dan hati bersih atau orang yang mau mendengar. Beberapa dalil kuat telah membuktikan bahwa Al Qur’an tidak mungkin datang, kecuali dari Allah. Buktinya tidak adanya pertentangan diantara ayat-ayatnya, bahkan sistem yang rapi dan cermat yang terdapat di alam raya ini juga tidak mungkin terjadi, kecuali dengan kehendak Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan cermat.[8]

Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, mengulas tentang mukjizat ilmiah dalam Al Qur’an “…Yaitu ilmu uji kaji modern datang dan mendalami kajian-kajian yang luas di dalam pelbagai bidang, dengan bantuan alat-alat yang canggih, dan setelah beberapa pengembaraan yang menjabarkan berserta seangkatan pengkaji, terbentuklah satu bahagian di samping satu bahagian (yang lain) dan apabila fakta tersebut telah siap sempurna, tiba-tiba didapati ianya telah pun dinyatakan di dalam kitab Allah (Al-Quran) sebelum 1400 tahun [yang lalu]. Lalu orang ramai pun mendapat tahu bahawa Al-Quran ini diturunkan dengan ilmu Allah, dan bukannya [datang] dari sisi seorang utusan yang [berada] di zaman .. sebelum 1400 tahun di hari yang tidak ada sebarang perkakas kajian saintifik atau peralatan kajian ..”[9]

Dalam buku At Tafkir Faridhah Islamiyah (berpikir sebuah kewajiban Islam), Abbas Mahmud Aqqad menyebutkan dua macam mukjizat yang harus dibedakan, yang pertama mukjizat yang mengarah ke akal, dapat ditemukan oleh siapapun yang ingin mencarinya, mukjizat ini adalah keteraturan gejala-gejala alam dan kehidupan yang tidak berubah.

“…. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (Surat Fathir : 43).

Yang kedua adalah mukjizat yang berupa segala sesuatu diluar kebiasaan. Mukjizat ini membuat akal manusia tercengang dan memaksanya untuk tunduk dan menyerah.[10]

Hal yang dapat kita jadikan i’tibar dalam mukjizat ilmiah pada Al Qur’an adalah motivasi/dorongan yang kuat bagi manusia dalam perkembangan sains. Allah Ta’ala berfirman :

“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shaad : 29)

Dalam ayat lain,

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali Imran : 191)

Dari sini pula dengan mengkaji mukjizat ilmiah dalam Al Qur’an mampu menumbuhkan keimanan dan rasa syukur pada Allah sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof. Abdul Karim Al Khathib, “Mukjizat Al Qur’an terletak pada kepioniran dalam menyatakan hal-hal yang baru saja ditemukan oleh penilitian ilmiah”.

Kemudian Prof. Al Khathib menerangkan, “Maksud utama kami dalam menganalisis mukjizat Qur’ani adalah menciptakan hubungan yang erat dengan kitab Allah dalam hati seorang muslim. Kami ingin menanamkan iman terhadap Kitab Allah berdasarkan pengetahuan, pemahaman dan perasaan yang murni terhadap ayat-ayat dan kalimat-kalimatNya.

Meskipun demikian, kami menemukan isyarat-isyarat Al Qur’an yang bersifat ilmiah. Hal ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari kalangan para peneliti Eropa. Karena, isyarat yang dikandung Al Qur’an sejak lima belas abad yang lalu ditemukan dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern sekarang.[11]

Meskipun telah banyak bukti-bukti ilmiah tentang kebenaran Al Qur’an, para pemuja materialisme, para sekuler dan para ateis, tentu saja masih terus membantah kebenaran-kebenaran Al Qur’an karena ketakutan akan implikasi mengakui keberadaan Sang Pencipta. Selain itu, mereka selalu melakukan pembenarannya atas bukti-bukti logika (baca: matematis, empiris, biologis, sosiologis) sebagai dasar pijakan postulatnya.[12]

Menurut Muhammad Kamil Abdush Shamad[13], tujuan dari kajian mukjizat ilmiah Al Qur’an adalah untuk meluaskan cakupan hakikat dari ayat-ayat Al Qur’an, kemudian memperdalam makna-makna yang terkandung di dalamnya sehingga mengakar dalam jiwa dan pemikiran manusia dengan cara mengambil hikmah dari eksplorasi keilmuan kotemporer yang tercakup dalam makna-maknanya. Sedangkan menurut Ibrahim Muhammad Sirsin[14], bertujuan memperdalam makna-makna melalui proses analisis terhadap variabel-variabel yang detail. Juga melalui perbandingan mendalam terhadap kritikan para pakar yang profesional di bidangnya serta para peneliti alam dan kehidupan dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Kita juga tidak boleh memasukkan dan memaksakan asumsi dan hipotesis ilmiah yang masih berupa bahan perdebatan dan masih diuji diantara para pakar. Karenanya, tidak pantas orang yang mengadopsi asumsi-asumsi ini berusaha memaksakan Al-Qur’an untuk menguatkan teorinya. Sebab, bisa jadi asumsi dan teori mentah itu nanti terbukti tidak benar, lalu akhirnya mengkambinghitamkan Al-Qur’an[15]. Namun hal ini dapat dijelaskan dalam kerangka bahwa[16]:

1. Tidak ada kontradiksi antara hakikat ilmu pengetahuan dengan hakikat Al Qur’an karena berasal dari satu sumber.

2. Tafsir ilmu tidak akan mempengaruhi originalitas karena nash tidak mengalami perubahan sesuai teks aslinya. Tafsiran yang diberikan yang akan disalahkan[17]

Sebagaimana ditulis oleh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi dalam kitab Mu’jizah Al Qur’an[18], dikarenakan Al Qur’an adalah mukjizat maka nashnya harus tetap dan tidak berubah-ubah, kalau tidak maka hilanglah mukjizatnya.

Oleh karena itu, kalau nash tidak secara tegas menunjukkan pada salah satu teori ilmu sains, maka tidak selayaknya bagi kita untuk memaksakannya, baik untuk menetapkan maupun untuk menafikkan. Karena itu kita harus mencari ilmu dari jalannya masing-masing, ilmu astronomi didapatkan dari penelitian, ilmu kedokteran didapat dari hipotesis dan uji coba. Dengan demikian, niscaya Al Qur’an akan selalu terjaga, tidak dipergunakan untuk memperdebatkan teori ini, yang mana semua teori ini bisa diterima juga bisa ditolak serta bisa pula diganti, sebagaimana juga tidak layak bagi seseorang yang tidak mengetahui hakikat ilmu tertentu untuk menolak mentah-mentah selagi tidak secara tegas bertentangan dengan nash yang shorih.[19]

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kesalahan pada manusia dalam menulis kitab bisa saja terjadi, seperti apa yang telah dikatakan oleh Al Qodhi Al Fadhil Abdur Rahim bin Ali Al Baisani, “ Saya melihat bahwasanya tidak ada seorangpun yang menulis sebuah kitab kecuali besoknya dia akan berkata : ‘Seandainya tempat ini diubah niscaya akan lebih baik, seandainya ditambah dengan begini maka akan lebih bagus, seandainya ini dikedepankan niscaya akan lebih utama, dan seandainya yang ini dibuang niscaya akan lebih indah.’ Ini semua adalah dasar yang paling kuat bahwa manusia adalah makhluk yang serba kurang.”[20]

Dari sisi lain bahwa pemahaman baru terhadap ayat itu tidak boleh membatalkan pemahaman lama. Dengan ungkapan lain, kita tidak layak menuduh umat sejak jaman sahabat, bahkan sejak jaman Nabi saw, salah dalam memahami satu ayat, kemudian mengklaim bahwa yang benar adalah pemahaman yang dimiliki si penafsir baru itu. Selayaknya dikatakan, makna baru ini merupakan tambahan yang digabungkan dengan pemahaman lama, dan bukan membatalkannya. Sebab diantara keistimewaan Al-Qur’an, keajaiban-keajaibannya tidak pernah habis tergali.[21]

Kemukjizatan ilmu pada Al Qur’an memang tidak memposisikan Al Qur’an sebagai kitab sains. Namun dapat memberikan isyarat untuk melakukan kajian lebih jauh terhadap pengembangan sains, sebagaimana dalam Al Qur’an :

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).…” (QS. Al Baqarah : 143)

Isyarat ilmiah dalam Al Qur’an mengandung prinsip-prinsip/kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan di setiap jaman dan kebudayaan[22]. Hal ini membawa maksud bahwa :

- Ayat yang memberikan isyarat tidak harus terperinci, sehingga para ilmuwan bisa mengkajinya atau memperinci dengan melakukan penelitian.

- Mukjizat ilmiah Al Qur’an tidak hanya untuk waktu tertentu saja yaitu ketika terjadi penentangan, namun berlaku juga ke masa yang akan datang, seperti yang dijelaskan dalam Surat Fushshilat : 53

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Pada satu masa beberapa mukjizat dirasa kurang masuk akal atau bertentangan dengan nalar dan logika. Tetapi kapasitas nalar dan intelektual yang dimiliki tidaklah sama, tergantung pada daya pikir seseorang[23].

C. Penutup

Dapat disimpulkan bahwa mukjizat ilmiah pada Al Quran dapat memperkuat keimanan terhadap Al Qur’an sebagai wahyu Allah. Kalaupun terdapat pertentangan sesungguhnya lebih terletak pada jangkauan penafsiran atau teknologi yang mendukung eksplorasi sains. Dari pendekatan arah yang lain mukjizat ilmiah yang ada pada Al Qur’an dapat memberikan motivasi dan memberikan isyarat bagi pengembangan sains.


Kajian yang sering dilakukan terhadap mu’jizat ilmiah pada Al-Qur’an :[24]

ILMU FALAK (ASTRONOMI)

1) Al-Qur’an sumber rujukan abadi ilmu pengetahuan modern

a. Kumpulan benda langit yang mengelilingi matahari

”Matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 38-40)

Þ Firman Allah ini menjelaskan bahwa matahari bergerak ke arah yang telah ditentukan. Pengetahuan ini baru terungkap oleh para ilmuwan modern pada permulaan abad ke 20, dimana muncul penemuan ilmuwan astronomi yang menyatakan bahwa matahari memiliki gerakan hakiki di ruang angkasa dengan ukuran dan arah yang tertentu.

b. Matahari

”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.” (QS. Yunus : 5)

”Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.” (QS. Nuh : 16)

”Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari). Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah supaya kami tumbuhkan dengan air-air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan.” (QS. Naba : 13-15)

Þ Penelitian-penelitian ilmiah telah menghasilkan penemuan bahwa matahari memiliki bagian yang disebut dengan ”sumber panas” yang merupakan zona paling inti dari matahari yang panasnya selalu menyembur. Inilah matahari yang menjadi sumber pancaran cahaya dan panas yang telah diungkapkan Al Qur’an sejak 14 abad yang lalu.

c. Matahari dan batasan waktu shalat

”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam hari dan dirikanlah pula shalat Subuh, sesungguhnya shalat Subuh disaksikan oleh malaikat.” (QS. Al Isra : 78)

d. Fenomena gerhana matahari

“Apakah kamu tidak memperhatikan penciptaan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan dan (memendekkan bayang-bayang) dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia jadikan tetap bayang-bayang itu. Kemudian kami jadikan matahari sebagai penunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (QS. Al Furqan : 45-46)

“Apabila matahari digulung.” (QS. At Takwir : 1)

“Saat (hari kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.” (QS. Al Qamar : 1)

e. Bulan

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam. Kami tinggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.” (QS. Yasin : 37)

“Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaranyang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 39-40)

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar Rahman : 5)

“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhlukNya) dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.” (QS. Ar Rad : 2)

”Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintahNya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hakNya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al A’raf : 54)

”Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.” (QS. Az Zumar : 5)

f. Komet

”Aku bersumpah demi bintang-bintang, yang beredar dan terbenam.” (QS. At Takwir : 15-16)

g. Meteor

”Kecuali (setan) yang mencuri (pembicaraan), maka ia dikejar oleh bintang yang menyala.” QS. Ash Shaffat : 10)

h. Pemuaian alam semesta

Þ Terciptanya alam semesta masih menjadi teka-teki. Namun, setelah Edwin Hubble (1929) mengembangkan penemuannya berupa teleskop Hubble, dunia mulai bisa memahami proses terciptanya alam semesta. “Teori Big Bang”-nya menjelaskan tentang dentuman besar yang melahirkan planet, matahari, satelit, asteroid, dan benda-benda langit lainnya. Dari ledakan itu, barulah tercipta unsur-unsur kimia, termasuk unsur hidrogen dan helium. Hidrogen adalah unsur pembentukan air.

Radiasi akibat ledakan besar itu baru dapat dideteksi ketika NASA menerbangkan satelitnya untuk meneliti alam semesta pada 1989. Stephen Hawking, fisikawan Inggris menyebutnya sebagai penemuan meghebohkan abad ini dan membuktikan bahwa alam semesta ini mengembang (expanding universe).[25]

”Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz Dzariyat : 47)

2) Langit dalam kajian ilmiah (QS. Al Baqarah : 22, 29)

Þ Pengetahuan modern menyebutkan bahwa lapisan langit pada Bumi ada tujuh. Setiap lapisan memiliki fungsi masing-masing. Misalnya, ionosfer yang berfungsi memantulkan gelombang radio dan elektromagnetik.[26]

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah : 29)

a. Langir berasal dari gas

“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang denga patuh.” Lalu diciptakanNya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat : 11-12)

b. Langit dengan hiasan bintang-bintang

”Seungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan bintang-bintang.” (QS. Ash Shaffat : 6)

”Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.” (QS. Al Jin : 8)

”Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, awan, angin, dll).” (QS. Al Anbiya’ : 32)

”Saat (hari kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.” (QS. Al Qamar : 1)

c. Perang bintang

”Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu dapat menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas) sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya).” (QS. Ar Rahman : 33-35)

d. Garis edar planet

”Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah : 29)

e. Tekanan udara

”Barang siapa dikehendaki Allah mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendakiNya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al An’am : 125)

f. Metode induktif dalam Al-Qur’an

”Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran : 137)

g. Selubung udara dan air di planet lain

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Al Qamar : 49)

3) Teori relatifitas

“… Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj : 47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik padaNya dalam suatu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As Sajdah : 5)

a. Bidang kosmologi fisika

“ Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al Anbiya : 30)

b. Teori atom

“…. Tidak lengah sedikitpun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik yang di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yunus : 61)

ILMU GEOLOGI

1) Ilmu lapisan bumi

“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu adalah sesuatu yang padu kamudian Kami pisahkan antara keduanya. Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapa mereka tiada beriman?” (QS. Al Anbiya : 30)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya?’ (Yang bersifat demikian) itulah Tuhan semesta alam. Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. Penjelasan itu sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit sedangkan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ’Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ’Kami datang dengan suka hati….’ ” (QS. Fushshilat : 9-11)

Þ Para ilmuwan telah menemukan bahwa bumi, matahari dan planet-planet, serta benda-benda langit lainnya semula adalah berupa nebula (sekumpulan bintang di langi yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar dan bercahaya di luar angkasa), kemudian bumi terpisah dari kumpulan ini.

2) Terjadinya bumi

”Bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh.” (QS. An Nazi’at : 30-32)

3) Bentuk bumi

”Bumi sesudah itu dihamparkanNya.” (QS. An Nazi’at : 30)

”Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” (QS. Ar Rahman : 17)

”Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam.” (QS. Az Zumar : 5)

”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin :40)

4) Gunung yang bergerak

”Kamu lihat gunung-gunung itu, lalu kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan….” (QS. An Naml : 88)

Þ 14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.[27]

5) Pengerutan bagian tepi-tepi bumi

”Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami mendatangi daerah-daerah (orang kafir) lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya. Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya) tidak ada yang dapat menolak kehendakNya. Dialah Yang Mahacepat hisabNya.” (QS. Ar Ra’d : 41)

”Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Apakah mereka tidak melihat bahwa kami mendatangi negeri orang (kafir) lalu kami kurangi luasnya dari segala penjurunya, maka apakah mereka yang menang ?” (QS. Al Anbiya : 44)

6) Keseimbangan bumi

Þ Ilmu modern menerangkan bahwa gunung terjadi dari dua lempeng raksasa yang saling bertumbukan. Bagian dari lempengan itu ada yang melipat ke bawah dan ke atas. Ahli geologi menyatakan, fungsi gunung adalah sebagai isotasi, yakni kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi.[28]

”Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung itu sebagai pasak ?” (QS. An Naba : 6-7)

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al Anbiya : 31)

”Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu.” (QS. An Nahl : 15)

7) Perbedaan tanah di bumi

”Di bumi itu terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)

8) Perembesan air

“Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi. Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al Mu’minun : 18)

Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus. Lalu, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan ?” (QS. As Sajdah : 27)

”Katakanlah, ’Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu ?” (QS. Al Mulk : 30)

”Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al Kahfi : 41)

9) Pancaran air dari bebatuan

”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 74)

ILMU ARKEOLOGI

”Di bumi ini terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Adz Dzariyat : 20)

”Katakanlah, ’Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allag menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Ankabut : 20)

”Katakanlah, ’Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus : 101)

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda,” (QS. Al Hijr : 75)

Þ Ilmu pengetahuan ilmiah telah menyingkap cara melakukan penelitian tentang bumi, bebatuan, lapisan, gunung dan sungai es bumi. Sehingga mampu menguak rahasia-rahasia sejarah makhluk hidup yang pertama kali ada di permukaan bumi yang hidup sejak berjuta-juta tahun yang lalu.

1) Ilmuwan muslim dan arkeologi

“Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (QS. Al A’raf : 185)

”Katakanlah, ’Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus : 101)

Þ Beranjak dari ayat di atas, ilmuwan muslim mulai meneliti substansi fosil, antara lain Al-Biruni yang merupakan pelopor dalam bisang studi geologi dan alam dan telah melahirkan teori tentang kerajaan langit dan bumi dengan metode analisis yang telah dianjurkan oleh Allah seperti firmanNya di atas.

2) Batu endapan dan batu lapis

”Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang bertambah. Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, adapula buihnya seperti buih itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi, demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar Ra’d : 17)

3) Susunan kimia manusia dan batu

”Mereka berkata, ’Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru ?’ Katakanlah, Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu.’ Maka, mereka akan bertanya, ’Siapa yang akan menghidupkan kami kembali ?’ Katakanlah, ’Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.’ Lalu mereka akan menggelengkan kepala kepadamu dan berkata, ’Kapan itu akan terjadi ?’ Katakanlah, ’Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.’ ” (QS. Al Isra’ : 49-51)

4) Logam dalam Al-Qur’an

”Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, adapula buihnya seperti buih itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi.” (QS. Ar Ra’d : 17)

a. Besi

“Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Hadid : 25)

“Kami telah melunakkan besi untuknya, yaitu buatlah baju-baju besi yang besar-besar ukurannya dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba : 10-11)

”Berilah aku potongan-potongan besi hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu. Berkatalah Zulkarnaen, ’Tiuplah (api itu).’ Hingga besi itu sudah menjadi (merah seperti) api dan dia pun berkata, ’Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.” (QS. Al Kahfi : 96)

b. Tembaga

”Kepada kamu (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya).” (QS. Ar Rahman :35)

c. Emas dan perak

”Dijadikannya indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda kendaraan pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan di sisi Allah terdapat tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran : 14)

Ayat lain: (QS. At Taubah : 34-35), (QS. Al Hajj : 23), (QS. Al Insan : 21) dan (QS. Az Zukhruf : 33)

5) Permata Yaqut

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga) dan tidak pula oleh jin. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 56-58)

”Seorang wanita penduduk ahli surga sungguh akan dapat terlihat betis kakinya yang putih dari balik 70 perhiasan hingga tampak inti keindahannya, karena Allah telah berfirman, ’Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.’ ” (HR. At Tirmidzi)

6) Ilmu tentang gunung (vulkanologi)

”Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung bagaimana ia ditegakkan.” (QS. Al Ghasiyah : 17-19)

Ayat lain : QS. An Nahl : 81 dan QS. Al A’raf : 74

7) Perbedaan jenis gunung

“Diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.” (QS. Fathir : 27)

ILMU GEOGRAFI

“Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al Hijr : 22)

Þ Menurut ilmu pengetahuan modern, ayat ini menerangkan bahwa angin dibutuhkan dalam proses perkawinan pada tumbuh-tumbuhan. Yaitu setelah nyata bahwa tumbuhan membutuhkan angin sebagai alat penting dalam penyerbukan.

1) Jenis-jenis angin

“Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal itu berhenti di permukaan laut.” (QS. Asy Syura : 33)

Ayat-ayat lain : QS. Yunus : 22, QS. Al Anbiya : 81, QS. Al Isra’ : 69, QS. Al Haqqah : 6, QS. Fushshilat : 16 dan QS. Al Baqarah : 266

Þ Pada saat ini para ilmuwan mengelompokkan angin berdasarkan kegunaan angin tersebut, umumnya dalam bidang penerbangan dan pelayaran. Kelompok tersebut dinamai dengan nama-nama yang telah disetujui oleh dunia internasional, dimana nama-nama tersebut telah disebutkan dalam Al Qur’an.

2) Persesuaian antara awan, hujan dan arus angin

Þ Pengetahuan menerangkan bahwa hujan adalah proses yang dihasilkan dari penguapan air lautan. Uap itu kemudian terbawa angin turun ke tanah sebagai air hujan. Proses tersebut sesungguhnya telah disampaikan dalam Al-Qur’an :[29]

“Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar Rum : 48).

”Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmatNya (hujan). Sehingga, apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus. Lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan, Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A’raf : 57)

Ayat-ayat lain : QS. Ar Rum : 46, QS. Fathir : 9, QS. Al Furqan : 48-49, QS. Al Waqi’ah : 68-69 dan QS. Al Hijr : 22

3) Cuaca dingin dan angin ribut berguntur dan berkilat

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikan bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya. Allah juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, yaitu dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakanNya butiran-butiran es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penghilatan.” (QS. An Nur : 43)

Ayat-ayat lain : QS. Al Baqarah : 19, QS. Ar Ra’d : 13, QS. Fushshilat : 13, HR. Tirmidzi dan Ahmad, QS. Ar Ra’d : 13 dan QS. Al Baqarah : 19

4) Letak geografis planet bumi

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar : 49)

Ayat-ayat lain : QS. Al Mulk : 3, QS. Al A’raf : 185 dan QS. Adz Dzariyat : 20

5) Tahun qomariyah (lunar year) dan tahun syamsiyah (calender year)

”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.” (QS. Al Kahfi : 25-26)

6) Satuan-satuan waktu

”Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS. Al Hajj : 47)

Ayat-ayat lain : QS. As Sajdah : 5 dan QS. Al Ma’arij : 4

7) Pergantian siang dan malam

”Sesungguhnya pada pertukaran siang dan malam itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yunus : 6)

Ayat lain : QS. Al Isra’ : 12

8) Perletakan bayangan

”Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayangan. Kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (QS. Al Furqan : 45-46)

9) Berhentinya peredaran bumi

“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu ? Maka apakah kamu tidak mendengar?’ Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al Qashash : 71-72)

10) Gaya tarik bumi (gravitasi)

“Apabila bumi diratakan, dilemparkan apa yang ada di dalamnya, dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq : 3-4)

Ayat-ayat lain : QS. At Takwir : 6 dan QS. Al Mukminun : 18

11) Siklus hujan

“Demi langit yang mengandung pengembalian (yang mempunyai potensi mengembalikan), dan bumi yang mempunyai daya membelah.” (QS. Ath Thariq : 11-12)

12) Air tanah

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al Mu’minun : 18)

13) Batas yang timbul diantara lautan

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan.” (QS. Ar Rahman : 19-21)

Ayat lain : QS. Al Furqan : 53

14) Berbagai fenomena lautan

Ilmu modern mempercayai bahwa kedalaman 200 m di bawah laut disebut sebagai daerah afotik, atau tidak bisa ditembus cahaya. Daerah itu dianggap berbahaya karena terdapat makhluk-makhluk ganas pemangsa yang tidak terdeteksi. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. Adanya daerah afotik itu sudah disinggung dalam Al-Qur’an :[30]

“Atau seperti gelap gulita di lautan dalam yang diliputi oleh ombak yang diatasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan, gelap gulita yang bertndih-tindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya. Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An Nur : 40)

15) Menentukan arah di kegelapan daratan dan lautan

”Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al An’am : 97)

16) Problematika polusi dan kerusakan lingkungan

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar Rum : 41, QS. Al A’raf : 85)

ILMU PERTANIAN (AGRONOMI) DAN TUMBUHAN (BOTANI)

- Teori pertanian tentang tanah yang lebih tinggi dari permukaan air

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah : 265)

Þ Kebun-kebun yang ditanam di atas tanah tinggi dari tingkat air tanah, maka daun pepohonannya lebih banyak tumbuh dan akarnya tumbuh lebih panjang ke dalam tanah. Sedangkan kebun yang ditanam di tanah yang sejajar dengan air tanah, maka ia tidak mendapatkan peredaran udara yang mencukupi di lahan pertanian. Hal ini mengakibatkan banyak akar mati.

Telah terbukti ketika air tanah meninggi, maka penyakit timbul pada kebun-kebun yang terdiri dari pohon-pohon tinggi. Sedangkan jika air tanah lebih tinggi dari permukaan bumi atau dekat darinya, maka kebun tersebut akan mati dalam waktu dua bulan.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS. Saba’ : 15-16)

- Pengairan alami dan buatan

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah : 265)

- Dua pernyataan ilmiah terkini

Hujan lebat disamping menyuplai pepohonan dengan air yang mencukupi juga mencuci, membersihkan dan menghilangkan debu yang terkumpul di atasnya. Sedangkan penyiraman dengan air hujan melipatgandakan hasilnya, menambah berat dan manis buahnya dibanding kebun lain yang tidak mendapatkan kedua hal ini.

- Memproduktifkan tanah terlantar

” Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” (QS. Yasin : 33)

- Penyerbukan dan perkawinan

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al Hijr : 22)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat : 49)

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin : 36)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj : 5)

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. Asy Syu’ara : 7)

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS. Luqman : 10)

Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.” (QS. Ar Rahman : 52)

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Ar Ra’d : 3)

“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thaha : 53)

- Penentuan kadar unsur setiap tumbuhan

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Hijr : 19)

- Sunnatullah dalam pengecambahan

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj : 5)

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya” (QS. Al Mu’minun : 18)

- Kekuasaan Allah dalam pengecambahan

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS. Al An’am : 95)

- Daerah terbaik untuk bertanam

Dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat ” (QS. Al Haqqah : 22-23)

- Rahasia warna hijau pada daun

”Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” (QS. Yasin : 80)

- Zat klorofil yang menakjubkan.

ILMU HEWAN (ZOOLOGI)

- Klasifikasi kerajaan animalia

”Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini” (QS. Al Jatsiyah : 4)

Þ Ilmu pengetahuan modern menegaskan bahwa setiap makhluk hidup yang ada di dalam kosmos ini berasal dari sel hidup yang sebagian besar terbentuk dari air, seperti yang tertuang dalam Al Qur’an. Di samping itu juga menegaskan bahwa dalam kerajaan binatang terdapat berbagai macam jenis hewan. Ada yang melata seperti reptil, ada yang berjalan dengan dua kaki seperti manusia dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki seperti hewan ternak.

- Manfaat hewan ternak

”Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan.” (QS. An Nahl : 5)

”Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (QS. An Nahl : 7)

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl : 66)

”Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa) nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (QS. An Nahl : 80)

Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al An’am : 142)

”Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut.” (QS. Al Mu’minun : 21-22)

”Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?” (QS. Ghafir : 79-81)

- Jenis-jenis hewan ternak

“(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar, dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al An’am : 143-144)

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az Zukhruf : 13)

- Sebuah fakta ilmiah menakjubkan

- Kekaguman orientalis

- Unta

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al Ghasyiyah : 17-21)

- Fakta ilmiah tentang unta

- Anjing

”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al A’raf : 176)

- Sapi

”Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. Al Baqarah : 69, 71)

- Kuda

”Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. “Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shad : 30-33)

ILMU SERANGGA (ENTOMOLOGI)

- Semut

”Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (QS. An Naml : 18)

Þ Penelitian-penilitian empiris saai ini telah membuktikan bahwa semut memang memiliki pola kehidupan sosial tertentu yang didasari komunikasi antara satu dengan yang lainnya, sehingga mereka mampu mengkoordinasikan berbagai pekerjaan mereka sehari-hari dengan sangat baik.

- Laba-laba

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al ’Ankabut : 41)

- Lalat

”Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al Hajj : 73)

- Lebah

”Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An Nahl : 68-69)

- Nyamuk

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” (QS. Al Baqarah : 26)

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar : 49)

- Serangga dimanfaatkan teknologi manusia

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (QS. Al Anbiya : 16)

ILMU BIOLOGI

- Air sebagai komponen kehidupan paling vital

”Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiya : 30)

”Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj : 5)

Ayat-ayat lain : QS. Fushshilat : 39 dan QS Al Mu’minun : 12

Þ Dalam ilmu biologi, air merupakan unsur paling mendasar dan paling vital bagi semua makhluk hidup. Sel-sel tubuh manusia juga tidak dapat berfungsi, bertahan hidup dan berkembang dengan baik tanpa air. Sebuah tim yang terdiri dari para ilmuwan Universitas Wales, Australia berhasil menemukan sinyal-sinyal suara pada tumbuhan yang mengalami kekurangan air. Sinyal pada tumbuhan yang kekeringan jauh lebih kuat dari tumbuhan yang cukup air, seolah-olah tumbuhan tersebut menjerit dan berteriak meminta air.

- Sel-sel darah

“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan : 2)

- Sistem reproduksi makhluk hidup

”Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin : 36)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat : 49)

- Keseimbangan sistem tubuh (QS. Al Furqan : 2), (QS. Al Anbiya : 30)

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk : 1-2)

- Indera perasa dan kulit

“….. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab….” (QS. An Nisa’ : 56)

- Amuba

“Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha : 50)

ILMU KEDOKTERAN

- Penciptaan manusia dalam Al-Qur’an

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minun : 12-14)

Ayat-ayat lain : QS. Al Hajj : 5, QS. An Najm : 45-46, QS. Al Insan : 2, QS. Al Mu’min : 67, QS. Abasa : 17-21, QS. Al Qiyamah : 36-37,39, QS. Al Najm : 45-46, QS. Al Waqi’ah : 58-59, QS. Al Qiyamah : 37, HR. Muslim)

Þ Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa tubuh manusia mengandung unsur-unsur yang dikandung tanah. Tubuh manusia terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen, fosfor, sulfur, nitrogen, kalsium, potasium, sodium, magnesium, khlorin, zat besi, tembaga, yodium, fluorine, kobalt, silikon, timah dan aluminium. Unsur-unsur tersebut juga terdapat di dalam tanah.

- Embriologi

Þ Rasulullah SAW telah menjelaskan perkembangan embrio ini secara mendetail 14 abad yang lalu, dimana pada zaman itu mikroskop, USG dan semisalnya belum ditemukan. Alloh Ta’ala berfirman :”Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (QS az-Zumar : 6).

Sains modern menjelaskan bahwa tahapan perkembangan embrio di dalam uterus memang terjadi secara bertahap, bentuk demi bentuk. Dan sains modern menjelaskan bahwa janin manusia berada pada tiga lapisan, yaitu :

1. Dinding anterior abdomen
2. Dinding uterus
3. Membran Amniochorionic

Tiga bagian inilah yang dimaksud dengan tiga kegelapan. Dan penafsiran ayat di atas tidak menyelisihi penjelasan sains modern, dimana “tiga kegelapan” tersebut yang dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di adalah sama dengan yang di sebutkan di dalam sains modern.

Alloh Ta’ala berfirman :”Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS Al-Mu’minun : 13)
Syaikh as-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nuthfah adalah sesuatu yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan kemudian menetap di “tempat yg kokoh” yaitu rahim, yang terpelihara dari kerusakan, cedera dan selainnya.”

Sesuatu yang keluar dari sulbi laki-laki adalah spermatozoa dan yang keluar dari wanita adalah ovum. Lantas keduanya bercampur sebagaimana firman Alloh Ta’ala : “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari tetesan air yang bercampur.” (QS Al-Insan : 2). Campuran keduanya ini membentuk zigot yang membelah diri membentuk blastocyst yang tertanam secara kuat di uterus (tempat yang kokoh). Kemudian Alloh Ta’ala berfirman :”Kemudian nuthfah itu Kami jadikan ‘alaqoh” (QS Al-Mu’minun : 14)

Kata ‘Alaqoh dari sisi bahasa Arab bermakna 3, yaitu :

1. Bermakna lintah.

2. Bermakna sesuatu yang tergantung.

3. Bermakna segumpal darah.

Dan Maha Suci Alloh, ternyata tiga makna yang terkandung di dalam kata ‘Alaqoh ini tidak ada yang menyelisihi fakta saintifik modern sedikitpun.[31]

- Ovum (sel telur wanita)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insan : 2)

- Tahap-tahap janin (QS. Al Hajj : 5, QS. Al Mu’minun : 14)

- Selaput janin (membrane)

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS. Az Zumar : 6)

- Evolusi bentuk janin

” Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. Nuh : 14)

- Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah payah

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Ayat-ayat lain : QS. Al Ahqaaf : 15, QS. Ar Ra’d : 8, QS. Az Zumar : 6

ILMU GENETIKA

- Ilmu genetika (ilmu keturunan)

”Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. Abasa : 17-19)

Þ Pada tahun 1912 ilmu genetika modern (Morgan) menemukan peranan kromosom dan gen dalam proses pembentukan janin, yaitu bahwa pembentukan manusia ditentukan pada sperma laki-laki (spermatozoa) dan sel telur wanita (ovum).

- Pernikahan antar kerabat

”Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’ : 23)

ILMU ANATOMI

- Ilmu anatomi (ilmu organ tubuh)

”Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al Qiyamah : 3-4)

Þ Ilmu pengetahuan modern telah berhasil menyingkapkan tirai beberapa misteri ujung jari dan menjelaskan sidik jari terdiri atas garis-garis timbul pada kulit yang berada di atas pori-pori keringat. Telah terbukti bahwa di dunia ini tidak ada dua sidik jari yang sama, bahkan antara saudara kembar yang berasal dari satu sel telur sekalipun.[32]

- Susunan pusat-pusat pendengaran dan penglihatan di otak

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As Sajdah : 9)

Ayat-ayat lain : QS. Al Ahqaf : 26, QS. An Nisa’ : 56

ILMU KESEHATAN MAKANAN (NUTRISI)

- Menyusui anak

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. …….” (QS. Baqarah : 233)

Þ Berdasarkan penelitian para ilmuwan dijelaskan dengan rinci bahwa air susu yang pertama kali diterima seorang bayi dari payudara ibunya, selama dua hari pertama setelah kelahirannya, mengandung beberapa protein khusus dengan kadar tinggi. Protein ini dapat melawan pertumbuhan kuman-kuman yang mendatangkan berbagai penyakit (antibodi). Antibodi ini termasuk unsur penting yang terdapat di sisi anak yang baru dilahirkan, ketika ia dalam keadaan lemah.

- Aturan makanan

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raf : 31)

- Madu lebah

“kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An Nahl : 69)

- Kurma

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. An Nahl : 67)

Ayat-ayat lain : QS. Maryam : 23-25, QS. Qaf : 9-10, QS. Al Baqarah : 266

- Anggur

“atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya.” (QS. Al Isra’ : 91)

Ayat-ayat lain : QS. Ar Ra’d : 4, QS. An Nahl : 67, QS. An Naba : 31-32

- Buah zaitun

“Dan pohon kayu ke luar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan.” (QS. Al Mu’minun : 20)

Ayat-ayat lain : QS. Al An’am : 99, QS. Ath Thin : 1-3, QS. Abasa : 27-29

- Buah tin

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun dan demi bukit Sinai dan demi kota (Mekah) ini yang aman.” (QS. Ath Thin : 1-3)

ILMU KEDOKTERAN PREVENTIF (A)

- Pengharaman daging babi

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Ma’idah : 3)

Þ Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan secara pasti bahwa daging babi ialah biang kerok terserangnya manusia oleh berbagai penyakit sebagai berikut :

§ Penyakit sebangsa cacing

§ Cacing pita

§ Peradangan lapisan otak dan virus sebangsa babi yang berenang

§ Desentri babi ‘palandies’

§ Influensa babi

§ Racun makanan babi

§ Ular perut babi

§ Cacing lambung bernanah

§ Cacing paru-paru babi

§ Desentri amuba babi

- Larangan makan bangkai

”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah : 173)

- Pengharaman darah

- Pengharaman “al-Munkhaniqatu”, “al-Mauqudzatu”, “al-Mutaraddiyatu”, “an-Nathihatu” dan bangkai bekas terkaman binatang buas à (QS. Al Ma’idah : 3)

- Pengharaman minuman keras

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (QS. Al Baqarah : 219)

Ayat-ayat yang lain : QS. Al Ma’idah : 90-91

ILMU KEDOKTERAN PREVENTIF (B)

- Larangan berzina

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ : 32)

Þ Ilmu kedokteran modern menegaskan bahwa berzina dapat menimbulkan timbulnya berbagai macam penyakit yang membahayakan kesehatan manusia dan sangat sulit pengobatannya, antara lain :

§ Assailan ‘penyakit dua lubang’

§ Sifilis

- Kelainan seksual

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mu’minun : 5-7)

Ayat-ayat lain : QS. Asy Syura : 165-166)

- Larangan bersetubuh saat haid

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah : 222)

- Larangan melakukan hubungan seksual secara berlebihan

”….. dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al An’am : 141)

- Larangan melakukan anal seks

”Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah : 223)

Ayat-ayat lain : QS. Al An’am : 38

- Larangan melakukan aborsi

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al Isra’ : 33)

Ayat yang lain : (QS. Al Hajj : 5)

- Larangan melakukan vegetarian

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Ma’idah : 87)

Ayat-ayat yang lain : Al Hajj : 30, QS. An Nahl : 116

- Rahasia penyembuhan Nabi Ayub a.s.

“(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shad : 42)

ILMU KEDOKTERAN PREVENTIF C

- Kebersihan

“dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Muddatsir :4)

Ayat-ayat yang lain : QS. Al Ma’idah : 6, QS. Al An’am : 145, QS. Al Anfal : 11

- Wudhu dan pencegahan terhadap penyakit kanker

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, ……….” (QS. Al Ma’idah : 6)

Ayat-ayat yang lain : QS. Al Baqarah: 222

Þ Ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa wudhu mampu meminimalisir timbulnya virus-virus kanker yang disebabkan oleh faktor-faktor proses kimiawi. Dengan wudhu, orang bisa terhidar dari terjangkitnya unsur kimiawi sebelum terjadinya akresi (gabungan unsur yang terpisah) yang menimbulkan infiltrasi (proses perembesan) dari kulit luar ke dalam tubuh.

- Shalat

Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103)

Ayat-ayat yang lain : QS. Thaha : 132, QS. Ibrahim : 31, QS. Al Baqarah: 238

- Puasa

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184)

ILMU PENGOBATAN PENYAKIT JIWA (PSIKOTERAPI)

- Ibadah dan pengaruhnya dalam memecahkan kesulitan

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al Baqarah : 45)

Þ Para dokter jiwa sepakat bahwa gejala stres itu bisa hilang dengan cara curhat kepada teman atau orang terdekat. Kalau tidak ada orang yang dijadikan tempat untuk itu, maka setidaknya cukuplah Allah sebagai tambatan (pengaduan) dan penolong.

- Zikir dengan Allah Ta’ala

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d : 28)

Ayat-ayat yang lain : QS. Al Jumu’ah : 10

- Pengaruh Al-Qur’an bagi orang yang mendengarkannya

- Kejiwaan orang munafik

”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al Baqarah : 10)

Ayat-ayat yang lain : QS. An Nisa’ : 108, 143

- Obat mujarab bagi rasa gelisah

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al Fath : 4)

Ayat-ayat yang lain : QS. Ar Ra’d : 28, QS. Ath Thariq : 2-3

- Tidak frustasi

”Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53)

- Bagaimana Al-Qur’an mengatasi problem ketagihan minuman keras

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. An Nahl : 67)

Ayat-ayat yang lain : QS. Al Baqarah: 219, QS. An Nisa’ : 43, QS. Al Ma’idah : 90-91

- Mengapa seorang lelaki baik tidak mau menikahi wanita pezina

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An Nur : 3)

- Menundukkan mata dan menjaga kemaluan

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An Nur : 23-24)

- Manfaat shalat ditinjau dari aspek kejiwaan

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al Mu’minun : 1-2)

- Kulit dan aspek kejiwaan

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az Zumar : 23)

- Kebimbangan yang terpaksa

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Qaf : 16)

Ayat-ayat yang lain : QS. An Naas : 1-6

- Mimpi-mimpi

”(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit…” (QS. Al Anfal : 43)

Ayat-ayat yang lain : QS. Yusuf : 43-44, 46

- Iman dan korelasinya terhadap penyembuhan

”(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. Asy Syura : 80)

- Pengaruh lafaz-lafaz Al-Qur’an dalam mengatasi stres

ILMU METAFISIKA

- Dari berbagai pemberitaan Al-Qur’anul Karim

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS.Al Qamar : 45)

Þ Ayat tersebut turun di saat umat Islam masih sangat sedikit. Namun Al Qur’an mengabarkan akan menang. Dan, di antara mukjizat dalam kabar tersebut adalah bahwa hal itu terjadi pada waktu umat Islam tidak mampu melindungi diri mereka.

Ayat-ayat yang lain : QS. Ar Rum : 1-6, QS. Al Hijr : 95, QS. Al Muddatsir : 11-17, 26-30, QS. Al Qalam : 16, QS. Al Lahab : 1-5, QS. Luqman : 6, QS. Al Fath : 27, QS. Yunus : 24, QS. Al Kahfi : 9, 17, 21

- Berita tentang sarana transportasi tercanggih

“Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.” (QS. Ar Rahman : 24)

Ayat-ayat yang lain : QS. Yasin : 41-42, QS. An Nahl : 8

- Berita tentang media komunikasi modern

”Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang gaib dari tempat yang jauh.” (QS. Saba : 53)

- Berita tentang pengetahuan atom

”Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz)” (QS. Saba : 3)

- Berita tentang pembuatan arang nabati

”yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” (QS. Yasin : 80)

- Dampak peringatan

”Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus : 101)

- Menampilkan kembali berbagai peristiwa masa lalu

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (QS. Al Kahfi : 49)

Ayat-ayat yang lain : QS. Ali Imran : 30, QS. An Nur : 24

Dalam kajian lain[33], mu’jizat ilmiah dalam Al-Qur’an juga diurai walaupun tidak diklasifikasikan dalam cabang-cabang ilmu seperti diatas. Kajian itu meliputi :

A. Tanda-Tanda Kekuasaan Allah di Ufuk

1. Penundukan Benda Alam

§ Demi matahari dan cahayanya. Demi bulan apabila mengiringinya. (QS. Asy Syams : 1-2)

§ Demi bintang apabila terbenam (QS. An Najm : 1)

§ QS. Ath Thariq : 11-12, QS. Adz Dzariyat : 1, QS. Ath Thur : 6, QS. Al Qalam : 1

2. Sinar dan Cahaya

§ Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)

§ Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari). (QS. An Naba’ : 13)

§ QS. Nuh : 16, QS. Nur : 35, QS. An Nahl : 16, QS. Al An’am : 97, QS. Ash Shaffat : 6, QS. Al Ahzab : 45-46

B. Tanda-Tanda Kekuasaan Allah di Bumi

1. Bentuk dan Gerak Bumi

§ Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Az Zumar : 5)

§ Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS. Yunus : 24)

§ QS. Al A’raf : 54, QS. Yasin : 40, QS. Al Anbiya’ : 33

2. Air Sumber Baru Bagi Oksigen

  • Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al Hajj : 5)

C. Tanda-Tanda Kebesaran Allah pada Makhluk Hidup

1. Dunia Tumbuh-Tumbuhan

§ Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin : 36)

§ Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (QS. Al Hijr : 22)

§ QS. Al A’raf : 58, QS. Al Hajj : 5, QS. Al An’am : 99, QS. Thoha : 53

2. Dunia Hewan

§ Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al An’am : 38)

§ Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. (QS. Al Jatsiyah : 4)

§ QS. An Nur : 45, QS. An Naml : 15 – 22

D. Tanda-Tanda Kebesaran Allah pada Diri Manusia

1. Indera Penglihatan dan Susunan Mata

§ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. (QS. Al Balad : 8)

2. Sidik Jari

§ Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (QS. Al Qiyamah : 3-4)

E. Konsep penglihatan

Bagaimana mata melihat, bisa dijelaskan melalui Surat Al Baqarah : 17. yang menampik konsep pada jaman itu, serta memberikan dasar pada perkembangan ilmu optik berikutnya. Keyakinan ilmu pengetahuan waktu itu, mata bisa melihat dikarenakan idera tersebut mengeluarkan sinar kemudian dipantulkan kembali sehingga mata bisa melihat objek pemantul. Akan tetapi ungkapan al Qur’an mengisyaratkan pada ayat tersebut, jika tidak ada sumber cahaya (bukan dari mata) maka manusia tidak dapat melihat.

Masih banyak lagi kajian yang berhubungan antara Al Qur’an dan mukjizat ilmiah salahsatunya yang ditulis oleh Maurice Bucaille yang meliputi kajian penciptaan langit dan bumi, astronomi, alam tumbuhan binatang dan reproduksi manusia[34].. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan semakin jelas bukti-bukti yang menyingkap kebenaran Al Qur’an terhadap fakta-fakta ilmiah yang belum mampu di kenal dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Abdushshamad, Muhammad Kamil. 2004. Al-I’jazul Ilmi fil-Qur’anil-karim,terj: Mukjizat Ilmiah Dalam Al-Qur’an, Jakarta: Akbar

Bucaille, Maurice Dr, 1976, La Bible Le Coran Et La Science, terj: Bibel, Alqur’an dan Science Modern,Penerbit bulan Bintang,Jakarta

Gulen, M. Fethullah,2002,Essential of The Islamic Faith,The Fountain,Turkey

http://labbaik.wordpress.com

http://layananquran.com/plq/index.php

http://www.media-islam.or.id

http://www.nebula165.com

http://www.geocities.com/permaya02/pendahuluanz.htm

Khaldun, Ibn. 2005. Muqaddimah, Jakarta: Pustaka Firdaus

Pasya, Ahmad Fuad. Prof, 2004. Rahiq Al’Ilmi wa Al-Iman,terj:Dimensi Sains Al-Qur’an, Tiga Serangkai, Solo

Qardhawi, Yusuf DR. 1996. Al-Aqlu wal-Ilmu fil-Quranil-Karim,terj.:Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta : Gema Insani Pers

Saksono, Tono. 2006. Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya, Pustaka Darul Ilmi, Bekasi

Asy-Syinqithi, Syaikh Muhammad Amin, Adhwa’ul Bayan fi Tafsiril Qur’ani bil Qur’an,-

Turner, Horwad R, 1997,Science in medieval Islam, An Ilustrated Introduction, University of Texas Press,Texas


[1] Disusun sebagai tugas studi Al Qur’an program MSI – UMS

[2] disampaikan oleh al-Qattan, diambil dari http://layananquran.com/plq/index.php

[3] Disampaikan oleh Syeikh A M Az-Zindani pada sebuah kajian yang bertajuk Keajaiban Saintifik Di Dalam Al-Quran,2002. Az-Zindani Merupakan rektor Universiti Al-Iman-Yaman & Pengasas Jabatan Tanda-tanda Saintifik di dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang berada di bawah Liga Islam Sedunia di Mekah diambil dari http://www.geocities.com/permaya02/pendahuluanz.htm

[4] dalam kitab Al Itqam fi Ulum Al Qur’an, diambil dari buku Dimensi Sains Al Qur’an

[5] dalam Muqaddimah, terjemahan

[6] dalam Al I’jaz Al ‘Ilmiy fil Qur’anul Karim (Mukjizat Ilmiah dalam Al Qur’an)

[7] Prof.Dr.Ahmad Fuad Pasya dalam buku Dimensi Sains Al Qur’an, terjemahan dari buku Rahiq Al-Ilmi wa Al-Iman, hal.23

[8] Ibid

[9] Disampaikan oleh Syeikh A M Az-Zindani pada sebuah kajian yang bertajuk Keajaiban Saintifik Di Dalam Al-Quran, 2002.

[10] Prof.Dr.Ahmad Fuad Pasya dalam buku Dimensi Sains Al Qur’an, hal. 24

[11] ibid

[12] Tono Saksono, Ph.D dalam buku Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya, hal. 15

[13] Al I’jaz Ilmi fi Islam Al Quranul Karim, terjemahan

[14] dalam majalah Al ‘Arabiyyah, edisi Januari 1982

[15] Yusuf Qardhawi dalam buku Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan

[16] Muh. Kamil Abdushshamad dalam buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, hal. 7

[17] Hal ini juga disampaikan oleh prof. Muh. Adduwais dalam kuliah interdisiplinir tentang metodologi penelitian studi Islam kontemporer di kampus UMS,2007

[18] Muh. Kamil Abdushshamad dalam buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, hal. 8

[19] Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam Adhwa’ul Bayan fi Tafsiril Qur’ani bil Qur’an

[20] Dalam kitab Al-I’lam bi A’lamil Baladil Harom (dari buku Matahari Mengelilingi Bumi)

[21] Yusuf Qardhawi dalam buku Al-Qur’an Berbicara tentang Akal

[22] Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi dalam kitab Mu’jizah Al Qur’an (dari buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an)

[23] Gulen, M. Fethullah,2002,Essential of The Islamic Faith, hal. 226

Gulen merupakan pemikir dari Turkey yang dalam bukunya menawarkan gagasan adanya penggabungan penggabungan pencerahan intelektual dengan spirituil khususnya bagi genenrasi muda

[24] Muh. Kamil Abdushshamad dalam buku Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, 2003

[26] idib

[32] Dimensi Sains Al-Qur’an

[33] Ahmad Fuad Pasya dalam Dimensi Sains Al-Qur’an tahun 2004

[34] Maurice bucaille dalam bukunya Bibel, Qur’an dan Sains Modern, merupakan dokter berkebangsaan prancis yang mendalami bahasa arab

Posted in Studi Al Quran | Leave a Comment »

FAKTA KEBENCIAN YAHUDI-NASRANI

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

(STUDI KRITIS “ISLAM PRIBUMI” DALAM KAJIAN TAFSIR)

Ditulis Oleh: SYAHRUDIN HIDAYAT

A. Pendahuluan

Huntington membuat wacana baru yang mengingatkan Barat, bahwa jika gerenasi muda Muslim tidak ‘diperhatikan’ maka mereka akan menjadi militan, dan memperkuat kebangkitan Islam, yang akan mengancam Barat. Dengan logika tambahan dari Huntington, bisa dipahami jika kemudian ada program besar-besaran dari pemerintah Barat tertentu untuk melakukan ‘Westernisasi’, ‘sekularisasi’, dan ‘liberalisasi’ di dunia Islam. Itu bisa dilihat, misalnya, dari antusiasme AS dalam mendukung gerakan-gerakan Liberal Islam di berbagai negara Muslim. Program westernisasi dilakukan untuk menekan muncul dan tumbuhnya orang-orang atau kelompok yang dianggap berpotensi menentang Barat. Dengan sifatnya yang sangat pragmatis-sekularistik, terlepas dari nilai-nilai moral agama, maka standar yang digunakan Barat akan bersifat sangat fleksibel dan situasional. Di masa Perang Dingin, misalnya, semua kelompok yang menentang komunisme dan mendukung kepentingan Barat/AS didukung, meskipun berasal dari kalangan Islam, seperti kelompok Osama bin Laden. Bahkan, di masa Pasca Perang Dingin pun, AS tetap memberikan dukungan terhadap rezim Arab Saudi, meskipun sering disebutkan bahwa Wahabisme yang diterapkan AS adalah merupakan sumber terorisme.[1]

Wacana sekularisasi, liberalisasi maupun pluralisasi di Indonesia kemudian marak berkembang dengan munculnya secara melembaga dengan apa yang dinamakan Jaringan Islam Liberal (JIL). Menurut Lutfi As-Syyaukani, Islam Liberal sudah dipopulerkan sejak tahun 50-an, tapi kemudian keberadaannya merebak pada tahun 1980. Tokoh rujukan mereka adalah Nurcholis Majid dan komunitasnya. Mereka mulai aktif melakukann kegiatan dengan menggelar kelompok diskusi melalui dunia maya (internet) pada alamat milis liberal@yahoo.group.com dan website www. islamlib.com. Dalam situs tersebut mereka mendefinisikan Islam Liberal sebagai suatu bentuk penafsiran baru, dengan menggambarkan prinsip dari Islam Liberal yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial politik yang menindas.

Gagasan-gagasan liberalisasi Islam yang dilakukan Jaringan Islam Liberal ini khususnya di Indonesia menimbulkan kontroversi. Hal ini disebabkan karena hasil pemikiran yang mereka usung banyak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariah Islam secara umum. Kritik-kritik mereka banyak menggugat hal-hal permanen yang menjadi pondasi dasar Islam. Satu contoh yang menarik, sholat yang dilakukan Aminah Wadud saat mengimami sholat berjamaah dengan makmum yang bercampur dengan laki-laki di sebuah gereja.

Berbeda dengan ulama pada umumnya, yang biasanya menekankan otoritas, para pemikir Islam Liberal yang kebanyakan Anak muda ini bisa digolongkan “pembrontak”. Mereka yang menganggapnya sebagai “kegelisahan intelektualnya” selalu mempertanyakan mengapa Islam yang normatif dan skriptual tidak lagi mengalirkan pesannya yang mendasar pada zaman yang baru. Mereka menyatakan dengan berfikir demikian Islam akan mampu melakukan transformasi dan trensendensi dalam memajukan peradaban.

Relatifitas penafsiran mereka terhadap teks keagamaan, baik Al-Qur’an maupun Hadist sangat kentara. Salah satunya yang terangkum dalam buku “Islam Pribumi”. Buku ini disusun berdasarkan hasil dialog interaktif di bulan Ramadhan. Dialog tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) di tiga radio Swasta di Jakarata (Radio Asy-Syafi’iyyah, Jakarta News FM, dan Elshinta) dari tanggal 16 November sampai 11 Desember 2001. Dialog interaktif itu merupakan impelmentasi dari program pengembangan Islam Pluralis, yaitu sebuah program yang diperkenalkan oleh lambaga yang bernaung di bawah payung Nahdlatul Ulama (NU).[2]

Salah satu contoh penafsiran mereka yang berbeda dengan kebanyakan Mufassir pada umumnya adalah ketika merefesentasikan surat Al-baqarah ayat 20, ayat ini mereka anggap tidak berlaku universal, apalagi untuk konteks sekarang. Ayat tersebut terkurung dalam tradisi kearaban dan dijadikan alat bagi kepentingan Nabi Muhammad untuk memperkuat kekuasaan dan panatisme ke-Islaman dengan memunculkan sikap apriori umat terhadap pihak non muslim yang dalam hal ini Yahudi dan Nasrani. Untuk itu, saat ini hukum tersebut tidak lagi berlaku. Seperti yang dikatakan Ahmad Baso:

Kalau kita mengambil penafsiran yang situasional dalam situasi Madinah, ayat itu tidak lagi berlaku secara universal. Kalau soal kebencian, setiap manusia memiliki kebencian. Akan tetapi, tidak kemudian melembaga menjadi hukum teologis bahwa orang itu benci kepada orang Islam. Tidak ada sifat manusia yang abadi “.[3]

B. METODOLOGI PENAFSIRAN AL-QUR’AN

Allah menurunkan Al-qur’an untuk dijadikan pedoman hidup dan petunjuk. Isinya memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, baik urusan di dunia maupun akherat. Oleh karenanya ia merupakan kitab suci yang paling lengkap dan penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya, baik taurat, injil dan jabur.

Kebahagiaan manusia tidak akan tercapai melainkan dengan memahami dan mengamalkan apa yang tersirat dalam Al-Qur’an. Permasalahan yang kemudian muncul adalah bahwa tidak setiap orang mampu mengeksplorasi ayat-ayat Allah tersebut. Apalagi Al-Qur’an sendiri diturunkan dalam bahasa dan tulisan tertentu. Ini yang kemudian menjadi persoalan bagi mereka yang tidak memahami bahasa dan tulisan dimana Al-Qur’an diturunkan.

Bukan hanya masalah tulisan atau bahasa yang mengemuka, persoalan terbesar justeru terjadi pada perbedaan pemahaman terhadap pesan-pesan tuhan yang terkandung di dalamnya. Ini bisa dimaklumi sehubungan dengan posisinya sebagai kalamullah yang sifatnya qadim, tentu tidak mudah untuk dimengerti secara langsung oleh setiap manusia dengan kondisinya yang heterogen dan segala sesuatunya dipengaruhi lingkungan. Endingnya terjadi multi pemahaman yang masing-masing memiliki argumentasi sendiri-sendiri, yang tak pelak menimbulkan perselisihan satu sama lain, dan bahkan saling membunuh. Kondisi ini menjadi inspirasi munculnya “Ulum al-Qur-an”. Disiplin ilmu dalam Islam yang mengupas tuntas Al-Qur’an dari berbagai sisi. Salah satu objek pembahasan yang secara langsung berkaitan dengan pemahaman kandungan isinya adalah al-Tafsir wa al-Tawil.

Secara bahasa, tafsir berasal dari kata “al fasr”, kemudian diubah menjadi bentuk taf’il yaitu menjadi “al-tafsir” yang berarti penjelasan atau keterangan.[4] Dalam kamus “Lisanul Arab” Ibnu Manzur menjelaskan bahwa kata “al fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata ”at-tafsir” berarti menyingkapkan sesuatu maksud lafad yang musykil dan pelik.

Sebagian ulama berpendapat bahwa kata tafsir (fusara) adalah kata kerja yang terbalik dari kata “safara” yang juga berarti menyingkapkan. Pembentukan kata dari al-safr menjadi bentuk taf’il yakni “al-tafsir” adalah untuk menunjukkan arti tafsir (banyak, sering berbuat). Menurut Ar-Raghib, kata “alfasr” dan “as-safr” adalah dua kata yang berdekatan maknadan lafadnya. Yang pertama untuk menunjukkan arti menampakan (menzahirkan) makna yang ma’qul (abstrak) dan yang kedua untuk menunjukkan arti menampakkan benda pada penglihatan mata. [5] Dalam Al-Qur’an dinyatakan:

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا (الفرقان :33)

Artinya: “Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya” (QS. Al-Furqan: 33)

Menurut Ibnu Abbas , yang dimaksud dengan firman Allah وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا adalah, lebih baik perinciannya.

Pengertian tafsir menurut istilah, Az-Zarkasyi mendefinisikan sebagai ilmu untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan menjelaskan makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya, menguraikan dari segi bahasa, nahwu shorof, ilmu bayan, ushul fiqh dan ilmu qiraat, untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat dan nasikh mansukh.[6] Kata tafsir dalam agama Islam secara khusus menunjukkan kepada masalah penafsiran Al-Qur’an dan ilmu-ilmu tafsir Al-Qur’an.[7]

Menurut Ahmad Syadali, dengan mengutip pendapatnya Prof. Dr. H. Abdul Djalal H. A., membagi tafsir Berdasarkan sumbernya menjadi tiga, yaitu Tafsir bi al-Ma’tsur, Tafsir bi al-Ro’yi[8] dan Tafsir bi al-Izdiwaji. Guru besar tafsir pada fakultas syari’ah di Riyadh, Manna Khalil al-Qaththan membuat definisi Tafsir bi al-Ma’tsur:

Tafsir yang didasarkan atas dalil-dalil sahih yang dinuqilkan dengan sahih secara tertib, mulai tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, atau dengan As-Sunnah, karena As-Sunnah itu dating untuk menjelaskan kitab Allah, atau denga apa yang diriwayatkan dari para sahabat, karena mereka adalah orang yang paling tahu dengan kitab Allah tersebut, atau dengan apa yang dikatakan oleh tokoh Tabi’in, karena umumnya mereka menerima hal itu dari para sahabat “.[9]

Pada Tafsir bi al-Ma’tsur, penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an diambil dari sumber-sumbar yang berhubungan dengan makna ayat yang akan ditafsirkan, lalu disebutkan penafsirannya berdasarkan riwayat, nukilan atau kutipannya tersebut, tanpa berijtihad di dalam mmenjelaskan maksud ayat yang ditafsirkan dan tidak mencari penafsiran dari sumber yang lain, bahkan menghindari keterangan yang tidak ada faedahnya selama tidak ada dalilnya.[10] Dengan demikian Mufassir yang menempuh cara ini, harus terlabih dahulu mengeksplorasi ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan, sehingga dalam menafsirkan suatu ayat akan dikaitkan dengan ayat-ayat lain sebagai penjelasnya. Kemudian menelusuri sejumlah hadist, atsar sahabat, dan ungkapan tabi’in yang sahih yang ada hubungannya dengan keterangan ayat tersebut.

Lebih terperinci langkah-langkah penafsiran dengan metode al-Ma’tsur, Hasby Ash-Shiddieqy dalam “Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir” menjelaskannya bahwa seseorang yang hendak menafsirkan suatu ayat haruslah terlebih dahulu mencari tafsir ayat tersebut di dalam Al-Qur’an sendiri. Karena kerap kali ayat-ayat itu bersifat ringkas di suatu tempat, sedang penjelasannya terdapat di tempat lain. Yakni hendaklah ayat itu lebih dahulu ditafsirkan (dicari tafsirannya) dengan ayat sendiri. Sebab yang lebih mengetahui kehendak tuhan dengan ayat-ayatnya, hanya tuhan sendiri. Jika tidak ada ayat yang dapat dijadikan tafsir bagi ayat itu, periksalah As-Sunnah atau Al-Hadist. Setelah itu hendaklah ia mencari keterangan sahabat, karena mereka lebih mengetahui maksud-maksud ayat dan mereka sendiri mendengar dari Rosul serta mempersaksikan sebab-sebab turunnya ayat (asbab an-nuzul.)[11]

Sedangkan Tafsir bi al-Ro’yi atau sering disebut dengan Tafsir Dirayah atau Tafsir bi al-Ma’qul adalah tafsir Al-Qur’an yang didasarkan atas sumber ijtihad dan pemikiran Mufassir terhadap tuntutan kaidah bahasa Arab dan kesusasteraannya, teori ilmu pengetahuan, seteleh dia menguasai sumber-sumber tadi.[12] Prof. Dr. H. Abdul Djalal mengartikan Tafsir bi al-Ro’yi sebagai tafsir yang mana Mufassir menerangkan makna hanya berlandaskan kepada pemahaman yang khusus dan tidaklah keterangannya itu dari pemahaman yang sesuai dengan jiwa syari’ah dan yang berdasarkan nash-nashnya.[13] Pada penafsiran ini, Mufassir memiliki proregatif untuk menjelaskan makna-makna ayat berdasarkan pemahamannya sendiri dan penyimpulan atau istinbat hukum sesuai dengan ra’yunya.

Para ulama berbeda pendapat terhadap keberadaan Tafsir bi al-Ro’yi, bahkan sebagian mereka menghukuminya haram, apalagi bagi orang-orang yang pengetahuannya tentang metodologi penafsiran dan ushlub-ushlub bahasa Arab yang sangat terbatas. Ibnu taimiyah seperti dikutip Syadali mengatakan bagi siapa saja yang mengatakan Al-Qur’an dengan hanya berlandaskan pikiran saja, maka berarti ia telah menentukan beban yang tidak ada ilmu dalam hal itu, dan berarti ia telah menempuh hal yang tidak diperintahkan. Maka sekalipun dia mungkin tepat mengartikannya, namun dia tetap bersalah karena dia tidak mendatangi sesuatu dari pintunya, seperti halnya seorang hakim yang memutuskan perkara orang dengan kebodohan, maka dia akan masuk neraka sekalipun keputusannya itu sesuai kebenaran.[14]

Adapun hukum dibolehkannya penafsiran dengan al-Ro’yi atau ijtihadnya sendiri, telah dibanarkan oleh beberapa ulama besar, diantaranya Imam Al-Ghazali. Akan tetapi dengan syarat jangan terlalu mencari-cari penafsiran supaya sesuai dengan madzhab yang dianuti oleh penafsir itu, baik dalam hal yang pokok (al-ashl) maupun cabang (al-far’u). Adapun penafsiran yang dikatakan penafsiran dengan pikiran, sebagaimana dilarang oleh hadist yang diriwayatkan Abu Dawud, At-Turmudzi dan An-Nasa’iy, maka jika hadist itu dipandang benar ialah: menafsirkan Al-Qur’an dengan tidak mempedulikan As-sunnah, atsar, dan kaedah-kaedah yang sudah di tetapkan.[15] Karena ro’yu semata yang tidak disertai bukti-bukti akan membawa penyimpangan terhadap kitabullah. Kebanyakan orang yang melakukan penafsiran dengan semangat demikian adalah ahli bid’ah, penganut madzhab batil. Mereka menafsirkan Al-Qur’an menurut pendapat pribadi yang tidak mempunyai dasar pijakan berupa pendapat atau penafsiran ulama salaf, sahabat dan tabi’in.[16]

Terakhir adalah Tafsir bi al-Izdiwaji atau disebut juga dengan metode campuran antara Tafsir bi al-Ma’tsur dengan Tafsir bi al-Ro’yi yaitu menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayat yang kuat dan sahih, dengan sumber hasil ijtihad akal pikiran yang sehat. Tafsir macam ini banyak ditulis pada tafsir modern yang muncul sesudah kebangkitan kembali umat Islam, dengan tujuan untuk membersihkantafsir-tafsir Al-Qur’an dari ikatan kaidah bahasa dan dengan tujuan untuk membersihkantafsir-tafsir Al-Qur’an dari ikatan kaidah bahasa dan teori-teori yang kurang erat hubungannya dengan maksud ayat.[17]

Selain penafsiran yang ditinjau dari sisi sumbernya seperti yang telah dijelaskan di atas, para ulama memiliki rumusan metodologi penafsiran yang lain yaitu penafsiran yang didasarkan pada cara penjelasannya, keluasan penjelasannya ayat dan yang berdasarkan susunan dan tertib ayat. Metode yang ditinjau dari cara penjelasannya terdiri dari metode tafsir bayani dan metode tafsir Muqarin. Metode yang ditinjau cara penjelasannya terdiri dari metode tafsir Ijmali dan metode tafsir Itrabi. Sedangkan Metode yang berdasarkan susunan dan tertib ayat terdiri dari metode tafsir Tahlili dan metode tafsir Maudu’i. Pada perkambangan selanjutnya terdapat kecenderungan Mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an difokuskan pada tafsiran ayat-ayat tertentu saja, bardasarkan jenis fokos tafsiran. Ini yang kemudian memunculkan aliran tafsir Al-Quran seperti tafsir Lughawi, tafsir Isy’ari, tafsir Ilmi, tafsir Fiqih, dan tafsir Falsafi.[18]

Seorang Mufassir yang akan menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an harus memenuhi syarat-syarat. Para ulama menyebutkan beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang hendak menafsirkan Al-Qur’an, diantaranya; mempunyai akidah yang lurus, bersih dari hawa nafsu dan memiliki ilmu tafsir.[19] Hasby Ash-Shiddieqy merangkum ilmu-ilmu yang harus dimiliki sebagai syarat menafsirkan Al-qur’an yaitu: ilmu Lughat al-Arabiyah, ilmu ma’ani, bayan, badi’, ilmu kalam, ilmu qira’at, memahami undang-undang bahasa Arab, dapat menentukan yang mubham, mengetahui ijmal, tabyin, umum, khusus, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan dan yang sepertinya.[20] Semakin luas ilmu yang dimiliki oleh penafsir, maka semakin tinggi pula kualitas kwalitas tafsiran-tafsirannya.

C. Eksklusifisme Surat Al-Baqarah Ayat 120[21]

Materi yang diketengahkan Ahmad Baso dalam buku “Islam Pribumi” salah satunya mengangkat tema Islam sebagai rachmat bagi seluruh alam. Sebagaimana Al-Qur’an mengatakan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء :107)

Artinya: “Dan tidaklah kamu mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai rachmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Pria kelahiran Ujung Pandang, 14 November 1971 dan alumni Pesantren An-Nahdhah Makasar yang kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya di LIPIA Jakarta ini mengemukakan pendapatnya bahwa Al-Qur’an merupakan media transformasi sosial. Untuk mencapai tujuan ini, Al-Qur’an dituntut mampu mendukung prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal, meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara plular, mandiri dan bebas.

Menurutnya, dalam konteks kehidupan sosial saat ini, manusia berhadapan dengan isu keadilan, transformasi sosial, kesetaraan jender, plularisme, humanisme, hak asasi manusia, dan demokrasi. Ayat-ayat yang relevan untuk mengangkat isu-isu tersebut adalah ayat-ayat yang turun di Mekah atau yang sering disebut dengan istilah ayat-ayat Makiyyah. Karena ayat inilah yang ia katakan sangat sesuai dengan persoalan-persoalan kemanusiaan secara universal. Sementara ayat-ayat Madaniyyah itu bersifat parsial dan tidak berlaku secara umum.

Ayat-ayat yang diwahyukan di Madinah adalah ayat-ayat yang mendukung proses-proses politik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan inilah kondisi yang kemudian melatarbelakangi munculnya ayat yang bersifat eksklusifisme dalam bentuk permulaan dengan pengkhususan bagi orang-orang yang beriman (ya ayyuhalladzina amanu). Termasuk Salah satunya adalah ayat yang memiliki kandungan apriori terhadap pihak lain, seperti surat Al-Baqarah ayat 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ (البقرة :120)

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepadamu, sampai kamu mengikuti millah mereka”(QS. Al-Baqarah: 120)

Padahal di Mekkah tidak pernah terjadi seperti itu, bahkan orang-orang non muslim pun masih tatap dido’akan oleh Nabi untuk selamat, tanpa harus masuk Islam. Ia mencontohkan seperti paman Nabi yang bernama Abu Thalib. Beberapa kali Nabi membujuk pamannya itu untuk masuk Islam, tetapi sang paman tidak mengucapkan satu katapun untuk masuk Islam. Meskipun demikian, Nabi tetap mendo’akan dan membebaskan pamannya, walaupun bukan orang Islam.

Menurutnya bahwa surat al-Baqarah ayat 20 ini haruslah diberikan penafsiran yang situasional dan kondisional, yaitu situasi dan kondisi dimana ayat tersebut diturunkan. Masih dalam buku yang sama dalam tema yang berbeda, Marzuki wahid sependapat dengannya, ia mengatakan bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat hanya dengan cara tekstual. Hukum Islam itu terkait dengan ruang dan waktu dan karenanya tidak mengikat sebagaimana bunyinya. Menurutnya kita harus meninggalkan cara berfikir yang tekstual, skriptual dan kaku dalam melihat sebuah teks. Sebaliknya, kita harus melihat makna substansi yang ada di balik teks itu sendiri.

Seperti dikemukakan Ats-Tsa’labi dari Ibnu Abbas, kronologis turunnya ayat tersebut berkaitan dengan perubahan arah kiblat. Ketika Allah memerintahkan untuk membelokkan arah kiblat ke Masjidil Haram, Kaum Yahudi Madinah dan kaum Nasrani Najran merasa keberatan, kemudian menghadap agar nabi Muhammad SAW. tetap shalat menghadap kiblat mereka. Mereka berkomplot dan berusaha supaya Nabi Muhammad SAW. menyetujui kiblat sesuai dengan agama mereka. Maka turunlah ayat tersebut (QS. Al-Baqarah: 120), yang mengaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada Nabi Muhammad walaupun keinginannya dikabulkan.[22]

Selanjutnya Ahmad Baso memperkuat pendapatnya dengan mengutip seorang pemikir asal Sudan, Mahmud Muhammad Thaha yang mengangkat tesis tentang studi Qur’an. Thaha memiliki pandangan; selama ini orang menganggap apa yang ada di dalam realitas itu harus mengikuti Al-Qur’an, dan kalau tidak mengikuti Al-Qur’an dianggap sebagai kafir, murtad dan syirik. Maka dengan mengedepankan ayat-ayat Makiyyah inilah sebagai jawaban bagi visi pembebasan manusia. Sebab ayat-ayat yang turun di Mekah itu berorientasi kepada prinsip kemanusiaan yang universal, seperti ayat ya ayyuhannasu” (wahai manusia). Sementara ayat-ayat yang turun di Madinah sudah mengerucut lebih eksklusif, menjadi “ya ayyuha al-ladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman).

Dengan perbedaan dan pemilahan ini, menurutnya Islam akan mampu menggerakkan perubahan sosial. Dan dengan ini pula agama bukan sekedar milik para penguasa yang selalu menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan kekuasaannya. Tetapi Islam adalah milik masyarakat. Oleh karena itu Islam bisa mengajukan gugatan, kontrol dan juga perlawanan terhadap Negara yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip yang universal itu.

Ahmad Baso mengungkapkan bahwa kasus Thaha ini bukan teori semata. Tesisnya berdasarkan fakta pada saat itu. Dimana Sudan merupakan Negara yang waktu itu pemimpinnya menggunakan simbol-simbol Islam untuk berkuasa. Tampuk kepemimpinan yang dipimpin Hasan Turabi sangat kentara menggunakan Islam sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan, bahkan untuk melakukan kudeta atas nama Islam dan berkoalisi dengan militer. Hal ini dikritik oleh Thaha, bahwa sebenarnya mereka bukanlah representasi dari Islam, mereka menggunakan Islam sebagai alat politik. Sedangkan Islam diturunkan bukan untuk kepentingan itu, tetapi untuk kepentingan manusia secara universal. Oleh karena itu, dalam rangka ini dia melakukan gugatan terhadap pemimpin yang korup, yang hanya menggunakan simbl-simbol Islam. Caranya dengan mengangkat ayat-ayat makiyyah, yaitu ayat-ayat yang sesuai dengan persoalan-persoalan kemanusiaan secara menyeluruh. Sebagai contoh dalam surat Adz-Dzariyat ayat 19:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (الدريات :19)

Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian”. (QS. Adz-Dzariyat: 19)

.

Ayat ini diturunkan pada periode Mekah. Disebutkan di dalamya bagaimana orang-orang miskin diberdayakan. Begitu juga dengan ayat yang pendek dalam surat ‘Abasa ayat 1:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (عبس :1)

Artinya: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling” (QS. ‘Abasa: 1)

Hal ini merupakan teguran kepada Nabi Muhammad agar jangan sekedar memalingkan mukanya kepada kalangan elit lantas melupakan kepentingan masyarakat, yang sebenarnya tidak begitu dominan dalam masyarakat, seperti orang miskin dan orang buta yang notabene adalah orang yang terlantar. Ayat-ayat seperti ini menunjukkan adanya perhatian yang besar terhadap posisi kalangan yang selama ini dianggap marginal. Seperti budak dan orang miskin. Sebagai contoh adalah sahabat Bilal, pada mulanya dia hanyalah seorang budak hitam, tetapi setelah bertemu dengan Nabi dia mendapat derajat khusus yaitu sebagai sahabat. Nabi sendiri memberdayakan Bilal dan membuatnya setara dengan aristokrat Quraisy.

Persoalannya lain ketika Nabi Hijrah ke Madinah dan membentuk Negara sendiri. Ahmad Baso mengatakan bahwa visi pembebasan terhadap kaum marginal seperti terjadi pada periode Mekah mulai terkikis oleh dominasi keinginan untuk menguasai Negara. Nabi Muhammad waktu di Madinah sudah menjadi kepala negara, pemimpin umat. Dengan demikian, praktis yang diberdayakan bukan lagi kalangan tertindas, tetapi orang-orang kaya. Menurutnya, ada satu kasus ketika Nabi Muhammad melakukan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Di situ Nabi melakukan persaudaraan antara kaum Muhajirin yang punya afiliasi dengan suku besar, seperti Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, Utsman dan Umar. Merekalah yang kemudian mendapat fasilitas, ada rumah dari kaum Anshar, diberikan tanah, bahkan isteri. Akan tetapi kalangan orang-orang miskin, yang tidak memiliki afiliasi dengan suku-suku besar, seperti Abu Dzar al-Giffari, Amr bin Yasir, dan Bilal, tidak mendapat apapun dari konteks persaudaraan. Mereka justeru ditaruh di emperan Masjid menjadi Ahl al-Suffah.

Endingnya, ayat-ayat makiyyahlah yang relevan dengan kehidupan sosial dimasa sekarang. Karena ayat-ayat tersebut memiliki kandungan yang universal dalam rangka membebaskan jati diri kemanusiaan saat ini yang juga bersifat universal dan prular.

D. Analisis Fakta Kebencian Yahudi Dan Nasrani Dalam Perspektif Mufassirin.

Menaggapi tulisan Ahmad baso, sangat tepat jika Islam dikatakan sebagai agama yang diturunkan dengan misi rachmatan lil’alamin. Artinya, keberadaan Islam akan selalu sesuai dengan situasi dan kondisi, di manapun dan sampai kapanpun (li kulli makan wa az-zaman). Dengan demikian, kehadirannya mustahil menimbulkan konflik dalam berbagai hal. Baik politik, ekonomi maupun sosial. Islam menjadi ajaran yang mampu menjawab problem-problem nyata kemanusiaan secara universal tanpa melihat perbedaan agama dan etnik. Islam adalah untuk manusia, demi kemaslahatan mereka. Oleh karena itu Islam mesti dekat dengan permasalahan keseharian mereka. Islam tidak hanya berbicara alam ghaib dan peribadatan, tetapi juga akrab dengan perjuangan melawan penindasan, kemiskinan, keterbelakangan, anarki sosial dan sebagainya.

Adapun apabila terjadi konflik dan berbagai permasalahan yang berkepanjangan dalam kehidupan sosial misalnya, yang ini terjadi ditengah-tengah masyarakat dengan melibatkan umat Islam. Penulis tidak setuju kalau kemudian yang dilakukan adalah relatifitas penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tujuan kemaslahatan yang berdasarkan kemuan dan pikirannya sendiri. Karena boleh jadi hal tersebut tidak sesuai dengan maqasid yang dikehendaki oleh Allah SWT. Sehingga terjadilah penafsiran suatu ayat yang dibuat sedemikian rupa sehingga berubah dari aturan penafsiran yang sesungguhnya.

Sebagai contoh, terjadinya peristiwa WTC 11 September 2001 lalu, menyusul kemudian serangan AS atas Afghanistan dan Irak. Proyek besar-besaran AS untuk menjadikan agenda ‘perang melawan terorisme’ sebagai agenda utama dalam politik internasional, terbukti kemudian lebih diarahkan untuk mengejar apa yang mereka sebut sebagai “teroris Islam” yang mereka nilai membahayakan kepentingan Barat, dan AS khususnya. Perkembangan politik internasional kemudian seperti bergerak menuju ‘tesis’ benturan. Dunia diseret untuk terbelah menjadi dua kutub utama: Barat dan Islam. Barat dicitrakan sebagai pemburu teroris, sedangkan Islam adalah teroris atau yang pro-teroris.

Dari sini kemudian berkembang bahwa ‘ancaman Islam’ bukan hanya secara fisik tapi juga dari segi pemikiran dan budaya, sehingga gejala paranoid terhadap Islam dan kaum Muslim, tampak dalam berbagai kebijakan negara-negara Barat. Sikap Islamofobia merebak dengan mudah di kalangan masyarakat Barat. Pasca peristiwa 11 September 2001, gejala ini makin menjadi-jadi. Masalahnya bukanlah terletak pada aspek kajian ilmiah yang fair dan adil, tetapi kajian dan analisis yang memunculkan ‘Islam militan sebagai musuh utama Barat, dimanfaatkan untuk memberikan legitimasi berbagai kebijakan politik dan militer AS dan negara-negara Barat lainnya, yang ujungnya adalah mengejar kepentingan-kepentingan (interests) politik, ekonomi, dan sebagainya, dengan menggunakan jargon-jargon demokrasi, liberalisasi, dan Hak Asasi Manusia.

Seperti dikutip Adian Husaini[23] Huntington memaparkan data kuantitatif tentang banyaknya konflik yang melibatkan umat Islam, memang sebuah fakta. Tetapi, Huntington tidak menyebut, mengapa kaum Muslim itu terlibat konflik, dan darah siapakah yang banyak tertumpah? Darah kaum Muslimkah atau justru kaum Muslim yang banyak menjadi korban pembantaian di mana-mana? Analisis model Huntington semacam ini yang tidak menonjolkan peran Barat sebagai akar dan sebab dari berbagai konflik di dunia internasional muncul karena posisi Huntington sebagai penasehat politik luar negeri AS dan menujukan analisisnya sebagai bahan pengambilan kebijakan politik luar negeri negara adidaya itu. Dalam dialog dengan Anthony Giddens tersebut, Huntington menyebut data dari Majalah The Economist, yang memaparkan, bahwa dari 32 konflik besar yang terjadi pada tahun 2000, lebih dari dua pertiganya adalah konflik antara Muslim dengan non-Muslims. Karena itu, kata Huntington, Eropa dan Amerika perlu menerapkan strategi bersama untuk menghadapi ancaman-ancaman terhadap masyarakat dan keamanan mereka dari militan Islam. (Hence it seems to me a high priority for Europe and America is to recognize what they have in common and to try to work out a common strategy for dealing with the threats to their society and security from militant Islam). Ia menekankan perlunya dilakukan preemptive-strike (serangan dini) terhadap ancaman dari kaum militan Islam itu. Kata Huntington: “Saya perlu menambahkan bahwa satu strategi yang memungkinkan dilakukannya serangan dini terhadap ancaman serius dan mendesak adalah sangat penting bagi AS dan kekuatan-kekuatan Barat pada saat ini. Musuh kita yang utama adalah Islam militan. (I would add that a strategy which allows for preemptive war against urgent, immediate and serious threats is absolutely essential for the US and other Western powers in this period. Our enemies-primarily the militant Islam).

Perubahan peta peradaban dan perkembangan zaman ini tidaklah harus diikuti dengan merubah interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an menjadi lebih humanis dan disesuaikan dengan tuntutan demokrasi serta Hak Asasi Manusia (HAM). Apalagi dengan mendeskreditkan salah satu ayat dengan menganggapnya tidak sesuai lagi dengan realitas. Kasus ayat 20 surat al-Baqarah dan ayat-ayat madaniyah lainnya yang dianggap Ahmad Baso dan beberapa tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai ayat pendukung proses politik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan sifatnya terlalu eksklusif, tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran para ulama salaf maupun kahalaf.

Haji Abdulmalik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA, dalam karya besarnya tafsir “Al-Azhar”, beliau tidak hanya menginterpretasikan ketidakridoan Yahudi dan Nasrani kepada Rasulullah terbatas pada perubahan arah kiblat saja sebagaimana asbab an-nuzulnya ayat tersebut, melainkan pada aspek-aspek teologis yang sangat mendasar. Fakta sejarah menyebutkan, sebelum Rosulullah SAW. diutus di kalangan bangsa Arab, seluruh bangsa Arab saat itu dipandang ummiy atau orang-orang bodoh, tidak beragama dan penyembah berhala. Kecerdasannya dianggap rendah. Sedangkan orang Yahudi dan Nasrani yang berdiam di sekitar bangsa Arab itu memandang bahwa orang Arab itu barulah bisa dikatakan tinggi kecerdasannya, kalau mereka mau memeluk agama Yahudi atau agama Nasrani. Kemudian datanglah Nabi saw. dengan membawa ajaran Allah dengan mencegah penyembahan terhadap berhala dan percaya kepada kitab-kitab serta Rasul-rasul terdahulu, baik Musa, Harun atau Isa Al-Masih. Akan tetapi Nabi SAW tidak menyebut-nyabut agama Yahudi atau Nasrani, sebaliknya menunjukkan cacat-cacat yang ada pada kedua agama tersebut. Maka secara otomatis mereka menjadi marah. Mereka menginginkan Nabi Muhammad juga ikut mempropagandakan agama mereka. Yahudi menghendaki Nabi SAW. menjadi Yahudi, begitu juga dengan Nasrani.[24]

Yahudi mengajarkan bahwa bangsa yang paling pilihan di dunia ini, tidak lain kecuali Bani Isra’il. Bangsa lain adalah rendah belaka. Ini tidak sesuai dengan hakikat ilmu. Hakikat ilmu adalah bahwa manusia adalah keturunan Adam, dan Adam dari tanah. Perbedaan warna kulit atau darah keturunan bukan melebihkan yang satu dari yang lain. Yang mulia di sisi Allah hanyalah atas dasar ketakwaan kepadaNya. Nasrani mengajarkan bahwa manusia itu berdosa waris, karena dosa Adam. Beribu-ribu tahun Allah bingung diantara sifat kasihNya dengan sifat keadilanNya. Akhirnya ia mengambil keputusan, yaitu menjelma sendiri ke dalam alam ini, masuk ke dalam rahimnya seorang anak-dara yang suci, lalu menjelma menjadi Isa Almasih, yang disebutnya sebagai anaknya. Artinya dia sendiri menjadi Anak. Lalu dia mati diatas kayu palang untuk menebus dosa manusia itu. Dan yang mati itu adalah Bapa itu sendiri.[25]

Ajaran itu tidaklah berdasar ilmu, ini juga diawab masih pada ayat yang sama sebagai ahwa-ahum, angan-angan yang tidak ada dasarnya. Kalau diturutkan niscaya akan menimbulkan keraguan bahkan kemusyrikan. Di dalam ayat ini di tujukan kepada Nabi Muhammad saw. supaya kemauan mereka itu jangan dituruti, sebab kalau dituruti, terlepaslah beliau dari ilmu yang diberian langsung dari Allah. Sudah terang bahwa mmaksud sebenarnya dari ayat ini juga berlaku bagi kaum Muslimin secara umum, umat Muhammad saw. jangan sampai diombang-ambingkan oleh kemauan manusia, sehingga petunjuk dari Allah ditinggalkan. Segala macam yang menyeleweng dari tauhid bukanlah petunjuk. Petunjuk sejati hanyalah dari Allah. Dan dengan ayat ini umat Islam diperingatkan, bahwa lan tardho, sekali-kali tidak akan ridha Yahudi dan Nasrani sebelum kita mengikuti agama mereka. Menurut lughat, huruf lan itu berarti nafyin wa istiqbalin, yaitu mereka tidak akan ridha untuk selama-lamanya.[26]

Tidak jauh dengan penafsiran HAMKA, Sayyid Quthb dalam “Tafsir Fi Dzilalil Qur’an” memposisikan konflik Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam sebagai problematika abadi yang dapat disaksikan dalam semua masa dan tempat, yaitu problem akidah. Inilah hakikat peperangan yang dilancarkan mereka terhadap Jam’iyyatul Muslimin pada setiap saat dan tempat. Yaitu perang akidah yang terjadi antara pasukan Islam dan dua pasukan yang diantara mereka juga terjadi pertengkaran dan perselisihan, tetapi bersama-sama memerangi Islam dan kaum Muslimin.[27]

Perang akidah adalah perang yang hakiki dan mendasar. Kedua golongan yang sangat sengit memusuhi Islam itu memoles dan memodifikasi dengan berbagai polesan, dan untuk itu mereka kibarkan berbagai macam bendera, sebagai taktik maker dan tipu daya. Mereka menguji semangat kaum Muslimin terhadap agamanya dan akidahnya, ketika mereka menghadapi kaum muslimin yang bernaung dibawah panji-panji aqidah. Oleh karena itu terjadilah perseteruan yang hebat diantara mereka. Kemudian orang-orang Yahudi dan Nasrani ini mengubah bendera perangnya dengan tidak lagi atas nama akidah karena takut terhadap semangatnya kaum Muslimin di dalam mempertahankan akidah dan kepercayaannya. Mereka mengumumkan peperangan itu atas nama tanah air, ekonomi, polotik, militer dan sebagainya. Mereka kembangkan dikalangan orang-orang yang tertipu dan lengah diantara kita bahwa cerita perang karena akidah itu merupakan cerita kuno yang tidak berarti lagi, tidak boleh dikibarkan panji-panjinya, dan tidak boleh dilakukan peperangan atas namanya, karena yang demikian itu pertanda kemunduran dan kepanatikan.[28]

Demikianlah yang mereka lakukan, agar mereka merasa aman terhadap gelora dan semangat membela akidah. Sementara semangat yang bergelora di dalam jiwa mereka adalah Zionisme Internasional dan Sibilisme Internasional ditambah Komunisme Internasional. Yang semuanya terjun ke dalam kancah peperangan sejak awal untuk menghancurkan “batu besar yang keras” (akidah) yang sudah mereka pahat sejak lama, sehingga mereka dapat menghancurkannya secara total. Serangan itu adalah serangan akidah, bukan perang karena wilayah teritorial, bukan karena ekonomi, bukan karena persoalan militer, dan bukan pula perang dengan bendera-bendera palsu lainnya. Mereka memalsukannya karena tujuan yang tersembunyi di dalam jiwa mereka, untuk menipu kaum Muslimin dari peperangan yang sebenarnya. Apabila umat Islam tertipu oleh tipu daya mereka, maka janganlah menyesali kecuali terhadap diri sendiri. Karena mereka telah lengah dan menjauh dari rambu-rambu yang peringatan Allah melalui rasul-Nya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah: 120).[29]

M. Quraish Shihab mengemukakan pendapat yang sedikit berbeda dengan pemahaman dua Mufassir diatas, menurutnya ayat ini memang bisa juga dipahami sebagai bukti bahwa semua orang Yahudi dan Nasrani tidak rela kecuali jika kaum muslimin mengikuti agama mereka. Akan tetapi pemahaman semacam itu tidak sejalan dengan redaksi dan hubungan ayat, tidak juga dengan makna yang dikemukakan oleh mayoritas ulama-ulama tafsir masa lalu seperti Fakhruddin Ar-Razi, juga tafsir yang sangat popular dan sederhana Al-Jalalain dan ulama tafsir masa kini seperti Tohir Ibnu Asyur dalam tafsirnya, At-Tahrir, serta Muhammad Sayyid Thanthawi, mantan Mufti Mesir yang kini adalah Syekh Al-Azhar. Bahkan ulama kontemporer ini menulis bahwa, kata “hingga engkau mengikuti agama mereka” adalah kinayah, yakni tidak menyebutkan secara tegas apa yang dimaksud, tetapi menyebut sesuatu yang lain yang dapat mengantar kepada apa yang dimaksud. Redaksi ini menggambarkan keputusasaan menyangkut kemungkinan Ahl al-Kitab memeluk agama Islam. Jadi sekali lagi, ayat ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa Ahl al-kitab berusaha untuk mengkristenkan umat Islam, apalagi meyahudikannya karena agama yahudi bukan agama misi. Bahwa ada yang berusaha untuk maksud tersebut, tentu saja tidak dapat disangkal, namun bukanlah ayat ini yang berbicara tentang bab tersebut.[30]

Penafsiran suatu ayat haruslah dikaitkan dengan ayat-ayat sebelum atau sesudahnya. Sebagaimana ayat 20 surat Al-Baqarah ini yang sebelumnya memiliki kandungan menghilangkan kerisauan Nabi saw. Disebabkan oleh keengganan orang-orang Yahudi untuk beriman kepada beliau, bahwa beliau tidak akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan keengganan itu. Pada ayat ini, keengganan orang-orang Yahudi dan Nasrani – Walau bukan semuannya – untuk mengikuti ajakan nabi Muhammad saw. lebih dipertegas lagi. Atau, ayat yang lalu menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw. diutus untuk menyampaikan berita gembira dan memperingatkan kepada semua pihak, dan karena semestinya yang diberi berita gembira atau diberi peringatan akan menyambut dengan baik siapa yang menyampaikan kepadanya, maka melalui ayat ini Allah menyampaikan bahwa tidak semua akan senang dan gembira. Orang-orang beriman akan sangat rela dan senang dengan berita gembira dan peringatanmu dan sebagian orang-orang yang beragama Yahudi dan beragama Nasrani tidak akan rela kepadamu wahai Muhammad sepanjang masa hingga engkau hanya memberi berita gembira kepada mereka dan ajaran yang mereka anut, dan ini tidak akan terjadi kecuali jika engkau mengikuti agama mereka serta menyetujui perubahan petunjuk-petunjuk ilahi yang mereka lakukan.[31]

Disisi lain karena ayat ini menggunakan redaksi yang menunjukkan kepastian yang berlanjut terus menerus, tidak akan rela kepadamu (sepanjang masa), sedang terbukti kemudian bahwa ada dari bani Isra’il yang memeluk agama Islam, maka dengan demikian, yang dimaksud dengan orang Yahudi dan Nasrani oleh ayat ini adalah orang-orang tertentu diantara mereka, bukan semua Ahl al-Kitab. Sedangkan makna sepanjang masa dipahami dari kata ( لن ) lan yang digunakan ayat diatas.[32]

Perlu juga digaris bawahi disini, bahwa redaksi pernyataan, tidak akan rela. Ketika menggambarkan sikap orang Yahudi, ayat diatas menggunakan kata lan yang berarti tidak akan untuk selama-lamanya, sedang ketidakrelaan orang-orang Nasrani digambarkan dengan kata ( لا ) la, yang berarti menafikan, tetapi tidak mengandung makna selama-lamanya perbedaan keduannya jelas sekali. Seandainya akan dipersamakan, maka ayat diatas dapat berbunyi “tidak akan rela atau tidak rela orang Yahudi dan Nasrani”. Sebagian ulama berpendapat bahwa pembedaan itu dimaksudkan untuk menunjukkan kemandirian sekaligus perbeadaan masing-masing dari dua kelompok bani Isra’il atau Ahl al-Kitab itu, jika yang ini rela, yang itu tidak rela. Maka perbedaannya bukan hanya sampai disitu. Ayat ini juga menunjukkan bahwa ada perbedaan antara Yahudi dan Nasrani dalam sikap mereka terhadap Nabi Muhammad saw. dan ajaran beliau.[33]

Untuk menjelaskan hal itu perlu terlebih dahulu diketahui Al-Quran dalam ayat itu tidak menggunakan kata ( يهود ) Yahud/Yahudi kecuali dalam konteks kecaman terhadap sekelompok tertentu dari Bani Ira’il. ini berbeda dengan penggunaan Al-Quran untuk kata ( نصارى ) Nashara/Nasrani. Kata ini antara lain digunakan juga menunjuk pada sekelompok Bani Isra’il pengikut Nabi Isa as. Yang bersikap bersahabat terhadap orang-orang Islam (baca QS. Al-Ma’idah [5] : 82). Oleh karena Al-Quran tidak menggunakan kata Yahudi kecuali terhadap kelompok Bani Isra’il yang memusuhi umat Islam, maka wajar jika ayat diatas menggunakan redaksi yang menginformasikan bahwa mereka tidak akan rela untuk selama-lamanya terhadap Nabi Muhammad saw., adapun kaum Nasrani keadaan mereka tidak demikian. Dari sini, kata nashara pada ayat diatas tidak menafikan kerelaan mereka untuk selama-lamanya. Quraish Shihab memberikan catatan bahwa ayat-ayat diatas berbicara tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hidup pada masa Rasul SAW. Keadaan mereka sesudahnya tidak harus sama dengan masa ini. Hal ini, Insya Allah akan diuraikan dalam ayat-ayat lain yang berbicara tentang bani Isra’il.[34]

Walaupun sedikit ada perbedaan penafsiran, akan tetapi pada hakikatnya Quraish Shihab juga sepakat bahwa pada dasarnya sikap Yahudi dan Nasrani tetap bersikeras menentang ajaran Nabi Muhammad saw. sebagaimana ayat diatas menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak akan meninggalkan agamanya walaupun Nabi Muhammad saw. mengajak mereka sekuat tenaga. Karena, bagaimana mungkin mereka akan meninggalkan agama mereka, padahal mereka tidak rela kecuali jika Nabi Muhammad saw. mengikuti mereka, sedangkan bagi Nabi Muhammad, mengikuti agama mereka adalah sesuatu yang mustahil. Jika demikian, mustahil mereka mengkuti agama Muhammad. Demikianlah maksud dari firman Allah ayat 120 ini.[35]

Lain halnya dengan fakta yang dipaparkan HAMKA, yang menurutnya sejarah telah mencatat bukti ketidaksukaan Yahudi maupun Nasrani dari masa ke masa. Dengan realita maraknya kegiatan pengkristenan (kristenisasi) yang begitu hebat sejak Perang Salib Pertama sejak tahun 900 tahun silam, sampai kepada ekspansi penjajahan sejak 300 tahun yang telah lalu, sampai pula kepada usaha zening-zending dan misi protestan dan katholik ke negeri-negeri Islam dengan membelanjakan jutaan dolar untuk mengkristenkan pemeluk agama Islam. Semuanya ini adalah isyarat yang telah diberikan oleh ayat ini yang jelas-jelas ditemui dalam perjalanan sejak Islam bangkit dan tersebar di muka bumi ini sampai sekarang, bahwasannya mereka belum ridha dan belum bersenang hati, sebelum umat Muhammad mengikuti agama mereka.[36]

Pekerjaan Yahudi dan Nasrani itu berhasil pada Negeri-negeri yang orang Islamnya hanya pada nama, tetapi tidak mengerti asli pelajarannya. Kadang-kadang- prinsip mereka menjadikan orang Islam tetap memeluk agamanya secara lahir, akan tetapi batin mereka telah ditukar dengan Kristen. Berbeda dengan kaum Yahudi yang tidak mengadakan zending dan misi. Pemeluk agama Yahudi lebih suka agamanya hanya beredar di sekitar Bani Israil saja, sebab mereka memandang wahwa mereka memiliki darah yang istimewa. Tetapi mereka memasukkan pengaruh ajaran mereka dari segi yang lain.[37]

Bukan saja di dunia Islam, bahkan pada dunia Kristen merekapun mencoba memasukkan pengaruh, sehingga merekalah yang berkuasa. Kitab Perjanjian Lama yang menjadi pegangan mereka, tidak ada pengajaran tentang Hari Akherat. Agama orang Yahudi itu lebih banyak mengedepankan perhatian kepada urusan dunia, kepada harta dunia. Kehidupan Riba adalah ajaran orang Yahudi. Amerika Serikat yang begitu besar pengaruhnya, terpaksa menutup kantornya dua hari dalam seminggu. Bukan saja Hari Minggu sebagai hari besarnya umat Kristiani, tetapi hari sabtu juga tutup. Sebab yang memegang keuangan di Wallstreet (New York) adalah Bangkir-bangkir Yahudi. Sebab segala sesuatu yang menyangkut kelancaran ekonomi dikendalikan tangan Yahudi. Bukan hanya di Amerika, juga dinegeri-negeri yang lainnya.[38]

Gerakan Vrijmetselar, gerakan Masonia, dan beberapa gerakan Internasional yang lain, tampuknya di tangan Yahudi. Dunia Islam tidak perlu masuk agama mereka, asalkan mengikuti pengaruh mereka. Negeri-negeri Islam yang besar terpaksa mendirikan Bank-bank, menjalankan niaga dan ekonomi berdasarkan kepada riba, baik riba yang berskala besar maupun kecil. Dan terpaksa memperlicin hukum riba supaya bernafas untuk hidup, tidak dapat mencari jalan lain, sebab seluruh dunia telah di cengkram oleh ajaran Yahudi. Sedikit orang yang berpencar-pencar di seluruh dunia dapat mendirikan sebuah Negara Yahudi, mereka diberi nama Isra’il, di tengah-tengah negeri Arab, dengan dibantu oleh Amerika dan Inggris, bahkan mendapat pengakuan pertama dari Rusia Komunis.[39]

Semuanya ini yang diisyaratkan oleh surat Al-Baqarah ayat 20, bahwasannya orang Yahudi dan Nasrani belum merasa puas hati, sebelum penganut ajaran Muhammad mengikuti agama mereka. Ini bukanlah ancaman yang menimbulkan takut, tetapi sebagai perangsang supaya kaum Muslimin terus berjihad menegakkan agamanya, dan melancarkan dakwahnya. Karena selama kaum Muslimin berpegang teguh kepada ajaran agama yang dipeluknya dengan penuh kesadaran, tidaklah keyakinan mereka akan runtuh dengan pengaruh kedua agama tersebut. Sebab ayat telah menegaskan, bahwa petunjuk sejati hanyalah petunjuk Allah SWT.[40]

Untuk itulah pada ayat selanjutnya Allah memberikan tuntunan kepada rosulnya: “katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah dia yang petunjuk (yang sesungguhnya)(QS. AL-Baqarah:120)”. Dengan inilah keinginan mereka agar Rosul mengikuti agama mereka telah dijawab. Bahwasannya yang menjadi pedoman dalam hidup, dan yang diserukan oleh Nabi Muhammad saw. kepada seluruh umat manusia adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allahlah yang sebenar-benarnya petunjuk. Adapun petunjuk manusia, khayal dan teori manusia bukanlah petunjuk. Dengan ini secara otomatis memberikan penilaian terhadap Yahudi dan Nasrani, keduanya bukanlah merupakan petunjuk Allah. Tuhan telah mengutus Musa, Harun dan juga Isa Al-Masih, dan kemudian disambung dan disempurnakan dengan Nabi Muhammad saw. Segala sesuatu yang menjadi anutan Yahudi dan Nasrani sekarang ini bukanlah berdasar kepada petunjuk Allah yang sejati atau karena telah tercampuri oleh tangan-tangan manusia. Dengan inipun lebih jelas, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah datang memabawa petunjuk Allah. Kalau Yahudi dan Nasrani masih berpegang kepada petunjuk Allah yang asli, bahwa nabi-nabi yang diutus kepada mereka, dengan sendirinya akan timbulah persesuaian.[41]

Dan firman Allah selanjutnya: “Dan jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu”. Dengan lanjutan ayat ini telah diingatkan Allah mengenai kemauan-kemauan meraka, yang ditulis ah’wa ahum. Dari kalimat hawa atau hawanafsu, atau sentimen yang sama sekali tidak ada dasar kebenarannya. Sebagian dari hawa nafsu itu sebagaimana mereka senantiasa berikeras dengan menganggap hanya Yahudi dan Nasranilah yang benar. Yahudi merasa bahwa segala anjuran dari pihak lain, walaupun benar, kalau tidak timbul dari orang yang berdarah Isra’il adalah tidak sah. Sebab meraka adalah “kaum yang telah dipilih dan distimewakan tuhan”. Yahudi dan Nasrani telah memandang bahwa masing-masing mereka telah menjadi golongan yang istimewa, lantaran yang demikian, maka tidak lagi menilai kebenaran dan menguji faham yang mereka anut. Maka kalau kemauan atau hawa nafsunya mereka ini diperturutkan: “Sesudah datang kepadamu pengetahuan”, yaitu wahyu yang telah diturunkan Allah kepada Rosul saw. bahwa tidak ada tuhan yang sebenarnya patut disembah selain Allah, dan Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakakkan, dan dasar-dasar pokok tauhid yang lainnya, yang jadi pegangan dan pondasi teguh ajaran seluruh Nabi dan Rasul. Maka kalau kemauan dan kehendak kedua pemeluk agama itu diperturutkan, sedang engkau telah diberi ilmu tentang hakikat yang sebenarnya, “Tidaklah ada bagimu selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong” (QS. Al-Baqarah:120).[42]

Pokok ilmu telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan pokok ilmu itu pegangan sejati untuk seluruh Rasul sejak Nuh sampai Nabi-nabi yang datang setelah Nuh sebagaimana disebutkan dalam surat As-Syu’ara ayat 13. Allah satu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan itulah hakikat agama, dan satu itulah pegangan bersama sekalian Nabi, tidak boleh berpecah belah padanya. Apabila menyeleweng sedikit saja dari ketentuan itu, tersesatlah dari jalan yang benar dan segala pegangan tidak lagi berdasar ilmu. Dan segala pegangan di luar dari itu, sudah tegas tidak lagi datang dari Allah, maka tidaklah ada lagi jamianan dari Allah bahwa Dia akan melindunginya dan tidak pula mendapatkan pertolongan daripada-Nya.[43]

Inilah satu-satunya harga mahal yang hendak mereka rebut (akidah), sedangkan yang lain pasti ditolak. Akan tetapi urusan yang pasti dan pengarahan yang benar adalah sebagaimana keterangan selanjutnya yang masih dalam satu ayat itu: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.Sebuah kalimat yang singkat dan padat, ini mengandung arti selain petunjuk Allah bukanlah petunjuk. Maka, petunjuk-Nya tidak untuk dijauhi, tidak boleh ditinggalkan, tidak dapat direkayasa, tidak boleh ditawar-tawar, sedikit atau banyak. Dan berhati-hatilah jangan sampai karena keinginanmu agar mereka mendapat petunjuk dan beriman, atau karena persahabatanmu dan kecintaanmu kepada mereka menjadikan kamu menyimpang dari jalan yang lurus.[44]

Sikap yang paling tepat menghadapi mereka (yahudi dan Nasrani) adalah sebagaimana tutunan ayat yang menyatakan: “Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar”. Petunjuk Allah hanya satu. Ini dipahami dari penggunaan bentuk tunggal ( هو ) huwa dan pada kata ( هد ى الله ) huda Allah / petunjuk Allah, ini berarti bahwa petunjuk itulah satu-satunya petunjuk yang sempurna. Tidak ada petunjuk yang benar, kecuali yang bersumber dari Allah serta nilai-nilai ajaran-Nya. Ayat ini juga mengingatkan kaum Muslimin bahwa orang Yahudi dan Nasrani yang di maksud di atas, bukan hanya mempertahankan keyakianan mereka yang sesat, bahkan mereka juga akan berusaha agar Nabi Muhammad mengikuti keinginan-keinginan yang dilahirkan oleh hawa nafsu mereka. Jika beliau mengikuti kemauan-kemauan hawa nafsu mereka, setelah pengetahuan datang kepada beliau, maka Allah tidak lagi akan menjadi pelindung dan penolong baginya. Keinginan mereka itu banyak dan bermacam-macam, sebagaimana dipahami dari penggunaan kata ( أهواء ) ahwa’, yang menggunakan bentuk jamak (plular). [45]

Redaksi ayat diatas tertuju kepada Nabi Muhammad saw. Manusia paling bertakwapun diupayakan oleh orang Yahudi dan Nasrani itu untuk disesatkan, apalagi orang kebanyakan. Disi lain Nabi Muhammad adalah kekasih Allah dan pilihannya pun diancam olehnya dengan ancaman yang keras bila mengikuti mereka: “Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. Beliau saja diancam apalagi selain beliau.[46]

Demikianlah ancaman yang menakutkan, keputusan yang pasti dan ultimatum yang menggetarkan. Ini ditujukan kepada Nabi Allah, Rosulullah, dan kekasihnya yang mulia. Itulah hawa nafsu, jika Nabi berpaling dari petunjuk. Petunjuk Allah yang tidak ada petunjuk selain-Nya. Itulah hawa nafsu, yang menjadikan mereka tidak akan pernah berhenti dan tidak akan mau mengikutinya, bukan karena kurangnya hujjah yang disampaikan atau lemahnya dalil yang dipaparkan. Orang-orang yang membersihkan dirinya dari hawa nafsu, mereka membaca kitab mereka dengan sebenar-benarnya. Karena itu mereka beriman kepada kebenaran yang disampaikan. Adapun orang-orang yang mengingkarinya maka mereka itulah orang-orang yang merugi:

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (البقره :121)

Artinya: Orang-orang yang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Qaqarah: 121).

Dari semua penafsiran yang dipaparkan, tidak satupun mufassir menginterpretasikan ayat tersebut sesuai dengan ungkapan Ahmad Baso yang mengatakan keberadaan ayat tersebut bersifat eksklusif, tidak bersifat universal, sehingga keberadaannya tidak lagi bisa sesuai dengan tuntutan zaman yang prular. Seolah ia ingin mengatakan konsekuensinya justru cenderung berpotensi menimbulkan konflik yang semakin memanas dengan pihak non muslim. Hukumnya tidak bisa menjadi solusi bagi kemaslahatan umat. Lain halnya ketika ayat itu diturunkan, sebagaimana tuduhannya bahwa semata-mata ayat tersebut merupakan sebuah kepentingan Nabi untuk memperkuat kekuasaannya yang saat itu sebagai pemimpin Madinah.

Bukan hanya materi penafsiran yang berbeda, metodologi yang digunakan untuk mengambil makna ayat tersebut jelas tidak berdasarkan aturan yang menjadi pegangan ulama pada umumnya. Bila dikomparasikan dengan kaidah ilmu at-tafsir yang selama ini diakui paling sahih yaitu tafsir bi Al-Ma’tsur, metode Ahmad Baso ini justeru bertolak belakang. Dengan mengatakan satu ayat al-Qur’an saja sebagai sebuah kepentingan bagi Nabi, maka ini berbenturan dengan ayat yang lain yang mengatakan: “Dan tidaklah Nabi Muhammad itu berkata, kecuali itu merupakan wahyu dari Allah swt”. Maka dengan tuduhannya ini, sebenarnya secara halus ia hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya Al-Qur’an itu sendiri bukanlah wahyu Allah, melainkan ciptaan Muhmmad untuk kepentingannya.

Sikap deskriminatif terhadap ayat-ayat Madaniyah dengan mengangkat dan memprioritaskan ayat-ayat Makiyah sebagai ayat yang universal tidaklah benar, karena pengamalan Al-Qur’an haruslah secara utuh, sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri yang ayat-ayatnya merupakan satu kesatuan, saling terkait satu dengan yang lainnya. Pembagian Makiyah dan Madaniyah sendiri hanyalah merupakan kodifikasi para ulama yang tidak ada ketentuannya pada zaman Nabi. Dan dalam pembagian itu sendiri tidaklah terdapat qarinah yang menunjukkan yang satu lebih utama atau lebih universal dari yang lain.

Ayat-ayat Madaniyah yang dianggapnya eksklusif dengan identitas banyak diawali dengan “ya ayyuhalladzina amanu”, ternyata tidaklah demikian. Karena dalam ayat-ayat yang kebanyakan diturunkan di Makkah itu juga terdapat beberapa ayat yang diawali dengan “ya ayyuhannaas “, diantaranya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ (البقره :21)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا (البقره :168)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ (النساء :1)

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآَخَرِينَ (النساء :133)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ (النساء :170)[47]

Kesimpulan Ahmad Baso dan sejumlah aktivis Jaringan Islam Liberal lainnya dalam kasus penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an lebih banyak mengedepankan aspek Maqasid as-Syari’ah. Dalam menafsirkan Surat An-Nisa ayat 11 contohnya ,”li al-dzakari mitslu hadzdzil untsayain”, bahwa porsi perempuan itu adalah separuh dari porsi laki-laki, lalu ada yang mengatakan bahwa porsi perempuan itu tidak setara dengan laki-laki. Maka jangan di lihat dari teks Al-Qur’annya, tapi lihatlah misi ketika ayat itu diturunkan dan ini juga berlaku untuk semua ayat Al-Qur’an secara umum. Tuhan punya misi atau komitmen ketika menurunkan ayat tersebut, yaitu bagaimana mengangkat derajat kaum perempuan supaya setara dengan laki-laki. Kalau kemudian ada tuntutan, bahwa ada kesetaraan dan keadilan, teks harus tunduk kepada misi, tujuan dari diturunkannya ayat itu, yaitu komitmen tuhan tentang kesetaraan dan keadilan.[48]

Menafsirkan teks haruslah dengan terlebih dahulu melihat maqasidnya, sebagaimana ia (Ahmad Baso) juga mengutip pendapatnya Asy-Syatibi yang mengatakan, ”kalau kita ingin menafsirkan Alquran, jangan lihat dulu makna tekstualnya”. Permasalahannya kemudian adalah cara menentukan maqasid itu sendiri tentu tidak dengan cara dan sudut pandang yang disesuaikan dengan keinginan masing-masing. Karena setiap orang memiliki pola fikir sendiri-sendiri yang belum tentu semuanya sesuai dengan kehendak Allah ketika menurunkan sebuah ayat. Dalam surat An-Nisa ayat 11 misalnya, belum tentu juga konsep kesetaraan dan keadilan pada ayat tersebut tidak ditemukan, walaupun menurut kebanyakan manusia itu bukanlah sebuah keadilan. Dengan demikian kita tidak bisa memaksakan konsep keadilan yang ada pada pola pikir kita kepada kehendak tuhan yang tertera pada ayat-ayatNya. Apalagi jika kesimpulan yang diperoleh bertentangan dengan makna ayat secara tekstual.

Para ulama telah bersepakat, tujuan umum hukum-hukum syari’at ialah mewujudkan kemaslahatan manusia dengan menjamin hal-hal yang dharury (kebutuhan pokok) bagi mereka, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka (hajiyyat) dan kebaikan-kebaikan mereka (tahsiniyyat). Setiap hukum syari’at tidaklah dikehendaki padanya kecuali salah satu dari tiga hal tersebut yang menjadi penyebab terwujudnya kemaslahatan manusia.[49] Adapun argumentasi bahwasannya setiap hukum dalam Islam disyari’atkan hanyalah untuk mewujudkan salah satu dari ketiga hal tersebut dan memeliharannya adalah penelitian terhadap hukum syari’at itu sendiri, baik yang bersifat umum maupun yang zuz’i dalam berbagai kasus dan bab, dan penelitian terhadap berbagai illat dan hikmah pembentukan hukum dimana syari’at menyertakannya dalam sejumlah besar hukumnya.[50]

Hal-hal yang dharury bagi manusia kembali kepada lima hal, yaitu: Agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta kekayaan. Menjaga masing-masing dari kelima hal tersebut adalah dharury bagi manusia. Agama adalah sekumpulan akidah, ibadah, hukum dan undang-undang yang di syariatkan oleh Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhan mereka dan perhubungan mereka satu sama lain. Untuk memelihara jiwa dan menjamin kehidupannnya, agama Islam mensyari’atkan kewajiban memperoleh sesuatu yang menghidupinya berupa hal-hal yang dharury berbentuk makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, kewajiban qishash, diat dan kaffarat terhadap orang yang menganiaya terhadapnya, mengharamkan melemparkan diri dalam kehancuran, serta kewajiban menghindarkan diri dalam kehancuran, serta kewajiban menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam jiwanya.[51]

Untuk memelihara akal Islam mensyari’atkan pengaharaman minuman khomer dan segala yang memabukkan dan memberikan hukuman terhadap orang yang meminumnya atau mempergunakan segala yang memabukkan. Untuk memlihara kehormatan agama Islam mensyari’atkan hukum hadd bagi laki-laki yang berzina, perempuan yang berzina dan orang menuduh orang lain berbuat zina tanpa saksi. Demikian juga untuk menghasilkan dan memperoleh harta kekayaan, agama Islam mensyariatkan kewajiban berusaha mendapatkan rizki, memperbolehkan sejumlah mu’amalah, pertukaran, perdagangan dan kerjasama dalam usaha.[52]

Pada kasus penafsiran surat Al-Baqarah Ayat 20 yang substansinya ketidaksukaan Yahudi dan Nasrani terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang notabene menyerang keyakinan kedua agama tersebut. Maka dari sini bisa dilihat maqasid ayat tersebut lebih dominan berkaitan dengan masalah yang paling dharury yaitu akidah. Maka untuk menjaga kepentingan yang paling pokok ini (akidah), Allah hendak memperingatkan Nabi Muhammad dan umatnya untuk berhati-hati terhadap ancaman mereka. Karena sesungguhnya mereka akan menggunakan segala cara agar beliau dan umatnya mau mengikuti kemauan mereka, dan inipun didukung dengan fakta sejarah yang menyatakan demikian. Sebab sekali-kali mereka tidak akan ridha sampai keyakinan mereka diyakini dan diikuti. Sehingga peringatan yang sangat keras ini tegaskan dengan ayat lanjutannya yang menyatakan bahwa seandainya keinginan nafsu dan kemauan mereka yang sesat itu dituruti, padahal telah datang pengetahuan yang benar yakni wahyu-wahyu Allah serta petunjuk nalar yang sehat, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong sedikitpun.

E. Kesimpulan

Studi komparatif yang penulis lakukan antara penafsiran Ahmad Baso dan beberapa pemikir liberal lainnya yang terangkum pada buku ”Islam Pribumi” dengan penafsiran para ulama pada umumnya menghasilkan beberapa kesimpulan:

1. Word view mereka dalam menginterpretasi Al-Qur’an atau teks agama yang lainnya dengan terlebih dahulu melihat historisitas teks tersebut, kemudian dicari sebab atau illat yang melatarbelakangi munculnya teks, dan dari situlah kemudian bisa dilihat maqasid-nya. Apabila teks tersebut masih sesuai dengan konteks masa kini, maka konsekuensi hukum yang menjadi substansi teks tersebut masih bisa berlaku. Akan tetapi jika tidak demikian, maka teks tersebut harus ditundukkan untuk mengikuti tuntutan konteks, kalau tidak dihapuskan status hukumnya, maka diberikan penafsiran lain yang sesuai dengan realitas. Untuk itu hukum bisa berlaku elastis sesuai dengan situasi dan kondisi mahkum. Penafsiran model ini yang kemudian dikenal dengan istilah relatifitas hukum. Sementara maqasid yang dibangun adalah berdasarkan pikiran pribadi atau belandaskan ’Urf (kebiasaan) pola pandang manusia terhadap sebuah objek, tanpa melihat dan mempertimbangkan aspek yang lain.

Kasus penafsiran Surat Al-Baqarah ayat 20 sebagai ayat yang menurut mereka bersifat eksklusif, tidak lagi relevan untuk menjawab kondisi dan situasi masa kini. Realitas masyarakat plural yang menuntut setiap individu saling berinteraksi dengan pihak lain secara bebas, tanpa memandang ras, etnik maupun agama. Maka ayat yang substansinya deskriminatif terhadap Yahudi dan Nasrani ini dikatakan mereka sebagai misi memperkuat eksistensi kekuasaan Rosulullah sebagai pimpinan Madinah, tidak lagi bisa berlaku untuk kelompok Yahudi maupun Nasrani saat ini.

2. Hasil ijtihad mereka yang semacam itu jauh bertolak belakang dengan metode penafsiran para ulama pada umumnya. Ungkapan yang menyatakan sebuah ayat sebagai bentuk kepentingan Rosulullah saw. akan bertentangan dengan ayat lain yang menyatakan bahwasannya segala sesuatu yang ucapkan beliau tidaklah keluar dari keinginan hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Allah. Artinya penafsiran mereka bertentangan dengan metodologi tafsir bi al-ma’tsur yang menafsirkan ayat dengan ayat lain, hadist atau qaul sahabat. Padahal ini merupakan kaidah pokok penafsiran dan hampir seluruh ulama tidak menyelisihinya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qathan, Manna Khalil, 1992, Study Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta.

Ash-Shiddieqy, Hasby, 1990, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta.

Asy-Syirbashi, Ahmad, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, Jakarta

Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Zuz II.

Djalal, Abdul, 1990, Urgensi Tafsir Maudu’i pada Masa Kini, Jakarta.

HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz. I, Jakarta.

Husaini, Adian, “ISLAM-BARAT (STUDI KASUS WACANA ‘THE CLASH OF CIVILIZATIONS”

Khallaf, Abdul wahhab, 1994, Ilmu Ushul Fiqih, Semarang.

Rahmat, Imdadun, 2003, Islam Pribumi, Jakarta.

Syadali, Ahmad, 2000, Ulum al-Qur’an, Zuz II, Bandung.

Saleh dan A. Dahlan, 1995, Asbab An-Nuzul, Bandung.

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah, Volume 1, Jakarta.

Quthb, Sayyid, 2000,Tafsir Fi Zhilzlil Qur’an, Terj. Jilid 1, Jakarta.

Zarkasyi, Al-Qur’an fi Ulum al-Qur’an, Zuz I, Beirut.


[1] Adian Husaini, “ISLAM-BARAT (STUDI KASUS WACANA ‘THE CLASH OF CIVILIZATIONS’)”, Disampaikan dalam kuliah Islamic Worldview di Program Pasca Sarjana Program Studi Pemikiran dan Peradaban Islam, Universits Muhammadiyah Surakarta, 9 Desember 2007. hlm. 7.

[2] Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, (Jakarta: PT Gelora Aksra Pratama, 2003), hal. i.

[3] Ungkapan ini ditulis Ahmad Baso masih dalam buku yang sama (Islam Pribumi) pada pembahasan “Islam dan Dialog Peradaban (1)”. Lihat Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, (Jakarta: PT Gelora Aksra Pratama, 2003), hal. 2.

[4] Az-Zarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Zuz II, (Matba’ah Isa Al-Babil Halabi wa Syirkahu, tth), hal.. 5.

[5] Ahmad Syadali, Ulum al-Qur’an, Zuz II, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hal.. 51.

[6] Zarkasyi, Al-Qur’an fi Ulum al-Qur’an, Zuz I, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tth.), hal. 5.

[7] Ahmad Asy-Syirbashi, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus), hal. 6.

[8] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 51.

[9] Manna Khalil al-Qaththan, Study Ilmu-Ilmu Qur’an, (Jakarta: Litera Antara Nusa, 1992), hlm. 456.

[10] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 55.

[11] Hasby Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990), hal.187.

[12] Ibid., hal. 55.

[13] Abdul Djalal, Urgensi Tafsir Maudu’i pada Masa Kini, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), hal. 67.

[14] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 63.

[15] Hasby Ash-Shiddieqy, Op. Cit., hal.192-193.

[16] Ahmad Syadali, Op. Cit., hal. 60.

[17] Ibid, hal. 64-65.

[18] Ibid, hal. 65-70.

[19] Ibid.

[20] Hasby Ash-Shiddieqy, Op. Cit., hal. 193.

[21] Salah satu pembahasan dengan tema “Al-Qur’an dan Transformasi Sosial” dalam buku “Islam Pribumi” yang ditulis Ahmad Baso. Seorang aktifis Jaringan Islam Liberal dan penulis aktif Jurnal Tashwirul Afkar (LAKPESDAM). Lihat Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, (Jakarta: PT Gelora Aksra Pratama, 2003), hal. 2.

[22] Saleh dan A. Dahlan, Asbab an-nuzul, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 1995), hal. 125.

[23]Adian Husaini, Op. Cit., hlm. 2.

[24] HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Juz. I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.), hlm. 285.

[25] Ibid. hlm. 286.

[26] Ibid.

[27] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilzlil Qur’an, Terj. Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm. 131-132.

[28] Ibid.

[29] Ibid.

[30] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Volume 1, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 308.

[31] Ibid. hlm. 307.

[32] Ibid. hlm. 309.

[33] Ibid.

[34] Ibid.

[35] Ibid.

[36] HAMKA, Op. Cit., hlm. 287.

[37] Ibid.

[38] Ibid.

[39] Ibid, hlm. 287-288.

[40] Ibid, hlm. 288.

[41] Ibid, hlm. 285.

[42] Ibid.

[43] Ibid.

[44] Sayyid Quthb, Op. Cit. hlm. 132

[45] M. Quraish Shihab, Op. Cit., hlm. 310.

[46] Ibid.

[47] Hasby Ash-Shiddiqy, Op. Cit., hal. 57.

[48] Imdadun Rahmat, Op. Cit., hal. 2.

[49] Abdul wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, (Semarang: Dina Utama, 1994), hlm. 310

[50] Ibid, hlm 312.

[51] Ibid, hlm 314.

[52] Ibid, hlm 314-315.

Posted in Studi Al Quran | Leave a Comment »

WACANA FUNDAMENTALISME DALAM AL-QURAN

Posted by fokammsi pada 23 April, 2008

Di tulis oleh : Muhammad Isa Anshory

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Diskursus tentang fundamentalisme merupakan wacana lama yang sering menimbulkan pro dan kontra; terlebih ketika istilah ini diembel-embeli dengan nama Islam. Sebab, istilah ini tidak pernah ada dan tersebar di kalangan umat Islam sepanjang sejarah mereka selama berabad-abad. Oleh sebagian orang, istilah fundamentalisme Islam menjadi umum dipakai untuk menunjukkan pandangan sekelompok muslim yang tidak disenangi Barat.

Menurut M. ‘Âbid al-Jâbirî, istilah ‘muslim fundamentalis’ awalnya dicetuskan sebagai signifier bagi gerakan Salafiyyah Jamaluddin Al-Afghânî. Istilah ini, dicetuskan karena bahasa Eropa tak punya istilah padanan yang tepat untuk menerjemahkan istilah Salafiyyah.[1]

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Hassan Hanafi. Professor filsafat Universitas Cairo ini mengatakan bahwa term ‘muslim fundamentalis’ adalah istilah untuk menunjuk gerakan kebangkitan Islam, revivalisme Islam, dan gerakan/kelompok Islam kontemporer, yang sering digunakan peneliti Barat lalu sering digunakan oleh banyak pemikir.[2]

Adapun M. Said al-Asymawi mengatakan bahwa istilah fundamentalis awalnya berarti umat kristen yang berusaha kembali ke asas ajaran Kristen yang pertama. Term itu kemudian berkembang. Lalu disematkan pada setiap aliran yang keras dan rigid dalam menganut dan menjalankan ajaran formal agama, serta ekstrim dan radikal dalam berpikir dan bertindak. Hingga komunitas Islam yang berkarakter semacam itu kena imbas disebut fundamentalis, dan istilah fundamentalisme Islam pun muncul.[3]

Fazlur Rahman, seorang tokoh yang biasa digolongkan “modernis”, menyebut fundamentalis sebagai “orang-orang yang dangkal dan superfisial”, anti intelektual” dan pemikirannya “tidak bersumberkan kepada Al-Quran dan budaya intelektual tradisional Islam”.[4]

Sementara itu, Dr. Hamim Ilyas, seorang dosen UIN Yogya yang juga anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah, memaparkan fundamentalisme sebagai berikut:

“…Fundamentalisme adalah satu tradisi interpretasi sosio-religius (mazhab) yang menjadikan Islam sebagai agama dan ideologi, sehingga yang dikembangkan di dalamnya tidak hanya doktrin teologis, tapi juga doktrin-doktrin ideologis. Doktrin-doktrin itu dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendiri fundamentalisme modern, yakni Hasan al-Banna, Abu A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, Ruhullah Khumaini, Muhammad Baqir al-Shadr, Abd as-Salam Faraj, Sa’id Hawa dan Juhaiman al-Utaibi…” [5]

Demikianlah beberapa pendapat tentang fundamentalisme Islam. Kajian mengenai fundamentalisme ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan. Namun demikian, kajian ini tetap menarik ditinjau dari beberapa hal.

Pertama, istilah fundamentalisme Islam hingga saat ini sering menimbulkan pro dan kontra. Terlebih, kelompok “muslim fundamentalis” sering juga diidentikkan –bahkan disebut— dengan “muslim militan”, “muslim radikal”, dan “teroris Islam”.

Kedua, tudingan fundamentalisme Islam digunakan Barat untuk memojokkan sekelompok muslim yang berjuang melawan hegemoni Barat. Bernard Lewis dalam bukunya The Crisis of Islam menyatakan, bahwa fundamentalis Islam adalah jahat dan berbahaya, dan menyebutkan bahwa fundamentalis adalah anti-Barat.[6]

Ketiga, adanya kerancuan di seputar istilah fundamentalisme Islam itu sendiri, karakteristik pandangannya, dan pihak-pihak yang menjadi pendukungnya. Sebagai contoh, Hamim Ilyas menyebut sederat nama tokoh yang ia posisikan sebagai pendiri fundamentalisme modern, yaitu Hasan al-Banna, Abu A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, Ruhullah Khumaini, Muhammad Baqir al-Shadr, Abd as-Salam Faraj, Sa’id Hawa dan Juhaiman al-Utaibi.[7] Imam Chanafie Al-Jauhari menempatkan Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Taimiyah, dan Rasyid Ridha ke dalam kelompok tekstual yang –menurutnya—melahirkan fundamentalis revivalis.[8]

Keempat, istilah “fundamentalis” begitu mudah menyebar dan bahkan diterima oleh sebagian kalangan muslim tanpa sikap teliti dan hati-hati. Istilah ini lalu ditudingkan kepada sekelompok muslim lain sehingga memecah belah persatuan mereka.

Atas dasar beberapa hal di atas, penulis ingin melakukan kajian lebih mendalam mengenai fundamentalisme Islam. Kajian ini menjadi penting untuk membersihkan Islam dan kaum Muslimin dari tuduhan semena-mena Barat dan orang-orang yang terpengaruh oleh pola pikir Barat. Penelitian ini penulis beri judul “Wacana Fundamentalisme dalam Al-Quran”.

1.2 Perumusan Masalah

Beradasarkan deskripsi dalam latar belakang masalah di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Adakah fundamentalisme dalam Islam?
  2. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap pandangan-pandangan yang sering diidentikkan sebagai doktrin fundamentalisme Islam?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan meneliti data dan fakta yang berhubungan dengan perumusan masalah. Selain untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan dalam perumusan masalah, penelitian ini juga bertujuan untuk membuktikan kesalahan tuduhan sebagian orang terhadap ajaran Al-Quran yang sering diidentikkan sebagai doktrin kaum fundamentalis Islam. Demikian pula, penulis berharap bahwa hasil penelitian ini bisa melengkapi khasanah literatur mengenai pemikiran dan peradaban Islam sehingga bisa memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi kita.

1.4 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan studi literatur yang bersifat library murni, yakni semua bahan yang dibutuhkan bersumber dari bahan-bahan tertulis. Penulis mengumpulkan bahan-bahan tersebut dari beberapa perpustakaan dan hasil searching di internet. Untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini, penulis melakukan studi komparatif dengan memaparkan terlebih dahulu pandangan-pandangan yang disematkan pada fundamentalisme Islam, kemudian bagaimana pandangan Islam terhadap hal tersebut. Dengan demikian, penulis berharap bahwa tujuan penelitian ini untuk membuktikan kesalahan tuduhan sebagian orang terhadap ajaran Al-Quran yang sering diidentikkan sebagai doktrin kaum fundamentalis Islam bisa terwujud.

1.5 Studi Kepustakaan

Kajian mengenai fundamentalisme Islam sebenarnya telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Akan tetapi, kebanyakan kajian tersebut menggunakan sudut pandang (worldview) Barat lengkap dengan seperangkat metodologi untuk menganalisisnya. Hanya sedikit karya para peneliti muslim yang memberikan pembelaan terhadap Islam dari isu fundamentalisme.

Di antara karya ilmiah yang perlu disebutkan di sini adalah “Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam; Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan)” tulisan Yusril Ihza Mahendra yang diterbitkan oleh Yayasan Paramadina pada 1999. Karya ini aslinya merupakan disertasi Yusril Ihza Mahendra untuk memperoleh gelar Doctor of Philosophy di Universitas Sains Malaysia pada 1993. Dalam buku ini, Yusril berusaha melakukan studi komparatif antara Masyumi (Indonesia) yang ia posisikan sebagai partai modernis dan Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan) yang ia posisikan sebagai partai fundamentalis. Yusril mengartikan modernisme dan fundamentalisme sebagai

“…dua ideologi atau aliran politik yang sama-sama berdasarkan kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi. Keduanya sama-sama bertujuan untuk membangun suatu tatanan masyarakat Islam, sesuai dengan maksud doktrin yang termaktub di dalam Al-Quran dan Sunnah itu. Namun demikian, meskipun kedua aliran itu mempunyai tujuan yang sama, kecenderungan mereka dalam menafsirkan doktrin menunjukkan adanya perbedaan yang cukup penting. Modernisme cenderung menafsirkan doktrin secara elastis dan fleksibel. Sementara fundamentalisme cenderung menafsirkannya secara rigid dan literalis. Perbedaan kecenderungan corak penafsiran ini, menghasilkan perbedaan pula dalam memahami beberapa masalah, khususnya masalah-masalah yang berhubungan dengan (a) ijtihad; (b) preseden zaman awal, serta sejarah dan tradisi Islam; (c) ijma'; (d) pluralisme (kemajemukan); dan (e) hikmah. Perbedaan kecenderungan penafsiran terhadap lima masalah ini yang menjai faktor terpenting untuk membedakan modernisme dan fundamentalisme dalam politik Islam…”[9]

Mengacu pada lima masalah di atas, Yusril kemudian merumuskan karakteristik modernisme dan fundamentalisme. Ringkasnya sebagai berikut:[10]

No

Masalah

Modernisme

Fundamentalisme

1

Ijtihad

Modernisme melihat bahwa dalam masalah-masalah mu’amalah (kemasyarakatan), doktrin hanya memberikan ketentuan-ketentuan umum yang bersifat universal. Oleh karena itu, ijtihad (pemikiran bebas) harus digalakkan. Ijtihad memungkinkan corak pengaturan doktrin yang berisi ketentuan-ketentuan umum itu dapat diimplementasikan ke dalam suasana konkret, yaitu suasana masyarakat yang ada pada suatu zaman dan tempat tertentu.

Fundamentalisme memandang bahwa corak pengaturan doktrin bersifat total dan serba mencakup. Tidak ada masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan manusia di dunia ini yang luput dari jangkauan doktrin yang serba mencakup itu. Karena itu, ijtihad dengan sendirinya dibatasi hanya kepada masalah-masalah dimana doktrin tidak memberikan petunjuk dan pengaturan sampai detail-detail persoalan.

2

Preseden zaman awal, serta sejarah dan tradisi Islam

Modernisme memandang tradisi awal Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat beliau –terutama zaman Khulafa’ur Rasyidin—hanyalah mengikat dalam hal prinsip-prinsipnya saja, bukan menyangkut hal-hal yang terperinci. Oleh karena itu, preseden awal Islam di zaman Nabi dan para sahabat tidak harus diikuti sampai pada perincian-perincian berdasarkan pada prinsip perubahan yang berlaku dalam masyarakat. Warisan tradisi zaman ini pun, dengan sendirinya tidaklah mengikat generasi-generasi kaum Muslim yang hidup di zaman kemudian.

Fundamentalisme memandang preseden zaman awal Islam adalah mengikat secara keseluruhan; baik dalam prinsip maupun perincian-perinciannya. Fundamentalisme berpendapat bahwa orang-orang yang hidup di zaman awal lebih memahami maksud-maksud doktrin. Zaman awal Islam, yaitu zaman Nabi dan para sahabat, adalah zaman ideal yang wajib diwujudkan di segala zaman.

3

Ijma’

Modernisme memandang bahwa ijma’ (konsensus) yang dicapai oleh generasi terdahulu dapat diperbarui oleh generasi yang hidup di zaman kemudian. Hal ini dilakukan jika faktor-faktor psikologis, sosial, politik, dan ekonomi yang melatarbelakangi ijma’ itu juga telah berubah. Pembaruan ijma’ ini, menurut kaum modernis, termasuk juga kemungkinan memperbarui ijma’ para sahabat Nabi. Kaum modernis juga memperluas konsep tradisional mengenai ijma’ –yaitu konsensus mayoritas para ulama fiqh mengenai sesuatu masalah hukum—menjadi konsensus mayoritas kaum Muslim, atau wakil-wakil mereka, pada suatu zaman dan tempat tertentu.

Fundamentalisme memandang ijma’ zaman sahabat Nabi adalah ijma’ yang mengikat generasi-generasi kaum Muslim hingga akhir zaman. Ijma’ demikian tidak dapat diubah oleh ijma’-ijma’ yang dibuat oleh generasi yang hidup setelah mereka.

4

Pluralisme (kemajemukan)

Modernisme melihat pluralisme dengan sikap positif dan optimis. Kaum modernis berkeyakinan bahwa selama dunia ini masih ada, selama itu pula pluralisme akan tetap ada.

Fundamentalisme cenderung memandang negatif dan pesimis kepada pluralisme. Masyarakat cenderung dilihat secara hitam putih, yaitu antara masyarakat Islami yang meyakini dan mengamalkan doktrin secara kaffah dengan masyarakat jahiliyah yang tidak meyakini dan mengamalkannya.

5

Hikmah

Bagi kaum modernis, hikmah (kebijaksanaan) akan ditemukan di mana saja di muka bumi ini, termasuk pada umat-umat dan kelompok-kelompok di luar Islam. Modernisme cenderung bersikap terbuka untuk beradaptasi dan mengakulturasi prinsip-prinsip doktrin dengan hikmah yang telah disumbangkan oleh masyarakat-masyarakat yang mendukung peradaban lain. Dorongan mencari hikmah itu adalah seiring dengan kecenderungan kaum modernis yang lebih berorientasi pada penyelesaian masalah yang dihadapi secara konkret, dengan pendekatan yang bercorak pragmatis dan kompromistis.

Hikmah tidak perlu dicari dalam masyarakat-masyarakat yang telah jelas bersifat jahiliyah itu. Oleh karena itu, fundamentalisme cenderung bersifat tertutup dari kemungkinan beradaptasi dan berakulturasi dengan prestasi-prestasi peradaban yang telah dikembangkan oleh masyarakat lain.

Karya berikutnya adalah “Is Religion Killing Us? Membongkar Akar Kekerasan dalam BIbel dan Al-Quran” tulisan Jack Nelson-Pallmayer yang diterbitkan oleh Pustaka Kahfi Yogyakarta pada 2007. Sesuai dengan judulnya, Jack Nelson-Pallmayer menyorot ajaran-ajaran dalam Bibel dan Al-Quran yang menurutnya sering mendorong terjadinya kekerasan atas nama Tuhan. Penulis buku ini dengan semena-mena membuat kesimpulan, bahwa ”Kekerasan religius yang lazim diantara tradisi kepercayaan penganut monoteisme tidak semata-mata sebagai masalah distorsi penafsiran kaum beriman terhadap teks-teks suci mereka. Hal itu lebih pada masalah yang berakar dalam tradisi kekerasan Tuhan yang terletak pada inti teks-teks suci tersebut.” (hal. 180)

Yang lebih menarik untuk dicermati dari buku ini adalah kata pengantar dalam edisi bahasa Indonesia yang ditulis oleh Dr. Hamim Ilyas. Pengantar yang diberi judul “Akar Fundamentalisme dalam Perspektif Tafsir Al-Quran” ini memaparkan bagaimana karakteristik fundamentalisme Islam. Hamim Ilyas berharap bahwa buku “Is Religion Killing Us?” bisa menjadi sumbangan untuk usaha pemberantasan terorisme dengan memperhatikan perkembangan tafsir fundamentalisme dan tidak cukup hanya dengan meluruskan pemahaman jihad.

Kedua buku di atas sangat kental sekali dengan pengaruh worldview Barat sehingga justru melahirkan kesalahan fatal ketika menghubungkan Islam dengan fundamentalisme. Istilah yang tidak pernah dikenal sepanjang sejarah umat Islam ini akhirnya dipaksakan untuk disematkan pada ajaran Islam yang dinilai dapat mendorong timbulnya kekerasan dan permusuhan terhadap agama lain.

Adapun di antara karya yang memberikan pembelaan terhadap Islam dari isu fundamentalisme adalah “Fundamentalisme dalam Perspektif Pemikiran Barat dan Islam” tulisan Muhammad Imarah dan diterbitkan oleh Gema Insani Press pada 1999. Dalam buku ini, Muhammad Imarah memaparkan perbedaan makna fundamentalisme dalam perspektif Barat dan Islam. Istilah yang sama dengan makna yang berbeda ini sering terjadi. Demikian juga dengan fundamentalisme; terdapat perbedaan makna yang sangat jauh antara fundamentalisme dalam perspektif Barat dengan fundamentalisme dalam perspektif Islam. Oleh karena sebutan fundamentalisme ini selalu diikuti dengan makna dan karakteristik menurut Barat, Muhammad Imarah juga menjelaskan kesalahan pandangan orang-orang yang mengkaitkan makna dan karakteristik tersebut dengan Islam.

Selain karya Muhammad Imarah ini, karya lain yang penting untuk disebutkan adalah “Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal” tulisan Adian Husaini dan diterbitkan oleh Gema Insani Press pada 2005. Pada bab 10 dalam buku ini, Adian menulis judul “Paradoks wacana ‘Terorisme’ dan ‘Fundamentalisme'”. Meski singkat, tulisan Adian ini cukup berharga dalam memberikan pembelaan terhadap Islam dari tuduhan isu fundamentalisme.

1.6 Sistematika Penulisan

Pembahasan dalam penelitian ini memakai sistematika sebagai berikut :

Bab I berupa pendahuluan yang akan mengantarkan kita menuju pokok permasalahan yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya. Bab ini berisi latar belakang masalah, yakni menyangkut ketertarikan dan signifikansi penelitian ini. Demikian juga perumusan masalah berupa asumsi dan pertanyaan-pertanyaan yang akan dibahas isi penelitian, serta maksud dan tujuan penelitian ini. Sebagai pertanggungjawaban ilmiah, penulis juga menguraikan metode penelitian yang dipergunakan. Demikian pula dengan tinjauan pustaka, penulis akan melihat sejauh mana pembahasan ini telah diteliti. Terakhir, penulis uraikan sistematika penulisan ini (susunan bab).

Bab II akan menguraikan fundamentalisme dalam perspektif Barat dan Islam. Bab ini dirinci ke dalam tiga sub bab. Sub bab pertama memaparkan asal mula fundamentalisme di Barat. Sub bab kedua menjelaskan pandangan Islam terhadap fundamentalisme, sedangkan sub bab ketiga menguraikan masalah fundamentalisme dan perang opini.

Bab III membahas fundamentalisme dan tafsir Al-Quran. Bab ini dirinci ke dalam dua sub bab. Sub bab pertama memaparkan pandangan-pandangan tafsir yang sering dikaitkan dengan fundamentalisme, sedangkan sub bab kedua menjelaskan bagaimana pandangan-pandangan tafsir para ulama.

Bab IV membahas isu fundamentalisme dalam Al-Quran. Bab ini dibagi ke dalam tiga sub bab. Sub bab pertama tentang doktrin Islam kaffah, sub bab kedua tentan doktrin kedaulatan hukum Tuhan, sedangkan sub bab ketiga tentang kekerasan Tuhan.

Terakhir bab V berisi penutup, yakni kesimpulan yang berupa jawaban-jawaban atas rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini.

BAB II

FUNDAMENTALISME DALAM PERSPEKTIF BARAT DAN ISLAM

2.1 Asal Mula Fundamentalisme di Barat

Istilah fundamentalisme pada mulanya lahir di Barat dengan latar belakang sejarah dan masalah keagamaan mereka. Fundamentalisme sering diartikan sebagai reaksi terhadap modernisme.[11] Fundamentalisme dianggap sebagai aliran yang berpegang teguh pada fundamen agama Kristen melalui penafsiran terhadap kitab suci agama itu secara rigid dan literalis.

Kamus Larous Kecil mendefinisikan “fundamentalisme” sebagai sikap mereka yang menolak menyesuaikan kepercayaan dengan kondisi-kondisi yang baru. Dalam Kamus Larous Besar “fundamentalisme” adalah sikap stagnan dan beku yang menolak seluruh perkembangan. Sedangkan Kamus Larous tahun 1987 menyebut “fundamentalis” sebagai sikap sebagian orang Katolik yang menolak seluruh kemajuan, dan hanya menisbatkan diri mereka kepada warisan lama. Ilmuwan Perancis, Roger Garaudy, menyatakan, bahwa “fundamentalisme” adalah antitesa bagi “sekulerisme”. Garaudy termasuk ilmuwan yang terjebak dalam melakukan generalisasi konsep “fundamentalisme” Kristen untuk menganalisis fenomena sejenis di masyarakat Muslim.[12]

Sementara itu, Muhammad Imarah menyatakan, bahwa fundamentalisme di dunia Barat pada awalnya merupakan gerakan Kristen Protestan Amerika yang berlabuh pada abad kesembilan belas Masehi, yaitu antara 1880 dan 1890, dari barisan gerakan yang lebih luas, yaitu “Gerakan Millenium”. Gerakan ini mengimani kembalinya Almasih as secara fisik dan materi ke dunia untuk yang kedua kalinya, guna mengatur dunia ini, selama seribu tahun sebelum datangnya hari perhitungan manusia.

Prototipe pemikiran yang menjadi ciri khas fundamentalisme ini adalah penafsiran Injil dan seluruh teks agama secara literal dan menolak secara utuh seluruh bentuk penakwilan atas teks-teks manapun, walaupun teks-teks itu berisikan metafor-metafor rohani dan simbol-simbol sufistik, serta memusuhi kajian-kajian kritis yang ditulis atas Injil dan Kitab Suci. Dari penafsiran Injil secara literal ini, orang-orang fundamentalis Protestan mengatakan akan datangnya Almasih kembali secara fisik untuk mengatur dunia selama seribu tahun yang berbahagia karena mereka menafsirkan “mimpi Yohana” (kitab Mimpi 20-1-10) secara literal.

Ketika fundamentalisme Kristen itu menjadi sebuah sekte yang indipenden pada awal abad ke-20, terkristallah dogma-dogma yang berasal dari penafsiran literal atas Injil itu melalui seminar-seminarnya, lembaga-lembaganya, serta melalui tulisan-tulisan para pendetanya yang mengajak untuk memusuhi realita, menolak perkembangan, dan memerangi masyarakat-masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk sekaligus. Misalnya, mereka mengklaim mendapatkan tuntunan langsung dari Tuhan, cenderung untuk mengisolasi diri dari kehidupan bermasyarakat, menolak untuk berinteraksi dengan realitas, memusuhi akal dan pemikiran ilmiah serta hasil-hasil penemuan ilmiah. Oleh karenanya, mereka meninggalkan universitas-universitas dan mendirikan lembaga-lembaga tersendiri bagi pendidikan anak-anak mereka. Mereka juga menolak sisi-sisi positif kehidupan sekuler, apalagi sisi negatifnya, seperti aborsi, pembatasan kelahiran, penyimpangan seksual, dan kampanye-kampanye untuk membela “hak-hak” orang-orang yang berperilaku seperti itu dari barang-barang yang memabukkan, merokok, dansa-dansi, hingga sosialisme.

Gerakan fundamentalisme Kristen pada decade-dekade pertama abad dua puluh, telah mengadakan beberapa seminar yang menghasilkan beberapa organisasi. Di antaranya yang paling menonjol –di Amerika—adalah Organisasi Kitab Suci pada 1902 M yang telah mempublikasikan dua belas buku dengan judul Fundamentals, sebagai pembelaan atas penafsiran Injil secara literal, serta menangkal tindakan kritik dan penakwilan atas kandungan Injil. Organisasi yang menonjol lainnya antara lain adalah Yayasan Fundamentalisme Kristen Internasional yang didirikan pada 1919 M dan Persatuan Fundamentalis Nasional.

Itu semua adalah “fundamentalisme” dalam terminologi Barat dan dalam visi Kristen.[13]

2.2 Fundamentalisme Menurut Pandangan Islam

Dalam visi Arab dan dalam wacana pemikiran Islam, kita tidak menemukan dalam kamus-kamus lama, baik kamus bahasa maupun kamus istilah, disebutnya istilah ushuliyah “fundamentalisme”. Kita hanya menemukan kata dasar istilah itu, yaitu al-ashlu dengan makna ‘dasar sesuatu’ dan ‘kehormatan’. Bentuk pluralnya adalah ushul (QS Al-Hasyr: 5) (Ash-Shaaffat: 64). Al-ashlu juga bermakna ‘akar’ (QS Ibrahim: 24).

Al-ashlu juga disebut bagi undang-undang atau kaidah yang berkaitan dengan furu’ (parsial-parsial) dan masa yang telah lalu. Seperti yang diungkapkan dalam rediaksional ulama ushul fikih, “Asal segala sesuatu adalah boleh atau suci.” Dan, “ushul” adalah prinsip-prinsip yang telah disepakati atau diterima.

Bagi ulama ushul fikih, kata al-ashlu disebut dengan beberapa makna. Pertama, ‘dalil’. Dikatakan bahwa asal masalah ini adalah Al-Kitab dan Sunnah. Kedua, ‘kaidah umum’. Dan ketiga, ‘yang rajih‘ atau ‘yang paling kuat’ dan ‘yang paling utama’. (Lihat kitab Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, Kairo : Darul Ma’arif)

Dalam peradaban Islam telah terbangun ilmu-ilmu ushuluddin, yaitu ilmu kalam, tauhid, dan ilmu fikih akbar. Juga ilmu ushul fikih, yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah dan kajian-kajian yang dipergunakan untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan hukum-hukum syara’ praktikal dari dalil-dalil perinciannya. Serta ilmu ushul hadits atau mushthalah hadits.

Demikianlah warisan keilmuan Islam dan peradabannya, serta kamus-kamus bahasa Arab yang tidak mengenal istilah ushuliyah (fundamentalisme) dan pengertian-pengertian yang dikenal Barat atas istilah ini.

Hingga dalam pemikiran Islam kontemporer yang sebagian ulamanya menggunakan istilah ushuliyah dalam kajian-kajian ilmu ushul fikih, kita dapati ia bermakna, “Kaidah-kaidah pokok-pokok syari’at yang diambil oleh ulama ushul fikih dari teks-teks yang menetapkan dasar-dasar tasyri’iyah ‘legislasi’ umum serta pokok-pokok tasyri’iyah general, seperti: (1) tujuan umum syari’at, (2) apa hak Allah dan apa hak mukalaf, (3) apa yang menjadi objek ijtihad, (4) nasakh hukum, dan (5) ta’arudh ‘pertentangan’ an tarjih (pemilihan salah satu probabilitas hukum).” Semua istilah-istilah itu sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan substansi-substansi istilah fundamentalisme (ushuliyah) yang dikenal oleh peradaban Barat dan pemikiran Kristen.[14]

Dengan demikian, istilah ‘ushuliyah’ dalam bahasa Arab dan dalam wacana pemikiran Islam, mempunyai pengertian-pengertian lain yang berbeda dengan apa yang dipahami oleh wacana pemikiran Barat yang saat ini dipergunakan oleh banyak orang. erbedaan pemahaman dan substansi dalam mempergunakan istilah yang sama, merupakan sesuatu yang sering terjadi dalam banyak istilah yang dipergunakan oleh bangsa Arab dan kaum muslimin, serta secara bersamaan dipergunakan pula oleh karangan Barat, padahal keduanya mempunyai pengertian yang berbeda dalam melihat istilah yang sama itu. Hal ini banyak menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan dalam kehidupan budaya, politik, dan media massa kontemporer yang padanya perangkat-perangkat komunikasi mencampuradukkan berbagai istilah yang banyak, yang sama istilahnya, namun berbeda-beda pengertian, latar belakang dan pengaruhnya.

Istilah yasar (kiri) misalnya. Dalam wacana pemikiran Barat istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan orang-orang upahan, orang-orang fakir, dan miskin, serta orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan orang lain. Sementara, dalam pemahaman Arab dan Islam, istilah itu menunjukkan kepada orang-orang kaya raya, orang-orang yang berkecukupan, dan orang-orang yang menikmati kehidupan enak.

Istilah yamin (kanan) misalnya. Dalam wacana pemikiran Barat istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan orang-orang kuno, terbelakang dan kaku. Sementara, dalam wacana pemikiran Arab dan Islam, dipergunakan untuk menunjukkan keadaan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sehingga mereka datang kepada Tuhan mereka pada hari Perhitungan, memegang buku catatan berbuatan-perbuatan mereka yang baik dengan tangan kanan, atau juga bermakna kekuatan, ketegaran, dan ketenangan.[15]

Kesimpulannya, istilah “fundamentalisme” dengan pengertian Barat adalah sesuatu yang asing dari realitas Islam, yang dijejalkan oleh kekuatan “agresi media massa”. Karena, fundamentalisme di Barat bermakna ‘orang-orang kaku’, sementara dalam warisan intelektual Islam menunjukkan kaum yang ahli tajdid (pembaruan), ijtihad, dan penyimpulan hukum. Wallahu a’lam.

2.3 Fundamentalisme dan Perang Opini

Menyusul berakhirnya Perang Dingin, Barat mengembangkan istilah dan wacana fundamentalisme keagamaan, khususnya ”fundamentalis Islam”. Banyak sarjana dibayar untuk meneliti dan menulis tentang masalah ini. Seminar-seminar tentang fundamentalisme digelar. Media massa memainkan peran yang dominan dalam pembentukan opini negatif tentang kaum yang dicap sebagai fundamentalis. Istilah-istilah “Islam fundamentalis”, “Islam eksklusif”, “Islam militan”,  “Islam radikal”, “Islam konservatif”, “teroris Islam”, dan sejenisnya memang sering digunakan untuk memberikan stigma negatif terhadap kelompok-kelompok Islam yang pemikirannya tidak sejalan dan tidak disukai oleh Barat.

Di lapangan, pengertian “teroris”, “militan”, dan “fundamentalis” tidaklah jelas dan sangat bias, tergantung kepentingan. Sebagai contoh, Harian Kompas (31 Januari 20o2) dalam berita yang berjudul “AS Mulai Perang Terorisme di Filipina”, ditulis kata-kata sebagai berikut. “Pasukan Amerika Serikat (AS) membuka front baru dalam memerangi terorisme. Kamis (31/1), mereka mulai menggelar operasi yang dirancang untuk memberi pelatihan memerangi kelompok militan.”

Di Majalah Newsweek, Special Davos Edition, Desember 2001-Februari 2002, Francis Fukuyama juga mencatat, “Islamis radikal, yang tidak toleran dengan semua bentuk keagamaan dan suara yang berbeda, telah menjadi kaum fasis di zaman kita. Merekalah yang sedang kita lawan.”[16]

Dalam kancah opini global yang berkembang saat ini, sebutan “fundamentalis” Islam memang cenderung berkonotasi negatif. Image negatif terhadap sebutan “fundamentalis” itu diperparah lagi dengan berbondong-bondongnya kaum cendekiawan Muslim untuk mengadopsi istilah “fundamentalis” dan “fundamentalisme” beserta kriterianya, sebagaimana diungkap oleh para pakar Barat. Oleh karena itulah, jarang sekali kaum Muslim yang senang mendapat sebutan “fundamentalis”.[17]

Istilah fundamentalisme Islam sengaja dimunculkan dan digunakan oleh Barat untuk memecah belah Islam. Dalam buku “Civil Democratic Islam”, Ceryl Benard mengklasifikasikan umat Islam menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok Islam fundamentalis. Ciri-ciri mereka adalah menolak demokrasi dan kultur Barat. Kedua, kelompok Islam tradisionalis. Ciri-ciri mereka adala konservatif dan curiga terhadap modernitas, inovasi, dan perubahan. Ketiga, kelompok Islam modernis. Ciri-ciri mereka adalah ingin Dunia Islam menjadi bagian dari modernitas global (Barat). Keempat, kelompok Islam sekuleris. Ciri-ciri mereka adalah ingin Dunia Islam memisahkan agama dari negara karena agama merupakan urusan individu.

Untuk menghadapi keempat kelompok ini, Benard membuat saran-saran. Terhadap kelompok Islam sekuleris, hendaknya didukung dengan hati-hati. Terhadap kelompok Islam modernis liberal, hendaknya didukung. Terhadap kelompok Islam tradisionalis, hendaknya didukung untuk melawan kelompok Islam fundamentalis. Sementara itu terhadap kelompok Islam fundamentalis, harus dihadapi dan dilawan. Strategi untuk menghadapi kelompok terakhir ini sebagai berikut:

  1. Menantang penafsiran mereka tentang Islam dan membeberkan kerancuannya.
  2. Mempublikasikan aksi-aksi kekerasan mereka.
  3. Menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memimpin dan dalam melaksanakan pembangunan negara dan masyarakat secara positif.
  4. HIndarkan sikap respek dan penghargaan terhadap aksi kekerasan kelompok fundamentalis, ekstrimis, dan teroris.
  5. Dukung para wartawan untuk menyelidiki isu-isu korupsi, sikap hipokrit, dan immoralitas yang terjadi di kalangan fundamentalis dan teroris.
  6. Pecahlah kelompok fundamentalis menjadi beberapa bagian.[18]

Demikianlah, istilah fundamentalis yang disematkan kepada sekelompok umat Islam mengandung makna negatif. Istilah ini sangat bermasalah jika tetap digunakan untuk menyebut sekelompok umat Islam. Dalam frame pemikiran Barat, kaum Islam fundamentalis adalah lawan utama mereka dibandingkan kalangan Islam lainnya. Oleh karena itu, Barat senantiasa membangun opini negatif terhadap kelompok umat Islam yang diposisikan sebagai kaum fundamentalis. Doktrin dan ajaran yang disampaikan oleh mereka yang mendapatkan “cap” fundamentalis itu lalu dianggap salah dan bukan bagian dari ajaran Islam. Untuk mencounter doktrin dan ajaran “fundamentalis” tersebut, dimunculkanlah pemikiran aneh yang liberal dan justru tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Namun demikian, opini publik pun dibangun seakan-akan ajaran seperti itulah yang merupakan ajaran Islam yang sebenarnya.

BAB III

FUNDAMENTALISME DAN TAFSIR AL-QURAN

3.1 Pandangan-Pandangan Tafsir Fundamentalis

Fundamentalisme dengan pengertian sebagaimana yang dipahami Barat tidak terdapat dalam Islam. Kaum fundamentalis (ushuliyin) dalam Barat adalah orang-orang kaku dan taklid yang memusuhi akal, metafor, takwil, dan qiyas (analogi), serta menarik diri dari masa kini dan membatasi diri paa penafsiran literal nash-nash. Sementara kaum ushuliyin dalam peradaban Islam adalah para ulama ushul fikih yang merupakan kelompok ulama yang paling menonjol dalam memberikan sumbangsing dalam kajian-kajian akal atau mereka adalah ahli penyimpulan hukum, istidlal (pengambilan dalil), ijtihad, dan pembaruan.[19]

Namun demikian, dalam berbagai kajian, wacana, maupun opini publik yang muncul pada hari ini, fundamentalisme selalu dikaitkan dengan pengertian yang dipahami atau terpengaruh paham Barat. Pengertian inilah yang lazim digunakan sehingga fundamentalisme mengandung makna negatif. Maka dari itu, yang dimaksud “pandangan-pandangan tafsir fundamentalis” dalam sub bab ini adalah pandangan-pandangan yang dituduhkan oleh orang-orang yang terpengaruh Barat terhadap apa yang mereka sebut dan posisikan sebagai “fundamentalisme Islam”.

Dalam bukunya “Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam; Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan)”, Yusril Ihza Mahendra mengartikan fundamentalisme sebagai ideologi atau aliran politik yang berdasarkan kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi serta bertujuan untuk membangun suatu tatanan masyarakat Islam, sesuai dengan maksud doktrin yang termaktub di dalam Al-Quran dan Sunnah itu. Namun demikian, fundamentalisme cenderung menafsirkan doktrin secara rigid dan literalis.[20]

Nada sinis yang tidak jauh berbeda juga dikemukan oleh Hamim Ilyas. Menurutnya, ”Karakteristik fundamentalisme adalah skripturalisme, yakni keyakinan harfiah terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan yang dianggap tanpa kesalahan. Dengan keyakinan itu dikembangkan gagasan dasar bahwa suatu agama tertentu dipegang kokoh dalam bentuk literal dan bulat, tanpa kompromi, pelunakan, reinterpretasi dan pengurangan.”[21]

Dengan mengutip pendapat Azyumardi Azra dan Martin E. Marty, Hamim kemudian melanjutkan tulisannya bahwa di antara prinsip fundamentalisme adalah penolakan terhadap hermeneutika. Kaum fundamentalis menolak sikap kritis terhadap teks. Teks al-Qur’an harus dipahami secara literal sebagaimana bunyinya, karena nalar dipandang tidak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Meski bagian-bagian tertentu dari teks kitab suci boleh jadi kelihatan bertentangan satu sama lain, nalar tidak dibenarkan melakukan semacam ”kompromi” dan menginterpretasikan ayat-ayat tersebut.[22]

Sementara itu, Imam Chanafie Al-Jauhari kaum fundamentalis –atau juga ia sebut revivalis—memiliki pola pemikiran tekstualis. Menurutnya, pola pemikiran ini selalu berangkat dari bunyi teks dan pemahaman yang dimilikinya, sebagaimana teks itu mengungkapkan secara lahiriyah. Apa yang dikatakan teks, atau bagaimana yang tertera pada teks begitulah pemahamannya, dan itu pula yang dijadikan dasar pijakan (frame of reference) setiap sikap dan perilakunya. Praktek-praktek keberagamaan dan aplikasi Islam dalam kehidupan keseharian pada berbagai aspek harus sesuai dengan bunyi teks wahyu baik Al-Quran maupun Al-Hadits. Apapun yang dikatakan teks, begitu pula yang harus dilaksanakan, tanpa ada pertimbangan-pertimbangan, baik dari aspek kondisi sosio-kultural, psikologis dan lainnya. Dengan kata lain, pola pemikiran tekstual merupakan cetak biru (blue print) dari makna teks secara leterlek an sich.[23]

Demikianlah di antara pandangan tafsir fundamentalis yang dikemukan para ilmuwan muslim yang terpengaruh Barat. Sebenarnya, pandangan-pandangan lain yang dianggap sebagai pandangan “fundamentalis Islam” masih banyak. Penulis sengaja mengambil pendapat tiga orang di atas sekadar sebagai contoh; bukan dengan maksud membatasi. Selain itu, pembahasan kita akan terlalu panjang dan melebar apabila penulis mencantumkan pandangan-pandangan lainnya itu.

3.2 Pandangan-Pandangan Tafsir Para Ulama

Kecenderungan penafsiran secara rigid dan literal yang disematkan pada kaum “fundamentalis Islam” adalah pernyataan yang tidak benar. Seluruh aliran pemikiran Islam yang lama, baik sekelompok kecil dari ahli atsar, ash-habul hadits, kaum zhahiriyah maupun kelompok besar mayoritas dari ahli ra’yi, seluruhnya menerima majaz (metafor) dan takwil terhadap banyak nash-nash suci. Sehingga hampir terjadi ijma’ bahwa nash-nash yang tidak bisa ditakwilkan, yang dalam istilah ahli ushul fikih disebut “nash” adalah sedikit, sementara sebagian besar dari nash-nash itu dapat menerima pendapat, takwil, dan ijtihad. Sedangkan perbedaan di antara aliran-aliran pemikiran Islam itu adalah dalam kadar penakwilan itu: ada yang membatasi diri dalam melakukan penakwilan, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang secara berani melakukan penakwilan. Namun, penakwilan itu sama sekali tidak ditolak oleh mazhab-mazhab Islam.[24]

Demikian juga, penafsiran terhadap Al-Quran maupun penjelasan (syarh) terhadap As-Sunnah dalam Islam merupakan interpretasi berdasarkan pengetahuan yang mapan. Keduanya terikat erat dengan syarat-syarat yang ketat. Adanya persyaratan ketat tersebut mutlak diperlukan agar tidak terjadi kesalahan atau kerancuan dalam penafsiran. Dalam menafsirkan Al-Quran misalnya, mufassir harus menguasai minimal 15 macam pengetahuan sebagaimana disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi. 15 pengetahuan tersebut, yaitu: bahasa Arab, nahwu, sharaf, isytiqâq, al-ma’âni, al-bayân, al-badî’, ilmu qira’ah, ushuluddin, ushul fikih, asbâbun nuzûl, an-nâsikh wa al-mansûkh, fikih, hadits-hadits, dan ilmu muhibah (ilmu yang Allah ta‘ala anugerahkan kepada orang yang mengamalkan ilmunya).[25] Selain 15 ilmu ini, menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy, ada tiga syarat pengetahuan tambahan yang harus dikuasai oleh seorang mufassir kontemporer, yaitu:

1. Mengetahui secara sempurna ilmu-ilmu kontemporer hingga mampu memberikan penafsiran terhadap Al-Quran yang turut membangun peradaban yang benar agar terwujud universalitas Islam.

2. Mengetahui pemikiran filsafat, sosial, ekonomi, dan politik yang sedang mendominasi dunia agar mufassir mampu mengcounter setiap syubhat yang ditujukan kepada Islam serta memunculkan hakikat dan sikap Al-Quran Al-Karim terhadap setiap problematika kontemporer. Dengan demikian, ia telah berpartisipasi dalam menyadarkan umat terhadap hakikat Islam beserta keistimewaan pemikiran dan peradabannya.

3. Memiliki kesadaran terhadap problematika kontemporer. Pengetahuan ini sangat urgen untuk memperlihatkan bagaimana sikap dan solusi Islam terhadap problem tersebut.[26]

Selain harus menguasai ilmu-ilmu di atas, seorang mufassir harus memperhatikan manhaj yang ditempuh dalam menafsirkan Al-Quran. Langkah pertama yang harus ditempuh oleh seorang mufasir dijelaskan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi, “Siapa yang ingin menafsirkan Al-Quran yang mulia maka pertama kali ia harus mencari tafsirnya dari Al-Quran. Ayat yang bermakna global pada suatu tempat ditafsirkan dengan ayat pada tempat lain dan ayat yang ringkas pada suatu tempat diperluas penjelasannya dengan ayat pada tempat lainnya. Apabila tidak menemukannya, maka ia harus mencarinya dari As-Sunnah karena ia (As-Sunnah) merupakan penjelas bagi Al-Quran. Apabila tidak menemukannya dari As-Sunnah, maka ia harus mengembalikannya kepada pendapat para sahabat karena mereka lebih mengetahui penafsiran Al-Quran. Sebab, merekalah yang menyaksikan konteks dan kondisi pada saat turunnya ayat. Selain itu, mereka juga diberi kekhususan berupa pemahaman yang sempurna, ilmu yang shahih, dan amal yang shalih. Ketika terjadi kontradiksi antarpendapat para sahabat, maka harus dikembalikan kepada pendapat yang paling kuat dalilnya. Misalnya perbedaan pendapat mereka mengenai makna huruf-huruf hijâ’ (alphabet), maka harus dikembalikan pada pendapat orang yang mengatakan, ‘Maknanya adalah qasam (sumpah)’.”[27]

Metode penafsiran seperti yang telah dikemukakan oleh Imam As-Suyuthi di atas disebut dengan tafsîr bil ma’tsûr yang berpijak pada nash (teks) dan riwayat yang shahih. Riwayat baru dapat diterima setelah melalui seleksi ketat. Para ulama muhadditsin kita telah mengembangkan metode seleksi riwayat dengan melihat pada bersambung tidaknya sanad dan bagaimana keadaan perawi. Khusus untuk menilai keadaan rawi, berkembanglah ilmu al-jarh wa at-ta’dîl dengan berjilid-jilid kitab yang ditulis para ulama dalam bidang ini, di antaranya adalah Mizân Al-I’tidâl karya Imam Adz-Dzahabi. Sebagai contoh demikian ketatnya seleksi riwayat yang dilakukan oleh para ulama muhadditsin, seorang rawi akan jatuh kredibilitasnya manakala didapati menipu hewan peliharaannya dengan memanggilnya sambil memperlihatkan makanan, namun ketika hewan tersebut mendekat ternyata ia tidak memberinya makan. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa para ulama kita telah melakukan kritik terhadap sumber riwayat sebelum mereka menerimanya. Maka dari itu, riwayat shahih yang berisi tafsir Al-Quran memiliki kualitas ilmiah yang tinggi.

Apabila seorang mufasir tidak menemukan penafsiran suatu ayat dalam nash atau riwayat shahih, maka ia wajib berijtihad dengan mengikuti ketentuan-ketentuan berikut:

1. Memulai penafsiran ayat yang berhubungan dengan lafal-lafal tunggal dari segi bahasa, sharaf, dan isytiqâq dengan memperhatikan makna-makna yang digunakan pada waktu turunnya Al-Quran Al-Karim.

2. Lalu hal itu diikuti dengan membicarakan struktur kalimat dari segi i’rab dan balaghah.

3. Mendahulukan makna hakiki daripada makna majazi dengan tidak mengartikannya ke makna majazi kecuali apabila tidak mungkin mengartikannya secara makna hakiki.

4. Memperhatikan sebab turunnya ayat.

5. Memperhatikan hubungan (munâsabah) antara ayat sebelumnya dengan ayat selanjutnya, point-point dalam satu ayat, dan sebagian ayat dengan ayat lainnya.

6. Memperhatikan maksud konteks kalimat.

7. Menyesuaikan tafsir terhadap ayat yang ditafsirkan tanpa mengurangi dan menambahi

8. Menyesuaikan tafsir terhadap perkara-perkara yang diketahui termasuk ilmu alam, tradisi masyarakat, serta sejarah umat manusia secara umum dan sejarah Bangsa Arab secara khusus ketika turunnya Al-Quran.

9. Menyesuaikan tafsir terhadap petunjuk dan perjalanan hidup Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam karena beliau memiliki kemakshuman dalam menjelaskan Al-Quran dengan sunnahnya yang mencakup perkataan, perbuatan, sifat, dan pernyataannya.

10. Mengakhiri masalah dengan menjelaskan makna dan kesimpulan hukum hasil dari tafsir dalam batas-batas kaidah bahasa, syari’at, dan ilmu-ilmu alam.

11. Memperhatikan kaidah tarjih ketika terdapat ayat yang mengandung beberapa kemungkinan makna.[28]

Meski sudah menguasai seperangkat ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan Al-Quran, seseorang belum layak untuk menjadi mufassir Al-Quran sebelum terpenuhi syarat lain, yaitu syarat yang berkaitan dengan aspek kepribadian. Yang dimaksud dengan aspek kepribadian adalah akhlak dan nilai-nilai ruhiyah yang harus dimiliki oleh seorang mufassir agar layak mengemban amanah dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hakikat kepada orang yang tidak mengetahuinya. Inilah di antara yang membedakan tradisi keilmuan dalam Islam dan Barat. Dalam Islam, ilmu tidak bisa dipisahkan dari amal sehingga seorang alim harus mencerminkan ilmunya dalam kepribadiannya. Lain halnya dengan Barat, ilmu terpisah dari amal sehingga seorang ilmuwan di Barat bebas melakukan apa saja meski perbuatan bejat dan tidak bermoral sekali pun. Perbuatan itu tidak menjatuhkan kredibilitasnya sebagai seorang ilmuwan. Sekadar sebagai contoh, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) pernah berjalan-jalan di Turin di jalan gelap dengan menampakkan pantatnya yang telanjang kepada para wanita. Ia menulis, “Kesenangan bodoh yang saya pernah lakukan adalah menampakkannya di depan mata-mata yang tidak dapat digambarkan”[29]

Syarat mufasir Al-Quran yang berkenaan dengan aspek kepribadian menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy adalah:

1. Akidah yang lurus

2. Terbebas dari hawa nafsu

3. Niat yang baik

4. Akhlak yang baik

5. Tawadhu‘ dan lemah lembut

6. Bersikap zuhud terhadap dunia hingga perbuatannya ikhlas semata-mata karena Allah ta‘ala

7. Memperlihatkan taubat dan ketaatan terhadap perkara-perkara syar‘i serta sikap menghindar dari perkara-perkara yang dilarang

8. Tidak bersandar pada ahli bid‘ah dan kesesatan dalam menafsirkan

9. Bisa dipastikan bahwa ia tidak tunduk kepada akalnya dan menjadikan Kitâbullâh sebagai pemimpin yang diikuti.[30]

Selain sembilan point di atas, Syaikh Manna‘ Al-Qaththan menambahkan beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang mufasir, yaitu:

1. Mengamalkan ilmunya dan bisa dijadikan teladan

2. Jujur dan teliti dalam penukilan

3. Berjiwa mulia

4. Berani dalam menyampaikan kebenaran

5. Berpenampilan simpatik

6. Berbicara tenang dan mantap

7. Mendahulukan orang yang lebih utama dari dirinya

8. Siap dan metodologis dalam membuat langkah-langkah penafsiran[31]

Dengan persyaratan yang cukup ketat seperti yang telah dijelaskan di atas, munculnya penafsiran terhadap nash secara rigid dan literal alias kaku sangat jauh dari kemungkinan terjadi. Selama seseorang mengikuti penafsiran para ulama yang berkompeten dalam bidang ini, ia tidak akan terjatuh ke dalam model penafsiran secara rigid dan literal. Oleh karena itu, pandangan tafsir fundamentalis seperti yang dituduhkan tidak ada dalam Islam. Memang, sebuah penafsiran bisa saja dituduh rigid dan literal karena tidak sesuai dengan pandangan-pandangan liberal yang sering mendekonstruksi pemahaman Islam yang sudah mapan. Akan tetapi, dalam berbagai bidang ilmu ada rambu-rambu dan ketentuan yang harus dipatuhi; termasuk dalam tafsir Al-Quran. Orang yang tidak mau mengikuti ketentuan tersebut akan tidak “nyambung” ketika memaksakan diri berbicara dalam bidang ilmu yang tidak dia patuhi rambu-rambu dan ketentuannya. Wallâhu a’lam.

BAB IV

ISU FUNDAMENTALISME DALAM AL-QURAN

Al-Quran sebenarnya tidak mengajarkan atau mengandung nilai-nilai “fundamentalisme”. Demikian juga halnya dengan tafsir Al-Quran yang merupakan kunci untuk memahami Al-Quran. Selama penafsiran itu benar, yaitu sesuai dengan kaidah penafsiran dan dilakukan oleh ulama yang memiliki otoritas dalam bidang ini, maka “fundamentalisme” sama sekali tidak terdapat dalam penafsiran tersebut. Oleh karena itu, judul bab ini menggunakan kata “isu” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti: kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya.[32]

Apa yang dituduhkan orang sebagai doktrin fundamentalisme bisa jadi adalah bagian dari doktrin Islam. Namun demikian ketika doktrin itu diembel-embeli oleh pihak tertentu dengan “fundamentalisme”, jadilah ia seakan-akan salah dan bukan bagian dari doktrin Islam. Maka dari itu, dalam bab ini kita akan melihat bagaimana tafsir para ulama terhadap pesan-pesan Al-Quran yang sering dituduh sebagai doktrin fundamentalisme. Penulis sengaja hanya menyebutkan dua permasalahan pokok yang sering dianggap sebagai doktrin fundamentalisme.

4.1 Doktrin Islam Kaffah

Dr. Hamim Ilyas menyatakan bahwa doktrin sentral fundamentalisme adalah Islam kaffah. Dalam doktrin ini Islam tidak hanya diajarkan sebagai sistem agama, tetapi sebagai sistem yang secara total mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Karena itu dalam konteks dunia modern sangat ditekankan bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari negara, sehingga Hasan al-Banna mendifinisikan Islam sebagai agama dan negara (ad-din wa ad-daulah).

Dalam hubungannya dengan doktrin ini, Islam dikembangkan sebagai ideologi negara yang di antaranya dirumuskan dengan sangat rancu oleh Dr Mukhotim El Moekry yang mengatakan bahwa Islam sebagai ideologi memiliki makna satu-satunya jalan hidup bagi manusia yang mengharapkan kesejahteraan dunia dan akhirat. Dan ideologi Islam itu hanya dapat diaplikasikan melalui kepatuhan hamba manusia atas perintah Allah dan larangan-Nya ketika sedang menghadapi hidup ini. Doktrin Islam kaffah ini didasarkan pada surat al-Baqarah, 2: 208

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)[33]

Menurut Hamim Ilyas, konsep Islam kaffah seperti di atas adalah salah, dan sering menjadi landasan kaum fundamentalis dalam membenarkan tindak kekerasan selama ini.[34] Oleh karena itu, kata Hamim,

Demi mencegah terjadinya hal tersebut maka dalam menafsirkan Islam kaffah haruslah memperhatikan munasabah dan asbabun nuzul secara jernih dan akurat. Dalam ayat-ayat Al-Quran dibicarakan beberapa kategori orang dilihat dari segi keseimbangan hidupnya. Sebagian menginginkan dunia dan yang lain menginginkan dunia dan akhirat. Mereka yang menginginkan dunia terjerumus ke dalam materialisme hedonisme, sehingga merusak lading (lingkungan hidup) dan keturunan (seks bebas). Sementara yang menginginkan dunia dan akhirat, sulit mewujudkan keseimbangan dan terjerumus ke dalam spiritualisme sehingga melupakan dunia. Jadi inti ayat-ayat ini memerintahkan umat Islam untuk menjaga keseimbangan hidup itu.

Kemudian ayat itu turun dengan latar belakang masyarakat Arab yang secara sosial sedang mengalami transisi dari masyarakat kesukuan menjadi masyarakat perdagangan, dan secara budaya dari masyarakat berperadaban spiritual menuju peradaban materi. Di kalangan mereka belum terjadi keseimbangan, sehingga sebagian mereka sangat spiritualistik yang mengabaikan dunia dan sebagian yang lain sangat materialistik yang anti-agama. Jadi ayat itu diturunkan untuk membawa keseimbangan baru mewujukan masyarakat yang sekaligus berperadaban materi dan spiritual.

Dengan begitu akan dapat dipahami bahwa disamping sebagai sistem kepercayaan dan peribadatan, Islam juga merupakan sistem peradaban yang memadukan materi dan spiritualitas, bukan sistem atau ideologi sosial. Dengan pemahaman ini maka sistem sosial yang dianut masyarakat bisa berubah, tapi sistem kebudayaannya tetap, yakni sistem kebudayaan yang imbang dunia dan akhirat. Contoh yang sangat jelas untuk ini adalah keluarga. Konsepsi keluarga dalam Islam adalah keluarga sakinah, namun sistem dan bentuknya bisa berubah. Dahulu keluarga Muslim merupakan keluarga extended family dan patriarki, namun sekarang berubah menjadi keluarga inti dan demokratis.[35]

Demikianlah pemaparan Hamim Ilyas tentang penafsiran konsep Islam kaffah yang benar. Kesimpulannya menurut Hamim, makna Islam kaffah sebagaimana tersebut dalam surat Al-Baqarah: 208 adalah adanya keseimbangan dalam hidup ini, yaitu kesimbangan antara materi dan spiritual, serta tidak berarti bahwa Islam adalah sistem atau ideologi sosial.

Agar memperoleh pemahaman yang akurat dan bisa dipertanggung-jawabkan, kita akan melihat bagaimana penafsiran para ulama terhadap konsep Islam kaffah tersebut. Allah ta’ala berfirman,

$yg•ƒr¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# ’Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø‹¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Ar߉tã ×ûüÎ7•B ÇËÉÑÈ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Para ulama berselisih pendapat mengenai terhadap siapakah ayat ini diturunkan. Pendapat pertama, ayat ini diturunkan terhadap orang yang masuk Islam dari kalangan Ahli Kitab. Setelah keislamannya, mereka menjauhi daging unta dan perkara-perkara lain yang biasa dijauhi Ahli Kitab. Pendapat ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas.[36] Pendapat kedua, ayat ini diturunkan terhadap Ahli Kitab yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka diperintahkan agar masuk ke dalam Islam. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Adh-Dhahak. Pendapat ketiga, ayat ini diturunkan terhadap kaum Muslimin. Allah memerintahkan mereka agar masuk ke dalam seluruh syariat Islam. Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.[37]

Pada intinya, menurut kesepakatan para pakar bahasa, usul fikih, dan ulama syari’ah bahwa makna-makna dalam Al-Quran mencakup keuniversalan lafaz dan tidak berhenti dengan adanya sebab yang khusus. Makna Al-Quran melampaui masa dan tempat ia diturunkan, maka tidak ada istilah makna historis maupun makna khusus yang terkait dengan zaman diturunkannya Al-Quran. Bahkan makna-makna yang terkandung di dalamnya secara umum berdialog dan menyentuh pemikiran manusia sepanjang zaman dan tempat. Adanya asbâb al-nuzûl yang melatarbelakangi turunnya Al-Quran lebih bersifat sebagai metode pendidikan (manhaj at-ta’dîb) dan bukan sebagai bagian dari ajaran agama, baik yang berupa perintah atau larangan. Asbâb al-nuzûl bukan wahyu dan bukan pula sebagai inti dari firman Tuhan. Kewajiban-kewajiban agama (takâlif) yang munculnya bersamaan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, maka kesesuaian tersebut hanya disifatkan sebagai pendidikan untuk orang Islam masa itu. Kemudian membawa mereka keluar dari realitas-konteks jahiliyah kepada nuansa masyarakat Islam. Manusia sebagai objek perintah dan larangan (khithâb) adalah manusia-manusia yang memiliki realitas-konteks lebih luas daripada mereka yang berkaitan dengan realitas-konteks saat turunnya wahyu. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya wahyu hanya bersifat “ketepatan-ketepatan” atau sebagai proses natural (sunnatullâh) bagi turunnya wahyu. Kaidah Ushul Fikih menjelaskan masalah ini dengan jelas, “al-‘ibratu fî ‘umûm al-lafzh lâ bi khushûshi l-sabab” (faktor penting didapatkan pada keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab).[38]

Untuk menjelaskan bagaimana penafsiran para ulama kita terhadap konsep Islam kaffah, penulis akan menukilkan pendapat-pendapat mereka dari beberapa kitab tafsir. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sekelompok tabi’in tentang firman Allah ta’ala, “masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan”, maksudnya adalah masuklah ke dalam Islam dan taatilah seluruh perintah-Nya semampu yang kalian kerjakan.[39] Sementara itu, Az-Zamakhsyari menafsirkan bahwa orang-orang beriman diperintahkan agar masuk ke dalam ketaatan secara keseluruhan, sedangkan mereka tidak masuk ke dalam ketaatan tanpa mengerjakan ketaatan lainnya. Atau ke dalam cabang dan syariat Islam secara keseluruhan dan tidak meninggalkan sedikit pun darinya.[40] Penafsiran ayat 208 dari surat Al-Baqarah sebagai perintah agar menerapkan atau masuk ke dalam syariat Islam secara keseluruhan merupakan penafsiran yang banyak dikemukakan oleh para mufassir. Selain Az-Zamakhsyari, ada sekian mufassir yang menyampaikan pendapat serupa dalam kitab-kitab tafsir mereka. Di antaranya dalam tafsir Al-Baghawy, Al-Alûsi, Zâdul Masîr, Ar-Râzy, As-Samarqandy, Al-Jalâlain, Muqatil, Ibnu ‘Ajibah, Ibnu Abdis Salam, tafsir Ibnu Abbas, Sayyid Tanthawy, Aysarut Tafâsîr, As-Sa’dy, Al-Wajîz, Haumad, Al-Masîr, dan sebagainya.[41]

Dengan melihat banyaknya pendapat mufassir yang menyatakan bahwa konsep Islam kaffah adalah menjalankan atau masuk ke dalam syariat Islam secara keseluruhan, maka pendapat yang memandang Islam sebagai sistem yang secara total mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial, bukanlah pendapat yang salah. Sebab, syariat Islam mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia, termasuk urusan bernegara. Sepanjang sejarah umat Islam selama berabad-abad[42], syariat dan aqidah Islam diterapkan di bawah naungan negara.

Oleh karena itu sangat aneh apabila ada pihak yang menolak dijadikannya Islam sebagai dasar negara dan menuduhnya sebagai ciri khas doktrin fundamentalisme. Padahal, para pejuang Islam yang turut mengusir Belanda dan Jepang dari negeri ini melakukan perjuangannya bukan semata-mata agar para penjajah tersebut hengkang dari negeri ini, namun juga untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam di negeri ini. Setidaknya ada empat peristiwa besar dalam sejarah umat Islam Indonesia yang membuktikan hal itu. Pertama, terjadinya perdebatan sengit dalam BPUPKI antara wakil umat Islam melawan wakil kaum nasionalis sekuler tentang rumusan dasar negara setelah Indonesia nanti merdeka. Akhirnya pada 22 Juni 1945 dicapailah rumusan kompromi yang disebut “Piagam Jakarta” dengan memasukkan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam alinea empat.[43] Tragisnya, sehari setelah proklamasi kemerdekaan RI, tujuh kata penting dalam Piagam Jakarta itu dicoret oleh PPKI.[44] Kedua, dibentuknya Partai Masyumi dalam Kongres Umat Islam pada 7-8 Nopember 1945 M (bertepatan dengan 1-2 Dzulhijjah 1364 H) di gedung Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Menurut Anggaran Dasar tahun 1945, Masyumi bertujuan “menegakkan kedaulatan Republik Indonesia dan agama Islam” dan “melaksanakan cita-cita Islam dalam urusan kenegaraan”.[45] Ketiga, proklamasi NII pada 7 Agustus 1949 akibat kekecewaan yang memuncak terhadap perjuangan RI yang cenderung bersikap lunak terhadap Belanda. Keempat, terjadinya debat di Majelis Konstituante pada 1956 hingga 1959 antara wakil umat Islam melawan wakil kaum nasionalis sekuler dan wakil umat Kristen untuk memperjuangkan Islam sebagai dasar negara di Indonesia. Keempat peristiwa ini setidaknya membuktikan bahwa urusan agama tidak bisa dipisahkan dari negara.

Demikianlah yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita di negeri ini. Jika mau kembali pada tuduhan Dr. Hamim Ilyas mengenai doktrin sentral fundamentalisme, maka apakah mereka itu juga termasuk kaum fundamentalis? Padahal, Samuel P. Huntington, seorang politikus Barat yang menjadi penasihat Pemerintah Amerika Serikat, mengakui nilai penting negara bagi Islam. Ia menulis, “Absennya negara Islam yang berperan sebagai negara inti merupakan faktor utama yang menjadi sebab terjadinya konflik-konflik internal maupun eksternal di kalangan masyarakat Islam Kesadaran tanpa keterikatan menjadi sumber kelemahan Islam serta memudahkan jalan bagi kemungkinan timbulnya ancaman dari peradaban lain. Adakah kondisi seperti ini akan terus berlanjut?”[46]

Memang, Islam menyeru umatnya agar menerapkan keseimbangan dalam kehidupan antara aspek spiritual dan aspek material. Akan tetapi, makna seperti ini bukan yang dikehendaki dalam ayat 28 dari surat Al-Baqarah mengenai konsep Islam kaffah. Anggapan Dr. Hamim Ilyas yang menyatakan bahwa ayat ini turun dengan latar belakang masyarakat Arab yang secara sosial sedang mengalami transisi dari masyarakat kesukuan menjadi masyarakat perdagangan, dan secara budaya dari masyarakat berperadaban spiritual menuju peradaban materi, sehingga ayat ini diturunkan untuk membawa keseimbangan baru mewujukan masyarakat yang sekaligus berperadaban materi dan spiritual, adalah tidak ada hubungannya dengan munasabah dan asbabun nuzul seperti yang ia anjurkan untuk memperhatikannya. Di antara asbabun nuzul ayat tersebut sebagaimana telah disinggung sebelumnya berkenaan dengan Abdullah bin Salam –seorang Yahudi yang baru masuk Islam– yang mengagungkan hari Sabtu, membenci daging unta, serta ingin menggunakan sebagian dari hukum Taurat dan mencampuradukkannya dengan Islam. Demikianlah konteks sebenarnya turunnya ayat tersebut. Jadi, turunnya ayat tentang Islam kaffah itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan transisi masyarakat Arab dari masyarakat kesukuan menjadi masyarakat perdagangan, dan juga dari budaya dari masyarakat berperadaban spiritual menuju peradaban materi, seperti yang dikemukakan oleh Dr. Hamim Ilyas.

4.2 Doktrin Kedaulatan Hukum Tuhan

Selain Islam kaffah, menurut Hamim Ilyas, doktrin sentral fundamentalisme Islam lainnya adalah kedaulatan atau supremasi hukum Tuhan. Hamim Ilyas menulis,

“…Kaum fundamentalis, sebagaimana digambarkan secara tepat oleh Khaled Abu El-Fadl, berkeyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan hidup dan harus ditegakkan tanpa mempertibangkan pengaruhnya terhadap hak-hak dan kesejateraan kelompok lain. Jalan lurus (as-Shirat al-Mustaqim) telah dipastikan, kata mereka, oleh sistem hukum Tuhan (syari’ah) yang menghapus semua pertimbangan moral atau nilai-nilai etis yang sepenuhnya tidak terdapat dalam hukum…”[47]

Selanjutnya, Hamim Ilyas menyatakan bahwa dengan doktrin kedaulatan hukum Tuhan, fundamentalisme menolak negara bangsa dengan sistem demokrasinya yang meletakkan legitimasi negara pada kemauan rakyat, bukan pada agama atau etnis.[48]

Selain Hamim Ilyas, Zainul Maarif juga menyampaikan pendapat senada. Ia menulis bahwa,

“…Pikiran inti dari muslim fundamentalis adalah Hakimiyyat Allâh. Yaitu, pengakuan atas otoritas Tuhan dan syariat-Nya semata di atas bumi, dan ketundukan manusia hanya kepada-Nya. Landasan berpikir pikiran tadi berupa kalimat tauhid lâ ilâha illa Allâh. Yang berarti; tiada tuhan selain Allah, dan tiada otoritas dan syariat kecuali syariat dan otoritas Allah. Sehingga, ia berimplikasi epistemologis pada penegasian semua yang bukan Allah dan bukan dari Allah, dan berimplikasi epistemologis pada pemberian label musyrik, kafir, fasik dan zalim bagi siapa saja yang tak menegasi selain Allah dan syariat-Nya.

Hal ini terbukti pada perkataan muslim fundamentalis bahwa; siapa pun yang enggan menegasikan sistem selain Allah, atau menolak dan memusuhi kedaulatan dan sistem Allah (hakimiyyat Allâh dan syariat Allah), adalah musyrik jahiliyyah. Karena mereka telah menyekutukan Tuhan dengan mengakui otoritas selain-Nya dan menggunakan sistem selain sistem-Nya. Dan barang siapa yang enggan menerapkan syariat Islam adalah kafir, fasik, dan zalim. Karena Tuhan telah berfirman ”…wa man lam yahkum bi mâ anzala Allâh fa ulâika hum al-kâfirûn…al-dzâlimûn…al-fasiqun” (…barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir…dzalim…fasik)…”[49]

Menurut Zainul Maarif dalam alinea berikutnya,

“…Kalimat tauhid yang konon digunakan untuk mengagungkan Tuhan dan syariat-Nya saja itu, terkadang tak lagi proporsional. Yang dibesarkan tak lagi Allah dan syariat-Nya semata, melainkan diri sendiri dan pendapatnya. Hal ini bisa kita lihat pada pengakuan mereka bahwa merekalah umat terbaik, umat Islamiyyah; selainnya buruk, jahiliyyah. Pendapat mereka adalah pendapat terbenar dan harus ditaati karena berpegang pada syariat Tuhan, sedang pendapat lainnya adalah salah. Padahal pengakuan itu belum tentu sesuai dengan realitas, dan secara tidak langsung telah menempatkan diri pada posisi Tuhan, telah meredusir egalitarisme manusia, dan telah melupakan bahwa kebenaran mutlak dari Tuhan yang berada di ‘tangan’ manusia pada hakekatnya tak lagi mutlak. Ia telah bercampur dengan kebenaran relatif manusia…”[50]

Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra menyimpulkan sejumlah ciri kaum fundamentalis Islam, di antaranya adalah (1) ingin menegakkan negara Islam yang sebenarnya, dan (2) ingin menerapkan syariah Islam secara kaffah.[51]

Al-Quran sebenarnya telah menegaskan otoritas Allah dalam menetapkan hukum dan kewajiban umat manusia untuk berhukum dengan hukum-Nya. Selain surat Al-Baqarah: 208 seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masih banyak ayat Al-Quran yang berkaitan dengan masalah ini. Allah ta’ala berfirman,

$pkš‰r¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrùs? ÇÎÒÈ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa': 59)

Mengenai tafsir ayat, ” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul”, Ibnu Katsir berkata, “Yaitu kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Ini adalah perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla bahwa setiap perkara yang diperselisihkan oleh umat manusia dari prinsip-prinsip (ushul) maupun cabang-cabang (furu’) agama, maka perselisihan tersebut harus dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala, ‘Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.’ (QS Asy-Syura: 10) Perkara yang telah diputuskan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah sementara keduanya menyatakan keshahihannya, maka itulah kebenaran. Apalagi setelah kebenaran kalau bukan kesesatan?”

Ibnu Katsir melanjutkan tafsirnya, “Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman, ‘ jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.’ Maksudnya, kembalikanlah segala pertikaian dan ketidaktahuan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Putuskanlah hukum dengan keduanya dalam perkara-perkara yang kalian perselisihkan. Ayat ini merupakan dalil bahwa siapa saja yang tidak memutuskan hukum ketika terjadi perselisihan pendapat kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta tidak mengembalikan kepada keduanya dalam hal itu, maka ia bukanlah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. ‘Yang demikian itu lebih utama (bagimu).’ Yaitu, berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta kembali kepada keduanya dalam memutuskan perselisihan pandapat adalah lebih baik. ‘Dan lebih baik akibatnya.’ Yaitu, lebih baik akibat, kesudahan, dan pahalanya.”[52]

Allah juga berfirman,

Èbr&ur Nä3ôm$# NæhuZ÷t/ !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# Ÿwur ôìÎ7®Ks? öNèduä!#uq÷dr& öNèdö‘x‹÷n$#ur br& š‚qãZÏFøÿtƒ .`tã ÇÙ÷èt/ !$tB tAt“Rr& ª!$# y7ø‹s9Î) ( bÎ*sù (#öq©9uqs? öNn=÷æ$$sù $uK¯Rr& ߉ƒÌãƒ ª!$# br& Nåkz:ÅÁムÇÙ÷èt7Î/ öNÍkÍ5qçRèŒ 3 ¨bÎ)ur #ZŽÏWx. z`ÏiB Ĩ$¨Z9$# tbqà)Å¡»xÿs9 ÇÍÒÈ zNõ3ßssùr& Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# tbqäóö7tƒ 4 ô`tBur ß`|¡ômr& z`ÏB «!$# $VJõ3ãm 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏ%qムÇÎÉÈ

“Dan hendaklah kamu memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah: 49-50)

Dalam menjelaskan kandungan tafsir ayat ini, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz mengatakan, “Sesungguhnya orang yang membaca dan mentaabburi ayat ini akan mengetahui bahwa perintah memutuskan hukum dengan hukum yang diturunkan Allah ditegaskan dengan delapan bentuk penegasan

Pertama, perintah untuk berhukum dengan hukum Allah dalam firman-Nya, ” Dan hendaklah kamu memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah”.

Kedua, jangan sampai hawa nafsu dan kecenderungan selera mereka menjadi penghalang dari berhukum dengan hukum Allah dalam kondisi apa pun. Hal itu dalam firman-Nya, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.”

Ketiga, perintah agar berhati-hati dari tidak menerapkan hukum syariat Allah dalam yang sedikit maupun yang banyak, juga yang kecil maupun yang besar, dengan firman-Nya, ” dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu.”

Keempat, berpaling dari hukum Allah dan menolak sebagiannya adalah dosa besar yang mengharuskan siksa pedih. Allah ta’ala berfirman, ” jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka.”

Kelima, perintah untuk berhati-hati agar tidak terpedaya dengan banyaknya orang yang menolak hukum Allah karena hanya sedikit hamba Allah yang mau bersyukur. Allah berfirman, ” dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Keenam, menyifati hukum selain dengan hukum yang ditrurunkan Allah sebagai hukum jahiliyah. Allah berfirman, ” Apakah hukum Jahiliyah.”

Ketujuh, penetapan makna agung bahwa hukum Allah adalah hukum paling baik dan paling adil. Allah berfirman, “(hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah.”

Kedelapan, konsekuensi dari keyakinan adalah mengetahui bahwa hukum Allah adalah hukum paling baik, paling sempurna, dan paling adil. Kita wajib untuk tunduk dan ridha kepadanya serta menerimanya. Allah berfirman, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [53]

Selain kedua ayat tadi, Allah juga menyatakan kewajiban manusia untuk berhukum dengan hukum-Nya dalam Al-Quran surat An-Nisa': 60 dan 65 dan surat Yusuf: 40. Bahkan, Allah sendiri menyatakan kafir, zhalim, dan fasik terhadap orang yang tidak mau berhukum dengan hukum-Nya dalam surat Al-Maidah: 44, 45, dan 47. Memang ayat-ayat ini diturunkan terhadap Ahli Kitab, tepatnya terhadap Bani Israil[54], namun pesan yang ada di dalamnya tidak hanya berlaku bagi mereka. Mengenai tafsiran ayat ini, Ibnu Katsir menukil riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Siapa saja yang mengingkari hukum yang diturunkan Allah, maka ia kafir. Siapa saja yang mengakuinya namun tidak mau berhukum dengannya, maka ia zhalim lagi fasik.”[55]

Ayat-ayat Al-Quran beserta penafsirannya di atas secara tegas menyatakan kedaulatan atau supremasi hukum Allah dan kewajiban umat manusia untuk berhukum dengan hukum-Nya. Dengan demikian, siapa saja yang memperjuangkan penegakan hukum atau syariat Alllah, ia bukan seorang fundamentalis, namun seorang mukmin haqqan (sejati) karena mengikuti perintah Al-Quran. Kebenaran Al-Quran yang disampaikan manusia dalam masalah ini tetap merupakan kebenaran mutlak; tidak sebagaimana klaim Zainul Maarif. Jika setelah sampai kepada manusia wahyu Allah dianggap bukan lagi sebuah kebenaran mutlak, maka untuk apa Allah menurunkan wahyu kepada manusia? Ini sama saja menganggap Allah menurunkan sesuatu yang tidak berguna dan hanya akan menimbulkan perdebatan atau perselisihan di kalangan manusia karena berisi sesuatu yang relatif. Padahal, sebagaimana telah dijelaskan, orang-orang beriman diperintahkan untuk kembali kepada wahyu dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka mengenai urusan agama mereka. Selama mereka konsisten mengikuti rambu-rambu dan ketentuan wahyu, kebenaran mutlak itu akan dapat diraih karena Al-Quran memiliki teks final dan tetap. Teks Al-Quran tidak berubah sepanjang masa dan maknanya tetap terjaga, sejak diturunkan sampai sekarang dan nanti.

Mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah, itu terkait erat dengan komitmen seseorang terhadap wahyu. Orang yang mengikuti wahyu dengan pemahaman yang benar adalah pihak yang benar. Sebaliknya, orang yang tidak mau mengikuti wahyu, atau mengikuti wahyu namun dengan pemahaman yang salah adalah pihak yang salah. Dalam penelitian ilmiah saja, misalnya, ada kaidah, prosedur, dan ketentuan yang harus dipatuhi. Siapa yang mengikuti kaidah, prosedur, dan ketentuan tersebut adalah orang yang melakukan penelitian ilmiah secara benar. Sebaliknya, siapa yang tidak mengikuti kaidah, prosedur, dan ketentuan tersebut, maka ia salah dalam penelitian ilmiahnya. Kita pun juga sudah yakin dan paham sejak bangku SD bahwa 1 + 1 = 2 dan 2 + 2 = 4. Kebenaran matematika seperti ini adalah kebenaran mutlak tanpa harus diperdebatkan lagi. Maka dari itu, sangat aneh sekali jika ada orang yang datang belakangan menyatakan bahwa kebenaran mutlak firman Tuhan setelah sampai ke tangan manusia pada hakikatnya tidak lagi mutlak karena telah bercampur dengan kebenaran relatif manusia, sementara umat Islam berserta para ulamanya selama beradab-abad meyakini bahwa Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih sebagai kebenaran mutlak meski disampaikan dan diucapkan oleh manusia. Dengan ilmu, seseorang tentu dapat membedakan mana yang merupakan wahyu Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih, dan mana yang hanya merupakan pendapat atau ijtihad manusia. Jika tidak disampaikan oleh manusia, bagaimana mungkin wahyu Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih itu akan sampai ke generasi selanjutnya?

BAB V

KESIMPULAN

Setelah melalui pemaparan dalam bab-bab sebelumnya, sampailah kita pada kesimpulan bahwa fundamentalisme, sebagaimana yang dipahami Barat dan orang-orang yang terpengaruh frame pemikiran mereka, tidak ada dalam Islam. Kaum fundamentalis (ushuliyin) dalam Barat adalah orang-orang kaku dan taklid yang memusuhi akal, metafor, takwil, dan qiyas (analogi), serta menarik diri dari masa kini dan membatasi diri paa penafsiran literal nash-nash. Sementara kaum ushuliyin dalam peradaban Islam adalah para ulama ushul fikih yang merupakan kelompok ulama yang paling menonjol dalam memberikan sumbangsing dalam kajian-kajian akal atau mereka adalah ahli penyimpulan hukum, istidlal (pengambilan dalil), ijtihad, dan pembaruan.

Beberapa pandangan yang sering diidentikkan sebagai doktrin sentral fundamentalisme merupakan bukti ketidakpahaman si penuduh terhadap ajaran Islam. Doktrin Islam kaffah yang tertera dalam QS Al-Baqarah: 208 misalnya, menurut Hamim Ilyas, pemahaman yang benar dan tepat mengenainya adalah seruan untuk melakukan keseimbangan dalam kehidupan ini antara aspek spiritualisme dan aspek materialisme. Sebab, ayat ini turun dengan latar belakang masyarakat Arab yang sedang mengalami transisi dari peradaban spiritualisme menuju peradaban materialisme. Pemahaman seperti ini ternyata merupakan pemahaman aneh yang tidak terdapat dalam kitab-kitab tafsir para ulama. Menurut sebagian besar pendapat para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka, konsep Islam kafffah yang tertera dalam QS Al-Baqarah: 208 adalah perintah untuk melaksanakan atau masuk ke dalam syariat Islam secara total. Akan tetapi, pemahaman seperti ini oleh Hamim Ilyas dianggap sebagai doktrin fundamentalisme.

Pandangan kedua yang dianggap sebagai doktrin fundamentalisme adalah doktrin kedaulatan atau supremasi hukum Tuhan. Padahal, Al-Quran telah menegaskan otoritas Allah dalam menetapkan hukum dan kewajiban umat manusia untuk berhukum dengan hukum-Nya. Penegasan Al-Quran itu terdapat dalam surat Al-Baqarah: 208, An-Nisa': 59, 60, dan 65, Al-Maidah: 44, 45, 47, 49, dan 50, Yusuf: 4, dan sebagainya. Jadi, doktrin kedaulatan hukum Allah merupakan ajaran Al-Quran yang sangat jelas; bukan ajaran kaum fundamentalis. Dengan demikian, orang yang berusaha untuk menerapkan kedaulatan hukum Allah di muka bumi ini bukanlah seorang fundamentalis, tapi seorang mukmin haqqan (sejati). Wallâhu a’lam bish shawâb.

DAFTAR PUSTAKA

Adh-Dhawy, Ahmad Bazawy. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007.

Al-Alusi, Syihabuddin As-Sayyid Mahmud.tt. h Al-Ma’âni fî Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm wa As-Sab’u Al-Matsâny. Jilid II. Beirut: Dâr Ihyâ’ At-Turâts Al-‘Araby.

Al-Jauhari, Imam Chanafie. 1999. Hermeneutika Islam; Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global. Yogyakarta: Ittaqa Press.

Al-Qaththan, Manna‘. 1973. Mabâhits fî ‘Ulûm Al-Qurân. Beirut: Mansyûrât Al-‘Ashr Al-Hadîts.

____________. 2007. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Armas, Adnin. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Makalah kuliah yang disampaikan di hadapan para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Program Pascasarjana Magister Studi Islam Konsentrasi Pemikiran dan Peradaban Islam pada 10 Nopember 2007.

Arqahdan, Shalahuddin. 1987. Mukhtashar Al-Itqân Fî ‘Ulûm Al-Qurân li As-Suyûthy. Beirut: Dâr An-Nafâis.

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1989. Taysîr Al-‘Aliy Al-Qadîr li Ikhtishâr Tafsîr Ibnu Katsîr. Jilid I dan II. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.

Az-Zarqany, Muhammad Abdul Azhim. 2004. Manâhil Al-‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qurân. Juz II. Beirut: Dâr Al-Kutub Al-’Ilmiyyah.

Bin Baz, Abdul Aziz bin Abdullah. 2002. A Fa Hukmal Jâhiliyyati Yabghûna; Wujûb Tahkîm Syar’illâh wa Nabdzi Mâ Khâlafahu. Riyadh: Dâr Ath-Thayyyibah.

Huntington, Samuel P. 2002. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Qalam.

Husaini, Adian. 2000. Yusril Versus Masyumi; Kritik Terhadap Pemikiran Modernisme Islam Yusril Ihza Mahendra. Jakarta: Dea Press.

____________. 2005. Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani Press.

Ibnu ‘Athiyyah, Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib. 2001. Al-Muharrar Al-Wajîz Fî Tafsîr Al-Kitâb Al-Azîz. Jilid I.. Beirut: Dâr Al-Kutub Al-‘ilmiyyah.

Ilyas, Hamim. “Akar Fundamentalisme dalam Perspektif Tafsir Al-Quran”, kata pengantar dalam Pallmayer, Jack Nelson. 2007. Is Religion Killing Us; Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel dan Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Kahfi.

Imarah, Muhammad. 1999. Fundamentalisme dalam Perspektif Pemikiran Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Ma’arif, Zainul. “Menggali Akar Fundamentalisme Islam; Paradigma Kompleks Sebagai Pisau Analisis” dalam

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=74 Diposting pada 28 Nopember 2002.

Nasution, Harun. 1992. Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Shalahuddin, Henri. 2007. Al-Quran Dihujat. Jakarta: Al-Qalam

Steenbrink, Karel A. 1987. Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.

Yasin, Hikmat bin Basyir bin. 1999. At-Tafsîr Ash-Shahîh; Mausû’ah Ash-Shahîh Al-Masbûr Min At-Tafsîr bi Al-Ma’tsûr. Jilid II. Madinah Munawwarah: Dâr Al-Ma’âsy.


[1] Ma’arif, Zainul. “Menggali Akar Fundamentalisme Islam; Paradigma Kompleks Sebagai Pisau Analisis” dalam http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=74 Diposting pada 28 Nopember 2002. Dinukil dari M.‘Âbid al-Jâbirî. “Dlarûrah al-Bahts ‘an Niqath al-Iltiqâ li Muwâjahah al-Mashîr al-Musytarak” dalam Hassan Hanafi & M. ‘Âbid Al-Jâbirî. 1990. Hiwar al-Masyriq wa al-Maghrib. Beirut: Muassasah Al-Arabiyyah. hal.32-34.

[2] Idem. Dinukil dari Hassan Hanafi. “Al-Ushûliyyah wa al-‘Ashr” dalam Hassan Hanafi & M. ‘Âbid Al-Jâbirî. 1990. Hiwar AL-Masyriq wa al-Maghrib. hal. 23.

[3] Idem. Dinukil dari .Said al-‘Asymâwî. 1987. Al-Islâm al-Siyâsî. Cairo: Sina li Nasyr. hal.129.

[4] Mahendra, Yusril Ihza. 1999. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam; Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan). Jakarta: Paramadina. Hal. 7.

[5] Ilyas, Hamim. “Akar Fundamentalisme dalam Perspektif Tafsir Al-Quran”, kata pengantar dalam Pallmayer, Jack Nelson. 2007. Is Religion Killing Us; Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel dan Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Kahfi. Hal. xvii.

[6] Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Insani Press. Hal. 219.

[7] Ilyas, Hamim. Op. Cit. Hal. xvii.

[8] Al-Jauhari, Imam Chanafie. 1999. Hermeneutika Islam; Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global. Yogyakarta: Ittaqa Press. Hal. 9.

[9] Mahendra. Op. Cit. Hal. 29

[10] Idem. hal. 29-32.

[11] Harun Nasution menyatakan bahwa modernisme dalam masyarakat Barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pikiran dan aliran ini segera memasuki lapangan agama. Modernisme dalam hidup keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katholik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat modern. Aliran ini akhirnya membawa pada timbulnya sekulerisme di masyarakat Barat. Silakan lihat, Nasution, Harun. 1992. Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang. Hal. 11.

[12] Husaini, Adian. 2000. Yusril Versus Masyumi; Kritik Terhadap Pemikiran Modernisme Islam Yusril Ihza Mahendra. Jakarta: Dea Press. Hal. 28-29.

[13] Imarah, Muhammad. 1999. Fundamentalisme dalam Perspektif Pemikiran Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani Press. Hal. 10-11. Lihat juga, Steenbrink, Karel A. 1987. Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. Hal. 87-88.

[14] Imarah, Muhammad. Op. cit. hal 12-14

[15] Idem, hal 9-10

[16] Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat. Hal. 218-219

[17] Husaini, Adian. 2000. Yusril Versus Masyumi. Hal. 27.

[18] Zarkasi, Hamid Fahmi. Pandangan Hidup Islam Sebagai Asas Kajian Ilmu-Ilmu Islam. Hal 67 dan 69. Makalah Presentasi Kuliah Yang Disampaikan di Hadapan Mahasiswa Magister Studi Islam Konsentrasi Pemikiran dan Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 28 Oktober 27

[19] Imarah, Muhammad. Op. cit. hal. 21.

[20] Mahendra, Yusril Ihza. Op. cit. hal. 29

[21] Ilyas, Hamim. Op. cit. hal. xviii.

[22] Idem. Hal. xix.

[23] Al-Jauhari, Imam Chanafie. Op. cit. hal. 61-62.

[24] Imarah. Op. cit. hal. 14.

[25] Arqahdan, Shalahuddin. 1987. Mukhtashar Al-Itqân Fî ‘Ulûm Al-Qurân li As-Suyûthy. Beirut: Dâr An-Nafâis. Hal. 125

[26] Adh-Dhawy, Ahmad Bazawy. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007.

[27] . Arqahdan. Op. cit. Hal. 125

[28] Az-Zarqany, Muhammad Abdul Azhim. 2004. Manâhilul ‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qurân. Juz II. Beirut: Dâr Al-Kutub Al-’Ilmiyyah. Hal. 300-301.

[29] Armas, Adnin. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Makalah kuliah yang disampaikan di hadapan para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Program Pascasarjana Magister Studi Islam Konsentrasi Pemikiran dan Peradaban Islam pada 10 Nopember 2007.

[30] Adh-Dhawy. Idem.

[31] Al-Qaththan, Manna‘. 1973. Mabâhits fî ‘Ulûm Al-Qurân. Beirut: Mansyûrât Al-‘Ashr Al-Hadîts. Hal. 332. Silakan lihat juga terjemahannya: Al-Qaththan, Manna‘. 2007. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hal. 417-418.

[32] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hal. 446.

[33] Ilyas, Hamim. Op. cit.Hal. xxi.

[34] Idem. Hal. xxiii.

[35] Idem. Hal. xxiv-xxv.

[36] Ibnu ‘Athiyyah menukil riwayat dari Ikrimah radhiyallâu ‘anhu bahwa ayat ini turun mengenai Ahli Kitab, yaitu Abdullah bin Salam dan teman-temannya. Hal itu karena mereka mengagungkan hari Sabtu, membenci daging unta, serta ingin menggunakan sebagian dari hukum Taurat dan mencampuradukkannya dengan Islam. Lalu, turunlah ayat ini terhadap mereka. Silakan lihat Ibnu ‘Athiyyah, Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib. 2001. Al-Muharrar Al-Wajîz Fî Tafsîr Al-Kitâb Al-Azîz. Beirut: Dâr Al-Kutub Al-‘ilmiyyah. Jilid I. hal. 282.

[37] Ibnul Jauzy. Zâdul Masîr.Juz 1 hal. 200

[38] Shalahuddin, Henri. 2007. Al-Quran Dihujat. Jakarta: Al-Qalam.. hal 88-89.

[39] Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1989. Taysîr Al-‘Aliy Al-Qadîr li Ikhtishâr Tafsîr Ibnu Katsîr. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif. Jilid 1. Hal. 169

[40] Az-Zamakhsyary, Abul Qasim Mahmud bin Umar. 1998 Al-Kasyaf ‘An Haqâiq Ghawâmidh At-Tanzîl wa ‘Uyûn Al-Aqâwîl. Riyadh: Maktabah Al-‘Ubaikan. Jilid I hal 418.

[41] Untuk memudahkan pengecekannya, silakan buka tafsir ayat ini dalam program Maktabah Asy-Syamilah.

[42] Dan baru berakhir dengan runtuhnya Khilafah Turki ‘Utsmaniyah pada 3 Maret 1924.

[43] Firdaus A.N.. 1999. Dosa-Dosa Politik Orde Lama Dan Orde Baru Yang Tidak Boleh Berulang Lagi di Era Reformasi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hal. 70.

[44] Anshari, Endang Saifuddin. 1997. Piagam Jakarta; Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949). Jakarta: Gema Insani Press. Hal. 56.

[45] Noer, Deliar. 1987. Partai Islam di Pentas Nasional. Jakarta: Grafiti. Hal. 118

[46] Huntington, Samuel P. 2002. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Qalam. Hal 325.

[47] Ilyas. Op cit. hal. xxii.

[48] Idem. Hal. xxiii.

[49] Ma’arif, Zainul. “Menggali Akar Fundamentalisme Islam; Paradigma Kompleks Sebagai Pisau Analisis” dalam http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=74 Diposting pada 28 Nopember 2002.

[50] Idem.

[51] Mahendra. Op. cit. hal. 49.

[52] Ar-Rifa’i. Op. cit. Jilid I. Hal. 405-406.

[53] Bin Baz, Abdul Aziz bin Abdullah. 2002. A Fa Hukmal Jâhiliyyati Yabghûna; Wujûb Tahkîm Syar’illâh wa Nabdzi Mâ Khâlafahu. Riyadh: Dâr Ath-Thayyyibah. Hal. 9-10.

[54] Silakan lihat Ar-Rifa’i jilid II hal. 52

[55] Idem. Lihat juga Yasin, Hikmat bin Basyir bin. 1999. At-Tafsîr Ash-Shahîh; Mausû’ah Ash-Shahîh Al-Masbûr Min At-Tafsîr bi Al-Ma’tsûr. Madinah Munawwarah: Dâr Al-Ma’âsy. Jilid II. Hal. 184

Posted in Studi Al Quran | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.